Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Ke Usilan Park.


__ADS_3

   “Hahahaha!” tawa Park pecah saat melihat


Emilia menutup bibirnya dengan kedua tangan.


      Bagaimana mungkin Park tidak tertawa sedangkan Emil terlihat begitu lucu setelah wajahnya yang jutek seketika berubah menjadi ketakutan. Semua pelayan rumah itu yang sedang berada di sekitar mereka langsung menahan tawanya saat melihat Nona muda mereka di takuti dengan cara seperti itu. Selama ini Emil tidak pernah takut dengan siapapun sebab gadis itu tidak pernah berbuat kesalahan sehingga Jim dan juga Narra selalu memanjakan dirinya lebih lagi karena Emilia adalah anak semata


wayang di keluarga itu dan juga kelak Emil akan mewarisi semua kekayaan Jim dan


juga Narra.


      Semua pelayan heran melihat kenapa Lee terlihat begitu galak jika berhadapan dengan Emil padahal jika di lihat dari cara Lee bicara jelas terlihat jika pria itu takut Emil pergi bersama pria lain selain dirinya.


     “Emilia, kenapa dengan wajahmu itu terlihat ketakutan?” tanya Park dengan mendekati gadis yang sedang berdiri tak jauh dari posisinya sekarang.


     “Kau tidak dengar apa yang di ucapkan oleh Kak Lee tadi, dia begitu menakutkan kau tau kan!” gerutu Emil dengan melepaskan kedua tangannya yang tadi sempat menempel di bibirnya.


     “Dasar kau ini, Kakak ku bukan tipe orang seperti itu percayalah padaku, dia hanya bicara untuk


menakutimu saja,” Park membela Lee karena memang itu hanyalah ketakutan Emilia saja


yang terlalu berlebihan menanggapi gurauan Kakaknya barusan.


      Selesai bicara Emil dan juga Park langsung berjalan keluar dari pintu rumahnya, mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu di kursi belakang supir sedangkan Lee masih berganti baju di dalam kamarnya serta mengambil kunci mobil yang tadi sempat di berikan pada Jim sebelum pria itu berangkat berkerja di pagi hari.   Lee sudah selesai berganti baju dan segera keluar dari rumah pria itu terlihat begitu tampan saat mengunakan baju santai dengan celana jeans hitam panjang dan juga baju santai yang berwarna hitam. Lee memang sangat menyukai warna hitam karena warna itu semakin membuat wibawahnya bertambah di tambah lagi kulitnya yang putih semakin bercahaya saat pria itu mengenakan warna tersebut.


     Lee keluar dari pintu rumah Emilia dan mata pria itu langsung menyipit seketika saat melihat ke dua wanita itu duduk di kursi belakang kemudi, sedangkan Emil dan juga Park sibuk berbicara di dalam mobil berwarna merah menyala itu entah apa yang sedang kedua gadis itu bicarakan namun jika di lihat dari canda tawa mereka yang terdengar


dari tengah-tengah perbincangan mereka jelas itu sesuatu yang lucu.


      Lee masuk ke dalam mobil dan langsung menatap Emil dari spion kecil yang ada di atas kepalanya, “Kau kira aku supir! Cepat pindah ke depan.” Perintah pria itu dengan


masih menatap dari kaca spion dengan alis hampir menyatuh.


      “Park, sana kau pindah depan. Kakakmu sedang menatap ke arah kita,” pintah Emil dengan bulu kuduknya mulai berdiri saat melihat tatapan Lee yang begitu menakutkan


menurutnya, bahkan Emil langsung membuang pandangannya setelah tatapan mereka beradu beberapa detik.


      Dia itu tidak bisa bicara lebih baik sedikit apa, tatapanya itu loh begitu menakutkan aku


tidak pernah melihat pria yang begitu mengerikan seperti dirinya.

__ADS_1


     Pantas saja Emilia takut melihat tatapan Lee pada dirinya karena selama ini Emil selalu saja di perlakukan dengan baik oleh teman wanita dan juga prianya, Emil sangat


manja namun semua sahabat Emil sangat memahami akan hal tersebut karena dirinya


adalah anak orang terhormat di kota itu. Jika saja ada orang yang tidak menyukai Emilia tentu saja orang itu akan berpura-pura baik saat di depannya, sebab setiap waktu di manapun dan kapanpun Emil akan di jaga oleh para pengawal Jim yang akan siap siaga untuk menghalangi kejadian buruk dan juga hal yang tidak di inginkan agar


tidak bisa menyentuh majikannya itu.


     “Hei, Emil kau bercanda ya. Lihat itu Kak Lee sedang melihatmu dari kaca spion,” Emil melirik ke arah kaca spion dan benar saja pria itu menatap ke arahnya masih dengan alis hampir menyatuh. “lagi pula kau ini kan calon Kakak iparku wajar jika kau berada di


kursi depan.” imbuh Park dengan seulas senyum terbit dari bibirnya.


      “Eh aku, ta. . tapi,” Park langsung membuka pintu samping Emil sedang duduk sehingga mau tidak mau dirinya harus cepat berpindah duduk di kursi depan bersama calon suaminya.


         Papa, Mama kenapa kau mau menikahkan aku dengan pria galak dan juga menakutkan sepertinya sih, apakah tidak ada pria lain di dunia ini sampai aku harus menikah dan menghabiskan masa muda ku dengan tinggal dengannya, gerutu Emil dengan melirik ke arah Lee.


