
“Apakah besok, Kak Lee akan berangkat ke kantor?” tanya Park
sembari memasukkan satu sendok makanan kedalam mulutnya kemudian mengunyahnya perlahan.
“Tentu saja, kita harus menyelesaikan semua urusan sebelum akhirnya ke negara B,” ucap Lee sembari melirik kearah Emil.
“Apakah benar kita akan melangsungkan resepsi pernikahan?”
tanya Emil.
“Wah, aku sangat senang sekali jika kita semua akan ke negara, B,” ucap Park yang heboh sendiri tentu saja ia sangat senang sekali karena di negara itu lah sang kekasih-Alan tinggal dengan begitu Park akan
memiliki waktu berdua dengan kekasihnya itu.
“Jangan berlebihan, jijik,” ledek Emil yang langsung melenyapkan senyuman bahagia dan juga angan-angan indah di dalam benar adik sepupunya itu.
Menatap Emil dengan cemberut, “Kamu sih enak selalu saja dekat dengan, Kak Lee jadi tidak merasa rindu,” ucap Park sembari menjulurkan lidahnya.
“Sudah diam, biar mama menjelaskan sesuatu,” ucap Jhong kemudian.
Setelah semua orang diam barulah Una membuka suaranya. Ia menjelaskan jika satu minggu kedepan mereka semua akan pergi ke negara B untuk melangsungkan fitting baju pengantin dan juga menyelenggarakan resepsi pernikahan secara besar-besaran di salah satu hotel mewah di sana. Una juga menjelaskan jika masalah gedung dan lain sebagainnya semua itu di urus oleh kedua orangtua Emilia.
“Ma, Tapi Emil pasti akan sangat gugup sekali,” ucap Emil polos.
“Semua wanita akan merasa gugup jika melakukan resepsi pernikahan, tapi kamu jangan khawatir karena kami semua ada bersama dengan
kamu. Lagi pula bagaimana jika nanti anak kalian tanya tentang foto pernikahan kalian, apa yang akan kalian jawab?” tanya Una kemudian.
“Benar juga,” ucap Emil kemudian setelah dia bisa mencerna apa yang baru saja wanita paruh baya itu katakan.
Selang beberapa waktu mereka semua selesai melakukan ritual
makan malamnya semua orang memilih untuk duduk di ruang tamu berbincang-bincang bersama.
“Apakah, Mama akan membuatkan gaun pengantin yang fulgar
untuk, Kakak iparku yang cantik ini?” tanya Park sembari melirik kearah Lee. Sepertinya ia sengaja mengatakan hal itu untuk memancing reaksi Lee.
__ADS_1
Park memang pandai sekali membuat Lee merasa kesal, lihat saja itu kedua bola mata Lee langsung membulat dengan begitu sempurna melihat
kearah adiknya yang selalu iseng itu.
“Ma, jangan lakukan hal itu, Lee tidak suka jika ada pria lain melihat bentuk tubuh istriku,” ucap Lee cepat sembari menatap sinis kearah, Park yang ada di samping Mamanya.
“Hahaha, Mama mengetahui hal itu dengan sangat jelas jadi kamu tidak usah pedulikan apa yang barusan adik kamu ini katakan, ia hanya
ingin menggoda kamu saja,” ucap Una dengan mengelengkan kepalanya. Putranya itu sangat pintar, tapi jika sudah menyangkut tentang istrinya itu entah mengapa semua kepintaran sang putra menguap begitu saja.
“Bocah ini benar-benar membuatku kesal sekali,” gumam Lee lirih dengan masih menatap adiknya. Sedangkan Park sendiri hanya bisa menjulurkan lidahnya dengan perasaan puas.
“Sayang, jangan berlebihan seperti itu, apakah kamu tidak tahu jika gaun pengantin model sekarang itu sangat terbuka dan aku pasti cocok menggunakannya,” ucap Emil. Tentu saja ia tidak bersungguh-sungguh dalam berbicara karena ia hanya ingin menggoda suaminya.
“Kalau begitu kita batalkan saja resepsinya.” Lee berbicara dengan tegas dan juga lugas di hadapan banyak orang. Lebih baik ia tidak melakukan resepsi pernikahan dari pada harus membiarkan tubuh istrinya menjadi konsumsi publik. Membayangkan setiap mata pria melihat istrinya dengan penuh damba itu membuat Lee sudah kebakaran jenggot.
