Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Cepatlah Bangun Emilia


__ADS_3

Pintu penjara ini kembali terkunci dengan rapat, semua wanita yang tadi mengerumuni Helena segera memberikan jalan untuk wanita separuh baya dengan tubuh gemuk, tapi wajahnya terlihat mengerikan sekali ada beberapa bekas luka sayatan pisau di wajahnya. Sepertinya wanita itu adalah orang yang paling berkuasa di dalam ruangan ini, itu semua terlihat dengan


sangat jelas dari para wanita yang langsung memberikan jalan untuknya sembari menundukkan kelapanya seperti merasa segan dengannya.


“Siapa kamu, kau tidak mengenal gadis menjijikan itu.” Helena masih bersikap sombong tanpa tahu siapa wanita yang kini sedang berdiri di hadapannya.


Plak!


Satu tamparan mendarat di pipi Helena dengan begitu sempurna, wanita paruh baya itu bahkan menginjak makanan Helena dengan kakinya yang kotor dan juga tidak pernah di potong kukunya. Semua wanita yang melihat akan hal itu langsung tersenyum senang seakan mereka baru saja melihat film komedi.


“Sekali lagi kau berani mengatakan hal buruk tentangnya, akan aku pastikan lidah kamu tidak berada di tempatnya,” ancam wanita tersebut


dengan tatapan tajam bagaikan iblis menakutkan.


Tubuh Helena langsung gemetar ketakutan, ia tidak pernah terpikir untuk berada di posisi ini. Lebih baik para pengawal Park membunuhnya saja dari pada ia hidup tapi mendapatkan perlakuan menyedihkan seperti ini. Setidaknya kalau dia mati, ia akan merasakan sakit hanya satu kali saja. Begitu pikir Helena.


Wanita itu bernama Lusiana, ia pernah di selamatkan oleh Emil


saat beberapa penjahat mengejarnya. Emil bahkan langsung menariknya masuk kedalam mobil kemudian menyuruh semua pengawalnya untuk memenjarakan orang-orang


yang mengejar Lusiana waktu di negara B. Emil bahkan tidak tahu jika Lusiana adalah wanita panggilan yang sudah di beli oleh para pria hidung belang tersebut. Lusiana berada di dalam penjara karena ia membunuh seorang pria yang sudah


berani berselingkuh ketika menjadi pasangannya setelah ia di negara A.


“Makan!” perintah Lusiana dengan membulatkan matanya.


Helena yang merasa mual, tidak bisa melakukannya, namun Lusiana menyuruh dua wanita lain untuk membantu Helena makan. Bahkan mereka juga tidak segan-segan untuk melemparkan cicak mati sebagai hidangan penutup bagi Helena.


DI rumah sakit.


“Sampai kapan kamu akan berada di sini?” tanya Una yang tidak tega melihat kondisi Narra yang terus-terusan bersedih.


“Apakah kamu tidak suka melihat aku di sini?” tanya Narra balik

__ADS_1


dengan tatapannya yang kosong.


“Bukan seperti itu, aku sangat suka sekali melihat kamu dekat dengan kami semua, tapi lihatlah Jim. Dia juga merasa bersedih melihat


putri semata wayangnya itu tertidur dalam jangka waktu yang tidak bisa di perkirakan, tidak bisakah kau melanjutkan kehidupan lagi seperti sebelumnya. Kami semua yang ada di sini akan selalu memberikan kabar untuk kamu, kau tidak perlu merasa khawatir,” ucap Una panjang lebar.


Narra menatap suaminya, yang duduk di kursi sembari menggenggam tangan putrinya. Ia meneteskan air mata, seminggu ini Narra hanya


larut dalam kesedihannya sendiri tanpa ia berpikir jika suaminya juga mengalami hal yang sama. Dengan perlahan namun pasti akhirnya, Narra berdiri dari posisi duduknya ia melangkah perlahan mendekati suaminya dengan kerasa bersalah yang semakin merayapi hatinya.


“Pa, maafkan aku karena telah mengabaikan kamu akhir-akhir


ini, aku sangat menyesal sekali,” ucap Narra dengan memeluk suaminya dari belakang.


