
Suasana siang menjelang sore begitu cerah, langit biru terpantul indah di atas sungai Sheng . Cahaya matahari yang keperakan jatuh di atas permukaannya. Menimpa sebagian batu yang berada di pinggirannya membuat warna yang dramatis. Membuat warna kemilau yang sedikit menyilaukan.
Dua orang yang duduk di teras loteng atas rumah Xiuxi tampak terpekur menatap pemandangan indah di bawahnya, yang satu gadis yang begitu cantik dengan gaun warna merah muda pucat yang melekat seperti menyatu pada kulit mulusnya yang bagai pualam.
Yang satu lagi seorang pria tampan, memeluk sang gadis dari belakang, dengan pakaian biru tua yang maskulin.
Raut wajah mereka menunjukkan pias yang berbeda.
Sang wanita begitu tenang seperti aliran sungai Sheng dibawahnya sementara sang pria menunjukkan pias gelisah dan bimbang.
"Chenxing, apakah kamu yakin dengan rencanamu?" tanyanya pelan.
"Tentu saja, Yang Mulia...aku yakin bisa melakukannya." Jawab Xiao Yi sambil mendekap lengan yang melingkari dadanya.
"Kamu tidak perlu melakukannya sendiri, aku bisa saja memerintahkan orang lain untuk mengawal dan menjaga selir Yuan di Youwu."
Kata Yang Mulia.
"Aku telah berjanji di depan semua orang bahwa aku yang akan melakukannya. Bukankah sangat penting menepati janji karena itu menyangkut seberapa besar kita bisa di percayai orang?" Xiao Yi menggosok-gosok puncak kepalanya di dagu Yang Mulia dengan manja.
"Menepati janji bisa dilakukan dengan banyak cara." Desis Yang Mulia.
Xiao Yi membalikkan badannya dan berpaling kepada Yang Mulia.
Sesaat bibirnya terbuka hendak mengucapkan sesuatu tapi urung dilakukannya.
Sejurus senyumnya merekah dengan manis, semanis manisan buah prem. Dia mendongak dengan nakal, kalimat yang hendak di sampaikannya seperti menggumpal di mulutnya kemudian di telannya kembali.
Senyum itu membuat Yang Mulia mengerutkan keningnya,
"Kenapa kamu tersenyum aneh begitu?" Yang Mulia menyentuh bibir gadis itu dengan gemas menggunakan telunjuknya.
"Aku hanya bingung, kenapa Yang Mulia jauh-jauh menyuruh pengawal Cun menculikku ke rumah Xiuxi ini, jika hanya untuk membawaku berdebat untuk hal-hal yang telah kita sepakati malam kemarin." Xiao Yi menggedikkan bahunya, menggoda.
"Ini penting bagiku, permohonanmu untuk pulang ke Youwu untuk sementara waktu supaya bisa mengawasi pengobatan selir Yuan,membuatku tak bisa tidur semalaman." Kata Yang Mulia dengan raut gamang.
"Yang Mulia tidak bisa tidur karena terlalu sibuk melakukan hal lain, membuatku terjaga sepanjang malam karena Yang Mulia tidak bisa diam." Xiao Yi tertawa kecil sambil menutup bibir ranumnya dengan jemari lentiknya.
Yang Mulia mencubit pinggang Xiao Yi pelan, membuat gadis itu menggelinjang.
__ADS_1
Beberapa hari belakangan ini, Yang Mulia benar-benar begitu candu untuk mendatangi wisma Xingwu, dengan berbagai alasan yang kebanyakan mengada-ada.
Begitu selesai menghadiri pertemuan di aula Guangli maka dengan segera dia memanggil Xiao Yi, mengatakan dirinya sangat lapar dan kelelahan, sangat memerlukan sup herbal Xiao Yi yang sangat enak itu.
Begitu Xiao Yi pulang kembali setelah menemaninya makan siang, maka tidak sampai lama sebuah pesan di kirimkan oleh Yang Mulia, Xiao Yi harus mengantarkan teh dan cemilan ke taman Shenhua di mana Yang Mulia telah menunggu, sambil menulis sesuatu di dalam gazebo menikmati pemandangan lautan bunga yang sedang mekar di sana.
Dan begitu gelap tiba, maka dia akan muncul di pintu wisma Xingwu, mengeluhkan badannya yang pegal dan memerlukan sedikit pijatan dan meminta Xiao Yi memanggilkan beberapa dayang cantik untuk memijatnya.
Tentu saja Xiao Yi akan merengut dengan kesal lalu dengan suka rela memijat tubuh suaminya itu dengan jemarinya sendiri.
Dengan dalih mengantuk, maka dia akan menghabiskan sepanjang malam di kediaman Xiao Yi.
Semua hal tersebut dilakukan Yang Mulia karena dia merasa gelisah jika tak berjumpa dengan Xiao Yi sebentar saja.
Sekarang gadis itu meminta ijin kepadanya untuk pergi dalam waktu yang mungkin tidak dia tahu kapan kembalinya, tentu saja itu membuatnya benar-benar berat mengabulkannya.
"Aku sedang berbicara serius...!" Tukasnya, dengan mata yang membesar.
"Yang Mulia...Jangan membuang waktu kita untuk membicarakan hal yang akan bermuara kepada satu keputusan yang sama." Xiao Yi mengalungkan tangannya di pinggang Yang Mulia, sehingga membuat tubuh mereka merapat begitu rupa di bawah cahaya matahari sore yang hangat.
