
Una dan Narra sudah bersiap-siap hendak pergi melihat tempat kerja baru Una, sedangkan Lee masih sibuk bermain dengan mobil-mobilannya. Una Tersenyum kecil sembari melangkah mendekati putranya itu.
"Sayang, Mami dan Bi Narra akan pergi keluar sebentar."
Menaruh mobil yang sedang dia mainkan, "Apakah Mami akan pulang malam?"
Tanya Lee sembari duduk dipangkuan Una dengan manja.
Mengecup pipi Lee dengan gemas, "Tidak sayang, Mami akan pulang saat sore nanti." Jawabnya dengan beranjak berdiri.
Setelah berpamitan dengan asisten rumahtangganya Una dan Narra segera pergi keluar dari rumah dan masuk kedalam mobil pribadi Narra.
Narra tak berbicara selama didalam mobil dia sibuk menyanyikan lagu kesayangan dengan memutar keras volume radionya.
Mematikan radio tersebut, "Berisik!" Tandas Una dengan bibir manyun.
Kepalanya seakan mau pecah karna mendengarkan lagu rock yang sahabatnya sukai itu.
"Kenapa dimatikan?" Tanya Narra sembari tangannya hendak menghidupkan kembali radio itu. Namun Una menepis kasar tangan Narra dan membuat Narra terpaksa menatap kearahnya. "apa ada masalah?" tanya Narra karna melihat wajah Una yang seakan ditekuk.
"Ya, tentu saja! Kau hampir membuatku kehilangan putraku!" Tandasnya dengan suara terdengar jutek.
"Aku! Mana mungkin," jawabnya dengan wajah tak bersalah.
Menghela nafas panjang, " Apakah kau tau, saat Lee berada di dalam toilet, dia bertemu dengan Jhong!" Jelas Una pada Narra.
Mata Narra terbelalak seketika, dia mencoba mengingat-ingat apa yang sedang terjadi di taman hiburan kemarin. Narra terlihat menepuk pelan jidatnya dengan telapak tangannya! Jika dilihat dari ekspresi wajahnya Narra sudah menyadari apa yang membuat sahabatnya itu marah padanya.
"Sorry Una, aku baru mengetahuinya." Ujar Narra sembari memasang wajah sedih.
__ADS_1
Una pun memaafkan ketidak sengajaan sahabat ya itu, karna Una tau jika Narra tidak akan pernah membahayakan putranya. Narra sangat menyayangi Lee seperti keponakannya sendiri. Ya maupun diantara mereka tidak ada hubungan darah sedikitpun namun tetap saja ikatan persahabatannya dengan Narra sudah seperti sebuah saudara yang akan menemani dalam suka dan duka.
"Dia tak pernah menikahi Yera!" Narra tau jika Una tak mau mendengarkan kabar apapun mengenai mantan suaminya itu, tapi Narra merasa Una harus mengetahui tentang semua kebenaran ini.
Deg!
Sebuah hantaman keras yang langsung mengenai jantungnya, mulai terlihat kristal bening di pelupuk matanya. Hati yang sudah kekeh untuk melupakan masa lalunya itu kini mulai terombang-ambing kembali. Keyakinannya akan penghianat yang suaminya lakukan beberapa tahun lalu itu mulai perlahan terlihat samar-samar.
Hati Una mulai goyah dia bertanya-tanya pada dirinya sendiri apakah yang dia lakukan tujuh tahun yang lalu ialah salah.
Una mulai kebingungan mengartikan kebungkama ya itu, Una menundukkan pandangannya karna merasakan sesak di dadanya rasa yang begitu menyiksanya hingga membuatnya kesulitan untuk bernafas.
Narra mulai menepikan mobilnya dipinggiran kota Seoul. Setelah mobil itu menepi Narra segera mengarahkan pandangannya pada sahabatnya itu, "Una, kau harus mengetahuinya! Jhong back masih sangat,"
Air mata mulai mengalir deras jatuh bergantian dikedua pipinya, "Hentikan Narra!" Sela Una dengan masih menundukkan kepalanya, dia belum sanggup mendengarkan sebuah kebenaran yang mungkin berlawanan dengan apa yang dia yakini selama ini.
Narra menghentikan ucapannya yang belum selesai, dia segera memeluk tubuh sahabatnya yang tengah bersedih itu. Narra tak tega melihat Una terus menerus bersedih namun Una juga harus mengetahui kejadian tujuh tahun yang lalu.
Perlahan melepaskan pelukan pada Una, "Aku tidak akan memaksamu untuk mendengarkan kebenaran ini! Tapi jika suatu saat kau ingin mengetahuinya aku akan dengan senang hati akan memberitahumu semuanya yang aku ketahui selama ini." Ucapnya sembari menyeka air mata yang jatuh di kedua pipi Una. "Lee pantas mengenal siapa ayahnya."
