SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 42 MIMPI SETENGAH NYATA


__ADS_3

Yang Mulia melangkah perlahan ke dalam ruangan yang bercahaya temaram itu.


Aroma cendana yang begitu harum menyusup lewat cuping hidung Yang Mulia, sesaat dia menarik nafas perlahan.


Kakinya melangkah maju menuju sebuah tempat tidur bertirai transparan dari sutra berwarna ungu muda. Kakinya seakan tak menjejak tanah, dia begitu hati-hati seolah-olah tak ingin membangunkan sesosok tubuh yang terbaring nampak seperti siluet di bawah cahaya Lilin sebesar lengan pada meja kecil samping tempat tidurnya.


Yang Mulia Yan Yue menahan degup jantungnya yang mulai berdetak tak terkendali.


Perlahan tangannya menyingkap tirai itu.


Seorang gadis berwajah polos dan tenang seperti seorang bocah kecil, meringkuk miring di balut selimut dari beludru tebal.


Selimut itu menutupi sampai dengan bawah dadanya, tangannya menyembul dari batas dada, terlipat di atas perutnya yang bergerak naik turun bergantian dengan desah nafasnya yang berirama.


Yang Mulia bersimpuh perlahan di pinggir tempat tidur Xiao Yi, Kedua lengannya terlipat di atas tempat tidur menyangga tubuhnya yang terasa semakin berat.


Wajah Xiao Yi tampak bersinar-sinar seperti liukan karena pantulan dari cahaya lilin yang tidak jauh dari kepalanya.


Xiao Yi hanya menggunakan sebuah baju dari katun berwarna putih yang hangat, rambutnya yang panjang terurai di atas bantal seperti tumpukan satin hitam. Sungguh kontras dengan wajahnya yang putih bersih itu. Bibirnya berkilat segar tidak sepucat saat Yang Mulia melihatnya terakhir dari aula Qing Ren.


Tangan Yang Mulia perlahan bergerak meskipun dengan ragu-ragu. Menyentuh dahi Xiao Yi. Dahi itu terasa agak hangat. Dia benar-benar sedang tidak sehat.


Gadis yang disentuhnya tak bergeming. Masih hanyut dalam buaian mimpi. Kelopak matanya yang seperti helai kelopak mawar tertutup rapat.


Jemari Yang Mulia turun perlahan ke pipi gadis yang sedang tertidur nyenyak itu, lalu punggung tangannya mengelus lembut pipi Xiao Yi yang mulus serupa permukaan porselen.


Chenxing, tak tahu kah dirimu, betapa aku merindukanmu, betapa aku tersiksa menahan diriku untuk tidak bertemu denganmu? Betapa sakitnya saat aku berpura-pura tak ingin melihatmu?


Yang Mulia berbisik dalam hati,


Aku hanya takut...


Aku terlalu pengecut...


Aku pernah merasakan kesakitan karena di tinggalkan, aku tidak akan sanggup jika kemudian harus menanggungnya lagi.


Kenapa aku bertemu lagi dengan cinta, jika orang yang ku cintai menyimpan hatinya pada orang lain.


Mengapa, mencintaimu terasa begitu sulit dan menyesakkan?


Yang Mulia mengusap rambut Xiao Yi yang tidur seperti orang mati itu. Dia sedang begitu dekat dengan gadis yang menjadi bunga dalam tidurnya itu, tapi sungguh mereka terasa jauh.


Aku tahu, kamu masih mencintai orang lain, kamu tidak bisa melupakannya, meskipun kamu telah menyerahkan takdirmu padaku.


Didekatkannya wajahnya ke wajah Xiao Yi, dadanya bergelegak seolah begitu memaksa, seperti air bah yang berontak saat di bendung.

__ADS_1


Betapa ingin lagi Yang Mulia mencium bibir mungil yang ranum dan hangat itu, betapa ingin dia memeluk gadis itu sampai remuk di dalam rengkuhannya.


Betapa ingin...


Dipejamkannya matanya, bibirnya hampir menyentuh bibir Xiao Yi, tetapi kemudian dia menarik wajahnya,


Sudut-sudut bibir Yang Mulia terangkat membentuk seringai yang begitu aneh.


Begitu menyedihkan, saat kamu memiliki seseorang tapi hanya sebatas cangkangnya saja. Hatinya adalah milik orang lain.


Lebih menyedihkan lagi, bahwa perempuan itu adalah istrimu sendiri.


Kau bisa saja melakukan apa saja padanya, tapi tak pernah bisa menguasai hati dan cintanya.


Terngiang jelas saat, kasim muda yang diutusnya ke aula tamu itu mengatakan,


"Yang Mulia, mereka berbicara begitu lama dan saling berpegang tangan, nyonya terlihat begitu sedih, mereka begitu dekat, seperti dua orang yang saling mengenal lama."


Apa yang di dengarnya itu,sudah sangat mewakili, bahwa Xiao Yi benar masih mencintai kekasihnya itu.


