
Ruangan tahanan itu begitu dingin, hanya di beri tumpukan jerami sebagai alas.
Sebuah Jendela kecil jauh di atas hanya seukuran angin-angin.
Cahaya keemasan menyusup dari sana, membentuk warna lebih terang di dinding. Mengisyaratkan hari telah di penghujung senja.
Setiap sudut di terangi dengan lentera. memberi penerangan pada ruangan yang tertutup dan lembab itu. Hampir tak bisa di bedakan siang dan malam di dalamnya.
Hanya jendela angin-angin itu yang memberi tahu, bagaimana keadaan di dunia luar sana.
Apakah Masih terang atau kah sudah berselimut gelap.
Xiao Yi yang pada saat pertama kali di bawa ke dalam ruangan ini, begitu takut sampai menangis. Sekarang hanya diam, duduk dengan pandangan tajam pada api lentera yang bergoyang-goyang meliuk di tiup angin.
Dia meringkuk di sudut ruangan kecil itu. Kepalanya berputar memikirkan ulang apa yang terjadi padanya hari ini.
Langit begitu aneh mempermainkan nasibnya, dalam sekejap kebahagiaan yang dialaminya dua malam ini seperti di rampas begitu saja.
Sekarang dia menyadari, istana ini benar-benar sebuah neraka seperti yang di katakan Yang Mulia. Betapa banyak kejahatan yang berdiam di dalamnya, bertopengkan keindahan dan keramahan.
Tak ada yang bisa benar-benar boleh di percayai. Kemarin, hati polosnya tidak pernah berfikir akan sejauh ini iri dengki dan kemarahan akan di manifestasikan. Tapi hari ini, dia akhirnya mengerti, orang sanggup melakukan kekejian demi untuk sebuah kecemburuan dan kekuasaan.
Bahkan tidak perduli, andai itu menghilangkan hidup orang lain.
Betapa tidak berharganya sebuah nyawa, untuk orang-orang yang gila terhadap sesuatu yang di inginkannya.
Xiao Yi mengatupkan rahangnya, hidup di dalam istana ini, dia tidak boleh bersikap lemah lagi. Menjadi berani bukanlah pilihan lagi tapi keharusan jika dia ingin bertahan hidup.
Mengambil keputusan untuk terus di dalamnya, dia harus berani melindungi dirinya sendiri, karena hari ini pun dia tak bisa mengandalkan tangan seorang raja untuk memberi pembelaan pada dirinya.
Xiao Yi mempertanyakan, kata cinta dan perlindungan yang di janjikan Yang Mulia padanya tadi malam, apakah itu hanya kata buaian ataukah bujuk rayu yang tak bermakna?
Masih lekat di ingatannya, mata merah penuh amarah Yang Mulia, yang tanpa perduli pembelaan dirinya, mengirimkannya ke dalam ruangan pengap ini seperti seorang penjahat.
Apakah Yang Mulia sungguh-sungguh tak mempercayainya? Sebegitu mudahnya kaj Yang Mulia lebih meyakini apa yang di dengarnya dari orang lain daripada penjelasan dari orang yang di katakannya, paling di percayainya di dunia ini.
Bulir bening yang jatuh di sudut matanya, dihapusnya dengan kasar menggunakan punggung tangannya.
Dia tidak sedih dengan perlakuan yang diterimanya dari Yang Mulia, tapi dia marah pada dirinya sendiri yang begitu tidak berdayanya.
Satu hal yang bisa di janjikannya pada dirinya sendiri, dia akan berdiri di atas kakinya dan tidak akan rela dirinya di tindas lagi, apapun yang terjadi di esok hari.
__ADS_1
Entah dia masih berkesempatan hidup ataukah di takdirkan mati. Tapi dia akan puas mati, tanpa harus mengakui dia bersalah atas kejahatan yang tidak dilakukan olehnya.
Sekarang yang tersisa, diantara kekuatan dan kemarahan di hatinya, sebuah pertanyaan, apakah Yang Mulia benar-benar mencintainya?
Cinta macam apa yang begitu tega meninggalkannya sendiri dalam keterpurukan tanpa sedikitpun memberinya kesempatan mengatakan apa-apa?
Cinta macam apa yang tak punya rasa kepercayaan sama sekali seperti ini?
"Kreeeek...." Pintu kayu ruangan itu terbuka, sesosok tubuh mungil yang sangat di kenalnya muncul dengan wajah sembab.
"Chu Cu...!"
Xiao Yi berdiri, sesaat terpana, gadis itu begitu berbeda, berdandan seperti dirinya dan mengenakan salah satu pakaiannya.
"Nyonya..." Chu Cu berlari ke arah Xiao Yi dan menjatuhkan dirinya di dekat kaki Xiao Yi dengan tangisan tang tak bisa di tahannya.
"Mereka menahanmu juga?"Xiao Yi membungkuk dan membimbing Chu Cu supaya berdiri, lalu memeluk pelayannya itu yang tersedu di pundaknya.
Matanya bertatapan dengan sesorang yang berdiri di tengah pintu, berpakaian hitam dan memegang pedang yang bersarung di tangan.
