
Hari hampir gelap, matahari musim semi telah hilang di ufuk barat. Lentera-lentera jalan sudah mulai di hidupkan.
Xiao Yi berjalan cepat sampai-sampai Chu Cu kewalahan mengikutinya. Hatinya benar-benar sedang tidak enak, pertemuannya dengan gubernur Qian tadi sangat tidak menyenangkan.
Wisma Xingwu sudah hampir di depannya ketika selir Nuo berpapasan dengannya.
"Selir Yi..." Selir Nuo menyapa, senyumnya mengembang.
"Salam kakak selir Nuo..." Xiao Yi menekuk kakinya sedikit, memberi hormat.
"Selir Yi sepertinya terburu-buru." Selir Nuo menaikkan alisnya seakan bertanya dari mana saja dirinya.
"Saya belum membersihkan diri sampai selarut ini, jadi saya agak terburu-buru"
"Oh..."
"Saya permisi kakak, kembali ke wisma."
"Sebentar adik Yi..." Selir Nuo menahan tangan Xiao Yi,
"Jika adik tidak keberatan mungkin besok kita bisa bersama-sama mengunjungi selir Yuan"
"Ada apa dengan selir Yuan?" Xiao Yi mendadak cemas, mendengar kalimat selir Nuo.
"Tidak apa-apa, dia hanya sedikit tidak sehat tadi siang. Mungkin selir Yi bisa membuatkan sesuatu untuk selir Yuan." kata selir Nuo.
Xiao Yi mengangguk-anggukkan kepalanya, dari kemarin sampai hari ini dia terlalu sibuk dengan urusannya sendiri, bahkan tidak tahu kalau temannya itu sedang sakit.
"Apakah aku harus menjenguknya sekarang?" Xiao Yi hendak memutar tubuhnya, berniat ke wisma Yangjie, kediaman selir Yuan.
"Tidak perlu selir Yi, kami baru saja dari sana, setelah tabib memeriksa, dia hanya demam biasa. Setelah minum resep obat dari tabib Guo sekarang selir Yuan sudah beristirahat. Besok mungkin kita bisa menjenguknya..." ucap selir Nuo.
"Baiklah, kalau begitu...mungkin besok aku akan membuatkannya sesuatu." Xiao Yi memberi salam kepada Selir Nuo dan segera memasuki gerbang wisma Xingwu.
"Nyonya..." Chu Cu menjadi khawatir dengan raut wajah Xiao Yi yang sedari tadi tegang.
"Nyonya tidak apa-apa?" tanya Chu Cu lagi.
"Aku hanya lelah, Chu Cu" jawab Xiao Yi sambil menarik nafas berat.
"Nyonya bukankah berjanji menemui Yang Mulia malam ini?" tanya Chu Cu mengingatkan.
"Sepertinya aku tidak akan ke Rongyu malam ini, Chu Cu."
"Tapi, nyonya...Yang Mulia pasti menunggu."
__ADS_1
"Aku hanya sedang ingin sendiri saja malam ini."
"Tapi..."
"Chu Cu siapkan aku bak untuk mandi sekarang..." Xiao Yi berdiri memandang ke arah lentera di sudut ruangan dan sebuah lukisan gunung Pingyuan yang indah di sudut dinding ruangan. Lukisan itu di bawanya dari Youwu, untuk mengurangi rasa rindunya, jika teringat kampung halamannya.
Chu Cu segera berlalu, dia tidak perlu bertanya lagi, raut wajah itu benar-benar muram, sepertinya hati majikannya itu sedang meredam badai.
Xiao Yi sekarang baru menyadari, mengapa setiap surat yang di kirimnya ke Youwu tak pernah berbalas, dia yakin gubernur Qian di balik semua itu.
Keluarganya semua tersandera di bawah tekanan gubernur Qian, sepertinya dia telah merencanakan dengan matang untuk memasukkan Xiao Yi ke dalam istana ini.
Dulu dia berpikir, gubernur Qian hanya ingin membuat posisinya sebagai gubernur tidak terganggu, tapi ternyata dia telah salah menerka.
Bukan karena hanya ingin mengambil hati Raja Yanzhi, Yang Mulia Yan Yue tapi gubernur jahat itu juga memiliki ambisi yang lebih dari sekedar menguasai propinsi kecil Youwu.
Sekarang Xiao Yi dijadikan alat untuk memuluskan rencana itu, sungguh sesuatu yang tak pernah terpikirkan olehnya.
Pegunungan Pingyuan di depannya seolah memanggil separuh jiwanya, untuk kembali ke tepi sungai Yalu, menyelamatkan keluarganya. Tapi mengkhianati Yang Mulia yang dicintainya adalah hal yang tak akan pernah mampu di lakukannya. Dia telah yakin mengabdikan hidupnya pada Yang Mulia setelah tadi malam.
"Nyonya...bak mandi sudah siap."
Xiao Yi melangkah dengan pikiran yang masih melayang-layang seperti daun mapel yang gugur di tiup angin. Tak tahu arah, tapi begitu enggan menyentuh tanah.
