
"Tentu saja hanya pada Kak Lee saja akan aku tunjukkan," sahut Emil cepat dengan jantung yang berdetak kencang seperti genderang yang mau perang.
"Kalau begitu buka pintunya sekarang."
Cklek!
Pintu kamar mandi itu mulai terbuka dengan perlahan, Emil mengunakan lingerie berwarna hitam yang tempo hari di titipkan oleh Park pada mama Narra. Lee tidak berkerdip melihat permandangan di hadapannya saat ini, kulit putih istrinya yang terlihat begitu kontras dengan lingerie hitam yang wanita itu kenakan membuat jantung Lee berdetak dengan sangat kencang sekali.
Emil melangkah mendekati suaminya dengan kedua pipi yang sudah merah mirip seperti tomat busuk, ia merasa malu sekali di perhatikan suaminya seperti ini. Baru kali pertama Emil menunjukkan bentuk tubuhnya pada lelaki yang sudah menawan hatinya.
"Jangan menatapku terus, aku malu," gerutu Emil dengan membuang pandangannya kearah lain. malu sekali
"Kamu sangat cantik sekali, Sayang." Jantung Emil semakin berderak tidak karuan setelah ia mendengarkan Lee menaggilnya dengan sebutan sayang. Ini untuk kali pertama pria itu memanggilnya dengan sebutan itu, Emil merasa sangat bahagia sekali sampai ia tidak bisa menyembunyikan senyuman manis yang lolos dari bibirnya.
Lee memeluk pinggang istrinya, nafas mereka saling beradu satu sama lain, Emil merasakan bulu halus pada tubuhnya mulai meremang sekarang. Kedua mata itu pun saling terpejam satu sama lain, gelora cinta mulai merayapi tubuh mereka semua. Lee mengecup lembut bibir istrinya dengan mengiring langkah kaki istrinya menuju ke atas ranjang. Mereka berdua naik ke atas ranjang tanpa melepaskan kecupannya, semakin lama kecupan itu semakin menuntut, Lee melepaskan setiap kain yang menempel di tubuhnya satu persatu.
"Kak Lee, aku takut," bisik Emil di samping telinga suaminya.
"Aku akan melakukannya dengan lembut, kau bisa melampiaskan rasa sakit itu padaku, Sayang." Lee menelusuri leher jenjang istrinya dengan gerakan pelan yang membuat Emil semakin di bakar gelora cinta yang membara dan berpusat pada tubuhnya. Lee meninggalkan jejak kepemilikannya pada leher istrinya, jejak itu sangat kecil jadi tidak akan di sadari oleh orang lain namun lumayan banyak juga.
"Apakah kau benar-benar sudah siap?" tanya Lee dengan mengecup puncak kepala istrinya. Emil hanya mengganggukkan kepalanya.
Ia akan memberikan mahkota yang telah lama ia jaga hanya pada lelaki ini-suaminya.
Adegan ranjang Author skip, bisa kalian bayangkan sendiri ya artian dari kata panas menggelora itu, eheheh.
_ _ _
__ADS_1
Emil membuka matanya perlahan, ia melihat suaminya kini sedang memperhatikannya, entah sejak kapan pria itu menatapnya yang sedang tertidur lelap seperti ini. Emil menutup wajahnya dengan bantal karena malu di perhatikan terus seperti itu. Lee bangun lagi sekali dan semenjak bangun ia terus saja menatap mata istrinya yang masih terpejam sampai gadis itu membuka matanya.
"Morning kiss, Sayang," sapa Lee dengan mendaratkan kecupan pada puncak kepala istrinya.
"Pagi juga," sahut Emil dengan mengintip wajah suaminya. Ia langsung menutup cepat wajahnya dengan bantal saat melihat pria di hadapannya in terkekeh melihat tingkahnya.
"Kamu manis sekali sih, Sayang." Lee memeluk tubuh istrinya kemudian membuang bantal yang menutupi wajah sang istri ke sembarang arah.
"Kak Lee, jangan membuatku semakin malu," gerutu Emil yang masih belum terbiasa dengan hal ini.
"Apakah kamu mau aku gendong ke kamar mandi?" tanya Lee dengan mengerutkan keningnya.
