SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 117 MENENTANG TAKDIR LANGIT


__ADS_3

Pedang di tangan Jiu Fei berkelebat, menyerang tanpa menunggu. Pemimpin para pemanah itu, menyambutnya dengan sabetan pedang tajam yang terhunus di tangannya.


Jiu Fei menahan setiap ayunan yang terarah padanya dengan lincah, dua orang bertopeng lainnya menarik pedang dari sarungnya, menyerang bersamaan dari samping kiri kanan Jiu Fei.


Gadis ini bukanlah orang sembarangan, meskipun di serang dari tiga penjuru, tidak serta merta membuatnya kewalahan.


Bunyi denting senjata beradu, memecah kesunyian malam. Seorang gadis bercadar hitam bergerak lincah menyambut setiap serangan.


Pemimpin penyerang bertopeng kayu itu mundur bebarapa langkah memberi ruang kepada dua temannya yang lain untuk maju.


Jiu Fei tak sedikitpun mengendorkan perlawanan meskipun di desak oleh empat orang penyerang yang juga menguasai ilmu pedang dengan kemampuan yang juga bukan hanya sekedar isapan jempol, dia mampu terus bergerak mengimbangi bahkan menyerang dan menangkis dengan pedangnya. Sungguh aneh, betapa ringannya dia mengayunkan senjata tanpa beban, di balik cadar itu, tak ada tersirat seorang gadis yang punya rasa ketakutan lagi.


Hatinya begitu dingin, sedingin malam yang semakin melewati setengah perjalanannya.


Rembulan di atas menyembunyikan separuh badannya di balik awan kelabu.


Dalam waktu sepeminum teh, pertarungan itu mulai melambat, bukan karena Jiu Fei yang akan segera kalah tetapi empat penyerangnya sudah mulai kehilangan tenaga. Bahkan dua dari penyerang bertopeng itu sudah terluka oleh sabetan pedang Jiu Fei, salah satunya hampir sekarat kehilangan banyak darah.


Pemimpin mereka mengeluarkan sebuah suar kecil. Menarik penutupnya, dan sesuatu yang bercahaya seperti api melesak ke udara. Itu adalah tanda panggilan rahasia.


Hanya dalam hitungan menit, puluhan orang tiba berlompatan mengurung Jiu Fei, beberapa menghunus pedang dan golok, dan gerombolan lain dengan busur panah yang siap melepaskan anaknya.


Jiu Fei tertawa kecil, seolah sedang bertemu dengan lelucon lama.


"Dasar pengecut!" Umpatnya, sambil mengawasi sekelilingnya.


"Lepaskan cadarmu, penyusup betina! Supaya saat kami mencincang tubuhmu, arwahmu tak penasaran." Pemimpin pasukan penyerang itu menghardiknya.


Jiu Fei tertawa lagi lebih keras.


"Aku tak perlu menunjukkan wajah, jika hanya menghadapi pengecut bertopeng seperti kalian." Jiu Fei mendorong kakinya, melayang diatas kepala penyerang yang terdekat dengannya, tangannya terentang seperti terbang gerakannya ringan selayaknya melakukan sebuah tarian.


Tanpa sempat berkedip, pedangnya telah menyambar wajah lawannya, membuat topeng di wajah penyerang itu terbelah dua, ujung pedang Jiu Fei melukai sampai pipinya membuat goresan panjang sampai dagu.

__ADS_1


Sebuah tato ukiran bunga teratai hitam di pelipisnya, membuat Jiu Fei menarik sudut bibirnya.


"Pasukan teratai hitam..." Jiu Fei mendesis, dia tahu, ini adalah sekelompok pasukan rahasia yang di bentuk oleh ibu suri secara diam-diam selama ini, untuk menandingi pasukan elit pengawal pribadi raja.


Jiu Fei sedikit lengah, saat mengamati lukisan itu, hingga tak disadarinya kelompok pemanah melepaskan anak panah ke arahnya, tanpa suara aba-aba. Jiu Fei memutarkan badannya, bertameng pedang, tapi hujaman pedang dari samping kirinya membuatnya tak bisa berkelit.


Perempuan ini tidak menyerah, tapi dia tahu, tak mungkin selamat dari selusin mata panah yang mengarah ke tubuhnya, sementara dia menahan pedang penyerang terdekatnya.


Mata Jiu Fei terpejam, betapa maut sudah terlalu dekat, bukankah akan terhormat jika dia menerimanya tanpa melihat.


Kulit halusnya meremang, menjadi sedingin es dalam sepersekian detik, menunggu berapa mata panah yang akan menembusnya.


Aku akan berdiri di atas tanah Yanzhi, meskipun binasa sebagai musuh sekaligus kawan bagi negara tempatku mengejar dan melunasi takdir cintaku.


Aku, tak punya hutang lagi, sehingga darahku layak meresap di antara tanahnya. Jika aku mati, tak ada yang menunggu dan tak ada yang menangis. Lalu apa yang ku sesali?


Jiu Fei menggengam pedangnya dengan erat, tanpa ingin menghela nafas lagi. Karena baginya kematian adalah sahabat yang di tunggunya.


Dengan dada bergemuruh dia membuka mata, mendapati sesosok tubuh yang memeluknya dalam jubah ungu muda yang lembut.


