SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 100 BERANILAH MENJADI BERBEDA


__ADS_3

"Menceraikan selir Yuan?" Mata Yang Mulia menatap tajam kepada Xiao Ti seperti tak percaya, selir Yi menyampaikan permintaan seperti itu.


Xiao Yi mengangguk, balas menatap Yang Mulia dengan begitu berani.


"Kenapa kamu memintaku menceraikannya?"


Tanya Yang Mulia kemudian, sambil sedikit membuat jarak dengan Xiao Yi.


"Karena selir Yuan pantas mendapatkannya."Sahut Xiao Yi.


"Apakah kamu sekarang menjadi pencemburu?"


Yang Mulia bertanya dengan khawatir.


Xiao Yi menarik sudut bibirnya membentuk senyum simpul mendengar pertanyaan Yang Mulia.


"Aku tidak punya sedikitpun rasa cemburu pada orang-orang lain yang menangis darah karena begitu mengharapkan tempatku sekarang di hati Yang Mulia."


"Lalu alasan apa sehingga kamu memintaku melepaskan selir Yuan?"


"Karena Yang Mulia harus melakukannya demi Selir Yuan sendiri." Jawab Xiao Yi begitu tegas.


"Jelaskan padaku, kenapa aku harus melakukannya."


"Karena jika Yang Mulia tidak melakukannya, maka aku dan Yang Mulia menjadi lebih berdosa lagi."


"Apa maksud kalimatmu ini, Xiao Yi? Dosa apa yang kau sematkan pada diri kita atas selir Yuan?" Yang Mulia memicingkan matanya.


"Dosa karena membuat batinnya menderita sekian lama, mendampingi Yang Mulia hanya sebagai bayang-bayang yang tak terlihat. Bahkan Yang Mulia sebagai suaminya tak pernah menyentuhnya, sebagai istri. Dan aku berdosa karena membuatnya menyimpan iri dan cemburu sepanjang hidupnya, karena mendapatkan apa yang tak pernah bisa dimilikinya."Xiao Yi berkata lirih.


"Apakah kamu menginginkan aku menyentuh selir Yuan?"


Wajah Xiao Yi langsung merah padam mendengar pertanyaan Yang Mulia.


"Apakah Yang Mulia merasa tergerak melakukannya menggunakan perasaan cinta Yang Mulia?" Xiao Yi berbalik memberikan pertanyaan.

__ADS_1


Yang Mulia terdiam, matanya mengawasi Xiao Yi seperti seekor kucing sekarang.


"Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menginginkanmu, Chenxing."


Xiao Yi tersenyum dan membalas tatapan Yang Mulia dengan lembut.


"Jangan pernah Yang Mulia melakukan sesuatu yang menentang perasaan dan nurani sendiri, jika Yang Mulia datang kepada salah satu istri Yang Mulia karena memuaskan kehendak orang lain dan bukan karena Yang Mulia mencintainya, maka bukanlah kebahagiaan yang telah di berikan Yang Mulia tapi penghinaan." Suara Xiao Yi pelan tapi seperti tamparan pada Yang Mulia.


"Hubungan suami istri, sesungguhnya adalah hal yang sakral dan paling suci. Keintiman saat menyatukan dua raga yang berbeda adalah manifestasi dari penyatuan tubuh, emosi dan perasaan terdalam. Jika dilakukan dengan paksaan tanpa cinta dan kasih sayang, tidak lebih dari nafsu sementara tanpa rasa."


Kalimat panjang itu membuat Yang Mulia mengalihkan pandangannya kepada pohon persik di pinggir danau.


"Karena itulah, aku tidak pernah menyentuh mereka!"


"Jika demikian, kenapa Yang Mulia mempertahankan mereka seperti para tahanan di dalam sangkar emas. Serupa hiasan indah yang menunggu rusak di dalam kaca?"


"Karena tradisi konyol yang diwariskan oleh istana ini." Yang Mulia menjawab getir.


"Suatu tradisi menyesuaikan jaman. Peraturanpun demikian, tidak selamanya bisa diterapkan sepanjang masa. Beranilah menjadi berbeda. Mengubah sesuatu yang salah setelah sekian lama di lakukan secara turun temurun bukan hal tabu, itu adalah keharusan. Seorang Raja adalah pemimpin dan pengayom, bukan orang biasa yang harus mendengarkan dan menerima saja jika ada yang tidak sesuai."


"Tradisi ini di lakukan bukan tanpa alasan tapi untuk memperkuat kerajaan Yanzhi, dan aku telah di ajarkan sedari aku belajar merangkak untuk menjaga kerajaan ini tetap utuh tak tercerai berai, menjaga nama baik para pendahulu, para pendiri kerajaan ini."


