
"Siapa yang sedang berkirim pesan dengan kamu?" tanya Lee dengan tatapan penuh intimidasi. Ia sudah bisa menebak jika Alan yang sedang chat bersama dengan istrinya. Lee barusan membuka chat milik Park dan adiknya itu tidak sedang online.
"Ya, Tuhan aku kaget sekali" ucap Emil dengan memegangi dadanya. Jika terus seperti ini maka jantungnya akan pensiun dini, begitu pikir Emil. Lee selalu saja datang dengan tiba-tiba atau paling tepatnya Emil yang tidak menyadari Kedatangannya.
Membenarkan posisi duduknya, "Aku akan ikut lomba pentas menyanyi dengan, Alan di kampus," jelas Emilia. Ia harus bisa merayu suaminya karena ini adalah impiannya sejak dari kecil, Emil sangat suka menyanyi.
Mendudukan tubuhnya disamping Emil, "Kamu akan menyanyi dengan pria itu?" tanya Lee dengan wajah merah padam. Jika ia akan bernyayi dengan pria itu, maka mereka berdua akan sering menghabiskan waktu bersama, sebab mereka harus sering berlatih dan aku tidak suka melihatnya dekat dengan pria lain lebih lagi pria itu menyukai istriku.
"Tentu saja, aku dan juga Alan adalah pasangan duwet yang cocok saat kami sedang kuliah di negara B, ucap Emil." Dia mungkin tidak sadar karena ucapannya yang kepalang jujur, itu membuat hati Lee seakan sedang bergemuruh bagaikan ada badai di dalam hatinya saat ini. Darahnya mendidih seakan ada yang membakar dari dalam.
"Aku tidak mengijinkannya," ucap Lee tegas dan juga lugas.
Aku harus merayunya, aku harus bisa tampil bersama dengan Alan apapun yang terjadi.
"Kak Lee, impianku sejak kecil adalah bisa berdiri di atas panggung dan bisa mendapatkan juara utama, aku benar-benar suka menyanyi dan aku ingin piala itu," ucap Emil dan tekadnya sudah bulat sekarang.
"Aku akan mengijinkannya, tapi kamu tidak boleh kedua saja dengannya jika sedang latihan." Melihat wajah istrinya yang memelas seperti ini membuatnya tidak tega dan mengalah pada keinginan istri kecilnya itu.
"Aku janji, akan selalu mengajak Park jika kami sedang latihan," ucap Emil memeluk tubuh Lee tanpa sadar sebagai tanda terima kasih karena suaminya sudah mendukung apa yang ia lakukan walaupun ada syaratnya.
Lee tersenyum tipis melihat sikap manja istri kecilnya ini, ia memeluk tubuh Emil kemudian mengecup puncak kepalanya. Emil suka sekali dengan aroma mint yang sedang di pakai oleh suaminya, ia pun mengendus-endus dada bidang suaminya dengan memejamkan mata. Lee menyentil jidatnya pelan membuat istrinya itu sadar dengan apa yang sedang ia lakukan sekarang, sebab tanpa sadar wanita itu membangunkan sesuatu yang sedang tertidur di bawah sana.
"Kenapa kamu menyentil jidatku?" tanya Emil dengan bibir yang mengerucut.
"Sikap kamu itu, membuat sesuatu yang di bawah sana bangun," ucap Lee menunjuk dengan gerakan matanya.
"Huaaaa, maaf aku tidak bermaksud seperti itu," secepat kilat Emil langsung melepaskan pelukannya pada sang suami. Ia menjauh dari Lee sampai ke pinggir ranjang.
Lee membuka mulutnya dengan wajah cengo melihat sikap spontan istri kecilnya ini, benarkan wanita itu setakut ini dengan juniornya sampai dia menjauh hingga hampir saja terjatuh dari atas ranjang. Andaikan semua benda mati yang ada di dalam ruangan kamar ini bisa tertawa pasti mereka akan melakukannya sekarang.
"Aku tidak akan menyentuh kamu, jika kau tidak menginginkannya," jelas Lee.
__ADS_1
"Iya, tapi ucapan kamu tadi membuat aku takut sekaligus geli," ucap Emil dengan mengerucutkan bibirnya.
"Geli," menaikan satu alisnya. "Apakah kamu pernah melihat milik orang lain?" tanya Lee dengan kedua bola mata yang sudah membuat dengan begitu sempurna.
"Belum pernah," jawabnya jujur.
"Jangan pernah, tapi kalau junior suami kamu sendiri, ya tidak papa" ucap Lee dengan tersenyum mesum.
Melempar bantal di sampingnya ke wajah Lee sembari berkata, "Dasar pria mesum," celoteh Emil. Lee malah tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi istrinya.