Rahangnya mengeras dengan alis hitam lebat seperti ukiran pedang. Tanpa sedikitpun melihat kepada Jiu Fei, dia mematahkan Serangan pedang di kiri kanan gadis itu.


"Juren..." Bibir Jiu Fei bergetar, menyebut nama laki-laki yang pernah menghabiskan puluhan malam bersamanya di gua-gua gelap gunung Yanshan.


Betapa lama waktu berlalu, terasa seperti berabad-abad terlewati begitu saja.


Dekapan pria ini masih saja sehangat dulu, meski dia tak pernah mencintai laki-laki ini dengan benar, tapi dia cukup lama menghabiskan separuh waktunya di dalam pelukan pemilik mata sepekat giok hitam ini.


Zhao Juren mendorong tubuh Jiu Fei ke belakangnya.


"Pergilah...!" Suaranya yang tajam itu, mengusir Jiu Fei untuk segera meninggalkan tempat yang menguarkan sayup-sayup bau amis darah di udara.


Jiu Fei terjatuh di atas salah satu lututnya, sementara kaki yang lain tertekuk siap untuk bangkit. Dia hanya bertahan pada hulu pedang yang matanya tertancap dengan reflek di atas tanah.

__ADS_1


Dulu, dia mendengar hal yang sama, setelah pasukan pamgeran Yan Yue di bantai oleh pasukan Niangxi, karena pengkhianatannya.


"Pergilah! Pulanglah..."


Zhao Juren selalu menyuruhnya untuk pergi dan kembali ke Niangxi,


Jiu Fei mengamati pria berjubah ungu itu, yang bergerak lincah menjatuhkan hampir separuh pasukan bertopeng di depannya dengan sebilah pedang yang teracung di tangannya.


Dulu mereka berdua pernah bertukar jurus, berkelahi sepanjang setengah hari, dan ketika Zhao Juren melumpuhkannya, dirinya di bawa pada sebuah ceruk di belakang sebuah air terjun, pada salah satu bagian bukit Yanshan.


Jiu Fei, perempuan pemberani mata-mata Niangxi yang hebat itu, menyerah kalah dalam pelukan Zhao Juren muda. Usia mereka yang belasan tahun kala itu, tak bisa menolak kehangatan yang ditawarkan malam di antara dinginnya hawa goa di balik air terjun.


Pertama kali, dia merasakan sentuhan seorang laki-laki yang tak bisa di tawarkan pangeran muda Yan Yue padanya. Calon raja muda itu, begitu kaku, hanya sekedar menikmati pijatannya saat sebagai pelayan dan ketika mereka menjadi kekasihpun Yang Mulia hanya merasa cukup bahagia hanya dengan memeluknya.


Yan Yue sang calon raja yang tak berpengalaman memperlakukan perempuan itu, jatuh cinta padanya dan menganggap begitu mulia menjaga kesucian kekasihnya hingga waktu dia menikahinya di altar aula Guangli. Hingga saat dia menyingkap tirai merah pengantin mempelainya. Suatu prinsip yang tak masuk akal, mengingat dia adalah pangeran, calon raja yang bahkan jika menginginkan seribu wanita baginya, adalah hal yang lumrah.


Jiu Fei mencintai raja Yan Yue tetapi menyerahkan tubuhnya pada Zhao Juren, itulah pengkhiantan terbesarnya yang membuatnya tak bisa menatap wajah Yang Mulia, jika raja itu menikahinya.


Ketika Ibu Suri memanggilnya, dan mengancam membeberkan hubungan gelapnya dengan keponakannya Zhao Juren, saat itulah Jiu Fei menyadari, satu jalan untuk pergi dari sisi Yang mulia dengan alasan tidak sia-sia.


Dia telah menyelamatkan Yanzhi dari pergolakan yang mungkin terjadi antara dua kekuatan besar, teman yang juga bisa menjadi musuh karena kehadiran dirinya, yaitu Zhao Juren dan Yan Yue.


Pangeran Yan Yue, di takdirkan menjadi raja, dia tak ingin ibu suri menggunakan keberadaannya membuat rakyat membenci Yan Yue.


Dia sungguh tahu cintanya begitu putih untuk Yan Yue, tapi dia tak tahu sesungguhnya hatinya berada di mana?


"Pergilah, Afei...pergilah!" Suara Zhao Juren begitu keras menyadarkan dari lamunannya. Laki-laki itu telah berada di depannya, berdiri dengan sorot mata memohon. Sementara bersisa sekitar lima orang yang masih menyerang Zhao Juren.


Sayangnya, saat Zhao Juren membagi perhatiannya dari perkelahian itu, pemimpin pasukan teratai hitam merangsek maju, menyorongkan mata pedang dari arah belakang punggung panglima muda yang tampan itu.


(Dua orang dari masa lalu, dipertemukan oleh takdir, tapi cinta bisakah memanggil mereka kembali bersatu? Ataukah salah satu memang harus meninggalkan yang lain, sekali lagi bisakah mereka menentang takdir langit? Ikutilah kisah yang mendekati babak akhir ini, jangan lupa Vote, like dan komennya, ya 🙏😊)


__ADS_1


__ADS_2