
Hyouna mendekati Lee dan langsung memukul lengan putranya tersebut dengan kasar, "Siapa yang telah mengajarkan pada kamu untuk menindas wanita? Apa lagi ini adalah istri kamu sendiri." makian meluncur dengan sempurna ke pada Lee sedangkan yang di maki hanya bisa diam dengan melirik Emil sinis.
"Ma." jhong menatap Istrinya.
"Ada apa, Pa? Jangan coba membela anak kurang ajar ini," kejam Hyouna dengan mata melotot.
"Justru Papa mau bilang, berikan dia pelajaran agar bisa menghargai istrinya." Hilang sudah harapan Lee untuk mendapatkan pembelaan dari Papanya, karena pria itu justru mendukung apa yang di lakukan oleh Hyouna.
Emil mencebikkan bibirnya kesal, karena ia tidak tega melihat suaminya terus menerima pukulan dari Hyouna. Emil segera menghampiri Mama mertuanya tersebut.
"Ma. Sudah jangan pukul Kak Lee lagi, kasihankan dia, lagi pula aku tidak apa-apa kok." Emil menghalau tangan Hyouna yang hampir mendarat kembali di lengan suaminya.
"Bocah tengik ini, manis juga jika seperti ini." Lee tidak henti menatap istrinya yang kini sudah berada di hadapannya.
"Lee kali ini kami terselamatkan, tapi jika lain kali aku melihat kamu berbuat hal yang sama! awas saja." Hyouna bicara dengan membulatkan kedua bola matanya dengan begitu sempurna.
"Lee janji tidak akan Ma." mantap jawaban yang Lee berikan mampu membuat Hyouna tenang.
"Papa lekas sembuh, apakah Papa tidak ingin melihat cucu papa lahir nanti," Lee memberikan semangat pada Jhong.
__ADS_1
"Uhuk. . .uhuk!" Emil langsung tersedak ludahnya sendiri ketika suara Lee masuk kedalam gendang telinganya.
^^^jhong yang kelihatan lesu langsung berubah tersenyum ketika ia mendengarkan Lee menekankan kata "Cucu." Jhong bahkan langsung membenahi posisi duduknya sedangkan Emilia yang menyadari kebahagiaan yang sedang terpancar dari wajah Papa mertuanya hanya bisa tersenyum getir dengan kenyataan yang ada.^^^
Andaikan hubungannya dengan Lee benar-benar dilandasi cinta dan kasih sayang mungkin saja ia akan menjadi wanita yang paling bahagia saat ini, namun Emil harus menelan bulat-bulat apa yang sedang ada didalam pikirannya sekarang. Emil tersenyum menutupi rasa gelisah yang sedang ia rasakan.
"Benarkah kalian akan memberikan aku cucu?" Jhong mengulangi apa yang di ucapkan oleh putranya tadi untuk membuatnya yakin.
"Tentu saja, tapi Papa harus lekas sembuh dulu agar bisa melihat calon anak kita lahir." Lee memeluk bahu Emilia dan mendaratkan ciuman di pipi istri kecilnya itu.
"Jangan ambil kesempatan dalam kesempitan." umpat Emil di telinga suaminya lirih agar tidak di dengar oleh Hyouna dsn juga jhong yang kini memperhatikan mereka berdua.
"Mulai sekarang Papa akan mengikuti serangkaian tes di luar negri, karena Papa ingin hidup lebih lama lagi dan melihat calon cucu Papa lahir," jhong berbicara dengan tersenyum bahkan dia meraih Emil kedalam pelukannya.
"Terimakasih sayang, karena kamu sudah hadir di kehidupan kami. Aku memang tidak salah memilih kamu sebagai pendamping puteraku," bisik Hyouna di samping Emilia.
Setelah berbincang-bincang Emil dan juga Lee pamit keluar dari ruangan itu. Awalnya Emil ingin berangkat ke kampus bersama dengan Park juga tapi siapa sangka jika sahabatnya itu sudah berangkat lebih dulu mengunakan supir pribadinya.
Emil dan juga Park sudah berada di dalam mobil, mobil berjalan menuju ke kampus Emilia.
__ADS_1
"Kenapa tadi kamu bilang begitu? Aku tidak mau punya anak dari kamu," bicara dengan mencebikkan bibirnya.
"Tapi tadi kamu mendukung apa yang aku katakan," jawab Lee santai dengan fokus mengemudikan mobilnya menuju kepadatan di pagi hati ini.
"Aku mana tega menghancurkan senyuman di wajah Papa," Emil menundukkan kepalanya.
"Aku tidak bermaksud demikian, jadi kamu jangan terpikirkan ucapan aku tadi," Lee membelai lembut puncak rambut Emil.
"Kamu laki-laki mana mungkin aku bisa percaya." Emil melotot ke arah Lee.
"Aku bisa di percaya! Kamu justru jangan percaya dengan teman lelakimu itu yang bernama Alan." Lee merasa cemburu jika mengingat istrinya dekat dengan lelaki selain dirinya.
"Alan baik_" ucapan Emil terhenti ketika Lee menyela ucapanya.
"Dia menyukai kamu!"
"Lalu kenapa? Kamu cemburu!" mana mungkin kamu cemburu kepadaku, hahaha.
"Ya. Aku cemburu." tidak di sangka ternyata Lee menjawab demikian dan Emil langsung menatap pria itu tanpa berkerdip.
__ADS_1
Jangan lupa komentar yang banyak ya. . . dan berikan dukungan berupa vote juga agar author semakin semangat untuk update teratur. love you all Khairin Nisa