Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Melempar ke wajahnya.


__ADS_3

Emilia sangat kaget setelah baju transparan yang sedang berada di depan wajahnya saat ini menangkap sosok pria yang berdiri dengan melotot di depan kamar mandi, Sontak Emil langsung melempar baju yang sedang dia pegang tadi di depan pria itu dengan kasar



Hahaha lihat itu wajah Emilia saat ini kelihatan pucat pias setelah melihat pria yang melotot dari depan kamar mandi, pasti Emilia  mengira jika Lee adalah  sosok makhluk astral yang sedang menampakkan


dirinya. Lihat itu Lee sangat kaget saat baju itu mendarat tepat di depan wajahnya. Bahkan Lee langsung mengambil baju itu kemudian menatapnya dan berganti menatap Emilia yang sekarang mulai menutupi seluruh tubuhnya itu dengan selimut.


Wanita ini tidak mau aku sentuh tapi dia justru membeli baju seronok seperti ini, sudah seperti itu dia dengan berani malah melempar baju itu di depan wajahnya begitu menjengkelkan sekali wanita ini kenapa aku ingin sekali mencekiknya saat ini juga.



Selama ini banyak sekali wanita yang ingin duduk di samping Lee namun mereka tidak pernah mendapatkan kesempatan berharga itu tapi Emilia malah membuang baju di wajah tampan pria itu sampai Lee mulai menajamkan alisnya.



Lee mulai mengarahkan langkah kakinya mendekati wanita itu dengan menggerutu kesal dalam hati. Bagaimana mungkin wajahnya yang tampan ini dia kira seperti hantu yang tidak beraturan bentuknya.



“Apa yang kau beli ini?” tanya Lee dengan mulai membuka selimut berwarna putih yang saat ini menutupi tubuh istri kecilnya itu.



Eh, aneh mana ada setan yang bisa bicara seperti ini sedangkan aku tidak memiliki indra keenam. Wah aku pasti salah jika mengira dia adalah hantu padahal ini adalah suamiku yang kurang ajar tadi. Gumam Emilia sembari mulai membuka matanya perlahan melihat kearah Lee yang berada di sampingnya dengan alis hampir menyatuh.



“Ehehe, maaf aku tak sengaja.” Wanita itu bicara dengan memaksakan tawa dari bibirnya yang terasa hambar itu.



“Kau kira aku hantu, di jaman seperti ini mana ada hantu yang tampan seperti aku ini,” ucap Lee dengan alis hampir menyatuh.



“Itu hadiah dari Park, biar aku buang saja, kenapa dia memberikanku kado malam pertama seperti baju yang kekurangan bahan seperti itu,” gerutu Emilia dengan hendak kasar baju itu dari genggaman tangan Lee.



Namun Lee malah menjauhkan tangannya dari wanita itu sembari


berkata, “Biarkan saja ini baju yang indah untuk di pandang jika malam hari," ucap pria itu dengan tatapan mesum lagi, membuat Emilia kembali marah jika mengingat kejadian yang tadi.


Apa ya dia bilang barusan? Ini adalah baju yang indah apakah otaknya itu sudah mulai geser aku saja sampai panas dingin melihat baju ini berada di manekin yang di buat pajangan toko. Apa lagi aku yang mengenakannya itu sungguh menakutkan. Jangankan memakai baju ini bahkan membayangkannya saja aku tidak mau. Gerutu Emilia dalam hati.



“Hentikan otak mesum mu itu, apakah semua pegawai mu ini tau


jika presdir mereka ini begitu mesum dan juga kurang ajar,” tandas Emilia dengan bibir mengerucutkan karena merasa jengkel dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya tadi.

__ADS_1


“Suatu saat aku ingin kau memakainya,” ucap Lee dengan mendekati Emilia sampai wanita itu mundur kebelakang hingga punggungnya sampai membentur tempat tidur.



“Kenapa tidak suruh wanita lain saja yang memakainya baju menjijikkan itu untukmu,” Emil bicara dengan tidak mau kalah bahkan kedua orang itu saling membentak satu sama lain.



“Aku mencintaimu,” ucap Lee dengan tiba-tiba.



