
Xiao Yi terbangun oleh suara langkah kaki seseorang yang terdengar halus masuk mendekati peraduannya, di aula Rongyu yang luas dn sepi itu dia menunggu kedatangan yang mulia, karena bosan yang tak tertahan dia akhirnya tertidur.
Entah berapa lama selir muda yang sedang mengandung hampir lima bulan itu sempat terlelap, dengan perut yang besar dari kebanyakan usia kandungan sepantarannya. Ya, karena bayi kembar yang ada di dalam perutnya itu membuatnya terlihat seperti orang yang sedang hamil tua.
"Nyonya..."Itu adalah suara yang sangat dikenal oleh Xiao Yi, suara Chu Cu pelayannya.
Xiao Yi mengangkat kepalanya dan bersandar dengan malas di punggung tempat tidur besar berukir naga tempat Yang Mulia.
"Ada apa, Chu Cu? apakah ada pesan dari Yang Mulia?" tanya Xiao Yi sambil menaikkan alisnya, dia mengingat janji Yang Mulia untuk membawanya pada suatu tempat sore ini. Tapi sampai Chu Cu membawa makanan kudapan menjelang sore dia belum mendapat kabar dari Yang Mulia.
Dia hanya duduk sepanjang siang sampai sore di dalam istana Rongyu, kediaman raja.
"Nyonya, ada yang menitipkan surat untuk Yang Mulia." Kata Chu Cu dengan ragu-ragu, ditangannya yang terkepal tampak menyembunyikan sesuatu.
"Surat?" Xiao Yi menegakkan badannya.
Setengah menunduk Chu Cu mengangsurkan potongan sebuah bambu yang lebih kecil dari kelingking anak-anak.
"Dari siapa?" Xiao Yi bertanya dengan sedikit bingung, surat itu terlihat sangat rahasia.
"Saya tidak tahu, nyonya...saat saya kembali ke istana Xingwu, saya menemukan di dalam keranjang bunga yang dikirimkan oleh harem ibu Suri."
"Dari Harem ibu suri?" Xiao Yi turun dari tempat tidur dengan wajah yang lebih penasaran.
Gaun biru muda longgar yang terbuat dari sutra itu berkibar sedikit, angin terasa menjadi lebih dingin, di luar tampak sedang hujan gerimis. Cuaca yang aneh, hujan terakhir di musim gugur terasa lebih dingin memang.
"Ambilkan aku air hangat." Xiao Yi memberikan isyarat kepada Chu Cu untuk keluar, kulitnya terasa lebih dingin sekarang, seiring rasa penasaran yang merayap.
Di tariknya ujung kertas berwarna putih buram dari dalam bambu kecil selebar ranting Meihua itu, dengan jemarinya yang tiba-tiba menjadi berkeringat.
Lalu dengan perlahan di bukanya kertas surat itu, matanya tidak menemukan tulisan apa-apa di sana. Hanya sebuah kertas memanjang dengan panjang sekilan orang dewasa.
Xiao Yi memicingkan matanya, diperiksanya kembali bambu kecil tempat gulungan kertas itu tadi di masukkan. Ada sebuah ukiran mirip lampion, sangat kecil hampir tak kelihatan.
__ADS_1
Dengan lembut digosoknya mengguna ujung jarinya yang dingin, samar-samar pada bekas jarinya itu muncul sebuah gambar lidah api.
Xiao Yi mengerti kode pada gambar itu, bahwa kertas kosong itu harus di letakkan di dekat api, mungkin ada sesuatu yang disembunyikan di sana, sebuah pesan rahasia khas mata-mata atau kemiliteran.
Ayah Xiao Yi adalah komandan di perbatasan yang melatih beberapa orang sebagai penjaga perbatasan dari sejak dia masih anak-anak, tentu saja dia tahu masalah surat rahasia seperti ini.
Perlahan dia menghampiri meja kerja Yang Mulia, menyalakan pelita di atas meja itu. Jemarinya terasa nyaman saat mendekati cahaya yang hangat itu. Di bukanya lebar-lebar kertas itu dan meletakkannya pada cahaya.
Tiba-tiba muncul satu persatu huruf pada kertas itu membuat barisan tulisan kecil.
Sekecil apapun tulisan itu, Xiao Yi sangat mengenalnya. Ada lekuk yang aneh pada beberapa huruf yang membuat Xiao Yi tak bisa melupakannya begitu saja.
