SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 51 TIDAK BOLEH PERGI


__ADS_3

Matahari sudah tinggi, pagi benar-benar sudah lewat. Hari yang terang benderang menyambut dengan mengirimkan cahaya lewat sela-sela tirai yang menutup jendela.


Tirai berwarna emas itu berkilau di timpa cahaya, sedikit menyilaukan mata.


Yang Mulia memicingkan matanya sambil meletakkan punggung tangan di atas alisnya yang hitam legam. Dia terbaring di atas seprai putih yang acak-akan, terbungkus selimut sutra tebal sebatas perut. Dadanya yang bidang dan menawan itu, mengkilat ditimpa cahaya.


Matanya masih mengantuk, kepalanya berat sekali, badannya terasa redam tapi hatinya begitu nyaman.


Perlahan ingatan kejadian malam tadi menyeruak di benaknya yang masih antara sadar dan tak sadar. Kemudian wajah Xiao Yi yang melengkung manja dalam pelukannya.


Tangan Yang Mulia bergerak meraba-raba, samping kiri dan kanannya. Hanya gemerisik lembut dari gesekan kulit telapak tangannya dengan seprai yang ditidurinya.


Yang Mulia segera membuka matanya lebar-lebar. Orang yang dicarinya tidak berada di tempat tidur itu lagi.


Rasa lelah sisa tadi malam yang semula sempat menyergap segera menguap, berganti rasa gugup yang aneh.


Ruangan itu kosong, Xiao Yi tidak ada di sana.


Yang Mulia tidak bisa menepis ada rasa cemas yang tiba-tiba membuncah. Dia segera duduk, dipandanginya tubuhnya yang hanya tertutup selimut dan celana kain dalaman.


Apakah semuanya hanya khayalan atau mimpinya? Yang Mulia menyibakkan selimutnya, ada genangan noda yang mengering tercecer di sana.


Sesungging senyum hadir di bibirnya, melihat hal itu membuat dadanya kembali bergemuruh dan bergairah.


Dia merasa nyawanya seutuhnya kembali, semua bukan mimpi, tadi malam benar-benar nyata!


Noda semerah houyun itu, seperti lukisan di mata yang Mulia. Sungguh, tak ada alasan lagi dia meragukan Xiao Yi. Siapapun boleh menjadi masa lalunya, tapi tidak pernah memiliki Xiao Yi seutuh dirinya.


Dan sekarang, tidak akan ada lagi yang membuatnya takut bahwa Xiao Yi akan meninggalkannya.


Tapi, kemanakah dia? kenapa dia terbangun sendiri? gadis itu hilang lenyap dari sisinya. Pakaiannya pun tak ada. Hanya seonggok jubah merah Yang Mulia yang tampak di rapihkan seadanya, diletakkan di bawah kaki Yang Mulia.


Suara pintu di buka, sedikit membuat Yang Mulia terperanjat, berfikir siapakah yang begitu kurang ajar masuk ke dalam ruangannya tanpa permisi. Apalagi dalam keadaan dirinya setengah polos seperti ini.


Sekonyong-konyong Xiao Yi muncul dengan langkah pelan membawa baki dengan sebuah mangkok besar diatasnya.


Dia sudah begitu cantik dengan gaun berwarna kuning pucat yang bersulam bunga krisan besar-besar.


Roknya yang kuning pucat itu sampai lantai, menutupi kaki-kaki kecilnya yang menapak lantai tanpa suara. Pinggangnya yang ramping begerak gemulai.


Yang Mulia tersenyum sendiri, menikmati pemandangan indah di depannya, rasanya begitu nikmat membuka mata dari tidur yang indah di sambut oleh seorang dewi dengan sebuah mangkok porselen.


Xiao Yi tertegun sejenak menyadari yang Mulia sudah bangun dan duduk mencangklong, satu kaki dengan lutut terlipat dan sikunya menopang di sana sementara punggung tangannya terkepal di pipinya dalam posisi miring, memperhatikan ke arah kedatangannya dengan menyeringai.


"Yang Mulia sudah bangun..." Xiao Yi meletakkan mangkok berisi sup yang masih mengepul panas.


"Aku tidak mengatakan bahwa kamu boleh kembali ke Xingwu sebelum aku bangun. Kamu tidak boleh pergi begitu saja." Kata Yang Mulia dengan muka yang di buat masam, rasanya tidak enak saat merasa takut gadis itu pergi meninggalkannya.

__ADS_1


"Aku belum kembali ke Xingwu..." sahut Xiao Yi dengan bingung.


"Tapi kamu sudah rapi dan berganti pakaian?"


Yang Mulia mengernyit dahi dengan masih dalam posisi yang sama, matanya mengawasi kemanapun Xiao yi bergerak.


"Aku tidak kemana-mana Yang Mulia, Chu Cu pagi-pagi telah membawakan pakaianku ke sini untuk berganti, di bawah perintah kasim Chen" Xiao Yi menjawab dengan sedikit tersipu.


Dia terpaksa membersihkan diri di kediaman yang Mulia, karena tidak mungkin dia kembali dalam keadaan sangat berantakan ke wisma kediamannya.


Yang Mulia tersenyum mendengarnya, dia harus memberikan hadiah untuk kasim kesayangannya itu yang selalu bijaksana melihat situasi.


Yang Mulia menurunkan kakinya dari ranjang dan melangkah mendekati Xiao Yi yang berdiri di depan meja, yang diatasnya telah tersedia semangkok besar sup panas dan sepoci teh hangat, begitu menggoda selera membuat perut Yang Mulia tiba-tiba berbunyi.


