
Jiu Fei meraih bahu Zhao Juren, mendorongnya sekuat tenaga ke samping kiri.
Zhao Juren yang tak menyangka tindakan mendadak Jiu Fei, sehingga tidak bisa berbuat banyak, tubuhnya oleng terjajar beberapa langkah hampir terjengkang.
Dengan begitu berani dan tanpa keraguan, Jiu Fei menjelang mata pedang yang mengarah langsung ke dadanya.
"Akh..." Suara itu terdengar mengiris hati, dia tidak memekik hanya melenguh menahan sakit.
Tusukan pedang itu mengenai dada Jiu Fei, membuat darah segera merembes dari sela mata pedang yang melesak melewati kain bajunya yang hitam pekat.
"Afei...!" Zhao Juren berteriak seolah melolong, menangkap tubuh ramping yang terdorong ke belakang dan tersungkur di tanah. Menahannya supaya bersandar di dadanya.
Si penyerang menarik pedangnya, darah merah segar memandikan ujung mata pedang di tangannya.
Dengan sekali sabet, Zhao Juren memukul mundur ketua pasukan bertopeng. Setelah melihat sasaran yang sesungguhnya telah sekarat, pemimpin pasukan itu memberi tanda untuk sisa anak buahnya segera mundur.
Mereka tahu, Tuan muda Zhao adalah kesayangan ibu suri, mereka tak akan benar-benar berani menyentuhnya.
Misi mereka adalah membunuh perempuan licin yang bersembunyi dalam cadarnya itu, karena telah beberapa kali menyusup ke tempat-tempat rahasia ibu suri tetapi selalu berhasil lolos begitu saja.
Para penyerang bertopeng itu segera berlompatan pergi, hilang dalam kegelapan malam.
Zhao Juren melepaskan pedang di tangannya, memeluk tubuh Jiu Fei yang tak berdaya, memegang luka yang merobek dadanya.
Sebuah totokan diberikan Zhao Juren di dada Jiu Fei, berusaha mencegah darah keluar lebih banyak lagi.
"Afei..." Zhao Juren melepaskan cadar yang menutupi wajah Jiu Fei dengan tangan gemetar, mendapati wajah cantik yang dulu membuatnya mabuk kepayang.
Wajah itu tetap cantik, meskipun sekarang terlihat pucat pasi. Darah segar mengalir dari sudut bibirnya, ekspresi mata itu begitu puas sekaligus sedih.
"Juren..." Bibir tipisnya memanggil dalam suara yang lemah.
Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup Zhao Juren, melihat mata Jiu Fei begitu hangat dan berkilau seolah menceritakan kedalaman hatinya dengan segala isi di dalamnya.
Dulu mata itu begitu sulit di tebak, begitu misterius dan penuh dengan perlawanan. Dia menunjukkan betapa keras kepalanya dirinya di depan Zhao Juren.
Mata yang menatapnya dengan lemah itu seperti sepasang kolam bening, begitu kesepian di balut dengan kelelahan luar biasa yang menyaru sampai ke tulang-tulangnya.
Zhao Juren memegang tangan Jiu Fei yang terasa hangat oleh darah, karena berusaha menutupi luka yang menganga di dadanya.
__ADS_1
Pakaiannya yang hitam basah oleh darah yang menyatu warna dengan pekatnya kain.
"Bertahanlah, Afei...aku akan membawamu ke kediamanku." Ucapnya dengan suara parau dan kalut.
"Juren..." Jiu Fei menangkap tangan Zhao Juren, seulas senyum lamat-lamat mengukir di bibirnya, membuat Zhao Juren mengurungkan niatnya untuk bangkit berdiri menggendong tubuh Jiu Fei.
"Aku tak mau ke mana-mana." Desahnya, dua buliran bening jatuh di ujung matanya.
"Tapi, aku harus mengobati lukamu, darahmu terlalu banyak keluar." Zhao Juren menjawab dengan kecemasan yang luar biasa.
"Aku tak mau apa-apa lagi, Juren. Aku sebentar lagi pulang. Bukankah kamu selalu menyuruhku untuk pergi...?"
Kalimat itu terpotong, di ganti suara pekik kecil dari mulut Jiu Fei ketika ujung jari Zhao Juren menotok pinggiran luka di dadanya.
"Jangan berbicara lagi." Ucap Zhao Juren keras, dia tahu pendarahan di luks Jiu Fei semakin parah andai dia harus membawanya sekarang, gerakan berlebihan akan mempercepat pendarahan, luka itu melukainya begitu dalam, hampir mengiris jantungnya.
Zhao Juren hanya bisa berusaha menghentikan pendarahan itu dulu, meskipun dia tahu sesungguhnya itupun tak banyak membantu.
Zhao Juren meletakkan kepala Jiu Fei di lengannya, memberikan posisi senyaman mungkin di pangkuannya, tubuhnya sendiri tersandar pada batang pohon yang berada di belakangnya.
"Juren...biarkan aku beristirahat sebentar di sini, jangan bawa aku kemana-mana" Jiu Fei tetap berusaha berbicara meskipun bibirnya yang pucat gemetaran, begitu memohon.
