Sang Penakluk 2

Sang Penakluk 2
Keisengan Park


__ADS_3

Lee menatap wajah istrinya dengan tatapan sendu, ia suka sekali melihat wajah polos Emilia jika sedang tertidur lelah seperti sekarang


ini. Hingga tanpa sadar Lee ikut masuk kedalam alam mimpi menyusul istrinya itu.


Di luar ruangan itu.


“Jim, apakah kamu tidak kembali ke negara B? tanya Jhong yang mengetahui jika besannya itu sudah berada di negara A sudah lama.


“Kamu benar juga, aku sudah terlalu lama menyerahkan pekerjaanku


pada bawahan ku di sana,” sahut Jim yang merasa ucapan Jhong ada benarnya juga.


“Sebaiknya kamu kembali saja, nanti jika ada kabar baik kami akan memberitahukan pada kalian.” Una ikut menimpali ucapan kedua pria itu.


“Pa, Mama masih ingin bersama dengan, Emil,” ucap Narra yang


masih merindukan putrinya. Namun ia juga tidak tega jika melihat suaminya kembali ke negara B sendirian. Jika mereka berdua tetap berada di negara A lalu bagaimana dengan perusahaan mereka di sana, ya walaupun Jim bisa melakukan


pekerjaan melalui laptop namun tetap saja ada pekerjaan yang harus dia sendiri yang langsung turun tangan tanpa mengandalkan asistennya.


“Bagaimana jika, Papa pulang sendiri saja nanti, Mama pulang belakangan nggak masalah,” ucap Jim kemudian. Ia tahu jika istrinya pasti masih ingin dekat dengan putrinya dan ia tidak masalah mengenai hal itu.


Berpikir sejenak, “Mama ikut Papa pulang saja,” ucap Narra yang tidak tega jika suaminya sendiri di sana. Sedangkan Emil di sini banyak


sekali orang yang menjaga dan juga menyayanginya. Begitu pikir Narra.


“Apa, Mama benar mau pulang?” tanya Jim lagi memastikan.


“Iya,” sahut Narra singkat.


“Kami semua akan selalu menjaga Emil, tidak perlu merasa khawatir. Emil itu kakak ipar sekaligus teman baik, aku,” ucap Park sembari


menaruh kepalanya di bahu Narra manja.


Park manja sekali jika dengan Narra, bahkan Narra juga Menganggap Park adalah putrinya sendiri seperti Emilia. Sempurna sekali kebahagian kedua keluarga besar ini, jika sudah seperti ini orang yang mau mencari masalah dengan kedua keluarga besar itu pasti berpikir berpuluh-puluh kali untuk melakukannya jika mereka masih ingin hidup tenang di dunia ini.


Ruangan Emilia.


“Sayang, Mama dan juga Papa akan kembali ke negara B. Kamu baik-baik ya di sini dan jaga kesehatan,” ucap Narra sembari memeluk tubuh putrinya dengan menitihkan air mata.

__ADS_1


“Mama tidak perlu merasa cemas, karena semua orang akan mengantikan Mama dan juga Papa untuk menjaga Emil,” sahut Emil dengan ikut terisak. Dia sangat sedih sekali karena harus berpisah lagi dengan kedua orangtuanya andai saja mereka tinggal dekat dengan Emilia mungkin ia tidak perlu merasakan kesedihan seperti ini setiap kali berpisah dengan kedua orangtuanya.


“Kalian berdua selalu menangis membuat, Papa merasa iri,” ucap Jim dengan menatap kedua wanita yang sangat berharga sekali di hidupnya


itu.


Melirik kearah Jim, “Kamu iri kenapa?” tanya Jhong yang sedang berdiri di samping Jim. Pria itu memberikan tatapan menyelidik.


“Wanita selalu menangis jika mengungkapkan kesedihan atau


rasa bahagia mereka, sedangkan kita para lelaki bisa apa?” tanya Jim balik


dengan wajah yang kelihatan menggelikan sekali bagi orang yang sedang berada di sekitarnya saat ini.


Menaruh kedua tangannya di dada sembari berkata, “Kamu bisa


menangis didalam kamar mandi jika mau,” ucap Jhong asal.


“Tidak pernah aku sangka sebelumnya jika, Papa yang selalu


terlihat garang dan juga coll. Ternyata sikapnya seperti hello Kitty.” Lee


menimpali kata-kata kedua papa itu asal.


perkataan yang terlontar nakal dari mulutnya itu sendiri.