Lee langsung melotot tajam saat dia menyadari kata-kata apa


yang keluar dari bibirnya itu, tanpa memperdulikan air muka Emilia yang


menatapnya dengan bengong pria itu langsung berlalu pergi begitu saja


meninggalkan Emilia yang masih kaget mendengarkan yang dia ucapkan tadi.


Emil pasti tidak pernah menyangka jika pria itu akan mengucapkan hal demikian bahkan jantung Emil mulai berdetak dengan sangat kencang setelah dia mengingat apa yang di ucapkan oleh suaminya tadi.


Siang hari.


 Lee sudah berangkat pagi tadi ke kantor sedangkan Emilia masih seperti biasa dia di rumah sendirian


sekarang wanita itu sudah tidak takut lagi sendirian di dalam rumah saat siang


beberapa waktu terdengar bunyi bel dari depan pintu rumahnya Emil bergegas


membuka pintu rumah itu alangkah terkejutnya dia saat melihat Alan yang sedang


berdiri di depan rumahnya saat ini.


Alan menatapnya dengan seulas senyuman pria itu selalu saja


penuh kejutan dan wajahnya juga sangat tampan, Emil mulai shock melihat kearah


sahabatnya itu dengan tubuh gemetaran sebab Alan tidak tau jika Emilia sudah


menikah, pria itu hanya tau jika Emilia sedang liburan saja di Negara ini.


“Hai Emil apa kabar?” tanya Alan sembari mengulurkan tangannya dan juga seulas senyuman hangat tersungging dari bibir pria itu.



“Ha, , hai Alan. Bagaimana kamu bisa tau jika aku tinggal di rumah ini?” tanya Emilia balik sembari tangannya menyambar tangan pria itu dengan gemetar.



Jangan Sampai Alan mengetahui jika aku telah menikah dengan

__ADS_1


Kak Lee, aku tidak mencintainya hanya saja aku tidak mau jika nantik di tempat


kuliah aku sampai di ledek hal yang tidak-tidak oleh teman kampus misalnya


hamil di luar nikah.  Kira-kira seperti


itu yang sekarang sedang berada di dalam pikiran Emilia.


“Apakah kau lupa jika tempo hari aku pernah menyuruhmu untuk


menyalakan JPS dalam ponselmu. Dari situ aku bisa tau di mana posisimu saat


ini,” jawab Alan sembari hendak masuk ke dalam rumah itu.


Namun Emil segera menghentikannya dan menyuruh Alan menunggu di dalam mobil, Alan menuruti apa yang di ucapkan oleh gadis pujaannya itu


karena Emil bilang jika ingin mengajak Alan berkunjung di mall terbesar di kota


ini. Dengan rasa gugup Emil langsung menganti bajunya dan memoles wajahnya


dengan make up natural seperti biasanya.


Mobil yang di kemudikan sendiri oleh Alan langsung melesat


keluar dari rumah itu menuju ke mall yang Emil maksud tadi. Di dalam mall emil


hanya menonton bioskop cerita cinta romantis dan setelah itu mereka berdua


pergi makan siang di sebuah restoran yang dekat dengan beberapa cabang kantor terbesar di kota itu.


“Emil kalau makan itu pelan sedikit lihat ini berantakan sekali,” ucap Alan sembari mengusap sisa-sisa makanan yang ada di sudut bibir wanita itu.



"Aku sangat lapar," jawab Emil dengan terkekeh.



"Walaupun kau tidak lapar juga, biasanya makannya seperti ini," jawab Akan dengan mengusap sayang puncak kepala wanita itu.



"Emil kenapa kau berada di kota ini, dan aku juga dengar jika kau akan kuliah di sini?" tanya Akan lagi dengan wajah penuh selidik.



"Ya, karena aku menyukainya," jawab Emil dengan ganti mengusap sisa makanan di sudut bibir pria itu. "lihat ini kau makan sampai belepotan seperti ini," imbuh Emilia.



Emil awas ada sepasang mata yang menatap tajam kearah mu saat ini. Pria itu hendak makan siang di restoran di ini namun saat melihat permandangan yang membuat sakit matanya pria itu mulai menatap tajam dari posisinya yang tidak di ketahui oleh Alan dan juga Emil.

__ADS_1


__ADS_2