"Jian?" Xiao Yi menatap tajam pada pengawal pribadi Yang Mulia. Merasa sedikit bingung dengan apa yang sedang di hadapinya, terlebih dengan kehadiran Chu Cu yang agak aneh.
"Ikut kemana? bukankah aku sedang di kurung menunggu interogasi besok pagi?" Xiao Yi mengernyit dahi dan melepaskan pelukannya pada Chu Cu.
"Yang Mulia mengatakan begitu, maka saya menjalankannya nyonya. Untuk menghindari kecurigaan, pelayan nyonya akan menggantikan tempat nyonya di dalam ruangan ini" Pengawal Jian menyerahkan sebuah selimut katun tebal kepada Chu Cu.
"Berbaringlah sampai besok pagi, sampai kami kembali. Pastikan kamu tidak bergerak atau bersuara, demi keselamatan nyonya Yi."Pengawal Jian memberi peringatan.
"Baik, tuan." Chu Cu mengangguk dengan wajah yang berani, demi majikan yang sangat di sayanginya ini, dia rela melakukan apa saja, bahkan jika harus meminta nyawanya.
"Pakailah ini nyonya," Pengawal Jian memberikan sebuah mantel bertudung kepada Xiao Yi.
Dan dengan segera Chu Cu membantu memasangkannya kepada Xiao Yi.
"Tinggallah sebentar Chu Cu, aku akan menjemputmu segera..." Janji Xiao Yi sambil memegang tangan Chu Cu, meskipun dia sendiri masih bingung, dia akan dibawa kemana.
"Chu Cu akan tinggal sampai nyonya kembali." Jawab Chu Cu tegas, mata sembabnya itu berbinar meyakinkan majikannya itu.
"Nyonya, waktu kita tidak banyak. Sebaiknya kita bergegas." Pengawal Jian mempersilahkan Xiao Yi keluar. Di luar pintu ruang tahanan itu, ada pengawal Cun yang sudah di kenal Xiao Yi bersama dua petugas penjaga pintu.
"Kudanya sudah siap, silahkan segera berangkat. Saya akan berjaga di sini." Petugas Cun membungkuk kepada Xiao Yi dan menutup pintu tahanan itu segera.
__ADS_1
"Jagalah Chu Cu untukku."Ucap Xiao Yi sebelum melangkah mengikuti pengawal Jian.
Dia tidak tahu apa yang di rencanakan Yang mulia, tapi dia berharap segera bertemu dengan orang yang begitu tega mengirimnya ke ruang dingin yang lembab itu.
Setelah melewati lorong yang cukup panjang, berisikan beberapa sel lainnya, beberapa orang penjaga lain tampak berjaga di luar, memberi hormat kepada petugas Jian, sementara Xiao Yi menyembunyikan wajahnya di bslik tudung mantel. Mereka tiba di belakang bangunan itu, dua ekor kuda tertambat di sana.
Dalam sekejap, mereka berdua memacu kuda membelah malam, menuju belakang bangunan tahanan yang ada di dekat gerbang selatan istana itu.
Petugas Jian mengarahkan kuda mereka menuju keluar gerbang istana.
Diluar gerbang istana, mereka berhenti di sebuah rumah sederhana dengan pekarangan yang di beri tembok tinggi.
Petugas Jian turun lebih dulu dan membantu Xiao Yi turun dari kudanya.
Dia mengetuk pintu itu tiga kali, seorang pengawal berbaju hitam membukanya.
Lalu dengan bergegas pengawal Jian menuju sebuah ruangan yang dari jauh terlihat terang karena lampu, dia membuka pintu itu dan memberi isyarat Xiao Yi masuk.
Xiao Yi membuka tudung mantel dari kepalanya, di tengah ruangan itu berdiri Yang Mulia Yan Yue dengan wajah tanpa ekspresi. Lalu dia merentangkan tangannya, meminta Xiao Yi datang padanya.
"Chenxing, kemarilah...! kamu tidak perlu merasa takut lagi." Panggilnya dengan suara begitu tenang.
"Maafkan aku membiarkanmu begitu lama menunggu, di ruangan jelek itu. Aku hanya tak ingin ibu Suri menyulitkanmu jika aku terang-terangan membelamu."lanjutnya Yang Mulia, kemudian seulas senyum manis tersungging di sudut bibirnya.
Xiao Yi terpana sesaat, tapi kemudian berlari ke pelukan laki-laki yang hampir saja membuatnya ragu itu.
"Yang Mulia..." Xiao Yi memeluk Yang Mulia dengan erat.
"Aku tidak meracuni selir Yuan, aku tidak melakukannya!" Ucap Xiao Yi dengan suara parau, Yang Mulia mendekapnya dengan erat, seakan memberinya kekuatan.
"Aku selalu percaya padamu, Chenxing. Tak sedikitpun aku meragukanmu."
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya hari ini๐๐ ...
...jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...
...Biar author tambah rajin UP๐โบ๏ธ...
...Author sayaaaang banget dengan kalian๐คญ...
...๐๐๐...
__ADS_1