Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Apakah Dia Mencintaiku


__ADS_3

Mobil yang di kemudikan oleh Lee sudah berhenti tepat di depan gerbang kampus Emil. Emil masih belum menyadarinya ia sibuk memperhatikan suaminya yang kini menatapnya dengan datar.


"Auch, kenapa kamu sentil jidat aku sih," gerutu Emil kesal dengan menggosok pelan jidatnya.


"Kamu kenapa masih belum turun juga?" Lee menunjuk kearah gerbang dengan dagunya.


"Ehehe, mana aku tahu sudah sampai." Emil menyengir kuda sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kamu pasti sedang memikirkan, calon anak kita," Lee begitu gemas sekali melihat wajah istrinya hingga timbullah niat untuk semakin menggoda gadis imut di sampingnya ini.


Memukul lengan Lee, "Kamu menyebalkan sekali." Setelah bicara Emil langsung keluar dari dalam mobil dan ia tidak menoleh pada Lee yang kini masih menatapnya dengan tersenyum tipis.


Sepertinya gadis kecil ini memang membuat Lee candu, lihat saja itu Lee masih enggan mengalihkan pandangannya dari sang istri. Lee hendak melajukan kembali mobilnya namun sekilas ia melihat bayangan Alan yang sedang mendekati Emilia. Lee mengertakkan giginya ketika melihat Alan menyentuh tangan istrinya tapi apa yang bisa ia lakukan selain hanya melihat mereka berdua dari dalam mobil ini.


Di halaman kampus.


"Emil, aku sudah menunggu kamu sejak dari tadi." Emilia melirik kearah mobil suaminya yang masih ada di depan gerbang, ia segera melepaskan genggaman tangan Alan pelan agar sahabatnya itu tidak merasa tersinggung.

__ADS_1


"Kenapa kamu menunggu aku?" Emil berjalan di samping Alan masih memberikan jarak diantara mereka berdua.


"Kenapa tadi ponsel kamu tiba-tiba mati? Dan aku sudah mencoba menghubunginya beberapa kali tapi masih saja tidak bisa," jelas Alan.


"Aku tadi mematikan ponselku, dan maaf aku sungguh tidak berpikir kamu akan merasa secemas ini," balas Emilia dengan menyengir kuda.


"Tapi aku senang kamu baik-baik saja sekarang," Alan langsung memeluk bahu Emilia. Emil ya g mengetahui akan hal itu segera menjauhi Alan karena ia tahu suaminya pasti masih menatap mereka berdua tajam dari dalam mobil.


Alan hanya mengangkat kedua bahunya melihat sikap Emilia, tapi ia tidak merasa keberatan karena menurutnya yang penting ia bisa berada di samping pujaan hatinya itu. Alan dan juga Emil berjalan melewati Mading kampus. Mereka berdua saling beradu pandang saat melihat banyak sekali penghuni kampus yang sedang membicarakan tentang kontes menyanyi. Emilia dan juga Alan sangat suka bernyanyi bahkan di sekolah mereka dulu, keduanya sering sekali berduet jika ada perlombaan.


Park membawa brosur dari kerumunan manusia, dia masih belum menyadari kalau Emil dan juga Alan menatapnya di kejauhan. Park mulai mengalihkan pandangan dari kertas yang ada ditangannya melihat jalanan, barulah sekarang ia bisa melihat Alan dan juga Emilia yang menatapnya penuh tanda tanya.


"Sejak kamu keluar dari kerumunan mahasiswa tadi," sahut Emil. "apa itu yang sedang kamu baca, kok serius sekali sih?" imbuh Emil.


"Oh, ini. Satu bulan lagi akan ada kontes menyanyi di sekolah kita, kalian berdua sudah aku daftarkan menjadi pasangan Duwet." Emil tidak marah ia malah langsung memeluk tubuh Park sebagai tanda terimakasih.


"Aku belum bilang setuju, kenapa kalian berdua sudah mengambilkan keputusan secara sepihak." Alan menatap kedua wanita di hadapannya ini dengan menggaruk dagunya dengan dua jari heran.

__ADS_1


Menepuk bahu Alan dengan tersenyum, "Kalaupun kamu mau menolak, tetap saja tidak bisa karena sudah terlanjur." Emil terkekeh melihat wajah Alan yang masam.


Mereka bertiga berjalan beriringan sembari membicarakan lagu apa yang akan dibawakan oleh Emil dan juga Alan nanti. Beberapa pria merasa patah hati saat mereka mengetahui kalau Emil ternyata sudah memiliki pasangan bernyanyi. Emil sangat cantik dan juga sikapnya ceria hingga sangat mudah untuk lelaki jatuh hati kepadanya.


_ _ _


Emil dan juga Park baru saja keluar dari kelas, mereka berencana akan berkunjung ke kantor Lee. Tentu saja mereka berdua ingin menceritakan mengenai Emil yang akan mengikuti acara menyanyi di sekolah bukan depan. Alan tidak terlihat di siang hari ini sebab ia sudah pulang lebih awal karena ada urusan mendadak katanya. Entahlah urusan apa karena Alan hanya mengirimkan pesan singkat saja pada Emil.


"Park, apakah kamu percaya jika Kak Lee ternyata cemburu dengan Alan?" Emil tiba-tiba bertanya pada Park karena ia masih memikirkan ucapan Lee yang mengatakan "kalau dia cemburu."


Menatap Emil, "Kak Lee tidak suka berbicara bohong dan aku ikut senang sekali kalau sampai kakak kesayanganku itu bisa menyukai kamu dan melupakan dia." Park tersenyum penuh makna di akhir kalimatnya.


"Dia? Apa maksud dari ucapan kamu?" Emil menenglengkan kepalanya sedikit mendekati Park.


"Hahaha! Sudah tidak perlu di bahas, sebaiknya kamu memikirkan cara untuk membujuk Kak Lee, karena aku percaya jika Kak Lee sudah mencintai kamu." Emil merasakan jantungnya berdetak tanpa dia minta ketika secara spontan Park mengatakan kalau Lee mencintainya.


"Apa kamu mencintaiku Kak Lee juga?" Park menanyakan hal itu karena ia tidak ingin melihat Kakak kesayangannya merasakan patah hati untuk yang kedua kalinya.

__ADS_1


"A. . .aku tidak pernah memikirkannya." Emil yang di tanya tidak siap jadi ia hanya bisa menjawab seadanya saja.


Mencebikkan bibirnya, "Aku akan buat kamu mengaku nanti, lihat saja." Park mengangguk-angguk pelan kepalanya sepertinya ia sedang merencanakan suatu hal untuk Emilia tapi entah apa.


__ADS_2