
(Zona agak panas yah, yang belum cukup umur, please skip😊🙏)
Xiao Yi masih berdiri di tempatnya. Seperti patung yang terukir sempurna di bawah cahaya lampu penerang di setiap sudut kamar Yang Mulia.
Gaun ungu muda yang dikenakannya berkibaran lembut saat angin dari pintu sesaat menyeruak ketika pintu terbuka sepeninggal Wen Qiao, sebelum Yang Mulia masuk dan menutupnya.
"Chenxing..."Yang Mulia memeluk Xiao Yi dengan nafas terengah tak sabar, tak ada lagi yang ada di dalam ruangan itu kecuali mereka berdua.
Tak perlu menjaga sikap lagi, karena dua tubuh dengan satu hati pasti saling mengerti apa yang dirasakan oleh masing-masing.
"Yang Mulia," Xiao Yi menyambut pelukan itu dengan begitu erat. Menikmati suara degup jantung Yang Mulia membuat matanya terpejam. Mereka saling menuangkan rindu yang tak bisa terkatakan, menyingkirkan derita kesepian yang tersimpan begitu lama.
"Apa yang membuat perempuan keras kepala itu menyerah? Kamu memarahinya dengan keras?" Yang Mulia merenggangkan pelukannya.
Dahinya nampak mengerut dengan penasaran yang tak terbendung.
"Apakah Yang Mulia melihatku menjadi lebih kejam sekarang?" Xiao Yi menampakkan mimik yang polos tak berdosa.
"Sepertinya tadi, dia tak akan pergi sebelum aku menyuruh Jian menyeretnya keluar."Yang Mulia menarik sudut bibirnya ke bawah.
"Yang Mulia sepertinya yang semakin kejam setelah lama ku tinggalkan..."
Belum selesai Xiao Yi menyelesaikan kalimatnya, Yang Mulia tiba-tiba membungkuk, bibir tipisnya yang panas di bakar gairah itu menempel di bibir merah basah Xiao Yi, menekan dengan lembut mengirimkan hawa membara.
Xiao Yi terperangah sedikit terkejut tapi bibir itu dengan ketidak sabaran yang tak terkendali, mel*mat bibirnya tanpa ampun.
Yang Mulia menarik pinggang kecil Xiao Yi lebih dekat dan merapat ke tubuhnya, tak lagi membiarkan perempuan yang dirindukannya itu bisa berbicara lagi.
Lengan kokoh Yang Mulia melintang dengan erat di pinggang Xiao Yi begitu menuntut supaya mendapat balasan. Lidahnya yang serupa besi panas itu, mengetuk bibir Xiao Yi untuk membuka. Lalu menyusup menjelajah seperti bara bertemu arang dingin. Menjadi hangat dalam seketika, membawa darah mengalir sampai ubun-ubun, menekan degupan jantung yang semakin tak beraturan.
"Ukh..."
Xiao Yi mendesah dengan mata terpejam, tubuhnya terasa lemas tapi Yang Mulia dengan sigap menahan punggungnya. Menopangnya supaya dahaganya untuk terus menyesap bibir Xiao Yi terpuaskan dengan sempurna.
__ADS_1
Yang Mulia memandangi raut wajah Xiao Yi dengan senang, matanya terpicing seperti seekor serigala yang siap menerkam mangsa, sinar mata yang menyimpan sejuta rindu itu menyembunyikan banyak keinginan dalam tatapan sayu suram.
Dalam detik berikutnya, tubuh Xiao Yi telah berada di kedua lengannya. Dengan langkah gagah setengah tergesa mencapai peraduan besar di sudut ruangan.
Dibaringkannya tubuh Xiao Yi yang melengkung pasrah itu di atas ranjang.
"Aku hampir gila memikirkanmu Chenxing, menunggumu pulang seperti berabad-abad lamanya."Suara berat Yang Mulia terdengar seperti keluh yang lelah.
"Yang Mulia juga tidak tahu bagaimana aku hampir tak bisa memejamkan mata setiap berusaha tidur. Yang Mulia sangat menganggu kepalaku..."Xiao Yi menyahut, wajahnya yang sudah memerah itu tampak masam.
"Aku rindu, kamu memanggilku dengan Yue..." bisik Yang Mulia. Tubuhnya menekan gadis yang terbaring di bawahnya itu.
"Yue..."Bibir Xiao Yi membuka sedikit dan Yang Mulia kembali menciumnya bertubi-tubi.
