SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 55 TANYAKAN SEKALI LAGI...


__ADS_3

"Yang Mulia...!" Xiao Yi terperanjat, dia mendekap badannya yang setengah polos itu, hanya gaun putih tipis yang menempel lekat di badannya yang basah.


Dia lalu berbalik dengan bingung, matanya berpendar mencari-cari Chu Cu.


Pelayannya itu sudah hilang entah kemana, yang pasti tidak ada lagi di ruangan mandi itu.


"Sejak kapan Yang Mulia datang?" Xiao Yi menutup bagian atas tubuhnya dan menenggelamkan tubuhnya sebatas leher di dalam air.


Wajahnya yang basah nampak begitu eksotis di antara kelopak mawar yang mengapung. Seperti bunga besar yang baru mekar dari bawah danau.


"Apakah kamu menanyakan sesuatu tadi chenxing? Jika aku tak salah mendengar..." tanya Yang Mulia, alisnya terangkat masih dengan senyum yang sama.


Xiao Yi memandang Yang Mulia yang duduk berdungkung di pinggir bak mandinya, jubahnya merah polos, semerah darah. Hanya ada warna putih pada garis lehernya dan ban jubah hitam yang membuatnya seperti berbatas.


Rambut hitamnya terurai tanpa di tata seperti biasanya.


Malam ini Yang Mulia terlihat agak flamboyan dengan penampilan seperti itu. Tapi sungguh sangat sempurna. Yang Mulia selalu nampak mempesona dengan pakaian apapun yang di kenakannya.


"Aku hanya bertanya, kapan Yang Mulia tiba?" sahut Xiao Yi dengan wajah tersipu, dia bingung sendiri bagaimana cara dia sampai tidak menyadari kedatangan Yang Mulia.


"Bukan yang itu...tapi pertanyaan sebelumnya..." Sekarang dahi Yang Mulia seperti berkerut, seolah mengingat-ngingat sesuatu. Menuntut Xiao Yi untuk membantunya mengingatnya.


Xiao Yi merengut dengan kesal, Yang Mulia benar-benar ingin mempermainkannya. Dia pasti sudah sejak lama di belakangnya tanpa disadarinya.


"Yang Mulia aku akan segera naik, mungkin Yang Mulia bisa menunggu di kamar." Xiao Yi masih hanya menjulurkan kepalanya di permukaan bak mandinya. Wajahnya yang merona itu hampir sewarna kelopak mawar merah jambu yang menempel di pipinya.


"Aku hanya ingin mendengar, satu kali lagi pertanyaan itu...kau hanya harus mengulangnya, maka aku akan pergi." Yang Mulia tersenyum lebar, tangannya terjulur ke arah wajah Xiao Yi, dan menyingkirkan kelopak mawar yang menganggu pemandangannya itu dari pipi Xiao Yi yang berkilau-kilau di timpa cahaya karena basah.


"Yang Mulia..." Xiao Yi menunduk dengan pias yang malu, lelaki ini benar-benar membuatnya salah tingkah.

__ADS_1


"Yang Mana, aku lupa..." Xiao Yi memejam matanya kuat-kuat sambil menggigit bibirnya, Yang Mulia benar-benar membuatnya sangat malu sekarang.


Dia hanya ingin Yang Mulia segera pergi dan dia naik memasang pakaian.


Suara air yang berdebur halus, membuat gelombang kecil ke arah wajah Xiao Yi. Dengan sedikit terkejut Xiao Yi membuka matanya dan sekarang dia lebih terkejut lagi, Yang Mulia telah berada di dalam bak mandinya dengan jubah merahnya.


"Yang Mulia..." Xiao Yi ternganga melihat Yang Mulia sengaja menceburkan tubuhnya begitu saja kedalam air.


Bak mandinya itu memang dirancang dengan cukup dalam, hampir sebatas dada airnya meski tidak terlalu lebar, di dindingnya ada undakan tempat biasanya meletakkan kaki atau duduk berendam. Bak sedalam kolam kecil itu tentu saja cukup leluasa menampung sampai empat orang dewasa di dalamnya.


Sekarang Yang Mulia pelan-pelan mendekati Xiao Yi, dengan senyum kecil yang sangat menggoda. Xiao Yi mematung di tengah bak mandinya, tak percaya dengan apa yang di lakukan Yang Mulia.


"Kamu sekarang menjadi mudah lupa, Chenxing..." tiba-tiba tangan Yang Mulia sudah mengait pinggangnya di bawah air, menarik tubuhnya mendekat kepadanya.