Emil sudah membenarkan posisi tidurnya dan seperti biasa gadis itu menaruh guling diantara mereka tapi Lee membuang pembatas itu ke lantai, ia memeluk tubuh istri kecilnya.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Emil dengan berusaha melepaskan tangan suaminya yang kini sedang melingkar di pinggangnya.
"Diamlah, atau kau akan membangunkannya lagi," ucap Lee. Emil hanya bisa diam membeku di posisinya ia tersenyum tipis lalu mereka masuk ke dalam alam mimpi bersama.
_ _ _
"Kak Lee, nanti jika aku pulang dari kampus tidak usah di jemput," ucapnya dengan menatap ke arah suaminya yang masih sibuk mengemudi.
"Kenapa?" tanya Lee.
"Aku mungkin akan latihan dengan Alan di studio," ucapnya jujur. Ia tidak mau ada kasalah pahaman diantara mereka karena cinta keduanya baru saja tumbuh bagaikan bunga yang baru saja mekar dan menimbulkan aroma harum yang semerbak, dan mereka tidak ingin ada penggangu yang membuat hubungan mereka menjadi renggang
"Ajak, Park." Melirik Emil sekilas lalu kembali memusatkan perhatiannya kearah jalanan.
"Baiklah," sahut Emil cepat.
Mobil yang di kemudian oleh Lee sudah sampai di depan halaman kampus Emil.
"Kak Lee, hati-hati ya di jalan," ucap Emil dengan membuka pintu mobilnya tapi Lee menarik tangannya dan kembali menutup pintu mobil tersebut.
__ADS_1
"Kau tidak memberikan aku morning kiss?" tanya Lee.
"Nanti di lihat banyak orang" ucap Emil sembari mengedarkan pandangannya keluar jendela.
"Kamu tenang saja, kaca mobil ini tidak tembus pandang dari luar," jelas Lee.
Emil mengganggukkan kepalanya mengerti, kedua bibir itu sudah menyatu sekilas lalu Emil menariknya tapi, Lee malah menyatuhkan kedua bibir itu lagi. Kedua mata mereka saling terpejam dengan gerakan lembut dan juga memasukkan yang Lee lakukan membuat tangan Emil tanpa sadar menelusuri dada bidang suaminya dengan gerakan pelan tapi itu sungguh membuat Lee kelimpungan.
Lee merasakan gairan yang meledak dari tubuhnya, gerakan istrinya sungguh membuatnya bisa lepas kendali. Ia segera melepaskan pungutannya sebelum dirinya lepas kendali. Ia tidak mau mengingkari janjinya jika ia tidak akan memaksa istrinya untuk melakukan hubungan intim kalau gadis itu tidak menginginkannya juga.
"Keluarlah!" perintah Lee.
Mengusap bibir suaminya dengan ibu jadi, lalu mengecupnya sekilas dan Emil melangkah kelar dari mobil. Lee mengigit bibir bagian bawahnya. Ia melihat punggung istrinya sudah menjauh barulah ia pergi meninggalkan kampus ini.
_ _ _
"Di mana Emil?" tanya Alan pada Park.
Mereka berdua sedang berdiri dengan posisi bersandar di dinding kampus ini. Park datang lebih awal dan tidak sengaja ia melihat Alan berdiri di depan kampus, iapun mengajak temannya itu masuk kedalam kampus.
"Sebentar lagi juga dia akan datang, apakah kalian berdua sudah memilih lagu yang akan kalian berdua gunakan untuk lomba nanti?" tanya Park pada Alan. Entah apa yang ia rasakan tapi setiap kali berada disamping Alan, jantungnya selalu saja berdetak dengan cepat bahkan ia juga sering salah tingkah setiap kali pemuda itu menatapnya. Apakah dia sudah jatuh cinta pada Alan? tapi bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi sedangkan Alan mencintai kakak iparnya.
"Aku belum memilihnya, aku menunggu Emil saja yang memilihnya," sahut Alan.
"Sepetinya kamu sangat mencintai Emil?" tanya Park dengan mengigit bibir bagian bawahnya.
"Sangat mencintainya, bahkan aku tidak bisa hidup tanpanya, mungkin," balas Alan dengan tersenyum kecil saat bayangan Emil yang sedang merajuk berputar di otaknya tanpa ia minta.
di bawah ini adalah contoh hody lambang dari Nisty Lovers. jika kalian mau pesan bisa japri nomor wa author yang ada di bawah gambar ini. sekedar tanya-tanya juga boleh ya, lagi open PO. untuk pembaca ada nama kalian nanti di bagian depan.
__ADS_1
kalian bisa japri Khairin Nisa di Wa 08993487562 / Follow IG Khairin_junior.