Marah pada dirinya sendiri yang tak bisa mencegah tindakan Jiu Fei.
"Kenapa tidak boleh kulakukan? Bukankah dulu kamu bertanya mengapa aku sukarela menahan anak panah untuk menyelamatkan Yan Yue? Sekarang, saat aku menjelang pedang untukmu, apakah kamu masih ingin bertanya lagi...?" Jiu Fei berucap dengan sisa kekuatannya.
"Kamu bodoh, Afei! Karena kamu benar-benar bodoh!!" Mata Zhao Juren terasa panas.
Jiu Fei tertawa kecil sampai terbatuk-batuk, menatap laki-laki yang sedang menatang lehernya itu.
"Jikapun waktu diputar kembali, ke masa sebelas tahun yang lalu...jika kamu yang di tuju anak panah itu...aku tak akan ragu berdiri memberikan punggungku." Jiu Fei berkata dengan suara yang patah-patah.
"Jangan berbicara lagi, ku mohon..." Zhao Juren memutuskan tak akan mendengarkan permintaan Jiu Fei, dia akan segera membawa gadis itu mencari pertolongan.
"Juren!" Jiu Fei memegang pipi Zhao Juren dengan jemarinya yang berlumuran darah ya sendiri.
"Aku tidak menyesal, melakukan ini padamu..." Ucapnya, suara itu sudah begitu lemah, sementara telapak tangannya terasa dingin merayap di pipi Zhao Juren.
Pantulan cahaya bulan, yang tiba-tiba terasa begitu terang membuat Zhao Juren bisa melihat wajah Jiu Fei dengan begitu jelas bagai siang. Wajah itu pernah sangat dirindukannya, sangat di cintainya.
__ADS_1
"Dulu, aku pernah mengatakan padamu...aku benar-benar mencintai Yan Yue...aku akan mempertaruhkan nyawaku untuk melindunginya. Tapi, aku tak pernah bilang padamu...jika...jika akupun sanggup melakukan hal yang sama untukmu..." Suaranya sudah mulai tersendat-sendat, tak lagi beraturan.
"Mungkin aku tak bisa mencintaimu tapi aku selalu menyukaimu...selalu menyukaimu, Juren. Dan jika aku harus mati, aku senang berada di pelukan orang yang ku sukai." Tangan Jiu Fei perlahan lepas dari pipi Zhao Juren.
Nafasnya sudah mulai tersengal, dengan susah payah dia mengatur nafasnya.
"Afei...berhentilah berbicara..."
"Juren, kamu tahu satu hal, aku lebih suka mendengar kamu memanggil namaku dengan Afei, dari pada di panggil Jiu Jiu..." Jiu Fei berusaha tertawa tapi malah membuatnya seperti tersedak.
"Afei, aku minta maaf..." Zhao Juren memeluk tubuh yang semakin lemah itu, hatinya terasa hancur melihat keadaan Jiu Fei.
"Maaf untuk apa? Kamu tak pernah berbuat salah padaku...."
Zhao Juren tak punya kata lagi, dia selalu merasa bersalah telah memaksa Jiu Fei membagi hatinya meski dia tahu, Jiu Fei tak pernah mencintainya.
"Bisakah kamu menggendong aku sekarang...? Saatnya kita pergi." Bisik Jiu Fei lirih.
Zhao Juren menurutinya dengan hati yang bergelegak menahan sakit.
"Bawa aku ke bukit Zhieshan. Kuburkan aku di antara pohon-pohon Wisteria." Bisiknya, menggetarkan jiwa Zhao Juren.
Mata Jiu Fei terpejam beberapa kali, tapi nafasnya masih terdengar satu-satu.
Zhao Juren merasa begitu hatinya begitu takut, seperti Jiu Fei akan segera meninggalkannya lagi, seolah mereka tak akan bertemu lagi.
Dia mengangkat tubuh ringkih gadis itu, dengan kesedihan, terasa begitu ringan. Seringan kapas.
Zhao Juren menggendong tubuh lemah yang tak berdaya itu, membiarkan wajah Jiu Fei terarah mencium dadanya.
Berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah timur di mana bukit Zhieshan berada.
"Aku...aku...sangat suka baumu...sangat manis...seperti bau plum di musim semi..." Suara Jiu Fei seperti desah.
"Aku akan mengantarmu ke kuil Sunyen." Zhao Juren memeluk tubuh ramping itu sambil terus berjalan setengah berlari, dia hanya ingin terus mendengarkan desah nafas Jiu Fei, untuk memastikan Jiu Fei tetap hidup sampai di kuil Sunyen.
(Terimakasih tetap setia dengan novel ini, bagaimanakah kisah Zhao Juren dan Jiu Fei? Tetap tunggu episode berikutnya😘)
Jangan Lupa VOTE, LIKE, KOMEN dan HADIAH nya ya...supaya author semakin semangat menulis, menyelesaikan novel ini...🤗🤗🤗
__ADS_1