Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Mencoba Mengalihkan Perhatian


__ADS_3

Mendekat kearah Lotie sembari berbisik, “Katakan pada ulat


bulu itu, agar menjauhi aku.” Setelah berbicara Emil langsung menarik tangan Park menjauh dari mereka semua.


“Emil aku setuju sekali dengan kamu, sebutan ulat bulu itu memang cocok untung Helena yang suka meliak-liukkan tubuhnya dengan berlebihan,” ucap wanita lain dengan memberikan kedua jempolnya pada Emil. Sedangkan Emil hanya membalas dengan mengerdipkan satu matanya setuju.


“Lihatlah itu, Emil sangat manis sekali,” puji beberapa pria yang terpesona dengan kecantikan Emilia.


“Park, juga tidak kalah cantik, aku akan mencoba untuk mendekatinya,”


ujar seorang pria dengan melirik kearah sahabatnya yang langsung menganggukkan kepalanya mendukung.


“Ada apa ini, kenapa aku merasakan sakit di bagian dadaku saat mengetahui hal ini, kenapa aku malah kesal ketika ada pria lain yang ingin


mendekati Park dan bukan Emil,” gumam Alan dalam hati ketika ia tidak sengaja mendengarkan perbincangan tersebut.


Helena dan juga kedua temannya langsung kabur menjauh karena


malu. Sekarang semua orang sudah mengetahui jika Emil memangil Helena dengan sebutan ulat bulu. Helena menghentak-hentakkan kakinya marah dengan wajah


yang merah padam, namun ia tidak bisa melampiaskan semua kekesalan dalam dirinya pada Emil sekarang, karena musuhnya kali ini memiliki seribu taktik licik untuk menjebaknya balik. Helena tidak pernah dipermalukan seperti ini sebelumnya dan ini untuk kali pertama ada wanita yang berani mencari masalah dengannya. Kesalahan terbesar Helena adalah mengira jika Emil anak baru yang mudah ditindas tapi kenyataannya hal itu malah menyerangnya balik. Justru ia yang sering di tindas balik oleh Emilia inilah yang dinamakan senjata makan tuan.


_ _ _


“Alan, kenapa kamu menatap, Park seperti itu?” tanya Emil sembari mengigit burger di tangannya.


Park, yang sedang sibuk memusatkan perhatiannya ke ponsel langsung menatap kearah Alan. Alan terlihat menggaruk kepalanya yang tidak


gatal sembari berkata.


“Aku tidak menatapnya, kau pasti salah sangka,” elak Alan sembari menenglengkan kepalanya kearah Emil sembari memanyunkan sedikit


bibirnya yang terlihat sangat mengemaskan sekali.


“Kau pasti salah lihat, Emil, Alan hanya menyukai kamu,” ucap Park dengan menunjukkan senyuman di wajahnya. Hatinya terasa sakit sekali


saat ia mengatakan hal itu namun sebisa mungkin ia harus menyembunyikan isi hatinya ini agar tidak menimbulkan keretakan antara persahabatan mereka bertiga.


“Emil, apakah kita perlu melakukan latihan terakhir untuk malam hari ini?” tanya Alan mencoba mengalihkan perhatian Emil agar ia tidak


mengatakan hal lainnya yang nantinya akan membuat Park salah paham.


“Tentu saja,” sahut Emil cepat sembari menatap kearah Park


dengan mengatakan. “Park, kau akan ikut kan?” tanya Emil.


“Tentu saja, aku akan menemani kalian berdua.” Park berbicara mantap.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian.


Emil dan juga Park masuk kedalam ruangan Jhong sembari


membawa satu buket bunga mawar dan juga buah-buahan segar. Una yang sedang berbincang-bincang dengan suaminya langsung menyambut kedatangan kedua gadis


itu dengan senyuman manis.


“Kenapa kalian harus repot-repot membawa ini semua,” ucap


Una sembari mengambil bunga yang di berikan oleh Emilia kemudian ia


menyuruh Park untuk menaruhnya di vas bunga yang ada di atas meja.


“Mama, apa kabar?” tanya Emil sembari melepaskan pelukan


mama mertuanya tersebut.


“Kabar Mama sangat baik sekali, bagaimana kabar kamu dan


juga Lee?” tanya Mama Una sembari menyuruh Emil duduk di sofa.