"Kerajaan ini tak akan runtuh begitu saja hanya karena Yang Mulia memilih istri sendiri, bukan diberi oleh orang lain seperti sebuah sogokan."Suara Xiao Yi tajam menyambut kalimat Yang Mulia.


"Xiao Yi, berhati-hatilah dalam berbicara, tidak semua orang senang mendengarkan pendapatmu."Yang Mulia berucap dengan volume rendah, dia khawatir Xiao Yi menjadi kelewat batas.


"Yang Mulia kadang harus sedikit berani, supaya orang yang ingin menjatuhkan Yang Mulia menjadi sedikit takut. Sebagai seorang raja, membuat kebijakan sendiri, tanpa harus terpaku dengan pendapat bersifat intimidasi, kadang-kadang harus dilakukan. Menunjukkan sedikit taring, tanpa harus menggigit orang lain."


Xiao Yi memperbaiki duduknya lalu


Menuangkan secangkir teh dari poci porselen dan memberikannya pada Yang Mulia.


"Secangkir teh akan nyaman saat terasa hangat, jika sudah dingin maka tidak lagi di inginkan." Xiao Yi terdiam sesaat, membiarkan Yang Mulia menikmati teh yang hampir kehilangan panasnya itu.


"Begitu juga perempuan, mereka juga mempunyai masa mekarnya, seperti bunga di musim semi. Karena bunga yang baru mekar seharusnya di biarkan menikmati indahnya musim, bukan di biarkan layu sebelum berkembang, bertemu musim gugur dan menjadi sampah."

__ADS_1


Yang Mulia melepaskan gelas di tangannya perlahan ke atas meja, seperti seseorang yang sedang menunggu, apa lagi yang harus di dengarnya.


"Yang Mulia, aku pernah merasakan ketakutan dan penderitaan saat di jadikan selir persembahan bahkan mengutuk setiap orang yang mengirimku ke sini. Tapi...langit begitu baik, memberikan hati Yang Mulia padaku, tanpa sempat merasakan derita selir Yang Mulia yang lain. Aku tak bernasib seperti selir Nuo yang berubah jahat di belakang jerujinya, tidak seperti selir Yuan yang menderita karena kebencian orang lain, tidak seperti selir Mei yang menanggung dendam untuk rasa iri dan dengki dari cinta yang tak berbalas." Mata Xiao Yi menerawang ke arah langit yang masih cerah saat matahari sudah turun jauh dari atas kepala.


"Jangan korbankan perempuan-perempuan tak berdosa untuk alasan kekuasaan. Mereka juga manusia yang pantas di berikan kehidupan yang layak. Mereka pantas menjalani hidupnya sendiri bukan dipilihkan tanpa di beri kesempatan memilih."Xiao Yi menatap Yang Mulia begitu dalam dan penuh kasih sayang.


"Menyimpan orang-orang dengan perasaan seperti itu di sekeliling Yang Mulia hanya menambah banyak kebencian dan kejahatan.


Bahkan seekor kucingpun tak berani mencoba untuk berfikir melahirkan seorang anak di sana."Xiao Yi menunduk setelahnya, kalimat terakhir itu seperti menceritakan isi hatinya sendiri.


"Chenxing..." Yang Mulia mengambil jemari Xiao Yi dan memegangnya dengan lembut.


"Apakah selir Yuan telah mengatakan padamu, bahwa dia mengharapkan aku melepaskannya?"Tanya Yang Mulia, lamat-lamat.


Xiao Yi mengangguk perlahan.


"Biarkan dia tetap di Shicuan, panggilkan saja ayahnya gubernur Chi Weiheng. Katakan, jika dia menginginkan anaknya hidup bahagia, biarkan Selir Yuan hidup damai di Shicuan.


Yang Mulia melepasnya dari ikatan pernikahan, supaya Selir Yuan tidak lagi bertemu bahaya. Yakinkan dia bahwa propinsi Shicuan tetap adalah bagian dari Yanzhi ada atau tidak ada selir yang dikirimkan dari sana, hal ini akan meredam pikiran bahwa Yang Mulia mengabaikan propinsinya, sehingga memungkinkan adanya pemberontakan seperti yang ditakutkan Yang Mulia.


Kejadian setelah usaha peracunan anaknya, tentu bisa membuatnya mengerti, seorang anak lebih penting dari sebuah kekuasaan."


Xiao Yi membungkukkan badannya, dengan penuh permohonan.


Yang Mulia menatap kepala yang kini menunduk di hadapannya, rambut hitamnya, yang sebagian di gelung dan sebagian terurai itu seperti sutra hitam yang begitu memikat.


Tak pernah dibayangkannya, seorang selir persembahan mampu berpikir demikan berani dan bijaksana. Lalu dengan suara datar dan hangat, Yang Mulia berucap,



"Aku akan mengabulkan permohonanmu...."


...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...

__ADS_1


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_2