Menggenggam tangan istrinya kemudian mengecupnya, “Aku tahu


apa yang kamu rasakan, kamu tidak perlu meminta maaf.” Jim berkata dengan bijak, sebagai suami ia tahu jika hal ini akan berat untuk Narra karena dialah yang selalu dekat dengan Emil ketika Jim sedang sibuk dengan pekerjaannya.


Kantor Lee.


tidak ada tanda-tanda mau menyentuh semua berkas yang sedang bertumpuk di hadapannya.


“Luwis, selesaikan semuanya aku akan menjemput, istri.” Karena tidak fokus ia salah menyebutkan nama adiknya dengan nama istrinya. Raht wajah Lee semakin sedih dengan mulut yang terkatup rapat.


“Hati-hati di jalan, CEO Lee,” ucap Luwis kemudian. Ia tidak ingin melihat wajah tuan mudanya itu sedih seperti ini karena memikirkan istrinya lagi.


“Aku tidak bisa fokus, dia selalu saja berada di dalam pikiranku,” ucap Lee pada Asisten Luwis. Ia segera menepuk bahu asisten Luwis kemudian keluar dari ruangan kantor ini.


“Semoga saja, Nona muda segera bangun lagi, saya tidak tega melihat kesedihan anda,” batin Asisten Luwis.


 Lee keluar dari ruangan ini dengan santai sekali, bahkan wajahnya kembali datar seolah dia menyembunyikan semua kesedihan, kegundahan hatinya di balik wajahnya yang datar tersebut.


_ _ _

__ADS_1


“Kak Lee, apakah kamu tidak mengambil baju dulu di rumah?”


tanya Emil yang melihat kakaknya tidak pulang ke rumah sama sekali semenjak kakak iparnya itu masuk rumah sakit.


“Rumah itu sepi sekali tanpanya,” sahut Lee dengan tersenyum getir.


“Ada aku, pulang ke rumah saja dan ambil baju ganti, nanti Kak Lee bisa bangun rumah dekat dengan rumah sakit jika mau,” ucap Park dengan


tersenyum. Ia mencoba untuk mengajak kakak kandungnya itu berbicara.


“Baiklah,” sahut Lee dengan mengusap pelan rambut Park.


Lee masuk kedalam rumahnya, rumah ini terlihat sunyi sepi bagaikan hati Lee yang telah di tinggalkan oleh Emil, di setiap sudut rumah ini


Lee seakan melihat bayangan istrinya yang terus bermanja-manja padanya. Tapi sebisa mungkin Lee mencoba untuk menahan hatinya agar Park tidak ikut bersedih.


“Kak Lee, Park tunggu di bawah saja ya,” ucap adiknya itu dengan tersenyum ceria.


Sebenarnya Park juga sedih jika ia melihat foto Emilia yang tersenyum manis di dinding ruang tamu ini. Namun ia mencoba untuk menyembunyikannya saja karen tidak ingin sang kakak melihat kesedihannya. Sebab Park juga yakin jika sekarang Lee merasakan hal yang sama dengannya.


_ _ _


"Ma, Pa. Kalian mau pergi kemana?" tanya Lee setelah ia masuk kedalam ruangan VVIP rumah sakit.


"Mama dan juga papa akan kembali ke negara B. Kami titip Emil dan sering kabari kami mengenali perkembangan kesehatannya," ucap Narra.


Emilia sudah tertidur satu bulan lamanya, Jim tidak bisa meninggalkan pekerjaannya lebih lama lagi. Ia dan juga istrinya memilih untuk kembali ke negara B dan mempercayakan putrinya untuk di jaga oleh keluarga Back.


"Mama dan juga Papa hati-hati di jalan," sahut Lee.


"Sayang, lekaslah sembuh. Mama akan kembali ke negara B. Kamu harus berjuang untuk bangun, lihatlah kami semua masih menunggu kamu kembali bersama kami." Narra mengecup kening putrinya dengan air mata yang bercucuran.


Park yang melihat Jari Emilia bergerak langsung berteriak heboh.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2