
"Semoga Yang Mulia panjang umur..."
doa itu berkumandang memenuhi ruangan ketika Yang Mulia duduk di kursinya.
Diikuti ibu Suri dan beberapa orang undangan khusus di aula Qing Ren pada festival Chushi ini.
Kasim Chen memberi kode, semua yang ada di ruangan itu kembali ke posisi semula.
Sesaat mata Yang Mulia bersirobok dengan Xiao Yi, seketika wajah gadis itu menjadi terasa panas.
Betapa lama rasanya waktu berlalu, meskipun sebenarnya hari yang terlewati hanya dalam hitungan jari tangan saja sejak pertemuan terakhir mereka.
Sejak malam itu, Yang Mulia tidak pernah lagi mengirim kabar atau pesan padanya.
Yang Mulia juga berhenti diam-diam menemuinya, seperti beberapa waktu sebelumnya.
Xiao Yi tak bisa menebak, apa yang sedang di rasakan oleh raja, semudah itukah dia melupakan ciuman sekilas itu. Apakah hanya dirinya yang berlebihan, mengingatnya begitu lekat di dalam benaknya.
Yang Mulia dengan wajah dingin mengalihkan pandangan tanpa bersuara sedikitpun.
"Terimakasih, untuk usaha dan kerja keras para selir dalam upacara Chushi ini." Ibu suri berdiri dari duduknya, tersenyum hangat ke semua penjuru.
"Dalam upacara ini, seperti tradisi sebelumnya, semua istri raja harus membuat sebuah hidangan untuk raja untuk menunjukkan bakti sekaligus doa kepada suaminya. Hidangan terbaik malam ini, akan mendapatkan hadiah dari Yang Mulia Raja" lanjut ibu suri.
Yang Mulia menatap ke depan tanpa ekspresi. Membiarkan ibu suri sebagai pemimpin harem untuk meneruskan kalimatnya.
"Yang Mulia akan memberikan beberapa barang berharga milik raja kepada hidangan terbaik menurut penilaian Yang Mulia"
Semua mata semakin berbinar, sungguh menyenangkan jika mendapatkan salah satu dari barang berharga milik raja, entah apapun itu. Akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi para istri ini.
"Dan juga..." Ibu suri melirik sebentar kepada Yang Mulia raja yang masih tak bergeming.
"Yang terpilih akan menghabiskan malam bersama Yang Mulia raja"
Seketika terdengar, keriuhan kecil dari mulut para selir yang tak pernah diperhatikan oleh raja ini.
Mulut mereka menganga, betapa mereka sangat mengharapkan momen itu.
Di belai dan di cumbu Yang Mulia adalah mimpi-mimpi yang selalu bergelut di setiap tidur malam mereka.
__ADS_1
Betapa tidak, mereka diperistri tapi tak pernah di sentuh. Mereka pun tak bisa berkeberatan untuk nasib malang mereka, karena mereka di kawinkan kepada raja bukan karena keinginan raja sendiri tapi untuk kepentingan politik keluarganya semata.
Jadi, apapun perlakuan yang mereka terima, mereka tidak berhak mengeluhkan apa-apa.
Dan malam ini, suatu kehormatan jika bisa menghabiskan malam bersama Yang Mulia raja yang selalu bersikap dingin itu. Apalagi jika mereka bisa mengandung anak raja, maka tidak perlu melakukan apa-apa, dengan sendirinya negara akan mengangkat menjadi permaisuri utama raja. Sungguh itu adalah impian paling tinggi dari harapan seorang perempuan di kerajaan ini.
Raut terkejut juga nampak sekilas di wajah Yang Mulia Yan Yue, dia tidak pernah mendiskusikan hal ini dengan ibu suri. Seperti tahun-tahun sebelumnya Yang Mulia hanya memberikan penghargaan berbentuk barang, tidak pernah menjanjikan untuk menghabiskan malam sebagai hadiah.
"Kerajaan kita sangat merindukan seorang calon penerus raja, karena bertahun-tahun keinginan itu mengendap sebagai doa dan harapan. Maka tahun ini, tentu saja Yang Mulia raja tidak berkeberatan untuk memenuhi harapan kita semua." Ibu suri tak menoleh sedikitpun pada Yang Mulia yang beberapa saat menatapnya dengan rasa terkejut itu.
Yang Mulia Yan Yue ingin membantah, tapi urung dilakukan. Karena sikap menentang kebijakan ibu suri dalam wilayah kekuasaannya di istana harem ini bisa memicu konflik. Api kecil yang di pantik akan segera menyebar menjadi tak terkendali jika tidak dipertimbangkan dengan baik.