Bergelayutan manja di bahu suaminya, “Aku hanya bercanda,
kenapa kamu itu lucu sekali jika sedang marah seperti ini,” melirik kearah Park sembari berkata. “Benarkan, Park apa yang aku barusan katakan?” tanya Emil meminta dukungan karena itu tahu Park bisa dia andalkan dalam hal ini.
“Sudah-sudah kalian jangan menggodanya terus, nanti dia bisa
menitihkan air mata,” ucap Jhong yang malah semakin mendukung aksi semua orang untuk menggoda sang putra.
Dengan sekejap ruangan ini di penuhi dengan gelak tawa-ralat bukan semua orang karena Lee tidak merasa senang sekarang justru ia malah
merasa kesal pada semua orang yang sedang menertawakan dirinya itu.
Setelah selesai berbincang-bincang akhirnya semua orang kembali ke kamarnya masing-masing.
Kamar Lee.
Emil sedang membaca buku novel, Lee baru saja keluar dari kamar mandi setelah ia berganti baju terlebih dahulu. Ia ikut naik keatas
ranjang dan bergabung bersama istrinya, Lee mengambil buku yang sedang Emil baca dengan iseng. Emil sedang membaca adegan romantis di dalam buku tersebut, senyuman
di bibirnya itu langsung lenyap begitu saja ketika suaminya merampas buku yang sedang ia baca.
__ADS_1
Wajahnya cemberut ketika menatap kearah sang suami sembari berkata, “Sayang, apa yang kamu lakukan? Kenapa malah mengambil buku
itu kembalikan padaku,” pinta Emil dengan tangan hendak meraih buku novel tersebut namun sang suami malah menjauhkannya dengan iseng.
“Apa kamu lupa, Sayang jika biasanya aku yang selalu membacakan novel untuk kamu,” ucap Lee dengan tersenyum manis pada istrinya
sembari berkata, “Sekarang kemarilah, aku akan membacakannya untuk kamu seperti sebelumnya,” ucap Lee dengan penuh perhatian. Ia merentangkan satu tangannya
menyuruh sang istri untuk masuk kedalam dekapannya.
Mengecup pipi suaminya sekilas, “Terima kasih, Sayang karena kamu selalu saja membuatku bahagia dan aku berdoa pada, Tuhan semoga saja tidak ada orang yang bisa membalikkan perasaan kamu sampai kapanpun, karena Lee hanya
milik Emilia saja tidak boleh ada yang lain,” ucap Emil sembari menatap manik mata suaminya lekat. Pancaran manik matanya seolah menunjukkan jika terdapat harapan besar di sana.
Mengecup puncak kepala istrinya lebih lama dengan mata yang
terpejam sembari berkata, “Hanya kamu saja wanita yang akan mendampingi aku dalam suka maupun duka, karena kau sudah mengikat hatiku di sini,” ucap Lee
sembari menunjuk kearah hati istrinya.
Ya di sanalah hati Lee sekarang berasa, mana mungkin ia mencari wanita lain setelah ia memutuskan bahwa istrinya adalah nyawa dari hidupnya sendiri.
“Amin,” ucap Emil dengan memeluk suaminya erat.
“Sayang, jika kamu terus memeluk aku seperti ini, mana mungkin aku bisa membaca novel untuk kamu sekarang bisakah kau lepaskan sedikit pelukan kamu,” pinta Lee pada istrinya.
“Ehehehe. Maafkan aku, Sayang.” Setelah bicara Emil langsung
meregangkan sedikit pelukannya itu.
Emil merasakan kehidupan yang sempurna, cinta suaminya benar-benar lebih berharga dari pada uang dan juga semua isi di jagat raya ini. Lee terus membaca setiap tulisan yang ada di buku tersebut dengan cermat dan juga teliti bahkan pria itu juga kadang berbicara dengan lembut bagaikan seorang wanita kadang juga berbicara dengan gaya khasnya seperti biasa semua itu Lee
lakukan mengikuti dialog pria atau wanita yang sedang ia baca. Tidak jarang Emil tersenyum melihat suara suaminya yang berubah menjadi wanita. Hingga tanpa sadar Emil tertidur di dalam dekapan suaminya itu karena mengantuk. Lee dengan
pelan dan penuh perhatian langsung memindahkan istrinya itu ke posisinya tidur seperti biasanya.
__ADS_1