"Yang Mulia, silahkan makan...ini sudah siang..."


kalimat Xiao Yi terputus, ketika merasakan lengan Yang Mulia mengait dadanya, dan tangan yang lain memeluk pinggangnya.


Desah nafas Yang Mulia terasa panas di leher jenjangnya.


Dadanya yang polos itu menempel di punggung Xiao Yi.


"Yang Mulia..." Xiao Yi menegur dengan suara manja.


"Ini sudah sangat siang, sebaiknya Yang Mulia segera makan dan..."


"Baumu sangat harum, chenxing...seperti bau persik yang lembut." Yang Mulia menyusupkan kepalanya ke leher Xiao Yi, tidak perduli dengan apa yang di katakan gadis itu.


"Yang Mulia harus bergegas, Kasim Chen berpesan, Yang Mulia harus ke aula Guanli siang ini, para gubernur ingin bertemu." Ucap Xiao Yi setengah berbisik.


Yang Mulia melepaskan pelukannya dengan wajah sedikit cemberut.


Xiao Yi mengambil pakaian yang terlipat rapi dari atas meja di sudut dan mengenakan kepada Yang Mulia.


Yang Mulia tersenyum kecil dan membiarkan Xiao Yi menarik tali jubah atasannya dan mengikatnya, semburat merah menghiasi wajah mulusnya ketika tangannya bersentuhan dengan kulit Yang Mulia.


"Seharusnya hari ini, kasim Chen memberiku libur ke aula Guanli." ucapnya sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Xiao Yi yang sedang sibuk mengikat tali bajunya.


Gadis itu hanya tersenyum kecil dengan wajah jengah yang sangat manis.


"Ayo, makanlah...aku telah membuatkanmu sup biji bunga teratai yang enak." Xiao Yi Meraih jemari Yang Mulia malu-malu dan membawa Yang Mulia duduk menghadap meja itu.


Dengan cekatan Xiao Yi menuangkan teh ke cangkir porselen dan menyorongkan gelas itu pada Yang Mulia.


"Biasanya Kasim Chen akan lebih dulu mencicipi makanan dan minuman sebelum aku memakannya." kata Yang Mulia.


Xiao Yi mengernyitkan dahi dengan wajah kesal,

__ADS_1


"Aku sudah mencicipinya lebih dulu, tak ada racun di teh ini" sergah Xiao Yi.


"Tapi aku belum melihat kamu mencicipinya, Chenxing. Kau harus tahu, raja mudah di celakai jika..."


Xiao Yi meletakkan bibir gelas itu di bibirnya yang ranum dan menyesap sedikit dengan muka masam sebelum Yang Mulia menyelesaikan kalimatnya.


"Ini tidak beracun sama sekali!" Xiao Yi meletakkan gelas yang baru di minumnya ke atas meja, dan hendak menuangkan teh baru ke gelas lain. Tapi Yang Mulia memegang tangan Xiao Yi dan mengambil gelas itu dari tangan gadis itu dan meminumnya dengan sekali tengak.


"Mulai hari ini, aku akan meminum dari semua gelas bekas bibirmu...aku hanya percaya kepadamu." Yang Mulia terkekeh, begitu senang telah mempermainkan gadis itu.


Xiao Yi sejenak terpana dengan kelakuan Yang Mulia kemudian pura-pura tak mendengar, dia sibuk mengaduk sup di dalam mangkok, mengurangi panas dari sup.


"Apa itu?"


"Sup biji bunga teratai." jawab Xiao Yi. Sup itu terdiri dari bahan daging, biji bunga teratai dan umbi bunga lili di campur dengan bubur.


Xiao Yi menyerahkan sendok kepada Yang Mulia, sebagai isyarat supaya dia segera memakannya.


"Kamu membuatnya sendiri?" tanya Yang Mulia, sambil menyendoknya dan memasukkan ke dalam mulut. Rasanya hangat, gurih tapi sedikit aneh.


Xiao Yi mengangguk dengan senyum senang.


"Biasanya, kamu membuat suatu masakan dengan suatu alasan." Yang Mulia menaikkan alisnya.


"Sup ini untuk memulihkan stamina Yang Mulia..." Xiao Yi menjawab dengan tersipu.


"Oh,ya." Yang Mulia menyendok sup itu, meniupnya sebentar kemudian menyodorkan ke mulut Xiao Yi,


"Seharusnya kamu juga memakannya kalau begitu." ucapnya lembut. Tentu saja, Xiao Yi juga perlu pemulihan setelah melakukan pekerjaan melelahkan yang pertama kali dilakukannya tadi malam bersama Yang Mulia.


Xiao Yi membuka mulutnya sedikit dengan malu, menerima suapan dari Yang Mulia.


"Besok kamu harus membuatkan lagi untuk kita, karena malam nanti mungkin kita harus bekerja keras lagi" goda Yang Mulia.


Xiao Yi mencubit lengan Yang Mulia dengan wajah merah padam.


"Yang Mulia..." Kasim Chen tiba-tiba datang dengan terbungkuk-bungkuk memberi hormat dan kepala menunduk, merasa bersalah menganggu dua orang yang sedang mesra itu.


"Ada apa?"


"Gubernur Qian Lie mengirimkan permohonan ingin bertemu dengan puteri angkatnya selir Yi, jika Yang Mulia mengijinkan..."


...Terimakasih sudah mengikuti cerita Selir Persembahan❤️...


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...

__ADS_1


...🙏🙏🙏...


...Dukungan, komen dan hadiahnya adalah semangat author terus menulis 🙏☺️...


__ADS_2