
Emil dan juga Alan sudah selesai dengan pertunjukan mereka, namun pemuda itu masih juga belum menurunkan Emil dari gendongannya. Emil melihat Kearah penonton, kedua bola matanya langsung membulat dengan begitu sempurna saat ia melihat suaminya menatapnya nyalang. Lee bahkan tidak bisa menyembunyikan kecemburuannya lagi, wajahnya yang dulu selalu
terlihat datar kini mulai memiliki ekspresi, saat ia merasa cemburu, marah atau sedang bahagia memiliki air muka tersendiri itu semua karena istri kecilnya.
“Kenapa dia ada di sana, sejak kapan suamiku itu melihat aku dekat dengan Alan seperti ini, ya Tuhan tolong lindungi aku dari amukannya,”
batin Emil dengan tetap tersenyum.
Setelah berpamitan pada semua orang, Alan menggendong tubuh Emil
ke belakang panggung. Setelah berada di belakang panggung, Alan langsung menurunkan tubuh Emilia sembari menyeka keringat yang sudah membasahi wajah cantik gadis itu. Helena melihat mereka dengan wajah memberengut pastilah ia
merasa kesal sekali karena rencananya untuk mempermalukan musuhnya itu gagal total.
“Kau sengaja melakukan ini semua, kau sengaja mematahkan sepatu heels yang akan aku gunakan,” tuduh Emilia dengan melepaskan heelsnya ke depan Helena. Semua orang yang sedang duduk untuk beristirahat di belakang panggung langsung menatap kearah Helena dengan berbisik-bisik. Sudah bukan menjadi rahasia umum lagi jika Helena dan juga Emil kerap bertengkar di kampus ini.
“Aku tidak melakukannya, untuk apa aku melakukan itu semua,” elak Helena dengan senyuman sinis diwajahnya.
“Kau tahu jika aku adalah saingan terberat kamu.” Emil mengertakkan giginya ia hendak menarik rambut panjang Helena namun segera di
hentikan oleh Alan.
“Nanti akan kita permalukan dia saat ada di depan panggung,” bisik Alan di samping telinga Emil sembari menunjukkan ponselnya.
“Kita lihat saja nanti, siapa yang akan kalah.” Emil menarik senyuman miringnya hal itu membuat Helena was-was ia tahu dengan sangat jelas
Jika Emil bukanlah musuh yang bisa ia hadapi dengan mudah.
“Sepertinya Helena memang salah, lihat saja itu wajahnya terlihat cemas,” ucap peserta lainnya dengan mengelangkan kepalanya.
“Kalian jangan percaya ucapan, Emil aku tidak mungkin berbuat curang dan gadis sepertinya bukanlah tandingan aku.” Helena masih tidak
mau mengaku juga. Namun di dalam hati ia mulai cemas setelah menyadari jika di belakang panggung ternyata terdapat banyak kamera.
Sekarang Emil dan juga Alan sudah memang piala juara pertama dan Helena yang mendapatkan juara ke dua, Helena tentu saja marah
sekali ia merasa tidak terima berada di posisi ini karena setiap tahun ialah
__ADS_1
yang selalu mendapatkan juara pertama begitu pikirnya.
“Mereka pasti telah berbuat curang, seharusnya saya yang mendapatkan juara pertama,” ucap Helena dengan emosi yang meluap-luap. Suara
tepuk tangan yang tadinya terdengar langsung lenyap. Wajah semua orang mulai terlihat serius begitu juga dengan Lee dan juga Park.
“Ini semua sudah menjadi keputusan para juri karena penampilan Emilia dan juga Alan begitu bagus penuh dengan penghayatan,” jelas salah satu juri yang langsung berdiri dari kursi duduknya untuk menjelaskan
sendiri penilaian mereka.
“Bukankah kau yang berbuat curang jika kita lihat dari layar di belakang ini.” Emilia menunjuk dengan alisnya.
Helena dan juga semua orang langsung membuka matanya lebar
seakan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat. Semua orang melihat dengan sangat jelas jika Helena sedang mencoba untuk memutuskan sepatu heels Emilia. Lee yang tadinya salah paham juga mulai merasa lega karena apa yang ia pikirkan ternyata tidak benar, istri kecilnya itu mau digendong oleh pria lain karena terpaksa dan bukan karena keinginannya sendiri.