Yang Mulia mengangkat selimut Xiao Yi sampai ke lehernya, dikecupnya pipi gadis itu dengan lembut, lalu dengan berat dia berbalik, melangkah pergi meninggalkan Xiao Yi yang melenguh dalam tidurnya seperti sedang begitu


menyusup dalam mimpi indahnya, bibirnya bergerak halus memanggil sebuah nama dalam gumam,


"Yue..."


Xiao Yi terbangun dari tidurnya karena cahaya yang masuk lewat celah lubang angin saat fajar. Dia duduk di atas tempat tidur, sambil mengusap matanya.


Betapa mujarab ramuan obat tidur yang di berikan oleh tabib istana malam tadi, sampai-sampai dia tertidur lelap seperti orang yang tak sadarkan diri.


Kain katun putih yang di pakainya, terasa lembab terkena keringatnya sendiri. Kulitnya terasa lengket.


Dalam tidurnya, bahkan dia bermimpi, dengan samar-samar, sebuah tangan turun dari antara langit merah memegang kepalanya yang terasa seperti akan meledak. Tangan itu begitu hangat, seperti tiupan udara musim panas dari ujung langit, menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin seperti batu es.


Tangan itu mengusap wajahnya dengan lembut, Xiao Yi berusaha menangkapnya, dia mengira itu Qian Ren yang datang hendak menjemputnya tapi kemudian dia menyadari itu wajah Yang Mulia Yan Yue.


Xiao Yi begitu merindukan wajah itu, sampai-sampai dia merasakan desah nafas Yang Mulia di kulit wajahnya. Aroma tubuhnya pun tercium nyata, meski berbaur bau aneh seperti alkohol. Tangan Xiao Yi bergerak hendak merengkuh leher Yang mulia, untuk membenamkan ke dadanya, tapi seketika wajah menghilang.


Bunga-bunga yang bermekaran seketika layu, mengering. Kelopaknya yang kering di tiup angin musim panas untuk bertemu musim gugur, seperti itu perasaan Xiao Yi saat kehilangan bayangan Yang Mulia.


Xiao Yi berusaha memanggil nama Yang Mulia, tapi yang kemudian berada di depannya adalah selir Mei, selir Nuo dan selir Yuan.


Mereka saling tertawa cekikikan, membuat Xiao Yi menutup telinganya kuat-kuat, keringat dinginnya membanjiri tubuhnya yang bergetar ketakutan.


Mimpi itu begitu aneh, terasa setengah nyata tapi tidak.

__ADS_1


Xiao Yi menggosok-gosok tangannya, yang sebenarnya hangat tapi dia merasa mati rasa.


"Chu Cu...!"


Xiao Yi memanggil pelayannya dengan suara keras.


Ruangannya yang masih tertutup itu terasa senyap,


"Chu Cu! Masuklah! " sekarang suara Xiao Yi menjadi sangat lantang.


Chu Cu muncul dari balik pintu, membawa baki berisi baskom dengan handuk kecil bersih.


"Ya, nyonya..." Chu Cu tersenyum dengan riang. Dia meletakkan baskom itu diatas meja.


Dia begitu senang Yang Mulia telah menjenguk majikannya tadi malam, tapi Yang Mulia telah berpesan Chu Cu tak boleh menceritakan kedatangannya kepada majikannya itu.


Chu Cu alu menyingsingkan tirai tempat tidur Xiao Yi. Setelah itu, menuangkan secangkir teh hangat yang sudah diletakkannya di situ sebelum Xiao Yi bangun dan menyodorkannya kepada majikannya yang duduk di tempat tidur dengan wajah bengong, tapi lebih segar dari tadi malam saat dia meninggalkannya tertidur setelah minum obat.


"Hangatkan perut nyonya dulu, sebelum nyonya bangun. Biar nyonya merasa lebih segar."


Chu Cu dengan cekatan membuka tirai jendela kamar, membiarkan cahaya matahari masuk sebanyak-banyaknya ke dalam kamar.


Xiao Yi menuruti dengan patuh, meneguk teh hangat itu sampai habis, perut nya memang sedang kosong dan tidak nyaman, sehingga kepalanya juga terasa pusing.b


"Nyonya," Chu Cu menyerah secarik kertas yang di gulung rapi di dalam bambu kecil, yang terselip di pinggangnya.


"Ada surat untuk Nyonya,"


Xiao Yi mengerutkan dahinya, membuka gulungan itu.


Setelah membacanya, seketika raut wajah keheranan menghampiri wajah yang masih kusut itu,


Aku akan mencarimu setelah festival Yishu besok malam, di ruang obat tabib Guo


Zhao Juren


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTE dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...


...🙏🙏🙏...


...Dukungannya untuk semangat author terus menulis 🙏☺️...


...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...

__ADS_1


...Nantikan episode berikutnya❤️...


__ADS_2