
Meja tempatnya itu berdekatan dengan jendela, sehingga Xiao Yi bisa mengamati suasana kota Yubei yang sudah ramai pagi ini. Orang-orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Para pedagang di kiri kanan jalan juga begitu ramai berteriak-teriak menawarkan dagangannya.
Mata Xiao Yi tiba-tiba tertuju pada seorang penjual aksesoris perempuan di seberang kedai.
Xiao Yi memanggil pelayan tadi dengan satu lambaian.
"Ya, nona...ada yang bisa saya bantu"
"Bisakah kamu menjaga keranjang manisanku ini?"
"Nona mau kemana?"
"Aku hendak melihat-lihat aksesoris di seberang jalan itu" Xiao yi menunjuk kearah lapak seorang penjualan aksesoris yang ada diseberang jalan.
"Tapi nona, tuan Ding meminta kami untuk menjaga nona supaya tetap berada di dalam kedai"
"Tuan Ding?" Xiao Yi menaikkan alisnya.
Pelayan muda itu menunjuk kepada pemilik kedai yang sedang sibuk berbicara dengan beberapa pelanggan yang baru datang.
"Tuan Ding adalah majikan saya, pemilik kedai ini, nona" pelayan muda itu menjelaskan.
"Aku hanya mau melihat-lihat aksesoris di depan itu saja!" Xiao Yi menjadi kesal dengan jawaban pelayan itu. Masa seorang pemilik kedai bisa menahannya seperti seorang pencuri seperti ini.
Xiao Yi berdiri dari tempatnya duduk dengan raut jengkel.
Melihat ketegangan itu, Tuan Ding pemilik kedai segera datang.
"Ada apa nona? " tanyanya sambil membungkuk, mendatangi Xiao Yi.
"Aku hanya mau berjalan-jalan ke seberang jalan, untuk melihat beberapa aksesoris, tapi dia melarangku!" Xiao Yi menunjuk pelayan muda yang berdiri dengan ketakutan di tempatnya berdiri.
"Maaf nona, Yang Mulia berpesan supaya memastikan nona berada dalam kedai sampai Yang Mulia kembali" sahut pemilik kedai dengan volume suara rendah sambil matanya melirik ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang yang mendengarkan pembicaraan mereka.
"Aku hanya berjalan ke depan sana, beberapa langkah dari depan kedai ini. Apakah itu juga di larang?" Xiao Yi melotot dengan kesal.
"Tapi nona..."
"Aku tetap akan ke sana atau kalian boleh mengikatku di kursi ini!" tantang Xiao Yi.
Tuan Ding saling pandang dengan pelayannya, lalu menganggukkan kepalanya tanda mengalah pada gadis cantik di depannya itu.
__ADS_1
Menilik situasi mereka, tidak mungkin memperpanjang perdebatan. Hal itu bisa mengundang perhatian para pengunjung kedai yang lain.
"Nona boleh ke toko di seberang sana, tapi harap segera kembali sebelum Yang Mulia tiba"
Ucap tuan Ding pelan.
"Shuye akan menemani nona."
Xiao Yi tersenyum penuh kemenangan.
"Tenang saja, aku akan kembali ke meja ini bahkan sebelum anda sadar. Tolong jaga keranjang manisanku..." Xiao Yi melangkah dengan riang keluar dari kedai teh di ikuti pelayan muda yang berjalan kaku di belakang punggungnya.
"Ayo nona, mari di lihat...semua cantik-cantik."
Penjual aksesoris itu dengan semangat menawarkan dagangannya yang berjejer, bersusun rapi di atas meja.
"Lihatlah gelang ini sangat bagus baru saja tiba kemarin, cocok sekali dengan nona yang cantik" Pedagang itu menunjukkan sebuah gelang berwarna hijau transparan yang berukir seperti naga berkepala dua.
Xiao Yi tidak tertarik dengan gelang giok tiruan itu, matanya tertuju pada sebuah benda unik sebuah hiasan rambut.
Xiao Yi tampak mengagumi chai itu, hiasan kepala berupa tusuk konde rambut yang berbentuk garpu.
Chai itu berwarna biru langit dari bahan perak dengan ukiran bunga kecil-kecil menempel pada ranting berdaun yang membentuk bulatan dan di tengahnya ada sepasang burung berwarna emas yang saling berhadapan.
"Harganya tujuh liang nona"
Xiao Yi meraba pinggangnya tempat biasanya dia mengaitkan kantong koin jika sedang berjalan-jalan di kota Youwu.
Pias wajah Xiao Yi mendadak berubah, lalu segera dia menyadari, dia tidak membawa uang. Dia hanya mengikuti Yang Mulia Yan Yue tanpa membawa apa-apa kecuali badannya.
