
Emil mengantar Lee berangkat berkerja sampai depan rumah begitu juga dengan Narra. Narra selesai berpamitan dengan Jim sekarang giliran Emil yang melakukannya dengan suaminya.
Sorot mata Narra seakan menyuruh Emil untuk melakukan hal yang sama membiarkan Lee mengecup keningnya tapi wanita itu tidak mau dan lebih memilih untuk berjabatan tangan saja dengan Lee. Pria itu hanya diam saja membiarkan apa yang mau istrinya itu lakukan asal istri kecilnya yang cerewet itu tidak mengomel terus karena dia mulai sakit kepala jika mendengarkan Emil terus menggerutu kesal saat di sampingnya.
Selesai berpamitan Lee dan juga Jim berangkat kerja bersama, sebenarnya Jim hanya ingin melihat perkembangan bisnis yang di kelola oleh menantunya itu berkembang sampai mana, dulu waktu masih di urus oleh Jhong bisnis itu tersebar sampai keseluruh kota, entah jika sekarang, karena Jim tidak mencari tahu karena dia lebih suka untuk melihatnya secara langsung.
Jim sangat terkejut saat dia sudah sampai di perusahaan yang sekarang di kelola oleh Lee karena perusahaan itu semakin besar dengan pegawai yang bertambah banyak, Jim tak mengira jika bakat berbisnis yang di miliki oleh Una dan juga Jhong menurun juga pada anaknya. Jim semakin percaya jika pria itu bisa membahagiakan putrinya.
Di Rumah Emil.
Emil sedang membaca novel di dekat kolam renang dengan kakinya tercebur separuhnya ke dalam air kolam yang berwarna jernih. Siang hari itu pantulan matahari seakan membuat air di koma itu terlihat indah dan juga kristal bening itu membuat Emil betah jika berlama\-lama di sana. Tak lama kemudian Narra datang dan ikut mendudukkan tubuhnya di samping Emil, wanita itu juga ikut menceburkan sebagai kakinya kedalam air kolam.
"Eh, Ma nantik sore apa jadi pulang?" tanya Emil dengan menutup buku novel cerita romens yang sempat dia baca tadi.
"Iya, sayang Papa dan juga Mama banyak urusan di sana nantik kami akan pulang dengan mengunakan pesawat pribadi milik Lee," sahut Narra dengan mengusap rambut anaknya yang panjang terurai begitu saja.
"Ma, tidak bisakah aku ikut denganmu aku tidak suka tingal di tempat ini dengan pria asing," sambung Emil dengan menarik kakinya dari kolam renang dan beranjak berdiri mendudukkan tubuhnya di kursi santai yang ada di sisi kolam renang.
"Dia suamimu, bukan pria asing seperti yang ada di dalam pikiranmu kau harus ingat itu,Emil." Wanita itu bicara dengan mendekati anaknya kemudian mengusap puncak rambutnya.
"Aku tau tapi aku belum terbiasa dengannya," sambung Emil dengan memeluk pinggang Narra yang masih berdiri di sampingnya.
"Kau akan terbiasa seiring berjalannya waktu, sayang." Narra mencoba meyakinkan anaknya.
__ADS_1
Narra pergi meninggalkan Emil di sana, wanita itu sengaja membiarkan anaknya berpikir lebih dewasa lagi, Emil baru menikah itu tidak akan mudah baginya menerima perubahan yang terjadi di hidupnya baru kemarin wanita itu bebas berteman dan pergi dengan siapa saja namun sekarang tidak lagi karena dia sudah menikah.
Emil sangat sedih saat melihat Mama nya berjalan semakin menjauh, dia tidak pernah berada jauh dengan kedua orangtuanya namun orang\-orang yang dia sayangi nanti akan pergi jauh dari sisinya. Kristal bening mulai menetes pelan dari pelupuk matanya jatuh dengan sempurna membasahi pipinya. Emil menatap Kilauan air yang bertemu dengan sinar matahari pandangan kosong pikirannya seakan sedang kebingungan apa yang akan dia lakukan setelah ini bagaimana menjalani hidup dengan pria yang tidak pernah dia sukai. Pikiran itu selalu saja menganggu pikiran Emil saat ini.
