Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Tidak Mau Menikah.


__ADS_3

Siang hari itu Emilia baru saja selesai mengerjakan semua tugas rumahnya di hari libur Emilia biasanya selalu membersihkan kamarnya sendiri dan dia tak pernah mengantungkan hal tersebut pada pelayan rumahnya. Emilia terlahir di keluarga yang sangat kaya namun dia tak pernah manja dan selalu berusaha mengurus semua kebutuhanya sendiri karena sejak kecil Narra selalu mengajari putrinya itu hidup mandiri agar kelak jika Emilia sudah menikah gadis itu tak perlu kesulitan lagi beradaptasi. Emilia tak seperti remaja lainnya yang selalu pulang malam dan bermain di Club. Narra dan juga Jim selalu menaruh beberapa penjaga yang tugasnya mengawasi kemana saja Emilia pergi dan karena sebab itu Emilia tidak liar seperti remaja kebanyakan di korta itu.


Di kota itu remaja sangat bisa dengan **** bebas dan juga meminum alkohol namun tidak dengan Emilia gadis itu gak penah menyentuh alkohol sedikitpun apa lagi harus meminumnya, para penjaga selalu mengawasi setiap gerak geriknya di sekolah maupun di saat gadis cantik itu sedang jalan di mall bersama teman wanitanya.


Emilia sedang duduk di samping Narra dengan menaruh kepalanya di pangkuan Narra, sedangkan Jim sedang duduk di sofa yang berada persis di hadapan mereka. Jim mulai gelisah melihat sikap manja anak gadisnya itu bagaimana mungkin gadis kecilnya mau menikah sedangkan sikap manjanya itu masih belum hilang juga, namun apa daya melihat kondisi Jhong sedang dalam keadaan tidak stabil itu membuat Jim harus menyetujui rencana pernikahan kedua anak mereka.


"Sayang, bisakah kau duduk sebentar," ucap Jim dengan menatap lurus ke arah putrinya itu.


     "Ada apa Pa?" tanya Emilia dengan beranjak duduk dari posisi tidurnya.


"Sayang, kamu masih ingatkan dengan paman Jhong dan Bibi Una?" tanya Jim mencoba mengingatkan kembali angan-angan anaknya itu.


"Tentu aku masih ingat, dia kan memiliki anak bernama Lee dan juga seorang gadis yang usainya sama denganku kalau ngak salah namanya Park," sahut Emilia dengan mencoba memutar kembali memori internal dalam otaknya itu. Emilia sudah hampir lima tahun lebih tidak berkunjung ke Seoul  pantas saja gadis itu sedikit amnesia karena tidka pernah berhubungan dengan Una lagi.


"Ya, dan sekarang paman Jhong sedang sakit keras dia di rawat di rumah sakit dalam keadaan kritis," sahut Jim dengan menyandarkan punggungnya di sofa yang dia duduki.

__ADS_1


"Lalu apa hubungannya dengan Emilia Pa?' tanya Emilia penasaran dengan maksud Papanya itu karena selama ini Jim tak pernah menyinggung tentang keluarga Jhong dan karena sebab itu Emilia mulai penasaran.


     "Papa dan juga Mama akan menikahkan kamu dan juga Kak Lee kurang dari satu minggu lagi," sontak Park langsung berdiri dari duduknya dan menatap ke arah Jim dengan mata berkaca-kaca.


"Pa, aku tidak mau menikah dengan pria yang tidak aku cintai. Papa tidak bisa menikahkan aku seperti ini aku masih mau kuliah dan aku tidak mau menikah muda apa lagi dengan pria dingin sepertinya," Emilia bicara dengan mencoba sebisa mungkin menahan air mata yang sedari tadi sudah menumpuk di pelupuk matanya. Dia masih ingat dengan sangat jelas, jika Lee selalu bersikap dingin dan tak perduli padanya saat keluarga Emilia berkunjung ke Seoul korea.


      "Sayang, Paman Jhong yang memintanya dan dia dalam kondisi kritis jika dia meninggal maka Papa akan sangat menyesal," Jim bicara dengan mimik wajah kelihatan bersedih dan begitu juga dengan Narra. Tanpa menjawab Emilia lengsung berlari masuk ke dalam kamarnya.


     Seoul malam hari.


        Seperti biasa rumah Lee terlihat sepi dan juga tidak ada keramaian di sana rumah mewah dan megah itu seakan sedang kosong tanpa penghuni karena di sana hanya ada Park dan juga Lee yang sedang menikmati makam malam mereka tanpa bicara sedikitpun.  Park sudah dewasa dia tak manja seperti waktu kecil dulu dan Lee juga selalu memasang wajah datar semenjak kepergian Natalie tujuh tahun yang lalu. Lee bahkan tak perduli dia mau menikah dengan siapa saja karena baginya itu tidak jadi masalah.


Park mulai melirik ke arah Lee, "Kak Lee," panggil Park pelan dengan masih menatap ke arah Lee.


"Ya," menjawab dengan masih menatap ke arah piring yang sedang berada di hadapanya.

__ADS_1


"Aku tadi mendengar apa yang Papa bicarakan di dalam ruangan dengan Kakak tadi. Apakah Kak Lee setuju dengan perjodohan itu?" tanya Emilia penasaran dengan jawaban pria yang berada di hadapanya itu.


Menelan makanan yang masih tersisah  di mulutnya, "Ya," menjawab singkat dengan menatap Park.


"Bukankah Kak lee masih mencintai gadis itu kan?" tanya Park dengan wajah terlihat senduh.


"Sudah selesaikan makan mu," Lee bicara dengan meminum air putih yang ada di hadapannya itu.


Pria itu beranjak berdiri dari duduknya dan langsung meninggalkan Park begitu saja, Park hanya bisa diam dengan masih menatap punggung pria itu semakin menjauh darinya. Park sangat kasihan melihat kondisi Lee yang seperti mayat hidup dan dia juga berharap perjodohan ini bisa melupakan kepergian wanita yang tidak menginginkan kehadiran Lee dalam hidupnya.


     Setelah makan Park langsung berjalan menuju kamar Lee dia sudah berada di depan pintu dan wanita itu langsung mengetuk pintu tersebut dengan berharap Kakaknya itu mau mempersilahkannya masuk. Namun sudah hampir beberapa menit Lee masih juga belum menjawab ketukan pintu tersebut dengan wajah kelihatan bersedih Park berbalik arah dan hendak pergi menjauh dari pintu namun suara Lee menghentikan langkahnya.


     "Masuklah," ujar Lee dengan membuka pintu kamar tersebut dengan lebar dan pria itu masuk lebih dulu ke dalam kaamr dan duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu. Park masuk ke dalam dan ikut mendudukkan tubuhnya di dalam ruang kosong yang berada di samping Lee.


     "Kak, jika kau jadi menikah dengan Emilia aku bisa minta sesuatu darimu?" tanya Park dengan mimik wajah kelihatan serius menatap ke arah Lee.

__ADS_1


     "Bicaralah," sahut Lee menjawab dengan nada suara terdengaar malas.


    "Jangan kau skaiti Emilia, dia gadis yang baik dan aku mengenalnya dengan sangat dejkat waktu dia berkunuung ke rumah kita beberapa tahun yang lalu. Umurnya sama denganku dan sekarang dia pasti kaget  dan juga sedih jika harus di jodohkan seperti ini," jelas Park apa adanya.


__ADS_2