Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Dia Sangat Manja.


__ADS_3

   Lee terus memacu kendaraanya menuju ke Sungai Thames. Itu adalah sungai yang paling sering di kunjungi oleh wisatawan, Emil sejak dulu ingin sekali pergi ke sana karena jaraknya yang bisa di bilang lumayan jauh dari rumahnya dan itu membutuhkan


waktu kurang lebih dua jam untuk bisa sampai di sana sehingga Emil tidak memiliki


kesempatan untuk berkunjung ke sana lebih lagi Jim sangant sibuk di kantor sehingga pria itu jarang memiliki waktu bersama dengan anaknya. Sebenarnya Emil menyuruh Lee datang ke kota ini hanya untuk menemaninya melihat indahnya Sungai


Thames di malam hari. Karena setelah wanita itu memutuskan untuk menikah dia


akan pindah ke Seoul.


     “Kenapa kau bicara saja mau jauh-jauh seperti ini, cepat gantikan aku menyetir mobil aku lelah!” gerutu Lee dengan menghentikan mobil itu di pinggiran jalan karena dia


memang sudah menyetir mobil itu satu jam lebih sedangkan perjalanan masih


tinggal sekitar satu jam lagi.


     “Sini biar aku yang mengantikan menyetir mobil, lalu kita mati bersama,” ledek Emil dengan wajah cemberut. Jelas saja Emil terlihat jeles karena dia memang tidak bisa


menyetir mobil Emil selalu mengandalkan supir yang biasanya mengantar jemput


dirinya jika sekolah.


    “Jaga bicara mu itu, ingin sekali aku tendang kau keluar dari mobil ini jika berani bicara seperti itu lagi,” gerutu Lee dengan wajah kelihatan serius.


    “Eh. . bukan begitu Kak Lee, aku tidak bisa menyetir kau sengaja ya mau meledekku kan,”


gerutu Emil balik dengan wajah di tekuk.


     “ Mana aku tau kau tidak bisa menyetir dasar bodoh!” maki Lee dengan kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju sungai yang memang terkenal dengan keindahanya itu.


     Sungai Thames.


        Emil langsung turun dari mobil setelah Lee selesai memarkir mobilnya itu Emil terlihat sangat bahagia dengan sesekali menghirup udara di sekitar sungai yang sangat dia ingin lihat sejak dulu sedangkan Lee hanya diam dengan wajah datar dan tidak merasa bahagia sedikitpun, dia melihat tida ada yang bagus di sungai itu dan Lee tidak


tertarik untuk ikut jalan bersama Emil sehingga pria itu kembali masuk ke dalam


mobil dan dia segera menyalakan radio di dalam mobil itu dengan keras sembari

__ADS_1


menyandarkan kepalanya di kursi kemudi. Lee memejamkan matanya sesaat karena dia


memang sangat lelah seharian belum beristirahat.


      Emil melihat Lee sedang berada di dalam mobil dan dia segera berjalan mendekati kursi kemudi itu dan segera membuka pintu mobil itu dengan kasar, “Kak Lee, ayo ikut aku


berkeliling,” Lee masih menutup matanya dan tak mengubris ucapan wanita itu. “baiklah


kau tidur saja di sini nantik jika aku tersesat maka aku akan bilang pada Bi Una jika kau sengaja membiarkanku berkeliling di tempat asing ini sendirian.”


     Ancama Emil ternyata berhasil Lee mulai membuka matanya dan pria itu melotot ke arah Emil, Lee pasti takut jika Una akan memarahinya karena membiarkan Emil tersesat lebih parahnya lagi Narra dan juga Jim akan menyalahkan dirinya karean hal tersebut.


     “Damn! Kau ini cerwet sekali bahkan kau lebih cerwet dari adik ku Park,” gerutu Lee dengan beranjak keluar dari dalm mobil.


     “Bodoh amat!” sahut Emil dengan menjulurkan lidahnya itu pada Lee. “Kak ayo kita jalan di pinggiran sungai itu,”


    “Lepaskan tanganku aku bisa berjalan sendiri,” Lee menepis tangan Emil dengan keras sampai wanita itu mengeser paksa tubuhnya menjauhi Lee beberapa langkah.


    “Tapi aku mau mengandengmu,” Emil bicara dengan tak memperdulikan mimik wajah pria itu yang sekarang menatapnya dengan mata melotot ketika  Emil mulai mengandeng paksa tangannya itu.