"Aku bisa pergi ke kamar mandi sendiri saja," sahut Emil cepat.
"Apa kamu yakin?" tanya Lee lagi.
Lee segera bangkit dari posisi tidurnya setelah mendengar rintihan kesakitan istrinya, ia membuang selimut itu ke sembarang arah kemudian mengendong tubuh Emil masuk ke dalam kamar mandi.
"Kenapa kamu masih malu, aku sudah melihat setiap inci pada tubuh kamu," goda Lee.
"Kak Lee, diam lah jangan bicara lagi." Sembur Emilia setelah pria itu menurunkannya dari gendongan.
Beberapa waktu kemudian.
"Kak Lee, apakah hari ini kamu jadi melakukan pertemuan dengan rekan bisnis?" tanya Emil sembari menikmati sarapan paginya.
"Hari ini adalah hari libur, aku akan melakukan pertemuan bisnis itu besok," sahut Lee dengan menatap istrinya.
Emil langsung menundukkan kepalanya malu. Otaknya langsung berputar ke kejadian semalam, lee yang mengetahuinya langsung mencubit gemas kedua pipi istri kecilnya itu.
__ADS_1
"Kamu mengemaskan sekali, membuat aku ingin mengulangi adegan hot semalam," goda Lee dengan mengerdipkan satu matanya menggoda istrinya lagi.
Menepis tangan Lee kasar, ia mengusap pelan pipinya yang terasa nyeri karena ulah suaminya ini. "Jangan macam-macam aku lelah," sahut Emil dengan wajah di tekuk.
"Kalau begitu kita tunggu lelah kamu hilang," sahut Lee dengan santai.
Setelah selesai sarapan pagi, Emil mengajak Lee untuk berjalan-jalan di tepi pantai, mereka berdua berbincang-bincang dengan kedua tangan yang saling bertautan satu sama lain. Beberapa wanita yang sedang memakai baju bikini menatap Lee dengan penuh pesona bahkan mereka juga memuji suami Emilia itu secara terang-terangan.
Emil menatap nyalang kearah para wanita yang sedang duduk di tanah dengan mengunakan alas. Tapi para wanita itu tidak takut akan sorot mata Emil, Lee melirik istrinya dengan menahan tawa, melihat wajah Emil yang cemburu membuatnya gemas saja, pun ia langsung melingkarkan tangannya di bahu istrinya agar membuat gadis kecil ini tenang.
Menatap Lee dengan mengerutkan keningnya, "Kak Lee, pasti senang kan di perhatian oleh banyak wanita ganjen itu," tanyanya dengan tatapan penuh intimidasi.
"Tidak, itu sudah biasa bagiku," sahutnya santai dengan mengajak istrinya duduk di pasir pantai.
Matahari mulai memanaskan bumi tapi tidak ada satu orangpun yang ingin berlindung di bawah payung-payung besar yang sudah tersedia di pantai ini. Semua orang membiarkan panas matahari menjamah tubuh mereka yang tidak tertutup oleh kain.
Seorang pelayan wanita dengan tubuh seksi mengantarkan dua gelas minuman dingin yang tadi sudah di pesan oleh Emil dan juga Lee.
"Ini pesanan, Anda," ucap pelayan tersebut dengan tersenyum manis.
Lee menatap pelayan itu dengan wajah datarnya, Lee hendak membuka mulutnya untuk menyuruh wanita tersebut pergi. Tapi Emil sudah menyela kata-katanya.
"Anda, sudah menaruh gelas itu, lalu kenapa masih ada di sini?" tanya Emil dengan tersenyum manis. Kalian semua pasti sudah tahu apa arti dari ucapan polos Emilia barusan. Ya tentu saja gadis kecil itu sedang mengusir wanita tersebut dengan bahasa halus namun menohok ke jantung.
"Selamat menikmati," ucap pelayan wanita itu kemudian dengan raut wajah masam.
"Kamu cemburu?" tanya Lee sembari melirik istrinya.
"Tidak, hanya terganggu saja." Jawabnya dengan bibir mengerucut. Lee terkekeh mendengar jawaban istrinya ini.
__ADS_1