Ruang mandi wisma Xingwu memiliki Bak mandi dari batu bata tanah liat yang berpola seperti garis pada bagian dinding dan lantainya. Di pinggirannya ada ukiran berbentuk bunga yang cantik. Ukurannya cukup besar untuk tempat berendam empat orang sekaligus. Bak itu sudah terisi dengan air hangat, di permukaan airnya dipenuhi taburan kelopak mawar merah dan putih.
Dua orang pelayan berdiri di sana, membawa nampan besar berisi kain bersih dan minyak zaitun.
Xiao Yi memberi isyarat mereka keluar, kecuali Chu Cu.
Chu Cu membantu Xiao Yi melepaskan satu persatu pakaiannya. Dengan hanya menggunakan selembar gaun putih dalaman panjang yang tipis, Xiao Yi menjejakkan kakinya, turun ke dalam bak mandinya.
Tubuh Ramping dengan kulit sebersih pualam itu begitu molek di bawah cahaya lentera dari setiap sudut ruangan mandi itu.
Lalu Xiao Yi duduk berendam dengan bersandar pada dinding bak. Memejamkan matanya, berusaha mengurangi kepenatan di tubuh dan fikirannya.
"Maafkan aku Yang Mulia, aku tidak bisa memenuhi janjiku untuk datang kepadamu malam ini." desahnya dalam hati.
"Chu Cu..."
"Ya, nyonya..."
"Apakah kamu merindukan Youwu?"
Chu Cu terdiam, hanya tangannya yang membuka tataan rambut Xiao Yi masih bergerak dengan lembut dan hati-hati.
__ADS_1
"Chu Cu..." Xiao Yi membuka matanya dan menoleh ke belakang kepada pelayannya itu.
Sang pelayan hanya tertunduk tanpa suara tapi di matanya tampak genangan air mata.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Xiao Yi, lalu membalikkan wajahnya kembali, merasa sangat bersalah pada pelayan setianya itu.
"Tentu saja Chu Cu rindu...rindu pada nyonya besar dan tuan besar, rindu kepada tuan muda pertama dan tuan muda kedua, rindu kepada Semua orang di Youwu..." Pertama kali Xiao Yi mendengar pelayannya itu terisak menangis.
"Sudahlah Chu Cu, aku hanya bertanya..." Xiao Yi menarik-narik rambut panjangnya yang sudah terurai dan sebagian mengambang di permukaan air, seperti kain sutra hitam yang hanyut.
"Suatu saat kita akan kembali ke Youwu, aku akan berjanji padamu. Bahkan jika aku harus menghembuskan nafas terakhirku, sebelumnya aku harus membawamu kembali ke Youwu." Kata Xiao Yi, dengan suara parau.
Isak Chu Cu terdengar tertahan dan Xiao Yi tak kuasa melihatnya. Orang tua gadis itu telah meninggal lama saat memperjuangkan perbatasan di Youwu, tak ada yang akan menyambutnya, kecuali tanah kelahirannya yang sangat dirindukannya.
"Chu Cu akan berada di dekat nyonya, kemanapun nyonya pergi. Nyonya besar sudah memerintahkan Chu Cu untuk menjaga nyonya."
Xiao Yi menepuk-nepuk tangan Chu Cu yang sedang menggosokkan zaitun di pundaknya.
"Terima kasih Chu Cu, kamu sudah sangat baik menjagaku." sahut Xiao Yi dengan rasa haru.
Air tempatnya berendam, terasa hangat di kulitnya tapi hatinya terasa dingin sedingin sungai Yalu.
Sejenak mereka berdua begitu hening, Xiao Yi memejamkan matanya, menenangkan kegelisahan hatinya. Tiba-tiba seraut wajah tampan berkelebat seperti hantu di kepalanya.
"Chu Cu...apakah Yang Mulia benar-benar mencintaiku?" tanya Xiao Yi, dengan suara penasaran.
Chu Cu sama sekali tak menjawab. Mungkin dia tak tahu harus menjawab apa.
"Aku sangat takut Yang Mulia kemudian mencampakkan aku, setelah dia menyadari aku bukan orang yang dicintainya..." wajah Jiu Fei tiba-tiba bermain di benaknya.
Chu Cu tak bersuara, hanya tangannya yang kecil lembut itu terasa menjadi lebih lebar, menggosok punggungnya. Pada ceruk leher jenjang nya, tangan Chu Cu berhenti dan terasa menjalar agak aneh di antara tumpukan rambutnya.
"Chu Cu...!" Xiao Yi merinding, dia mendongakkan wajahnya untuk menegur pelayannya itu.
Tapi sebuah wajah dengan mata coklat hitam batang willow itu, menatapnya dengan seulas senyum, wajah Xiao Yi segera bersemu merah dengan rasa malu yang tak bisa disembunyikannya.
Entah sejak kapan dia sudah berada di belakang punggung Xiao Yi, menggosok-gosok punggungnya, membiarkan Xiao Yi meracau sendiri mengira Chu Cu masih di sana.
Nantikan episode selanjutnya yang di jamin bikin baper 🤭🤭
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE, KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...
__ADS_1
...🙏🙏🙏...
...Dukungan, komen dan hadiahnya adalah semangat author terus menulis 🙏☺️...