“Kabar kami baik, MA,” jawab Emil dengan tersipu malu. Melihat sikap Emil yang salah tingkah seperti ini Una tahu jika menantunya itu pasti sudah melakukan hubungan layaknya suami istri.


“Pa, kabarnya bagaimana?” tanya Park sembari mengecup kening


Jhong sayang.


“Aku sangat merindukan, Papa,” ucap Park dengan berbaring di samping Jhong.


“Kamu sudah besar masih manja seperti anak kecil,” ucap Jhong dengan menaruh putrinya di dalam dekapannya.


“Apakah benar besok kamu akan pentas menyanyi dengan teman pria


kamu itu?” tanya Una sembari menggenggam kedua tangan anak menantunya tersebut.


“Benar, Ma pasti Park yang sudah bercerita,” sahut Emil.


“Iya,” balas Una cepat. “Mama Narra, pernah bercerita jika di negara B kamu selalu mendapatkan juara pertama lomba menyanyi.”


“Iya, Ma, Emil sangat suka sekali menyanyi sejak dari kecil,” sahut Emilia dengan sangat antusias sekali.


“Papa akan mendukung apapun yang ingin kamu lakukan, jika kamu ingin muncul di acara stasiun tv tinggal bilang saja,” imbuh Jhong yang mulai


angkat bicara. Selama hobi yang dilakukan oleh anak menantunya itu positif ia akan mendukungnya.


“Papa, dan juga, Mama pasti mengijinkan, tapi apakan Kak Lee

__ADS_1


akan setuju?” tanya Park kemudian.


“Emil tidak ingin menjadi penyanyi,” sahut Emil cepat. “Emil


hanya suka tampil di acara sekolah atau kampus saja tidak lebih dari itu,”


imbuhnya lagi.


Cklek!


“Kalian semua sedang membicarakan apa, sepertinya serius sekali?” tanya Lee yang tiba-tiba masuk dan menyela kata-kata mereka semua


dengan wajahnya yang datar.


Pria itu melangkah kearah Una lalu memeluk tubuh Mamanya


sekilas dan melangkah mendekati ranjang Papa jhong untuk melihat kondisi papanya itu.


“Kak Lee, kamu pasti merasa lelah sekali sekarang lebih baik, Kak Lee langsung ajak Emil pulang saja karena dia merasa lelah dari tadi,


tapi aku menyuruhnya untuk menunggu, Kak Lee,” bohong Park sembari mengerdipkan satu matanya pada Emil yang langsung paham akan kode tersebut.


“Aku ingin duduk sebentar dengan, Mama,” sahut Lee yang masih ingin berada di ruangan ini untuk mendengarkan perbincangan mereka


semua tadi.


Menarik tangan Emilia yang masih duduk di sofa, “Kau harus bisa membawanya pulang dari pada nanti Mama dan juga Papa memaksa kakakku untuk datang, aku yakin dia akan kebakaran jengot kalau mengetahui kamu dan juga Alan


akan berduet lagu romantis,” jelas Park sembari berbisik di samping telinga Emil.


“Ya,” sahutnya cepat.


Melangkah mendekati suaminya sembari berkata, “Apakah, Kak


Lee masih mau di sini?” tanya Emilia. Ia tidak mungkin memanggil suaminya dengan sebutan ‘sayang’ dihadapan banyak orang seperti ini dan Lee juga bisa memahami pemikiran istrinya itu dengan sangat mudah.


“Iya,” sahutnya singkat jelas dan juga padat.


“Kalau begitu biar aku pulang duluan saja,” sahut Emil kemudian.


Berdiri dari posisi duduknya dengan cepat sembari berkata, “Ayo


kita pulang bersama saja.” Lee dengan cepat langsung merubah pemikirannya.


Jhong dan juga Una yang mengetahui akan hal ini langsung menjatuhkan rahang mereka karena kaget, tidak biasanya putranya itu mau


menuruti keinginan orang lain, sepertinya Emil memiliki cara sendiri untuk meluluhkan hati putranya yang terkena berhati dingin ini.

__ADS_1


“Ma, Pa, Emil dan juga Lee pulang lebih dulu.” Setelah berpamitan Lee langsung mengandeng tangan istirnya posesif keluar dari ruangan


ini.


__ADS_2