Ucapan Narra barusan membuat hati Una seakan tersadar, Lee memang pantas mengenal siapa ayahnya, lebih lagi Lee selalu terlihat bersedih jika melihat teman sebayanya hidup bahagia dengan kedua orangtuanya. Lee memang jarang mengungkapkan isi hatinya pada Una, karna anak kecil itu tau jika sampai dia mengungkapkan isi hatinya pastilah Una akan bersedia dan kembali menangis.
_ _ _ _
Una dan Narra sudah berdiri di sebuah mall ternama di kota Seoul, Una menyewa salah satu toko yang ada didalam mall tersebut. Una segera masuk kedalam mall itu bersama Narra mereka terlebih dulu membeli beberapa helai baju yang menurutnya bagus. Dan terlihat air mata Una sudah mengering dan dia terlihat sudah lebih baik dari sebelumnya jika dilihat dari beberapa kali dia tersenyum renyah sembari sesekali bicara disertai gelak tawa.
Puas berbelanja Narra dan Una bergegas melihat toko baju yang baru Una sewa. Mereka segera memasuki sebuah toko yang terlihat besar dan masih kosong karna toko itu memang belum dibersihkan, dan masih terlihat debu dimana-mana.
Matanya menyapu seisi ruangan itu, "Aku akan suruh orang untuk membereskan tempat ini." Ujar Narra sembari menutup hidungnya dengan tangan karna tak tahan dengan debu yang ada didalam toko itu. karna Tako itu sudah kosong lumayan lama jadi sangat wajar jika kondisinya juga sangat memperihatinkan dan sangatlah kotor hingga membuat Narra dan Una menahan nafasnya untuk beberapa saat.
__ADS_1
"Besok, pangil juga orang untuk merapikan tempat ini, aku sudah tidak sabar untuk kembali berkerja," imbuh Una sembari beranjak keluar dari toko itu. Narra sangat sibuk memainkan ponselnya hingga dia tak menyadari jika Una sudah lebih dulu keluar dari toko itu.
Langkah Una terhenti sejenak didepan toko dia tak menyangka jika akan bertemu dengan Senjoo didalam mall tersebut.
Senjoo ialah orang yang sangat baik dan begitu perhatian pada Una dia sering menolong Una jika dia sedang berada didalam kesulitan.
Senjoo mematung diposisinya berdiri dia seakan tak percaya melihat Una berdiri dihadapannya. Wanita yang dulu sempat ditindas oleh kebanyakan orang itu kini telah berubah menjadi wanita sukses yang bisnisnya mampu bersaing dipasaran internasional. Ya Senjoo mengetahui semua tentang Una namun dia tak pernah menyangka jika Una akan kembali tinggal di kota Seoul.
Una segera menundukkan pandangannya dan melangkah pergi dengan tak menatap kearah Senjoo yang masih tak bergeming mengamatinya dari jarak 1 meter saja. Una mengira semua akan baik-baik saja jika Una berlaga seakan tidak pernah mengenal pria yang kini sedang menatapnya tanpa jeda itu.
Menarik kasar tangan Una, "Una, kamu Una kan?" Tanya Senjoo dengan terputus-putus dia seakan gagap mendadak karna shock bertemu dengan Una dengan tiba-tiba.
Masih menundukkan kepalanya, "Maaf, tuan anda salah orang!" sahutnya dengan suara lirih namun Senjoo masih bisa mendengarnya bicara.
Senjoo perlahan hendak melepaskan genggaman tangannya pada pergelangan tangan Una, Senjoo mulai meragukan apakah wanita yang kini ada dihadapannya itu benar wanita yang pernah ada dimasa lalunya.
Karna Una terlihat sangat cantik dan lebih cantik dari sebelumnya selama ini Senjoo hanya mengetahui perkembangan bisnis Una saja dan dia tak pernah melihat foto Una.
"Una, kau meninggalkanku!" Teriaknya dengan berjalan menghampiri Sabahat ya.
Narra belum menyadari akan apa yang terjadi dia sibuk memainkan ponselnya saat berjalan mendekati Una hingga dia tak melihat jika Senjoo sudah ada disamping sahabatnya sejak tadi.
Mata Senjoo membulat seketika dan dia segera memeluk tubuh kurus Una dengan lembut.
NUMPANG PROMO DISINI SAJA YA.
TOLONG SEMPATKAN BACA KELANJUTAN NOVEL SAYA YANG BERJUDUL "PERNIKAHAN KONTRAK AILIN."
MENCERITAKAN TENTANG GADIS YATIM PIATU YANG TERPAKSA MENIKAH KONTRAK DENGAN PRESDIR KAYA DAN DINGIN. ALASAN MENIKAHI PRESDIR TERSEBUT KARNA MEMBUTUHKAN UANG UNTUK BIAYA BEROBAT BIBI NYA YANG SEDANG SAKIT KERAS.
__ADS_1
JANGAN LUPA VOTE YANG BANYAK YA ☺️☺️☺️
TINGGALKAN LIKE DAN JUGA KOMENTAR AGAR SAYA BISA MEMBUAT NOVEL YANG LEBIH BAGUS LAGI.