Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Pura-pura Tidur.


__ADS_3

              Emil menutup matanya dengan kedua tangan dan dia memundurkan badanya sampai ke punggung tempat tidur dia tidak siap harus melakukan malam pertama dengan pria yang tidak dia sukai walaupun status pria itu sudah menjadi suaminya tapi tetap saja wanita itu tidak bisa menyerahkan dirinya pada pria itu karena mereka hanya menikah di atas kertas saja.


         Lebih lagi Emilia harus melanjutkan kuliah dia tidak mau menjadi ibu di usia yang masih muda, Emil ingin menikah dengan pria yang dia cintai seumur hidupnya. Banyak


pikiran yang sekarang berterbangan di dalam khayalan gadis itu dengan masih


menutup kedua matanya rapat-rapat dengan ketakutan dia sedang membayangkan


suaminya tidak mengenakan apapun di depanya memikirkan hal itu membuat Emil


tidak mau menjauhkan kedua tangannya dari wajah cantiknya.


    Lee tersenyum tanpa suara dengan melihat


wanita itu ketakutan, Lee memang membuka bajunya, namun bukan untuk melakukan


hubungan layaknya suami-istri karena Lee hanya ingin melihat luka bekas gigitan


istri kecilnya apakah membekas di lengan kanannya karena ternyata benar Lengan Lee


kelihatan membiru dan bekas gigitan Emilia masih menempel di sana. Lee semakin


gemas melihat wanita itu sejak tadi masih tidak mau membuka matanya.


      “Hei bocah, buka matamu,” teriak Lee dengan menatap lurus kearah Emilia.


       Kau pikir menyuruhku membuka mata lalu aku akan membuka mataku, aku tidak akan pernah melakukannya karena aku tidak mau melihat mata suciku ini ternoda dengan bentuk tubuhmu yang jelek. Gerutu Emil


dalam hati dengan masih menutup matanya di balik buku-buku tangannya.


      “Lihat ini, tangan kananku membiru karena bekas gigimu yang seperti vampire itu.” Pria itu bicara dengan menarik kedua tangan Emil agar menjauhi wajahnya.

__ADS_1


      “Aku masih tidak mau membuka mata weeee. . “ ejel Emil dengan menutup kedua matanya rapat-rapat.


     “Masih berani tutup mata lagi akan aku cium kamu!” ancam Lee dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Emil.


         Wanita itu merasakan hembusan nafas Lee menerpa wajahnya, Emil langsung membuka matanya lebar-lebar sebelum hal itu terjadi, Emil melihat dada kekar Lee tanpa cacat sedikitpun tubuh pria itu begitu berotot sampai membuat Emilia terpesona


melihatnya. Lee menyentil jidatnya dengan pelan saat melihat mata Emil yang tidak berkerdip saat menatap bentuk tubuhnya yang begitu proposional seperti atlet renang.


      “Kau lihat apa bocah? Ini lihat lengan tanganku membiru karena gigitan mu tadi,” gerutu Lee dengan mengusap lengannya yang masih terasa nyeri.


     “Ma. . maaf. Aku tidak sengaja Kak Lee suruh siapa kau mengerjai aku,” Emil menjawab dengan nada suara terdengar memelas seakan dia sedang memohon pengampunan.


       Lee melihat wajah Emil  sudah kelihatan lelah mungkin karena sejak pagi wanita itu belum beristirahat juga, Dia pasti capek sampai kado yang di berikan oleh Park di taruh begitu saja di atas meja yang ada di


dalam kamar itu Lee melihat kotak hadiah itu sebenarnya dia begitu penasaran


dengan isi hadiah yang di berikan adiknya pada Emil namun Lee tidak membukanya


       Emil berjalan menuju almari baju yang ada di dalam ruangan itu dan dia mengambil baju tidur warna Pink kemudia masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah Emil ke luar dari dalam kamar mandi wanita itu duduk di meja rias dan membersihkan sisah make up yang masih menempel di sana sedangkan Lee ganti masuk ke dalam kamar mandi yang tadi sempat di gunakan oleh Emilia.