Xiao Yi meletakkan kembali chai yang cantik itu dengan hati berat. Dia seorang selir dari orang nomor satu di negara ini, tetapi dia tidak memiliki uang satu koin pun. Sungguh dia merasa lebih miskin dari seorang pengemis yang duduk di sebelah lapak pedagang kain. Di dalam mangkok kayu yang dipegangnya ada beberapa koin tergeletak. Bukankah dia lebih kaya dari Xiao Yi?
"Nona, harganya sudah murah nona, untuk barang sebagus ini nona tidak akan bisa mendapatkannya di tempat lain" bujuk penjual aksesoris itu.
"Lain kali saja..." Xiao Yi berbalik dengan kecewa, baru saja dia akan melangkah, di depannya berdiri tiga orang pemuda dengan wajah merah padam, sepertinya sedang setengah mabuk. Pemuda-pemuda itu tampaknya dari kalangan cukup berada, menilik dari pakaian yang mereka gunakan sepertinya dari bahan yang cukup bagus.
"Nona cantik...belum pernah aku melihat ada gadis secantik nona di sekitar sini" salah satu dari pemuda itu, memandang Xiao Yi dengan wajah yang mesum.
"Aku akan membayar chai itu untukmu, jika kamu bersedia menemani kami minum arak..."
pemuda itu maju, hendak menyentuh lengan Xiao Yi.
__ADS_1
Dengan sigap tetapi gemetar, Shuye maju ke depan Xiao Yi, menghadang dengan badannya yang kurus itu.
"Jangan ganggu nonaku, jangan..." tangannya di rentangnya, suaranya terbata-bata.
Xiao Yi menatap mereka dengan geram, orang-orang seperti ini tidak punya sopan santun dengan perempuan.
"Minggirlah, Shuye..." Xiao Yi mendorong badan Shuye ke sampingnya.
"Aku mau melihat, apakah mereka berani menyentuh kulitku" Xiao Yi berucap dengan raut sangat tidak senang.
Mulut Shuye melongo menatap gadis itu, tidak percaya dengan keberanian yang tersembunyi di balik paras cantik itu.
"Oh, gadis ini sungguh menarik...kamu ternyata berani juga, ya..." si pemuda paling depan merangsek maju, tapi Xiao Yi hanya menggeser sedikit badannya, tangan kanannya menekuk membuat gerakan mengilah, kemudian di detik berikutnya lengannya menghantam tubuh bagian samping pemuda itu.
Si pemuda setengah mabuk itu terdorong ke depan dan jatuh terjungkal tepat di atas meja lapak pedagang aksesoris, yang kemudian berteriak karena terkejut, mengundang perhatian orang-orang di sekitar. Tempat itu sekejap di kerumuni orang-orang.
"Hey, perempuan kurang ajar ini minta di hajar ternyata!" pemuda yang di belakang maju dengan membabi buta. Hendak menabrakkan badannya ke arah Xiao Yi.
Gadis itu memajukan kaki kirinya membentuk kuda-kuda, tangannya terkepal di depan dada, siap menghadang.
Belum sempat pemuda itu mencapai tempat Xiao Yi yang bersiap menunggu serangan, sebuah tendangan keras menghantam si pemuda mabuk itu.
Dalam sekejap, tubuhnya melayang menghantam pilar toko kelontong di belakang lapak penjual kain. Suara berdebam di susul tubuh yang jatuh di tanah dalam keadaan tidak sadarkan diri. Pemuda yang lain segera lari tunggang langgang dari tempat otu
Xiao Yi mengalihkan pandangannya, menatap seorang pria dengan jubah dari kain linen, berwarna ungu lavender yang sangat muda.
Rambut panjang hitamnya di kuncir tinggi ke atas, sisanya bergerai bebas.
Rambut itu sehitam alisnya yang tebal meruncing seperti pedang, menaungi bola matanya yang hitam pekat, lebih pekat dari giok hitam dari gunung Heiyu.
Rahang kokoh itu nampak kuat sekuat badan tegap kekarnya yang berdiri dengan gagah.
Dia menatap lurus kepada Xiao Yi yang berdiri terpaku ditempatnya, laki-laki tampan yang perkasa itu merasa degup jantungnya tidak beraturan seperti ombak yang menghantam karang, seolah-olah suara jantungnya dapat di dengar olehnya sendiri. Dalam sekejap sensasi hangat menjalari tubuhnya seperti baru saja meneguk arak paling keras, belum pernah dia melihat gadis pemberani secantik ini.
keberanian luar biasa yang terbungkus rapi dalam rupa seorang dewi berpakaian sederhana.
Dia benar-benar telah jatuh cinta pada pandangan pertama...!
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan episode berikutnya, ya🤗...
__ADS_1
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...