Ya, itu adalah tulisan dari tuan Zhao Juren, laki-laki itu pernah menulis surat untuknya, meminta bertemu, dulu sekali setelah perayaan Chusi di musim semi.
Sinar mata Xiao Yi yang dingin berbinar aneh, di sana tertulis,
Kuil Zuihou di bawah bintang sembilan
malam ini...
Tulisan pada barisan di bawahnya, membuat mata Xiao Yi tak berkedip,
Melihatmu...
Seperti bulan yang tinggi,
Cahayamu redup tapi cukup
untukku berjalan
Xiao Yi sangat tahu, itu adalah puisi yang ditulisnya untuk Yang Mulia pada malam festival musim semi, kertas itu jatuh dari sakunya saat berjalan tergesa menuju istana Chue Lian.
Dia mengira surat itu hilang entah dimana, tapi tak pernah menyangka jika panglima Zhao Juren adalah orang yang telah menemukannya.
__ADS_1
Hujan rintik-rintik di luar istana rongyu menimpa atap, terdengar seperti dentingan yang berirama. Tirai sutra yang ada di ruangan istana mewah itu tampak sedikit terayun, di belai angin sore yang dingin bersama hujan gerimis yang sepertinya tak ada janji untuk segera berhenti.
Chu Cu muncul dari balik pintu membawa nampan beisi teko dari porselen dan sebuah gelas, tampaknya dia menyeduh teh yang hangat untuk Xiao Yi, membantu majikannya itu mengusir dingin.
"Chu Cu, apakah Kasim Chen ada menyampaikan berapa lama lagi Yang Mulia akan tiba?" tanya Xiao Yi.
"Tidak ada nyonya." Jawab Chu Cu.
Dada Xiao Yi terasa berdebar, dia menjadi sangat bimbang. Apakah dia harus mengatakan pada Yang Mulia perihal surat dari Zhao Juren ini, seperti ketika dia mengatakan terus terang saat menerima surat dari Jiu Fey, beberapa pekan sebelumnya.
Tapi, puisi yang ditulisnya itu sangat menganggu fikirannya. Dia takut Yang Mulia akan salah faham jika dia mengatakan Zhao Juren ingin bertemu secara rahasia dengannya.
Dan andai Yang Mulia melakukan hal yang sama, berdiri mendengarkan mereka berbicara, dia khawatir Zhao Juren akan mengucapkan hal-hal yang membuat Yang Mulia menjadi salah paham lebih dalam lagi mengenai hubungannya dengan Zhao Juren.
Tapi pergi malam ini sendiri adalah hal yang sulit, dia sudah mempunyai janji dengan Yang Mulia pergi ke suatu tempat.
Xiao Yi menghela nafasnya dengan kebimbangan yang sama, dia mungkin harus mengabaikan surat Zhao Juren, meskipun dia mempunyai firasat Zhao Juren ingin menyampaikan sesuatu yang penting.
Perlahan di letakkannya ujung surat itu pada pata api yang menjilat-jilat kecil, sesaat kemudian surat rahasia itu telah terbakar menjadi abu yang diletakkannya di dalam sebuah mangkok pembakaran di atas meja Yang Mulia.
Sisa api di dalam mangkok itu memerah menyisakan asap kecil, saat Yang Mulia tiba. Dalam jubah kebesarannya yang berwarna hitam bersulam bordiran emas bergambar naga, raja tampan itu begitu gagah, meski mimiknya sedikit lelah dan tak sabar.
"Chenxing...setelah hujan reda kita akan pergi ketempat yang ku janjikan." Katanya dengan sumringah.
"Kemana?" Xiao Yi bertanya untuk mengusirkan keterkejutannya karena kedatangan Yang Mulia yang begitu mendadak. Xiao Yi berdiri menyonsong sambil melepaskan mantel Yang Mulia.
"Kuil ZuiHou." Jawaban pendek Yang Mulia membuat Xiao Yi terpana sesaat.
Ini adalah sebuah kebetulan atau memang takdir yang telah di tuliskan oleh langit?
(Terimakasih atas semangat dan dukungan yang telah diberikan untuk author dalam menulis novel ini. Crazy UP hari kedua...please VOTE, LIKE dan KOMENnya ya para readers kesayangan)
__ADS_1
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
...I LOVE YOU ALL❤️...