Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Keluar Dari Rumah Sakit


__ADS_3

2 bulan kemudian.


Semua orang sudah bersiap-siap pulang ke rumah mereka. Jhong


dan juga Emil di perbolehkan untuk keluar dari rumah sakit setelah dokter


menyatakan bahwa keduanya kini sudah baik-baik saja dan penyakit yang sempat merayapi tubuh mereka hilang perlahan. Emil sudah bisa berjalan sendiri dan begitu juga dengan Jhong.


Una dan juga Park sampai menangis terharu menatap Jhong yang


baru saja melangkah keluar dari halaman rumah sakit ini. Sudah berapa tahun Jhong hanya bisa terbaring lemah di atas ranjang pasien, tapi siapa sangka jika


kini pria itu bisa berjalan di atas kakinya sendiri tanpa alat bantu.


“Kenapa kalian menangis?” tanya Jhong yang terkejut melihat istri dan juga anaknya menitihkan air matanya.


“Park dan juga Mama merasa bahagia karena bisa melihat, Papa


keluar dari rumah sakit ini,” ucap Park dengan tangis sesenggukan.


Menaruh tangannya di bahu kedua wanita yang sangat ia sayangi itu sembari berkata, “Papa juga sangat senang sekali dan tidak menyangka akan pulang bersama dengan menantu kita yang cantik itu,” ucap Jhong sembari melirik Emil yang di gandeng oleh putranya.


“Kami sayang, Papa,” ucap Una dan juga Park secara bersamaan kemudian mengecup pipi Jhong dari dua sisi.


“Ma, Bisakah lakukan itu saat di kamar saja berdua bersama, Papa,” goda Lee.


Menaruh tangannya di udara hendak memukul Lee, “Anak ini benar-benar,” ucap Una sembari mengigit bibir bagian bawahnya gemas dengan apa


yang barusan di katakan oleh putranya itu.


Setelah menempuh beberapa waktu perjalanan akhirnya mobil yang mereka tumpangi masuk juga ke halaman rumah keluarga Back.


“Halaman rumah ini masih tetap sama seperti dahulu tidak ada


yang berubah,” batin Jhong dan juga Emil setelah mereka menatap ke halaman rumah ini.

__ADS_1


Bangunan rumah Jhong memang terlihat kokoh sekali, beberapa


hari sebelum Emil dan juga Jhong pulang ke rumah, Lee sengaja menyuruh orang untuk cat ulang rumah tersebut untuk menyambut kedatangan kedua orang yang sangat ia sayangi itu. Setiap sudut rumah ini bebas dari debu karena ia menyuruh semua pelayan untuk bekerja ekstra membersihkan rumah ini. Tapi Lee juga memberikan mereka bonus yang setara dengan pekerjaan mereka dan karena sebab itu juga semua pelayan yang bekerja di dalam rumah ini tidak ada yang berniat mengundurkan diri selain gaji mereka sangat banyak keluarga Back juga tidak sombong tentu saja selain Lee sendiri. Namun semenjak mengenal Emil kesombongan dalam diri Lee mulai terkikis seiring dengan berjalannya waktu.


“Pa, ayo kita masuk,” ucap Una sembari mengandeng tangan suaminya.


Berbalik mengandeng sang istri, “Dulu kamu yang selalu memegang tanganku jika aku hampir terjatuh, tapi sekarang aku tidak akan


membiarkan itu terjadi,” Jhong mengandeng erat tangan istrinya dengan tersenyum lembut. “Sekarang aku yang akan menjaga kamu, dan tidak akan aku biarkan siapapun melukai kamu.” Una tersenyum dengan satu tangan mengusap cairan yang lolos dari pelupuk matanya.


“Sayang, kita sudah seperti pengantin baru saja,” ucap Lee di samping Emilia. Mereka berdiri di belakang Una, Jhong dan juga Park.


“Kita sudah menikah 4 tahun,” ucap Emil mengingatkan sang suami.


“Aku tahu, tapi malam ini aku akan mendapatkan jatah makan malam dari kamu lagi setelah beberapa purnama berpuasa,” ucap Lee dengan langsung mengendong tubuh Emil tanpa minta ijin terlebih dahulu.