Betapa bahagianya, ketika beban rindu ini di ruahkan kepada orang yang dicintai. Rasanya begitu manis, lebih manis dari manisan apapun.
Lalu dengan lembut dia melepaskan semua yang menghalangi pandangannya dari tubuh mulus yang selalu menggoda khayalannya itu, menyisakan selapis pakaian dalam tipis berwarna putih yang tak bisa menyembunyikan apa yang ada dibaliknya.
Xiao Yi menggerang halus saat Yang Mulia membenamkan wajahnya pada dada yang terhalang kain tipis itu, seperti ular yang merayap, membasahi kain tipis itu dengan mulutnya yang basah.
Xiao Yi tidak lagi bisa berkata-kata, yang dilakukannya hanya mendesah dan menikmati setiap buaian yang terasa menyesakkan nafasnya itu.
Ketika kulitnya terasa bersentuhan dengan kulit lembab berkeringat, Xiao Yi membuka matanya dan terpana menemukan Yang Mulia sudah melepaskan jubah putih berasnya.
Tak ada yang benar-benar menyadari saat gairah itu menyala seperti api, tiba-tiba saja mereka seperti bayi tanpa sehelai kain penutup. Saling memandang dengan nanar, seolah bertanya siapakah yang memulai.
Lalu bagian tubuh tersembunyi itu menegang seperti menuntut, meminta hutang rindu itu di tuntaskan tanpa lagi saling mempermainkan dengan cumbuan yang tak berujung.
Jemari halus Xiao Yi membimbingnya menuju gerbang yang telah begitu lama di tutupnya itu. Memintanya masuk dengan segera dan Yang Mulia menurutinya tanpa penolakan sama sekali.
Deru gelombang seperti badai, saling menghantam seperti ombak menggulung pantai. Berkali-kali bergerak, maju dan mundur serupa air laut yang sedang pasang dan surut dalam sekejap.
Desah napas yang beradu seirama degup jantung yang berdetak tak karuan, penjelajahan menuju puncak pengembaraan itu akhirnya berakhir ketika dua insan itu memekik halus dalam nada berbeda dan masing-masing terkulai tak berdaya dalam lelah yang menyenangkan.
__ADS_1
Xiao Yi mendekap Yang Mulia dengan erat, membiarkan nafas hangat tak beraturan Yang Mulia menerpa dahinya. Dia merasa kepuasan dan kebahagiaan mengisi setiap celah di relung hatinya.
Laki-Laki ini bukanlah seorang raja jika sedang berada di pelukannya, dia hanyalah seorang laki-laki setia dan keras hati yang haus kasih sayang.
Tak ada kata yang bisa mereka katakan, ketika beban rindu itu telah di lepaskan sampai tak setitikpun bersisa.
Yang Mulia dan Xiao Yi, berbaring sambil berpelukan, saling menatap dan mengagumi.
"Kamu menjadi sedikit lebih gemuk..." Seulas senyum merekah di sudut bibir Yang Mulia.
"Ibumu pasti memanjakanmu dengan makanan yang enak setiap hari, sampai kamu lupa diri."
"Ya, ibuku selalu membuatku banyak kue setiap hari, mulutku tak pernah bisa kosong." Xiao Yi tersipu.
"Apakah aku sekarang menjadi jelek karena sedikit gemuk?"Wajah Xiao Yi merengut manja.
"Chenxing, kamu cantik meskipun pinggangmu sudah tak ada lagi" Yang Mulia tertawa menggoda Xiao Yi.
Xiao Yi semakin merengut, bibirnya di tekuk sementara tangannya meraba pinggangnya sendiri dengan penasaran.
Tiba-tiba perutnya terasa kram, rasa mual yang aneh begitu cepat naik membuat kerongkongan tercekat.
Xiao Yi menutup mulutnya dengan telapak tangannya, matanya tak berkedip. Yang Mulia menatapnya dengan heran.
Xiao Yi segera bangun dan duduk. Tangannya yang satu masih menutup mulutnya dan tangannya yang lain memegang perutnya.
Yang Mulia segera bangun dan memandang Xiao Yi dengan sedikit gugup.
"Kamu kenapa?"Yang Mulia benar-benar tak bisa lagi menyembunyikan kecemasannya sekarang. Dia menyampirkan kain membungkus tubuh Xiao Yi.
"Aku ingin muntah, sepertinya aku masuk angin..." keluh Xiao Yi sebelum kemudian dia turun dari ranjang dengan tergesa, mencari tempat untuknya memuntahkan apa yang menyesak di kerongkongannya.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
__ADS_1
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...