Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Pura-pura Tidak Tahu


__ADS_3

Dapur.


Emil melangkah masuk kedalam dapur, dia melihat Jim dan juga Narra sedang berbincang-bincang bersama sesekali keduanya tersenyum, Emil menarik salah satu kursi untuk ikut bergabung dengan kedua orangtuanya.


"Ma, Pa, kalian sedang membicarakan apa? Kenapa terlihat begitu serius sekali?" tanya Emil dengan tangan mengambil wortel untuk ia kupas.


"Tentu saja kami sedang membicarakan kamu," jawab Mama Narra dengan menatap putrinya gemas.


Mengerutkan keningnya, "Kenapa kalian membicarakan, Emil?" tanya Emil penasaran.


"Kamu itu bisa-bisanya menyuruh suami kamu untuk membelikan pembalut," ucap Papa Jim dengan melirik kearah putrinya.


"Ya mau gimana lagi, Pa itu kan dalam keadaan darurat," sahut Emil cengegesan.


"Lain kali jangan di ulangi, Lee pasti akan sangat malu jika ada pekerjanya tidak sengaja melihatnya membeli hal khusus wanita," ucap Mama Narra mengingatkan putrinya.


"Iya, Ma, Pa."


"Ma, Papa tinggal keluar dulu ya, kan sudah ada, Emil di sini," pamit Jim.


"Iya," sahut Narra.


"Ma, apakah, Papa sering membantu Mama seperti ini?" tanya Emil.


"Sejak kamu menikah, Mama selalu masak sendirian, Papa merasa kasihan jadi dia membantu Mama," jelas Narra. Emil menganggukkan kepalanya mengerti.


Teras rumah ini.


Jim sedang duduk dii teras dengan mengamati sekitarnya, air mancur setinggi 10 meter memanjakan penglihatannya, jika malam hari lampu yang terdapat di bawah air mancur itu di hidupkan dan berwarna-warni. Tidak jauh dari air mancur terdapat taman bunga yang cukup besar.

__ADS_1


Lee melangkah melewati pintu rumah ini, ia melihat Papa mertuanya sudah lebih dahulu duduk di kursi yang ada di teras.


"Apakah, Papa sudah dari tadi berada di sini?" tanya Lee sembari mendaratkan tubuhnya perlahan di kursi kosong.


"Lumayan," sahut Jim menatap kearah Lee. "rumah ini tidak jauh berubah, hanya taman bunga ini saja yang sedikit diperluas."


"Papa benar sekali, tidak aku sangka jika, Papa masih ingat padahal sudah lama tidak ke sini," sahut Lee.


"Maafkan, Emil karena dia menyuruh kamu membelikan hal seperti itu," menatap kearah Lee dengan wajah memohon.


"Tidak masalah, Pa, Emil adalah istri aku jadi sudah sewajarnya aku membantunya," sahut Lee dengan bijaksana.


"Dahulu, Papa yang menjaga kamu sewaktu masih kecil, dan sekarang gantian kamu yang menjaga putri kesayangan, Papa," ucap Jim sembari menerawang kemasa lalunya saat ia masih berada di negara B. waktu itu ia masih mencintai Hyouna.


"Waktu sudah lama berlalu, tapi terkadang saya juga masih merasa baru kemarin terjadi," sahut Lee ikut memutar ulang memori internal otaknya.


Selang beberapa waktu Emil memanggil keduanya untuk makan malam bersama. Emil bergelayutan manja di samping Papa jim, ia begitu merindukan orangtuanya. Lee hanya bisa diam melihat sikap manja istrinya, jika belum menikah dengannya pasti sekarang Emil masih bersenang-senang dengan teman seusianya di luar sana. Dan Lee juga suka dengan sikap istrinya yang selalu menjaga kehormatannya.


_ _ _


Emil menjauhkan tangan suaminya yang masih melingkar di pingangnya, dahulu Emil akan risih jika sampai Lee memeluknya kalau sedang tidur, tapi sekarang ia sudah mulai terbiasa dan ia akan merasa tidak nyaman jika Lee tidak memeluknya. Usai membersihkan tubuhnya, Emil membantu Narra untuk menyiapan sarapan pagi di dapur.