"Dulu yang Mulia pernah berjanji untuk mengijinkan aku pulang sebentar, tapi tak punya alasan untuk benar-benar melakukannya karena bisa membuat Yang Mulia melanggar peraturan istana. Sekarang, Yang Mulia bisa melakukannya tanpa harus membuat Yang Mulia kehilangan muka di depan ibu Suri karena melawan peraturan harem, bukankah ini kesempatan yang terlalu bagus untuk di lewatkan?" Xiao Yi berucap dengan tenang.
"Yang Mulia, perintahkan saja gubernur Qian secara lisan dan tertulis untuk bertanggung jawab atas keselamatanku dan selir Yuan selama di Youwu, maka dia tak akan berani melakukan apa-apa kepadaku selama berada di bawah perintah Yang Mulia, jika hal itu membuat Yang Mulia cemas." Sahut Xiao Yi.
"Apakah aku harus kebih dahulu menghukum gubernur Qian Lie supaya mencegahnya melaksanakan rencana jahatnya lebih dulu?"
"Yang Mulia, sangat tidak bijak jika Yang Mulia menghukum seseorang hanya berdasarkan laporan orang lain tanpa bukti yang cukup. Hal itu bisa membuat celah untuk menjatuhkan Yang Mulia."
"Tapi aku percaya semua yang kamu katakan, Chenxing." sergah Yang Mulia cepat.
"Menjadi percaya kepada seseorang tidak harus membuat kita buta dan bertindak gegabah. Gubernur Qian adalah orang yang tidak hanya licik tetapi kejam. Menahlukkan orang seperti itu hanyalah masuk ke dalam sarangnya dan tidur di satu atap dengannya." kata Xioa Yi dengan senyum kecil.
"Apa maksudmu, Chenxing?"
"Kirimlah aku dan selir Yuan ke istana gubernur Qian, biarkan kami tinggal di sana selama masa pengobatan selir Yuan. Aku akan membongkar semua kejahatan gubernur Qian dari dalam rumahnya sendiri."
"Itu tak bisa ku lakukan, terlalu berbahaya. Sama saja dengan menjadikanmu umpan yang empuk baginya."Tolak Yang Mulia dengan gusar.
"Yang Mulia, tidak akan terjadi apa-apa terhadapku, karena jika terjadi sesuatu maka tidak hanya Yang Mulia yang akan murka tetapi Gubernur Weiheng, ayah dari selir Yuan tidak akan tinggal diam. Orang secermat gubernur Qian tentu akan mempertimbangkan hal itu dan tidak akan sembarangan bertindak." Papar Xiao Yi dengan senyum kemenangan.
__ADS_1
Yang Mulia menatap wajah gadis itu dalam-dalam. Berusaha mencerna semua yang di ucapkan gadis itu.
Andai selir Yuan adalah laki-laki, mungkin akan cocok untuk menjadikannya seorang ahli strategi.
"Atau ada hal lain lagi yang lebih membuat Yang Mulia cemas?" tanya Xiao Yi setengah menggoda, matanya mengerjap-ngerjap seperti anak kucing yang menunggu belaian.
Wajah Yang Mulia bersemu merah. Xiao Yi sepertinya sedang menyinggung kemungkinan Yang Mulia cemburu terhadap Qian Ren yang tentu saja di Youwu akan berada satu atap dengan Xiao Yi.
"Tentu saja aku aku juga mencemaskannya!" Jawab Yang Mulia tanpa bermaksud lagi menyembunyikan kecemburuannya.
"Yang Mulia, kalau Yang Mulia tidak bisa menaruh kepercayaan padaku bahwa aku hanya berlaku setia pada suamiku, maka Yang Mulia boleh menyekap Qian Ren di kota raja Yubei atau..." Xiao Yi mengetuk-ngetuk pelipisnya dengan telunjuk seolah berfikir.
"Atau apa?"
"Atau Yang Mulia boleh memindahkan istana Weiyan ke Youwu!" Xiao Yi tertawa, dia begitu senang melihat raut kesal di wajah tampan Yang Mulia.
Yang Mulia meraih tubuh ramping gadis itu merapat ke badannya.
"Kamu sama sekali tidak kuatir, bahwa aku akan menjadi tergoda pada selir-selir lain di harem selama kamu tidak ada?" Tanya Yang Mulia sambil memicingkan matanya.
"Sama sekali tidak!"
"Kenapa?"
"Karena aku tahu, sepuluh tahun Yang Mulia telah melihat mereka selama aku belum tiba, tapi tak pernah sekalipun Yang Mulia tergoda meski mereka lebih cantik dariku. Yue hanya akan setia pada Chenxingnya, aku percaya itu dengan seluruh nyawaku." Jawab Xiao Yi dengan begitu manisnya.
Yang Mulia memeluk Xiao Yi dengan erat, kesayangannya yang begitu keras kepala.
"Kalau begitu, malam ini aku harus bermalam di Xingwu, memastikan kamu berkemas untuk berangkat besok." Bisiknya lembut di telinga Xiao Yi.
"Dan aku tidak akan beristirahat satu malam ini jika demikian." Xiao Yi mengangkat wajahnya dengan manja, di sambut ciuman hangat Yang Mulia di bibirnya, sehangat matahari sore di atas sungai Sheng.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Biar author tambah rajin UP...
__ADS_1