    “Jangan melotot padaku sepetti itu nantik mata kamu bisa kemasukan debu nakal,” balas Emil dengan seulas senyum tersungging di bibirnya itu.


    Lee hanya bisa diam dengan mengerutu kesal dengan wanita yang ada di sampingnya itu karena sikap Emil sangat mirip dnegazn Park adik lee. Ya mungkin karena usia mereka


sama jadi sikap kedua gadis itu pun tak jauh berbeda Lee mulia berpikir bagaiman dia bisa menikahi wanita manja seperti ini.


   Emil bisa seceriah ini karena dia sedang merencanakan sesuatu aturan jika dirinya dan Lee jadi menikah nantik, Emil tidak akan mau tidur satu kamar dengan Lee dan dia akan


tetap mejalani hidupnya dan yang ada di dalam pikiran Emil dia bisa bebas jika


menikah dengan Lee dan tidak harus di jaga oleh pengawal yang selama ini selalu


mengikutinya ke manapun dia pergi.


   Lee dan juga Emil berjalan


tanpa tujuan, Emil terlihat bahagia dan sesekali wanita itu menghirup udara

__ADS_1


yang sangat sejuk di pinggiran sungai tersebut, bahkan banyak kedai yang ada di


 


"Kak," renggek Emil dengan tangan gadis itu bergelayutan di lengan Lee.


"Bicara! Jangan manja!" tandas Lee dengan menyatuhkan alisnya seakan pria itu sedang terganggu dengan sikap gadis kecil itu.


"Aku lapar," jawab Emil dengan tangannya mengusap\-usap pelan perutnya yang datar itu.


"Sana cepat beli makanan! Jangan manja," Ucap Lee dengan menarik kasar tangannya dari Emil. "cepat pergi katanya kau lapar!" ucap Lee dengan nada suara terdengar lantang.


Emil menodongkan tangannya di deoan pria itu, "Aku minta uang," dengan polos Emil bilang apa adanya karena di dalam tasnya memang hanya ada ponsel saja dan dompet Emil tertinggal di rumah.


Lee langsung menarik salah satu senyumanya saat mengetahui akan hal tersebut, dia tak menyangka jika hari ini bertemu gadis yang menyebabkan seperti Emil.


 



Emil mengajak Lee makan di sebuah restoran yang permandangan nya sangat indah karena bisa melihat sungai Thames dari bawah dan di malam hari permandangan sungai itu akan semakin bertambah romantis.


 


Pelayan mengantarkan menu makanan dan Emil masih memilih beberapa menu makanan yang ingin dia makan, namun Lee segera menyambar buku menu yang sedang gadis itu pegang dengan kasar dan langsung memberikannya pada pelayan restoran tersebut.


"Hidangkan makanan yang terlezat di restoran ini." Ucap pria itu dengan tak menoleh.


"Hei, aku belum memesan mau makan apa," gerutu Emil dengan bibir mengerucut menatap kearah Lee.


"Jika kau berani bicara lagi maka akan aku lempar kau dari atas sini, mau?" ancam Lee dengan menaruh tangannya di perut. Emil mengeleng\-ngelengkan pelan kepalannya karena dia takut jika Lee akan melakukan ancaman itu lebih lagi di sana hanya ada mereka berdua.


Tak beberapa lama kemudian pelayan itu mulai datang membawakan banyak makanan yang menjadi andalan restoran tersebut. Setelah pelayan itu selesai melakukan tugasnya dia segera pergi menjauh dari meja itu. Tanpa ba\-bi\-bu lagi Emil yang sedari tadi sudah lapar segera melahap makanan yang ada di depannya itu tanpa perduli pada Lee. Sedangkan Lee masih sibuk memainkan ponselnya. Ketika Lee selesai memainkan ponselnya dia menatap ke arah meja yang berada persis di hadapannya itu dengan shock.


Bagaimana mungkin pria itu tidak kaget setelah dia melihat jika hanya satu piring saja yang masih terisi makanan. Karena semua piring sudah bersih tanpa sisah makana sedikitpun, sebab Emil memakan semuanya karena dia merasa lapar. Lihat itu Lee sampai menelan kasar Saliva nya saat selera makan gadis kecil di hadapannya itu begitu rakus.


 

__ADS_1


__ADS_2