
"Karena kamu sudah memanggilku, Sayang. Jadi biarkan aku yang memandikan kamu," ucap Lee mengambil kesempatan.
"Aku tidak mau," tolak Emil cepat.
"Aku tidak menerima penolakan."
Di dalam kamar mandi itu terdengar suara ******* dan juga erangan kedua insan yang sedang menanam jagung, wkwkw kata-kata itu cocok kali ya biar tidak terlalu vulgar namun terbaca dengan manis dan mudah di pahami agar yang masih remaja tidak terlalu berpikir liar.
_ _ _
Emil melihat sunset dari balkon kamarnya, warna air laut ikut berwarna kemerahan sungguh memanjakan mata, ia menghirup aroma pantai beberapa kali, villa ini begitu berbeda dari yang lain karena letaknya yang berada di pinggir pantai, walaupun desainnya sangat simpel tapi hampir semua perabotan di dalamnya berharga mahal dan langsung di datangkan dari luar kota. Orang yang menginap di dalam villa ini juga kebanyakan berasal dari kalangan menengah ke atas.
"Apakah kamu betah berada di sini?" tanya Lee sembari memeluk tubuh istrinya dari belakang, ia mengecup pipi istrinya sekilas kemudian menatap matahari yang sudah hampir tengelam dan akan di gantikan dengan cahaya rembulan.
"Aku sangat menyukai pantai dan aku juga betah sekali tinggal di sini," sahut Emil sembari menatap ke arah suaminya sekilas kemudian mengarahkan pandangannya lurus kedepan menatap indahnya langit dengan semburat merahnya.
"Kalau begitu bagaimana jika kita berlibur di sini selama satu minggu?" tanya Lee. Ia sudah mendapatkan ijin dari kedua orangtua mereka, Lee ingin menikmati waktu berdua saja bersama Emil tanpa ada Alan sang penggangu di antara hubungan mereka yang sedang mekar.
"Bagaimana dengan Mama dan juga Papa, mereka datang ke negara ini untuk menjengukku, tapi aku malah meninggalkan mereka di sana?" tanya Emil dengan perasaan cemas. Ia masih merindukan kedua orangtuanya namun ia juga masih enggan meninggalkan tempat ini. dilema sedang melanda hati.
"Mereka yang menyuruh kita untuk tetap berada di sini jika kamu mau," memberikan jeda untuk ucapannya." "mereka akan kembali ke kota B besok," jelas Lee pada Emil.
Emil hanya bisa diam dengan kepala yang tertunduk, baru saja ia bertemu dengan kedua orangtuanya beberapa hari tapi mereka sudah berpisah lagi. Lee yang menyadari akan kesedihan istrinya langsung menangkup wajah sang istri dengan kedua tangannya, kini kedua manik mata itu saling terkunci satu sama lain.
"Aku akan membawa kamu kepada mereka jika kau rindu, jadi tidak usah murung seperti itu," ucap Lee. Binar mata bahagia terpancar dari kedua manik mata indah itu.
"Kak," menutup mulutnya karena sadar jika ia salah memanggil suaminya. "Sayang kamu tidak sedang berbohong kan?" tanya Emil memastikan.
"Mana mungkin aku berbohong, Sayang kau adalah nafas dalam hidupku," ucap Lee dengan mengecup bibir sang istri dan bersama dengan itu sunset menghilang bagaikan masuk kedalam air laut.
__ADS_1
Lee mendekap erat tubuh istrinya lalu seakan ia tidak rela jika tubuh ini di jamah oleh hembusan angin pantai yang semakin lama, semakin kencang saja.
_ _ _
Rumah sakit.
Narra dan juga Jim sedang berada di dalam ruangan Jhong bersama dengan Una dan juga Park. Mereka berbincang-bincang ringan seperti biasanya sesekali terdengar gelak tawa dari ruangan ini menunjukkan betapa harmoni hubungan mereka. kondisi Jhong mulai membaik tidak seperti sebelumnya yang sempat kritis, ya walaupun pria paruh baya itu masih belum bisa keluar dari rumah sakit.
"Tante Narra apakah mengenal, Alan?" tanya Park saat keduanya duduk di sofa yang sama.
