
Emil mengerucutkan bibirnya setelah mendengar apa yang suaminya itu katakan. Ia segera memukul lengan tangan suaminya tentu saja dengan pelan. Lee terkekeh kemudian mencium pipi Emil dengan begitu gemasnya bahkan Lee juga sempat mencubit kedua pipi istrinya. Emil masih mengerucutkan bibirnya dengan diam tanpa menggubris apa yang suaminya itu lakukan, bagaimana mungkin pria itu bisa melakukan hal seperti itu waktu dia koma, ya walaupun apa yang suaminya itu lakukan memang tidak salah sebab pria tidak akan kuat menahan hasrat dalam dirinya terlalu lama sangat berbeda sekali dengan wanita.
“Sayang, aku hanya bercanda. Kamu kenapa begitu saja percaya dengan apa yang aku katakan,” ucap Lee.
Menoleh kearah suaminya, “Kamu hanya bercanda?” tanya Emil
mengulangi perkataan suaminya.
“Tentu saja,” berbicara dengan wajah terlihat bersungguh-sungguh karena memang itu yang terjadi sebenarnya. “Kamu tidak pernah tahu bagaimana aku merasa depresi waktu membasuh tubuh kamu.” Terdengar bada bicara Lee terdalam sedikit penekanan seakan ia merasa tersiksa sekali ketika membayangkan berada di saat itu.
“Sayang maafkan aku, aku benar-benar tidak menyangka akan
hal itu,” ucap Emil dengan menangkup wajah suaminya dengan kedua tangan. “Lalu bagaimana cara kamu melakukanya jika tidak denganku?” tanya Emil yang masih merasa kepho. Tapi tatapan wanita itu penuh dengan intimidasi.
“Tentu saja aku memuaskan diriku sendiri,” jelas Lee dengan wajah malu. Ia sampai mengalihkan wajahnya kearah lain namun hal itu masih bisa di lihat oleh Emil-semburat merah di kedua pipi suaminya.
“Jika aku sudah sembuh nanti kita akan melakukannya sebanyak
yang kamu mau,” ucap Emil.
“Benarkah?” tanya Lee dengan kedua mata berbinar-binar. Ia sudah tidak sabar menunggu hari itu datang, hari di mana ulat kobra miliknya masuk kembali kedalam sangkar setelah sekian lama mengembara.
“Tentu saja, akan aku tebus semua kewajiban ku ketika, aku
masih koma,” ucap Emil dengan wajah bersungguh-sungguh.
“Apakah tidak bisa sekarang?” tanya Lee ingin kembali menggoda istrinya. Melihat wajah Emil yang bersungguh-sungguh itu membuatnya
tidak tahan untuk menggodanya lagi.
“Sayang,” teriak Emil dengan bibir mengerucut dan juga kedua alis berkerut.
“Hahaha, aku hanya bercanda saja, Sayang.”
_ _ _
Hari ini adalah hari kedua Emil melakukan latihan, perkembangannya sangat pesat sekali karena Emil melakukannya dengan bersungguh-sungguh walaupun ia hanya bisa berjalan beberapa langkah tanpa ada yang memeganginya namun seperti hari sebelumnya semua orang berada di ruangan
itu untuk memberikan Emil semangat. Sedangkan Park sekarang kembali ke
perusahaan untuk mengantikan kakaknya mengurus perusahaan itu.
__ADS_1
“Ma, Pa. Aku bisa berjalan lagi,” ucap Emil dengan girang. Sangking bahagianya ia sampai kehilangan keseimbangan.
“Hati-hati, Sayang,” ucap Una dan juga Narra dengan bersamaan ketika melihat Emilia hampir saja terjatuh.
“Tenang saja ada kami,” ucap Jim dan juga Jhong secara bersamaan dengan kedua tangan sigap memegangi tangan Emilia.
Wajah Lee, Una dan juga Narra yang tadinya terlihat panik langsung
menghembuskan nafas lega. Jim dan juga Jhong selalu berada di belakang Emil untuk menjaga hal seperti ini.
“Sepertinya, Nona muda akan sembuh lebih cepat dari perkiraan.” Ucap dokter yang membantu pemulihan Emil.
“Terima kasih dokter,” sahut Semua orang dengan tersenyum
bahagia.
Setelah selesai latihan, semua orang berjalan kembali keruangan VVIP rumah sakit ini. Emil meminta pada Lee untuk di turunkan dari gendongan karena banyak sekali orang yang sedang memperhatikan dirinya. Dan
yang tidak di duga ternyata ada satu reporter yang menyelinap masuk kedalam rumah sakit ini. Reporter itu seorang wanita dan dia langsung menghadang Lee yang sedang mengendong Emilia.