Yang Mulia Yan Yue tahu benar, kekuatan dan pengaruh ibu tirinya ini di dalam istana Weiyan.
Bahkan Panglima Zhao Juren, yang adalah keponakan langsung ibu suri, adalah salah satu kekuatan terbesarnya selain beberapa menteri yang sangat setia pada ibu suri.
Entah apa maksud ibu suri, mengatur demikian, namun setahu Yang Mulia Yan Yue, kebijakan ini sama sekali tidak ada untungnya bagi ibu suri, kecuali dia ingin mengambil hati para selirnya ini.
Xiao Yi pun tak tak kalah terkejutnya dari tempatnya duduk, dia seperti merak yang kehilangan bulu, tak bisa melakukan apa-apa karena dia bukan salah satu dari peserta dalam festival ini.
Jauh di dalam hati kecilnya, tiba-tiba menggelegak, seperti kawah yang tiba-tiba mendidih. Dia menginginkannya, setidaknya dia merindukan saat-saat berada di dekat raja kesepian itu, Yang Mulia Yan Yue.
"Saya rasa semua sudah siap..." kata ibu suri. Ibu Suri berjalan memeriksa semua meja para selir yang tampak di tata dengan begitu cantik.
Kemudian, dia berhenti di meja Xiao Yi. Alisnya mengernyit, menatap meja kosong yang dihadapan gadis itu.
"Selir Yi? kamu tidak menyiapkan apa-apa?" tanya ibu Suri dengan heran.
Semua perhatian sekarang terarah kepada Xiao Yi, termasuk Yang Mulia Yan Yue.
Xiao Yi sesaat dilanda bingung, tidak tahu harus menjawab apa, yang dia tahu instruksi dari selir Mei bahwa dia tidak diperkenankan ikut.
"Tidak tahu kah kamu, upacara ini sangat penting bagi raja. Mengabaikannya, berarti kamu melawan tradisi istana ini" Suara ibu suri menjadi tinggi menandakan ada amarah di sana.
"Saya... hanya..." Xiao Yi menjawab terbata-bata, sekarang wajahnya terangkat mengarah kepada Selir Mei yang sedang menatap dengan tajam padanya.
"Saya hanya melakukan apa yang di..."
"Ampuni hamba, ibu suri..." tiba-tiba selir Mei berdiri dan membungkuk di tempatnya.
__ADS_1
"Ibu suri dan selir tertua telah menyerahkan kelangsungan upacara Chushi ini kepada saya sebagai penanggungjawab,"
Ibu Suri sekarang berbalik kepada selir Mei yang sedang berbicara itu.
"Karena saya rasa selir Yi masih sangat baru di dalam istana harem ini dan tidak terlalu banyak tahu tentang tradisi keluarga kerajaan, jadi saya tidak melibatkan langsung selir Yi dalam upacara ini. Saya fikir, akan lebih baik jika selir Yi mengikuti saja prosesnya, supaya di tahun berikut bisa menjadi peserta dengan baik." kata selir Mei.
Dia cukup percaya diri tidak mendiskusikan hal ini kepada ibu suri, karena merasa dia adalah salah satu selir kesayangan ibu suri.
Mata ibu suri sekarang melotot kepada selir Mei.
"Apakah kamu fikir bisa membuat keputusan sesukamu tanpa membicarakan ini kepadaku?"
Ibu suri sepertinya sangat marah sekarang,
"Kamu kira bisa seenaknya, mempermainkan tradisi kerajaan menggunakan kebijakan sendiri!" Ibu suri mengarahkan matanya yang berapi-api kepada selir yang kini berdiri dengan wajah merah padam.
"Ampuni hamba ibu suri..." Selir mei menautkan telapak tangannya dengan gemetar, dan membungkuk dalam-dalam.
Dia tidak pernah mengira ibu Suri tidak memihak dirinya.
Dia selalu yakin ibu suri akan melunak padanya karena dia adalah selir yang paling dekat dengan ibu suri.
Saat itulah Yang Mulia Yan Yue berdiri dari tempatnya duduk.
"Ibu Suri, saya rasa selir Mei melakukan hal yang benar..." ucap Yang Mulia Yan Yue dengan suara datar.
...🤗Hari ini Author tetap UP dua episode ya untuk para readers tersayang🤗...
...Silahkan komen yang banyaaaaaak di bawah, ya🤭...
...jangan lupa like dan dukungannya untuk semangat author menulis 🙏☺️...
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Nantikan episode berikutnya❤️...
...Yang kangen Yang Mulia Yan Yue, author kadih bonus deh visualisasinya...🤭🤭...
__ADS_1