        Lee sudah keluar dari kama rmandi dengan mengenakan piyama tidur warna hitam, piama tidur itu berlengan panjang membalut tubuh kekarnya dengan sangat sempurna semakin memperlihatkan otot-otot di tubuhnya sekarang sudah pukul 10, malam. Emil dan Lee sangat lelah mereka sudah siap beristirahat Lee tidur di atas ranjang lebih


dulu mendahului Emilia yang masih betah di depan cermin membersihkan wajahnya


dari sisah make up.


      Emil melotot tajam saat melihat Lee sudah mematika lampu tidur yang berada di atas nakas samping ranjangnya, karena sebelum menikah mereka sudah berjanji untuk tidak tidur dalam satu kamar namun Lee melupakan hal itu, Emil berjalan mendekati Lee dan mengoyangkan pelan bahu pria itu beberapa kali namun tidak ada jawaban sepertinya Lee sudah tidur karena dia juga lelah emil memberengut dengan mondar mandir ke sana kemari mengelilingi kamar itu sebab dia tidak terbiasa tidur satu


kamar dengan wanita lain apa lagi sekarang dia harus berbagi kamar dengan seorang pria.


     “Dasar dia itu manusia apa bukan sih kenapa tidur dengan cepat seperti itu, ingin sekali aku keluar dari kamar ini namun Papa dan juga Mama tadi bilang jika akan menginap di sini pasti mereka akan marah jika aku tidur terpisah dengan Kak Lee dan bilang, sebagai istri yang baik kau tidak boleh menjaga jarak dengan suamimu. Gerutu Emil dengan mondar mandir ke sana kemari.

__ADS_1


      Pintu kamar mulai terbuka dengan perlahan, Emil yang berdiri di samping ranjang tidurnya segera meloncat ke dalam tempat tidur yang sama dengan Lee dan wanita itu menutup sebagian tubuhnya dengan selimut berwarna putih tanpa sempat mematikan lampu tidurnya karena Emil tau jika itu  pasti Narra dan juga Jim yang membuka pintu kamarnya.


     Kedua orangtua itu memang tidak pernah tenaga jika belum melihat buah hatinya lebih dulu Narra tersenyum melihat Lee dan juga Emil tidur dalam satu ranjang yang sama walaupun mereka menjaga jarak namun Narra dan juga Jim sudah merasa lebih tenang sekarang.


     “Lihatlah Pa, mereka berdua pasti lelah selama perjalanan tadi sampai Emil juga lupa


mematikan lampu tidurnya,” Narra bicara dengan masuk ke dalam kamar itu kemudia


mengecup kening Emil yang tidur dengan posisi membelakangi suaminya. Setelah


mematika lampu Narra berjalan keluar dari kamar itu.


      “Kau bisa tenangkan Ma, sekarang Lee akan mengantikan kita untuk menjaganya,” ucap Jim dengan melingkarkan tangan kananya di bahu istrinya dan tangan kiri pria itu memegangi gagang pintu dan menutupnya kembali.


  .


     Malihat pintu kamar itu sudah tertutup kembali, Emil segera duduk dari posisi tidurnya tanpa menyalakan lampu kamar, kaki kiri Emil sudah turun dari ranjang terlebih dahulu dia berencana tidur di sofa saja karena Emil tidak mau tidur dengan suaminya


dia pasti takut jika Lee akan macam-macam denganya. Namun saat Emil hendak


beranjak berdiri sebari tangannya memegangi bantal ada tangan yang memeluk


pingangnya sampai emil mau berteriak karena kaget namun Lee segera menutup


mulut wanita itu.


 


"Sini tidur denganku atau aku akan bilang pada Mama dan Papa jika kau melakukan tindakan kekerasan padaku," bisik Lee di dekat telinga Emil semakin membuatnya merinding di sekujur tubuhnya.


 

__ADS_1


MAMPIR JUGA KE CERITA SAYA YANG BERJUDUL, "JANDA VIRGIN TUAN ALRESCHA."


__ADS_2