
“Maaf aku lapar,” sahut Emilia meringis malu dengan bunyi nyanyian yang mulai terdengar dari perutnya yang sedang keroncong itu.
“Kau sangat menjijikan!” celetu Lee dengan mengambil satu sendok nasi yang ada di piringnya dan segera memasukkannya ke dalam mulutnya karena dia juga merasa sangat lapar setelah melewatkan makan siang tadi.
“Kau bilang apa tadi, kau lebih menjijikkan karena mau saja di jodohkan dengan seorang gadis cantik dan juga anggun seperti diriku, kau tau kan jika usia ku sama perisis seperti Park!” sahut Emil tak mau kalah dengan apa yang Lee ucapkan tadi.
“Kau bilang anggun! Hei bocah, kau makan dengan sangat rakus seperti itu jika tadi aku tidak bermain ponsel pasti aku sudah muntah karena melihat selera makanmu yang begitu
membuatku terkejut! Badanmu ini sangat kurus tapi entah kenapa bisa menampung
banyak makanan yang kau makan tadi,” ledek Lee dengan menarik salah satu senyumannya. Dan melihat akan hal itu Emil semakin geram.
Pelayan restora yang berada di dalam ruangan menatap ke arah mereka berdua pasti orang-orang itu mengira jika Lee dan Emil adalah kakak beradik karena umur mereka yang terpaut sepuluh tahun. Emil masih kelihatan luguh dan juga manis sedangkan Lee jelas sekali terlihat seperti pria dewasa yang sedang mencoba menasehati adiknya. Kira-kira seperti itu arti dari tatapan para pekerja restoran
tersebut. Lee mulai merasa ada yang
sedang mengawasinya dari dalam restoran dan pria itu dengan tatapan sinis menatap
ke arah restoran tersebut.
Dan benar saja banyak pegawai sedang menatap drama kakak beradik yang sedang terjadi, namun mereka semua langsung bubar karena takut melihat sorot mata Lee yang seakan hendak mencabik-cabik tubuh mereka menjadi serpihan kecil. Seketika para
pelayan itu langsung membubarkan diri dan berpura-pura sibuk dengan perkerjaan
mereka masing-masing.
“Sudah diam! Bicara kurang ajar lagi padaku, akan ku lempar kau dari atas restoran ini!” nada suara Lee terdengar bersungguh-sungguh dan itu membuat nyali Emil mengekerut seketika karena apa saja bisa di lakukan pria itu saat ini salah
satunya melempar dirinya sampai ke bawah sungai yang sejak dulu sangat dia
kagumi itu.
__ADS_1
Emil diam dengan beranjak berdiri dari posisi duduknya dia tak menatap ke arah Lee
sedikitpun mungkin karena wanita itu masih merasa geram karena ucapan pria yang
di hadapanya tadi atau karena Emil takut jika di lempar dari atas restoran tersebut sehingga dia menuruti perkataan pria itu untuk tetap diam dan tanpa bersuara sedikitpun. Entahlah hanya Emilia yang tau tentang isi hatinya saat ini. Namun jika di lihat dari wajahnya yang cemberut itu Emil jelas marah dan dia sedang merajuk.
Lee berkali-kali memanggil namanya namun gadis itu tetap saja berjalan keluar dari restoran, Lee lebih dulu membayar makanan yang dia makan tadi dan segera mengejar Emil yang sudah berjalan lebih dulu. Lee terus bertanya dan mencoba menghentikan langkah gadis kecil itu namun Emil masih juga tidak perduli dan terus berjalan bahkan gadis itu beberapa kali menepis tangan Lee yang hendak memegangi tangannya. Sehingga banyak pejalan kaki yang menatap ke arah mereka berdua dan itu membuat Lee begitu terganggu.
Rumah Emil.
Jim dan juga Narra sedang duduk di gazebo yang ada di halaman rumahnya, di sore hari itu permandangar terlihat sejuk karena di gazebo tersebut di kelilingi taman bunga dan kaki Narra menginjak rumput sintetis yang sangat lembut dan permandangan dari gazebo itu sungguh memanjakan mata. Jim sedang menaruh tangannya di pundak istrinya itu mereka berdua duduk di taman yang berada di depan rumahnya itu dengan menikmati wanginya aroma bunga-bunga di taman itu yang kini sedang merekah. Narra dan juga Jim memang sengaja duduk di sana untuk menunggu putri mereka pulang Jim diam-diam menyuruh beberapa pengawalnya untuk mengikuti kemana Lee
dan juga Emil pergi hari ini itu Jim lakukan bukan karena dia tidak percaya
pada calon menantunya namun karena Jim penasaran apa yang terjadi pada kedua
calon suami istri itu jika sedang jalan berdua dan benar saja dugaan Jim dan
Bahkan Jim dan juga Narra mengetahui jika Lee dan Emil bertengkar di pinggiran jalan tadi namun kedua orangtua itu hanya tersenyum saja karena mereka menganggap jika itu sangat wajar terjadi jika menginggat umut Lee dan juga Emil yang terpaut sangat
jauh. Narra dan juga Jim langsung berdiri saat mereka melihat mobil yang di
kemudikan oleh Lee mulai memasuki gerbang utama rumah mereka.
“Papa, Mama,” sapa Emil dengan berhamburan ke pelukan Jim dan juga Narra berganti seakan Emil sudah lama tidak bertemu dengan kedua orang tuanya itu.
“Sayang kau habis dari mana saja?” Tanya Narra dengan membelai puncak rambut anaknya itu.
“Aku dari jalan-jalan dengan si pemarah itu,” celetuk Emil dengan melirik sinis ke arah Lee yang sekarang sedang berjabatan tangan dengan Jim.
“Kau ingat kan dia calon suamimu,” jelas Narra mencoba menginggatkan putrinya itu untuk berlaku sopan di hadapan Lee.
__ADS_1
“ya,” sahut Emil dengan seakan malas menangapi ucapan Mamanya itu.
Seoul-Korea.
Karena tidak ada Lee di rumah jadi Park meminta ijin pada Una untuk ikut menginap di rumah sakit, Una mengijinkan permintaan putrinya itu dan ruangan yang selama ini di
tempati oleh Jhong bukan seperti ruangan rumah sakit atau paling tepatnya
seperti sebuah kamar yang mewah lengkap dengan satu tempat tidur pasien dan
jika Park beristirahat gadis itu bisa mengunakan satu kamar lagi yang berada di
dalam ruangan Jhong di rawat.
“Pa, kapan Kak Lee akan pulang?” Tanya Park dengan mendudukkan tubuhnya di sudut ranjang samping Jhong.
“Besok juga Kak Lee akan pulang, sayang,” Una menimpali perkataan putrinya tadi dengan seulas senyuman di bibirnya.
"Baiklah," sahut Park dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal." Ma apakah Emilia akan satu kampus nantik denganku?"
"Tentu saja dia akan pindah ke kampus yang sama denganmu," jawab Una dengan membelai puncak rambut anaknya itu.
Jhong hanya diam dengan berbaring di ranjang pasien itu, pria itu sekarang tubuhnya semakin kurus karena digerogoti penyakit kanker yang dia derita dan rencananya setelah Lee menikah pria itu tidak mau lagi di rawat di rumah sakit dia ingin pulang dan memindahkan semua peralatan yang dia butuhkan ke rumahnya lengkap dengan dokter yang akan menjaganya setiap saat.
Setelah larut malam Park berpamitan pada Una untuk tidur di dalam kamar yang ada di ruangan Jhong di rawat.
JANGAN LUPA MAMPIR KE NOVEL BARU KHAIRIN NISA YANG INI YA.
__ADS_1