. Sore Hari.
Emil dan juga Narra sedang berada di depan rumah, ada satu koper yang sudah siap di depan rumah itu. Ya Narra yang sudah menaruhnya di sana karena mereka akan berangkat jika Jim dan juga Lee sudah sampai. Mobil berwarna putih dan juga Supir sudah menunggu di depan rumah itu.
Emil melihat ke arah jam tangan berwarna navy yang menempel sempurna di pergelangan tangannya. Jarum jam berputar seperti biasa tapi setiap jarum panjang jam mulai bergerak Emil semakin merasa gelisah karena itu tanda jika Narra dan juga Jim akan segera berpisah dengannya.
Mobil hitam yang di kemudikan oleh sopir Lee mulai masuk ke dalam halaman rumah, Emil semakin bertambah cemas dia terus memeluk tubuh Narra dan tidak mau melepaskannya dari tadi.
"Ma, apakah kau dan juga Papa akan pergi?" tanya Emil dengan mimik wajah kelihatan begitu cemas.
"Sayang, kau sudah dewasa jangan seperti anak kecil," sahut Narra dengan memeluk Emil kemudian mengecup kening anaknya sayang.
Jim dan juga Lee turun dari dalam mobil dan menghampiri mereka berdua. Jim melihat ke arah putri kesayangannya dia pasti tau jika gadis kecilnya sedang bersedih sebenarnya Jim merasa tidak tega harus pergi jauh dari Emil namun itu harus dia lakukan sebab sekarang sudah ada pria lain yang akan menggantikannya untuk menjaga Emil.
"Papa," Emil melepaskan pelukannya pada Narra dan berganti berhamburan kedalam pelukan Jim.
__ADS_1
"Sayang kau pasti sedang sedih, kau tidak usah takut karena suamimu akan menjagamu mengantikan Papa," jelas Jim dengan memeluk anaknya sayang.
"Pa, tinggal satu malam lagi ya di sini," pinta Emil dengan wajah memelas.
Jim menatap ke arah Narra namun wanita itu menggelengkan pelan kepalannya.
"Tidak bisa sayang, Papa dan juga Mama banyak sekali urusan di sana." ucap Jim.
"Emil, kamu tidak boleh seperti ini, papa dan juga Mama bisa sedih jika memikirkan kamu yang enggan melepaskan mereka," Lee menimpali apa yang Jim katakan tadi.
"Baiklah Pa, Ma. Kalian hati\-hati ya dan ingat jangan lupakan Emil," ucap gadis itu dengan mengusap air matanya yang jatuh membasahi pipinya. Emil tidak mau jika sampai kedua kedua orangtuanya memikirkan dirinya karena orang tua itu bisa jatuh sakit dan Emil tidak menyukai hal itu.
"Anak pintar," ucap Jim pada Emil dengan mengecup kening putrinya sayang.
Lee dan juga Emil bersamaan melambaikan tangan ke arah Narra dan juga Jhong yang hendak masuk ke dalam mobil. Mobil putih itu mulai meninggalkan halaman rumah dan sudah melewati gerbang utama. Scurity yang berjaga di sana segera menutup lagi gerbang itu dengan remote yang dia pegang.
Tinggal Emil dan juga Lee saja di sana, Emil masuk ke dalam rumah begitu saja tanpa menoleh ke arah Lee yang ada di sampingnya. Emil sangat sedih dia lagi malas berdebat wanita itu berlari menaiki anak tangga dengan air mata yang berjatuhan di kedua pipinya.
Lee terus menatapnya dan ikut menaiki anak tangga, Lee ikut masuk ke dalam kamar yang Emil masuki tadi.
APA YA YANG TERJADI SELANJUTNYA.
__ADS_1