"Yang Mulia..." Xiao Yi meletakkan kedua telapak tangannya refleks di dada Yang Mulia. Menahan supaya dadanya yang hampir polos itu tidak menempel langsung pada dada Yang Mulia.


"Aku harus mengingatkanmu sekarang..." tanpa aba-aba, tangan kiri Yang Mulia sudah berada di belakang kepala Xiao Yi, sementara tangannya yang lain menempel di pinggang ramping gadis itu.


"Apakah kamu sudah ingat?" Yang Mulia menarik bibirnya dan memandang wajah basah kuyup di depannya yang begitu menggoda itu.


"Yang Mulia akan masuk angin jika begini..." Xiao Yi menundukkan wajah, dadanya berdebar keras, Yang Mulia benar-benar membuatnya kikuk.


"Aku rela masuk ke dalam air hanya ingin mendengar pertanyaanmu tadi, Chenxing. Jika kau masih lupa maka aku akan mencium bibirmu ini sampai kamu ingat, meskipun harus sampai pagi..." Yang Mulia mendaratkan bibirnya sekali lagi sekarang menjadi begitu tak sabar. Xiao Yi benar-benar kelimpungan. Meskipun hampir tak bisa bernafas tapi dia sungguh menyukainya, sangat sangat menyukainya...!


"Yue..." Desahan Xiao Yi membuat Yang Mulia malah semakin liar, ******* bibir Xiao Yi.


"Biarkan aku bernafas dulu..." Xiao Yi menekan sepuluh kukunya itu ke dada Yang Mulia seolah ingin menembus jubah basah Yang Mulia, menancapkan sampai ke kulit-kulitnya.


Yang Mulia melepas ciuman itu dengan mata yang meredup, seolah tak lagi penting semua ucapan gadis itu. Sekarang dia menyusupkan kepalanya, mencium cuping telinga Xiao Yi

__ADS_1


"Aku hanya bertanya...apakah Yang Mulia benar-benar mencintaiku?" suara Xiao Yi bergetar setengah berbisik di telinga Yang Mulia.


"Ulangi sekali lagi..."Yang Mulia menangkupkan tangannya di kedua pipi gadis yang halus itu, mengarahkan wajah Xiao Yi langsung kepada wajahnya.


"Apakah Yang Mulia benar-benar..."


"Aku benar-benar mencintaimu Xiao Yi, sangat mencintaimu..." Sebelum sempat Xiao Yi menyelesaikan kalimatnya, Yang Mulia sudah memotongnya dengan tajam.


"Jangan pernah kamu tanyakan itu lagi, Chenxing! Jika kamu tak ingin aku akan membungkam mulutmu itu sampai tak bisa lagi mengucapkan apa-apa. Aku akan membuat bibirmu itu sampai kehilangan warna, membekapnya sepanjang hari dengan bibirku sampai kamu percaya..." nada ancaman dengan hukuman yang lucu itu membuat Xiao Yi tertawa, tawanya begitu renyah seperti buah pir yang masak.


Kali pertama Yang Mulia melihat gadis ini tertawa dan dia benar-benar manis ketika tertawa. Sungguh Yang Mulia rela membayarnya dengan apa saja untuk dapat melihat lagi tawa itu.


Dengan gemas Yang Mulia mencium bibir yang tengah terbuka itu, rasanya benar-benar manis dan membuat Yang Mulia sulit melepasnya.


Sekarang, Xiao Yi yang bersemangat membalas, mereka berdiri di atas bak kolam itu, dengan tubuh yang tenggelam sebatas dada di dalam kubangan kelopak mawar berwarna putih dan merah itu, sewarna dengan jubah Yang Mulia dan gaun tipis Xiao Yi. Mereka berpelukan erat, seolah melawan hawa air yang tak lagi hangat. Xiao Yi pasrah dalam hentakan kerinduan, seperti halnya Yang Mulia yang tak lagi bisa menahan diri. Tubuh mereka saling menempel dan mengait, basah kuyup tapi terasa sepanas bara.


Cinta membuat mereka lupa, dimana sekarang mereka sedang berada.



Sebelum memasuki part2 sedikit konflik, Author akan manjakan readers dengan episode2 yang romantis abisπŸ˜†πŸ˜†


Nantikan episode selanjutnya, ya...πŸ™πŸ€—


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❀️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🀭...


...πŸ™πŸ™πŸ™...

__ADS_1


...Dukungan, komen dan hadiahnya adalah semangat author terus menulis πŸ™...


__ADS_2