“Kalian bertiga mirip seperti anak kecil, bagaimana jika aku upload video ini ke media?” tanya Park yang dengan iseng merekam perdebatan


mereka bertiga dengan diam.


Bisa kalian bayangkan bagaimana ekspresi wajah ketiga pria bertubuh kekar itu setelah mengetahui akan hal itu. Image garang dan juga penuh


wibawa yang selama bertahun-tahun lamanya mereka jaga akan hancur dengan satu kedipan mata jika sampai Park memencet tombol posting pada akun media sosialnya.


Narra dan juga Emil yang tadi sedang menangis sedih karena mereka akan berpisah langsung terkekeh melihat akan hal itu. Una sendiri hanya bisa mengelengkan kepalanya tidak percaya jika Park bisa bersikap iseng seperti ini mengerjai ketiga pria itu.


“Kamu tidak akan, Papa akui sebagai anak jika sampai berani memposting video itu,” ancam Jhong dengan paniknya. Tapi tentu saja diam tidak bersungguh-sungguh dalam bicara.


“Aku tidak akan mau menganggap kamu adik lagi.” Lee ikut

__ADS_1


menimpali perkataan papanya itu.


“Terserah mereka berdua saja,” sahut Jim yang lebih memilih cuek. Padahal di dalam hati ia juga sedang berdoa semoga Park tidak melakukan hal konyol seperti itu.


“Hahahaha, aku hanya bercanda saja kenapa kalian semua tegang seperti ini,” ucap Park dengan tawa pecah di bibirnya.


“Anak ini benar-benar kurang ajar sekali,” maki Jhong yang merasa terganggu melihat sikap iseng putrinya.


“Maaf, Ma, Om dan Kak Lee. Park hanya ingin menjahili kalian


saja mumpung ada kesempatan,” ucap Park dengan mengatupkan kedua tangannya di depan wajah sebagai tanda minta maaf.


“Berikan ponsel kamu,” pinta Lee dengan tangan yang sudah menengadah di depan Park.


“Untuk apa?” tanya Park yang tentu saja takut jika ponsel yang baru dia beli kemarin berakhir malang dengan terburai di atas lantai marmer ruangan ini.


“Akan aku banting,” jawab Lee dengan nada santainya namun berhasil membuat kedua mata Park membulat dengan begitu sempurna.


“Enak, saja. Biar aku hapus sendiri video tadi.”


“Pintar.” Lee memuji kecerdasan adiknya itu. Padahal tadi Lee tidak ingin membanting ponsel itu hanya menggoda adiknya saja namun yang


tidak di sangka Park menganggapnya serius.


“Sayang, jaga kondisi kamu dan jangan lupa selalu kabari kami setiap hari,” ucap Jim sembari memeluk tubuh putrinya itu.


“Iya, Pa. Kalian jaga diri baik-baik, Ya,” sahut Emil sembari memeluk tubuh papanya.


Jim mendaratkan kecupan di puncak kepala Emil kemudian berlalu keluar dari kamar ini. Narra tersenyum dengan melambaikan tangan pada


putrinya sebelum ia menghilang di balik pintu. Lee dan juga Park tetap berada didalam kamar sedangkan Jhong dan juga Una mengantar Jim sampai ke depan halaman rumah sakit ini.


“Emil, jika kamu sudah keluar dari rumah sakit. Kita nonton film bersama,” ajak Park dengan wajah kelihatan antusias sekali.


“Bicarakan nanti saja, jika Emil sudah sembuh.” Sembur Lee dengan tatapan tajam. Lee tidak suka jika Emil akan pergi jalan-jalan dengan adiknya karena takut jika ada pria yang akan menggoda istrinya yang cantik itu.


“Kak Lee, cemburu,” goda Park yang sudah bisa menebak dengan mudah apa yang ada didalam pikiran kakaknya itu.


“Keluar dari ruangan ini sekarang.” Lee berteriak dengan lantang. Emil langsung menutup kedua telinganya dengan tangan karena kupingnya terasa pegang.

__ADS_1


“Kabur …. Ada singa jantan marah,” ucap Park sembari berlari keluar dari ruangan ini.


“Hahaha singa jantan, sebutan itu cocok sekali untuk kamu, Sayang,” ucap Emil yang semakin membuat Lee merasa kesal. Namun Lee tersenyum kecil ia senang sekali melihat istrinya tercinta senyum seperti ini.


__ADS_2