Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Wajahnya Memerah Malu


__ADS_3

"Kalau mau masuk itu ketuk pintu terlebih dahulu, tidak sopan masuk ke kamar orang lain asal menyerobot saja." Sembur Emilia tanpa menyaring kata-katanya.


"Ini juga kamarku, apa kamu lupa?" tanya Lee sembari melirik kearah Emil.


"Jangan melihat." Sembur Emil. Emil malu sekali sekarang, tapi semua sangat wajar jika mengingat Emil dan juga Lee belum pernah melihat tubuh satu sama lain. Jantung Lee saja sampai berdetak dengan sangat kencang setelah melihat bentuk tubuh indah istri kecilnya, betapa ingin Lee menjamah setiap inci ya, tapi setelah mengingat apa yang dia ucapku pada Emil, pun ia segera mengubur lagi semua hasratnya tersebut.


"Cepatlah masuk ke kamar mandi, atau aku yang akan mengendong kamu masuk," goda Lee sembari berpura-pura membalikkan tubuhnya.


"Huaaa ... tidak mau," teriak Emil sembari berlari masuk ke dalam kamar mandi. Wanita itu kabur sepetak kilat seperti telah melihat penampakan hantu saja.


"Cih, imut sekali," ucapnya dengan tersenyum tipis. "Semua wanita begitu ingin melakukan hubungan intim denganku, tapi hanya dia saja yang malah ketakutan seperti melihat hantu," batin Lee dengan menengelengkan kepalanya.


Di dalam kamar mandi, "Ini berat sekali, cobaan ini lebih berat dari bobot badanku, dia melihatkan tidak mengenakkan baju," batin Emil dengan menyandarkan punggungnya di pintu kamar mandi.


Ia merasakan ada yang keluar dari bawah sana, pun ia melihat cairan kemerahan yang menetes perlahan, "Aku datang bulan, sedangkan aku lupa belum membeli pembalut," gerutu Emil dalam hati sembari mondar-mandir di kamar mandi bingung. Ia mau meminta bantuan suaminya, tapi malu mau bicara tidak mungkin juga dia keluar dari kamar mandi dengan kondisi seperti ini.


Cklek!


"Kak ... Lee ...," panggil Emil sembari mengeluarkan kepalanya sedikit menengok ke dalam kamar.


"Kau sudah selesai mandi?" tanya Lee yang sedang duduk di sofa.


"Aku belum mandi, apakah aku boleh minta bantuan?" tanya Emil.


"Apakah kau perlu seseorang untuk menggosokkan punggung kamu?" tanya Lee asal, tapi kalau Emil mengiyakan ucapannya juga tidak masalah. Begitu pikirnya.


"Ish, begitu menyebalkan sekali kata-katanya," batin Emilia. "aku sedang berbicara serius, Kak Lee," ucap Emil lagi


Berdiri dari posisi duduknya dan langsung melangkah mendekati kamar mandi, "Ada apa? Bilang saja," ucapnya serius. Emil masih berada di dalam kamar mandi tapi ia mengintip Lee yang sedang berdiri di depan pintu ini.


"To-tolong minta pada, Mama pembalut wanita," ucap Emil sembari mengigit bibir bagian bawahnya.

__ADS_1


"Apa?" tanya Lee dengan mata melotot shock setelah mendengarkan kata-kata istrinya. "coba ucapkan satu kali lagi," pinta Lee, mungkin saja ia salah mendengarkannya dan di dalam hati ia juga berharap demikian.


"Pembalut, minta pada, Mama," ucap Emil lagi.


"Aku tidak mau, mau di taruh di mana wajah suami kamu jika meminta hal seperti itu pada mertuanya sendiri, ini sangat-sangat memalukan dan aku tidak bisa." Lee berbicara mantap bahkan kedua bahunya juga ikut bergidik sekarang.


"Huaaa ... hua ..., Kak Lee jahat sekali, apakah aku harus berada di dalam kamar mandi terus?" tanya Emil mencoba mengambil simpati dari suaminya.


Mengaruk kepalanya yang tidak gatal, "Jangan menangis seperti itu, diam lah," ucap Lee menenangkan.