“Apa yang kamu lakukan, Sayang,” teriak Emil kaget dengan sikap spontan suaminya itu.


Park, Una dan juga Jhong langsung berbalik arah, mereka bertiga langsung mengelengkan kepalanya melihat Lee yang sedang mengendong Emilia.


“Turunkan aku, Sayang malu di lihat, Papa sama Mama,” ucap Emil.


“Ma, Pa. Aku dan juga Emil masuk kedalam duluan ya,” ucap Lee sembari mengendong sang isteri masuk kedalam rumah melewati mereka bertiga.


“Sepertinya dia sudah gila,” ucap Park yang langsung mendapatkan hadiah senggolan pada perutnya.


“Jangan seperti itu, dia kakak kamu,” ucap Una.


“Habisnya, Kakak seperti itu,” jawab Park.


“Kita kerjain dia,” bisik Jhong pada sang istri.


Una menatap suaminya tidak mengerti dengan arti ucapannya


tadi namun satu detik kemudian Jhong langsung mengendong tubuh Una. Una yang mengetahui akan hal itu langsung membulatkan matanya dengan begitu sempurna karena kaget. Ternyata ini yang di maksud oleh suaminya tadi.

__ADS_1


“Park. Papa dan juga Mama masuk kedalam rumah dulu, Ya,” ucap Jhong. Una melambaikan tangannya pada sang putri.


Selama ini Park selalu mengerjai banyak orang dan sekarang giliran dia yang di kerjain oleh kakak dan juga kedua orangtuanya. Lihat saja


itu wajah Park langsung masam, ia bahkan menghentak-hentakkan kakinya di teras rumah dengan menggerutu kesal bagaimana mungkin kedua orangtuanya bisa bersikap seperti anak muda begitu. Sedangkan dirinya sendiri yang masih mudah malah melangkah masuk kedalam rumah sendirian seperti ini, andaikan dia dan juga Alan tidak melakukan hubungan jarak jauh pastilah nasibnya tidak akan semalang ini, begitu pikir Park.


Makam malam.


Ada yang berbeda dengan suasana di meja makan pada malam hari ini, semua orang sedang berkumpul sembari menikmati makanan di piring


masing-masing, sesekali mereka berbincang-bincang dan canda tawa renyah terdengar keluar dari bibir mereka. Meja makan ini sudah lama sekali terlihat sunyi semenjak semua orang memutuskan untuk pindak ke rumah sakit namun kali ini semua berubah. Rumah yang dulu sunyi kembali ramai, keharmonisan dan juga kebahagian semua orang membuat rumah besar nan megah ini terlihat hidup seperti beberapa tahun yang lalu sebelum Jhong sakit.


Una kembali meneteskan air mata bahagia, hati seorang istri


pastilah merasa terharu melihat suaminya yang sakit parah kini sembuh dan bisa berkumpul dengan mereka semua.


“Jangan menangis lagi, kita akan bersama selamanya sampai


maut memisahkan kita,” ucap Jhong dengan memegang tangan istrinya. Una mengganggukkan kepalanya setuju.


“Sayang, aku mau di suapi,” ucap Emil dengan manja.


“Tentu saja, kamu harus makan yang kenyang,” ucap Lee dengan mengusap puncak kepala sang istri gemas.


“Aku tidak mau banyak makan,” ucap Emil.


Mendekatkan bibirnya kearah telinga sang istri sembari berkata, “Kamu harus makan yang banyak sebelum kita naik gunung nanti malam,”


goda Lee dengan mengulangi kata-kata istrinya tempo hari. Lee bahkan dengan iseng menjilat telinga sang istri tentu saja dengan tangan menutupi aksinya itu agar tidak di lihat oleh banyak orang.


Lee benar-benar nakal sekali, ia bahkan mengerjai istrinya


dihadapan keluarganya seperti ini.


Novel Hallo musuh sudah terbit di MT silahkan mampir ya dan berikan komentar serta like juga. sering-sering cek aku Khairin Nisa ya.

__ADS_1


__ADS_2