“Tidak pernah kami sangka ternyata kamu melakukan hal selicik ini.” Juri wanita langsung berdiri dari posisi duduknya, ia berjalan cepat menuju ke atas panggung kemudian mengambil piala yang di bawa oleh Helena dan memberikannya pada orang lain yang pantas untuk mendapatkannya.
“Kenapa, Anda mengambil piala saya?” tanya Helena yang tidak
“Karena kamu tidak pantas mendapatkannya, kau sudah berbuat curang, Helena.” Semua orang mencibir Helena. Tapi Helena masih tidak terima dan hendak mengambil piala itu lagi namun segera di cegah oleh Mamanya sendiri.
“Helen, ayo kita pulang kamu jangan bikin reputasi keluarga kita hancur karena hal bodo yang telah kamu lakukan ini.” Sembur Mama Helena
dengan menarik putrinya. Lee melihat sesuatu akan Helena lakukan ia langsung berdiri dari posisi duduknya.
“Ma, gadis itu yang telah membuat Helen jadi seperti ini,” ucap Helena masih tidak terima dengan kekalahannya ini.
Helena hendak menampar Emilia, tapi tangannya langsung di cegah oleh Lee yang kini sudah berdiri dibelakangnya sembari berkata.
“Jangan berani kamu menyentuhnya.” Lee berbicara dengan tatapan tajam.
Siapa gadis itu kenapa, CEO Lee sampai turun tangan sendiri
untuk membelanya.” Semua kamera langsung menyorot kejadian itu seakan tidak ingin kehilangan momen langka ini.
Lee tidak pernah mau turun tangan langsung dalam masalah apapun yang tidak ada hubungannya dengan keluarganya. Bahkan semua orang tidak tau jika orang terpandang di negara ini ikut hadir untuk melihat lomba ini secara langsung. Para pengawal yang tau CEO Lee ada di tempat ini segera mengamankan situasi takut terjadi hal yang tidak diinginkan pada penerus keluarga Back tersebut.
__ADS_1
_ _ _
Kediaman Lee.
Emil menaruh piala yang ia dapatkan tadi berjejer dengan semua koleksi pialanya yang lain. Lee duduk berselonjor di atas ranjang dengan
fokus melihat ponselnya, sejak di dalam mobil tadi Lee enggan sekali untuk membuka mulutnya berbicara dengan istrinya itu. Emil takut sekali melihat sikap diam suaminya, ia hendak mendekati Lee tapi pria itu sudah menolaknya dengan berkata.
“Bersihkan tubuh kamu terlebih dahulu, aku tidak mau mencium
bau parfum pria lain di tubuh kamu,” ucap Lee tanpa menatap kearah istrinya itu.
“Baiklah,” sahut Emil.
Selang beberapa waktu Emil sudah selesai mandi dengan mengunakan celana pendek dan juga kaos santai. Setelah merasa penampilannya
sudah rapi, ia langsung duduk di samping suaminya, Emil tidak berani bicara melihat Lee yang masih enggan untuk menatapnya. Tapi ia harus tetap merayu suaminya ini.
“Sayang, kau pasti merasa lelah sekali seharian bekerja,”
ucapnya berbasa-basi. “Aku sangat senang sekali tadi kamu sudah meluangkan waktu untuk melihat penampilanku,” imbuhnya lagi dengan memijat kaki Lee pelan. gerakan menggoda.
“Bukankah kau ingin aku tidak datang.”
“Iya memang ben …,” ucapan Emil langsung terhenti ketika ia
menyadari jika salah menjawab.
Lee menatapnya tajam dengan wajah datar, “Berarti memang benar seperti itu,” tanya Lee lagi.
“Kau ceroboh sekali mengeluarkan kata-kata, nak.” Emil menepuk bibirnya sendiri karena telah salah berbicara.
“Tentu saja tidak seperti itu, aku senang sekali kamu datang
sayang.” Emil memijat kaki Lee lebih naik keatas lagi dan lagi.
Hahaha apakah menurut kalian Lee masih bisa marah atau tidak ya jika melihat sikap Emil yang seperti ini. Komentar yang banyak ya
__ADS_1