"Jahat sekali, kau tega aku mati kedinginan di dalam kamar mandi." Emil memasang wajah memelas namun kelihatannya begitu mengemaskan di hadapan suaminya.


"Sudah diam lah, aku akan minta pada, Mama." Lee akhirnya mengalah dari pada ia harus melihat istrinya kedinginan di dalam kamar mandi sepanjang hari.


Dapur.


Lee melihat Mama Narra membersihkan bahan yang tadi mereka sempat belim dari supermarket sebelum pulang ke rumah, ia berdiri di samping Narra yang masih sibuk mencuci sayuran sebelum ia olah agar higienis.


"Em, ini, bagaimana cara ngomongnya, ya," gumam Lee lirih dengan wajah mulai memerah karena malu.


"Bicara saja jangan malu aku juga, Mama mertua kamu," sahut Narra.


"Emil meminta pembalut pada, Mama." Percayalah sekarang wajah Lee sudah semakin merah sekali.


"Phufff, dia menyuruh kamu meminta itu?" tanya Mama Narra dengan menahan tawanya. Lee menggangukkan kepalanya.


"Apakah, Mama punya?" tanya Lee. Andai saja ia bisa Menganti wajahnya pasti akan ia lakukan sekarang.


Mengelengkan kepalanya, "Sayang sekali, Mama tidak punya," sahut Mama Natalie." Ia menatap kearah Lee yang langsung memasang wajah kecewa.


Di sinilah sekarang Lee berada, ia masuk ke dalam supermarket yang berada di dekat rumahnya setelah memarkir lebih dahulu mobilnya. Lee celingukan kesana-kemari setelah melihat situasi aman ia langsung mengambil beberapa macam pembalut secara acak tanpa melihat bentuk dan juga mereknya.

__ADS_1


"Lihatlah, pria tampan itu membeli pembalut wanita," ucap seorang wanita pada temannya.


"Iya, kamu benar juga, tapi wajahnya seperti tidak asing," sahut teman wanita itu.


Lee langsung menjauh dari mereka berdua, ia menaruh pembalut itu di meja kasir dengan masih celingukan tidak tenang. Penjaga kasir itu menahan tawanya melihat ekspresi wajah Lee saat ini. Setelah penjaga kasir tersebut memberitahukan harga semua barang yang di beli oleh Lee, dia langsung mengeluarkan dompetnya cepat lalu mengambil beberapa lembar uang sembari berkata.


"Ambil saja kembaliannya." Kemudian berlalu pergi dengan wajah yang sudah merah malu sekali.


_ _ _


"Ini pakailah," ucap Lee setelah pintu kamar mandi itu terbuka.


"Banyak sekali," tanya Emil kaget ketika Lee memberikan semua pembalut yang dia ambil dari minimarket.


"Itu untuk persediaan kamu satu bulan, agar kau tidak menyuruh aku untuk melakukan hal memalukan seperti itu." Semburnya.


Menutup pintu dapur lalu membuka isian di dalam paper bag itu, "Banyak sekali ini bisa aku pakai sampai tiga bulan, memangnya dia kira aku ini habis melahirnya memakai ini semua satu bulan," gerutu Emil.


Setelah memakai pembalut, Emil langsung keluar dari kamar mandi, ia melihat wajah Lee yang meliriknya dengan masam.


"Kak Lee, maafkan aku kamu pasti malu sekarang," ucap Emil sembari mendudukkan tubuhnya di samping Lee yang masih duduk sembari memainkan ponselnya.


"Sudahlah, aku tidak marah, kau juga tidak mungkin sengaja mempermalukan aku seperti itu," sahutnya dengan bijaksana.


Emil langsung memeluk erat tubuh suaminya, Lee memang belum mandi tapi bau badannya begitu harum sekali, hingga membuat Emil betah berada disampingnya.


"Aku akan menjadi istri yang baik buat, Kak Lee," ucap Emil dengan wajah yang bersungguh-sungguh.


"Lakukan nanti jika kamu sudah siap menjadi istriku seutuhnya," sahut Lee sembari mengecup lembut bibir istrinya.


"Aku sangat menyukai sikap, Kak Lee yang lembut," sahutnya sembari mengusap bibir suaminya dengan ibu jari.

__ADS_1


__ADS_2