Sikap spontan itu membuat semua orang merasa terkejut, Una yang tidak sengaja melihat wanita di hadapan Lee itu langsung memberitahukan Jim dan juga Jhong dengan wajah panik.
tersebut setelah memperkenalkan dirinya. Reporter itu bahkan menatap
sekitarnya takut jika ada pengawal dari CEO Lee melihat kehadirannya
itu akan sangat bahaya sekali bagi karirnya kedepan. Tapi jika pertanyaan ini di jawab oleh pria di hadapannya maka karirnya juga akan naik drastis setelah hari ini.
“Apa yang kalian lakukan, jauhkan wanita itu.” Teriak Jhong yang tidak mau terjadi sesuatu pada anak dan juga menantunya.
Bersembunyi di belakang Lee dengan wajah yang sudah memucat. Suara Jhong seakan menyerap seluruh aliran darah di wajahnya.
“Biarkan saja dia hanya seorang reporter dan aku akan menjawab pertanyaan,” ucap Lee.
Sudah waktunya ia memberitahukan hubungannya dengan Emil pada semua orang. Beberapa hari ini semua orang sibuk mencari tahu siapa Emilia yang sebenarnya setelah Park memposting Emil di media sosial waktu itu. Dan Lee tidak mau menyembunyikan siapa istrinya ini.
“Sayang, apa kamu tidak malu mempunyai istri yang masih belum bisa berjalan seperti aku ini?” tanya Emil mencoba untuk mengingatkan sang istri jika ia masih belum sembuh total.
“Aku akan adakan memberikan klarifikasi pada dunia tentang siapa wanita yang sedang berada di dekapanku saat ini,” sahut Lee mantap pada Anita.
Menatap kearah Emil, "Sayang, aku malah sangat beruntung bisa menjadi suami kamu, kamu adalah gelap dalam terangku." Lee mengecup puncak kepala istrinya.
__ADS_1
Reporter dihadapannya tidak mau melewatkan momen romantis ini, ia langsung memposisikan kamera ponselnya guna mengabadikan kejadian langka yang ada di hadapannya itu.
Hal itu membuat senyuman semua orang mengembang dengan begitu sempurna bahkan wartawan yang tadi bersembunyi di belakang Lee langsung ikut tersenyum bahagia andaikan sekarang dia berada di tengah hutan, sudah bisa di pastikan jika ia akan berteriak dengan sangat kencang karena rasa bahagia. Bahkan dadanya hampir saja meledak karena begitu bahagia.
“Sekarang pulanglah, asistenku akan menghubungi kamu.”
“Terima kasih, Tuan muda dan juga, Nona muda.” Ucap wanita tersebut dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya.
Ruangan Jhong.
Semua orang sedang berada di dalam ruangan Emilia. Narra dan juga Una duduk di samping ranjang. Sedangkan ketiga pria berdiri di kaki sofa. Mereka bertiga saling berhadapan dengan pasangan masing-masing andai saja Park
ada disini dia akan merasa iri karena hanya dia saja yang jauh dari kekasihnya. Untung saja Park hari ini sibuk di kantor ehehe.
“Ma, bisakah kalian bantu aku untuk menyiapkan Emil beberapa hari kedepan?” tanya Lee.
“Tentu saja.” Sahut Una dan juga Narra dengan bersamaan karena sangat antusias. Tanpa di minta sekalipun mereka berdua akan melakukannya dengan senang hati.
“Sebaiknya perketat keamanan di sekitar hotel beberapa hari sebelum berlangsungnya acara.” Jhong langsung menghubungi bawahannya
untuk mengamankan hotel yang akan mereka pakai.
“Ma, Pa. Apakah ini tidak terlalu cepat, Emil takut jika terlihat jelek di kamera. Kalian semua tahu sendiri jika selama ini Emil tidak mau jika terekspose,” ucap Emil.
Lee mengeluarkan ponselnya kemudian memberikannya pada sang
istri.
“Apa ini?” tanya Emil dengan mengerutkan keningnya.
“Kamu lihat saja itu sendiri,” pinta Lee dengan tersenyum.
“Kita keluar saja, sepertinya kita sudah mengganggu mereka,”
ucap Jim yang langsung menaruh tangannya di bahu Jhong kemudian Una dan juga Narra ikut keluar setelah berpamitan dengan Emil dan juga Lee.
Kedua bola mata Emil membulat dengan begitu sempurna saat ia
melihat fotonya waktu masih koma. Kalian tentu masih ingatkan jika tempo hari Lee selalu memotret sang istri saat masih koma dan kini ia menunjukkan foto itu pada Emil dengan tersenyum.
“Kau masih sangat cantik seperti dahulu, hanya sedikit dewasa saja.” Lee mendudukkan tubuhnya di samping Emil dengan tersenyum.
__ADS_1