Teras rumah.


"Ma, Pa, Emil berangkat ke kampus dulu," pamitnya sembari memeluk kedua orang yang namanya dia sebutkan tadi.


"Hati-hati di jalan," sahut Narra.


"Apakah Mama dan juga Papa akan pergi ke rumah sakit nanti?" tanya Lee.

__ADS_1


"Iya, Mama akan menyiapkan makanan untuk, Mama Una terlebih dahulu setelah itu barulah, Mama akan berangkat ke rumah sakit," jelas Narra dan Lee menganggukkan kepalanya paham.


Mobil.


"Kak Lee, nanti aku dan juga Alan akan latihan menyanyi, cuman dua jam saja dan setelah itu aku mau pergi jalan-jalan ke mall sudah lama aku tidak pergi keluar rumah bersama dengan, Park," pamitnya dengan wajah memelas agar suaminya mengijinkannya.


"Apakah perlu aku temani?" tanya Lee.


"Tidak perlu, karena nanti Mama Narra dan juga Mama Una, akan ikut ke mall bersama kami, tadi pagi aku sudah bilang jika akan bertemu di mall saja," jelas Emil panjang lebar.


Mengganggukkan kepalanya, "Baiklah kalau begitu," sahutnya kemudian. "jangan pulang terlalu malam," pintanya.


Mengarahkan tangannya seperti orang yang sedang hormat, "Baik suamiku," ucapnya dengan di akhir kaliman menjulurkan lidahnya.


Meminggirkan mobilnya ke sisi jalan sampai membuat Emil kaget, "Ada apa?" tanya nya. Lee tidak menjawab tapi ia langsung mengecup bibir ranum istrinya yang sedang di balut lipstik berwarna naturan.


Lee merasakan jika bibir istrinya tertarik ke atas tanda jika gadisnya itu tidak keberatan dengan hal ini, Lee semakin di buru oleh gairah hingga tanpa sadar ia mulai mengajak tangannya untuk memegang lembut salah satu gunung sang istri. Emil merasakan sensai melayang ke udara, sentuhan ini seakan membangunkan semua saraf yang telah tertidur lama dalam tubuhnya.


Lee senang sekali melihat istrinya tidak keberatan dengan perlakuannya ini. Lee mengajak lidahnya mulai mengabsen deretan gigi istrinya dengan teliti, Emil merasa gerah sekali apalagi saat suaminya mulai menyelipkan tangannya ke dalam bra yang sempat membungkus gunung indah itu. Emil merasakan ada hantaran listrik bertegangan tinggi yang dengan cepat mengalir ke seluruh tubuhnya.


Tin ... Alan membuyikan klakson mobilnya dengan sengaja, ia melihat mobil milik Lee menepi di pinggir jalan.


"Maaf," ucap Lee pada Emil setelah melepaskan pangutannya. "Sith! Bocah ingusan itu selalu menganggu saja," batinnya menggerutu saat ia melihat mobil yang tidak asing dalam ingatannya itu.


Emil membenarkan bajunya dengan wajah tertunduk, ia malu sekali jika mengingat apa yang baru saja dirinya dan juga suaminya itu lakukan. Ini adalah kali pertama ia membiarkan Lee menjamah tubuhnya.


"Kamu semakin menggemaskan sekali jika seperti ini," ucap Lee sembari mengacak-acak rambut Emil. "Ayo kita kembali pulang, bagaimana jika kita lanjutkan di rumah," godanya. Emil semakin malu di buatnya.


"Sudah, jangan bicara lagi ayo kita berangkat ke kampus saja, aku tidak mau sampai terlambat." Emil bicara tanpa mau melihat suaminya, bahkan kini ia mulai jadi pendiam sekarang.

__ADS_1


Lee tersenyum tipis, ia mengusap sisa salivah istrinya di bibir dengan ibu jari, kemudian melanjutkan lagi perjalanan mereka menuju kampus Emilia.


__ADS_2