"Tentu saja bibi mengenalnya, dia adalah satu-satunya teman baik, Emil," sahut Narra cepat dengan mengerutkan keningnya. "Memangnya kamu kenapa bertanya tentang Alan?" tanya Narra balik dengan tatapan menyelidik.
"Apakah, Tante Narra sudah mengetahui jika, Alan sekarang pindah kuliah ke kampus kami sesaat setelah Emil pindah ke negara ini?" tanya Park. Entah mengapa ia merasa harus memberitahu hal ini jika mengingat Alan begitu mencintai kakak iparnya itu, ia tidak ingin Alan menyela diantara dua hati yang sudah mulai menerima satu sama lain.
"Benarkah itu?" tanya Narra dengan setengah membentak sampai semua orang yang ada di sana menatapnya dengan penuh tanda tanya.
_ _ _
Visual Emil saat di tatap oleh pengunjung lainnya
Lee melirik kearah istrinya sembari berkata, "Lain kali kamu jangan kenakan pakaian seperti remaja begini," ucapnya posesif. Ia tidak rela wajah istrinya dilihat oleh orang lain lebih lagi para lelaki.
Menatap ke arah suaminya sembari berkata, "Sayang, apakah kamu lupa jika kau ini menikahi gadis remaja, mungkin kamu saja yang terlalu tu ...," ucapan Emil langsung terhenti ketika ia melihat kedua manik mata suaminya sudah melebar sekarang. "Maaf," ucapnya dengan menjulurkan sedikit lidahnya sembari mengigit lidahnya itu dengan memejamkan mata
"Aish, sudah lupakan saja," sahut Lee kemudian. Melihat ekspresi seperti itu mana mungkin ia masih bisa marah.
"Sayang, nanti aku menunggu di mana? Apakah aku boleh minta uang untuk berbelanja di mall?" cecar Emil tidak sabar.
__ADS_1
"Aku akan bertemu dengan klien di restoran dan aku juga sudah memesankan kamu ruangan khusus agar bisa aku pantau," ucapnya secara gamblang.
"Aku bukan anak kecil yang harus selalu kamu perhatikan," tukas Emil dengan wajah cemberut. Setelah Lee membukakan pintu ia langsung masuk kedalam mobil, Lee hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
"Aku akan menemani kamu berbelanja, jadi tidak usah merasa khawatir," sahut Lee setelah ia berada di dalam mobil. "kau bisa minta apapun yang kamu mau." Lee berbicara jujur.
Mengigit jari telunjuknya pelan sedang berpikir selang beberapa detik ia langsung tersebut sumringah tanda jika ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, "Aku ingin kau membeli mall itu untukku," ucapnya asal.
Melirik istrinya dengan santai, "Baiklah jika itu yang kamu mau, aku akan menyuruh asisten ku untuk melakukannya secepat mungkin," sahut Lee sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya hendak menghubungi asistennya namun Emil segera mencegah hal itu agar tidak terjadi.
"Apa yang kamu lakukan? Aku hanya asal bicara saja," ucap Emil kemudian.
"Kamu jangan bercanda denganku, Sayang karena aku akan melakukan apapun yang kamu minta, kau adalah tanggung jawabku dan sudah sewajarnya aku mengabulkan semua keinginan kamu itu," sahut Lee dengan wajah datar dan serius.
Emil hanya diam dengan tersenyum, bahagia sekali dirinya mendapat lelaki yang begitu memanjakannya dan juga mencintainya seperti ini.
_ _ _
Visual Lee saat menatap istrinya yang sedang mengaduk-aduk minuman di gelasnya dengan bibir mengerucut.
Visual Emil yang sadar jika sekarang suaminya sedang memperhatikan dirinya.
Lee menahan tawanya sampai semua orang yang sedang duduk satu meja dengannya saling bertatapan satu sama lain jelas saja mereka semua merasa bingung, karena Lee terkenal dengan sikap kejamnya. Tapi kini pria itu malah tersenyum dihadapan banyak orang.
Jangan lupa komentar ya, jika kalian melihat komentar kalian ada tanda like berarti author sudah baca komentar kalian.
__ADS_1