    Lee yang  sedang sibuk memfokuskan pandangannya ke arah jalanan


merasa sedang di perhatikan dari kursi di sampingnya, Lee melirik ke arah Emil


yang sedang menatapnya sontak gadis itu langsung gelagapan dan segeralah membuang pandangannya melihat ke luar jendela yang ada di samping tempat duduknya saat ini.


    Mall terbesar yang berada di kota itu kini sudah ada di depan Park dan juga Lee, sedangkan Emil melihat mall tersebut sudah terbiasa sehingga dirinya tidak heran lagi melihat betapa mewah bangunan tersebut dan juga betapa megah Stratford Mall jika di


lihat dari luar. Lee tidak terlalu tertarik dengan berbelanja karena selama ini hidupnya hanya di penuhi bisnis saja, dia terlalu sibuk berkerja sampai tidak pernah keluar rumah selain berkerja.


   Park segera mengandeng tangan Emil untuk masuk ke dalam mall tersebut, Lee mengikuti kedua gadis itu dari belakang dengan wajah datar, Langkah Emilia segera terhenti saat ponsel di sakunya mulai berbunyi. Emil melihat nama Alan tertera di layar ponselnya dia segera memencet tombol hijau untuk mengangkat pangilan telepon


dari Alan.


      [Haloo Alan, aku


lupa memberikan kabar padamu jika aku tidak jadi memintamu antar ke Mall yang


biasanya kita menonton bioskop,] ucap Emilia mendahului pria itu berbicara


karena Emil sudah tau apa yang akan Alan bicarakan.


    Emil sampai lupa mengabari sahabatnya itu tadi, hingga Alan yang sekarang berada di rumahnya sedang menunggu kabar darinya bahkan pria itu sudah bersiap-siap mengantarkan Emilia kemanapun gadis itu mau pergi, Lee melirik Emil yang sendang berbicara tanpa menegurnya sedikitpun namun Emil mulai terganggu dengan tatapan pria itu yang seolah sedang memperingatkan dirinya utnuk segera mematikan panggilan

__ADS_1


teleponya.


     [Baiklah, aku akan pergi ke sana untuk menemanimu berbelanja,] sahut Alan dengan menyambar kunci motornya yang ada di atas meja.


    [Tapi,] sambung Emil namun pria itu sudah menutup panggilan teleponnya.


     “Bukan aku yang menyuruhnya datang,” ucap Emil dengan melirik ke arah Lee yang kini berada persis di sampingnya.


     “Aku tidak bertanya!” tandas Lee dengan berjalan mendahului Emil masuk ke dalam mall itu. Emil menatap Lee dengan menggertak kedua giginya seolah gadis itu ingin sekali mencabik-cabik tubuh calon suaminya itu saat ini juga.


     Park mencoba meyakinkan calon kakak iparnya itu agar tidak terlalu memikirkan apa yang di ucapkan oleh Lee padanya karena Lee sebenarnya pria yang baik, namun tetap saja


hanya Emil yang bisa merasakan apa yang akan terjadi setiap pria itu mulai


mengancam dirinya dengan memotong lidahnya dan juga mau melemparnya dari atas restoran waktu dirinya dan juga Lee berada di restoran yang ada di sungai


Thames tempo hari.


    Park dan juga Emil mulai memasuki beberapa toko baju dan mereka segera memburu dan memilih baju yang cocok di tubuh mereka dan keduanya juga begitu banyak memilih baju namun saat Park tak sengaja melihat lingerie yang berwarna hitam dengan model transparan yang sedang di pajang di sudut toko.


     “Emil sana ke kasir dulu ini kartu gold kak Lee yang tidak ada limitnya kamu pakai saja untuk membayar semua baju ini,” pinta Park dengan menyodorkan kartu tersebut pada


Emil dan gadis itu langsung menerimanya karena pikirnya sebentar lagi dia juga


akan menjadi suami dari si pemilik kartu ini jadi tidak masalah jika dirinya


meminta uang sedikit saja sebelum resmi menjadi istri pria itu.


       Lee melirik ke arah tumpukan baju yang sangat banyak di dalam troli yang sedang Emil dorong dan gadis itu langsung tertawa garing untuk menghilangkan rasa canggungnya sedangkan Park segera memasukkan beberapa jeni lingerie yang bentuknya transparan dan ada juga yang model seperti baju tidur ke dalam keranjang


belanjaanya bahkan terlihat senyuma usil yang tersunging di bibir gadis cantik


itu.



Itu novel baru Khairin Nisa yang terbit di Novelmee ya. silahkan mampir dan follow juga IG Khairin Nisa agar kalian tau di mana saja Khairin Nisa nulis ya.


__ADS_1


INI NOVEL TERBIT DI WATTPADD JANGAN LUPA MAMPIR JUGA YA DAN IKUTI KARYA KHAIRIN NISA. . CERITANYA TENTANG SEORANG GADIS YANG MENIKAHI PRIA ASING YANG SEMPAT DIA SELAMAT DI TENGAH HUTAN NAMUN TANPA DI SANGKA PRIA ITU SUDAH MEMILIKI TUNANGAN YANG BERASAL DARI KELUARGA KAYA.


__ADS_2