
Xiao Yi terpekik kecil, kemudian tertegun dengan raut yang panik sementara kaki kirinya masih melayang di udara karena keseimbangannya yang tidak stabil.
Bola mata Xiao Yi hampir tidak berkedip ketika wajah mereka bertemu hampir tak berjarak.
"Yang Mulia..." Suara Xiao Yi seolah tercekat di kerongkongannya. Terkejut sekaligus terpana,
meskipun Yang Mulia dalam kostum seburuk apapun selama Xiao Yi melihat bola mata coklat kehitaman itu, dia akan selalu mengenali Yang Mulia dalam berbagai rupa.
"Chenxing..."Yang Mulia mendorong tubuh ramping Xiao Yi perlahan, memastikan gadis itu berdiri tegak dengan aman.
"Ampuni hamba Yang Mulia..."Xiao Yi menekuk kakinya, memberikan sikap resmi di depan Yang Mulia Yan Yue.
Yang Mulia Yan Yue mengenakan jubah sederhana seperti seorang pedagang pinggir jalan. Tetapi baju jelek itu tidak bisa menyembunyikan aura ketampanan Yang Mulia .
Yang Mulia Yan Yue terdengar batuk kecil dengan kepala yang mengawasi sekeliling seperti waspada padahal di dalam ruangan itu masih sangat sepi hanya dia dan yang Mulia dan beberapa pengawal Yang Mulia dalam pakaian orang biasa serta meja kursi makan yang tanpa penghuni sedang dibersihkan oleh seorang pelayan yang acuh saja dengan kehadiran mereka berdua.
Hari masih terlalu pagi, untuk kedatangan pengunjung. Pemilik kedai dan para pelayannya masih sibuk menyiapkan kedai itu untuk kedatangan para pengunjung dan pelanggan mereka.
Jari telunjuk Yang Mulia menempel di bibirnya yang cokelat muda berkilat, mengisyaratkan bahwa Xiao yi tak perlu bersuara lagi.
"Kemari, ikuti aku..." Yang Mulia menarik pergelangan tangan gadis itu dengan terburu-buru. Menaiki tangga ke lantai atas kedai itu. Masuk kedalam sebuah ruangan, yang di sana telah tersedia sebuah meja besar dan makanan yang tersaji dalam keadaan masih mengepulkan asap tipis pertanda baru saja disiapkan.
Di ruangan itu juga sudah ada pengawal Jian Jie yang berdiri seperti arca di sudut ruangan, mengawasi meja makanan itu dengan seksama dalam balutan pakaian orang biasa kebanyakan.
Yang Mulia menoleh kepada Jian Jie, matanya dipicingkan sedikit, seolah bisa membaca maksud Yang Mulia, pengawal setianya itu mengangguk.
"Semua sudah dipastikan aman Yang Mulia, silahkan menikmati makan pagi Yang Mulia bersama selir Yi." pengawal Jian beranjak dari tempatnya berdiri.
"Saya akan berada di luar pintu Yang Mulia" pengawal Jian pamit keluar.
Yang Mulia Yan Yue mengangguk saja sementara tangannya masih mencengkeram pergelangan tangan Xiao Yi.
Yang Mulia membawa Xiao Yi duduk menghadap meja, setengah menyeret. Ringisan Xiao Yi menyadarkan Yang Mulia Yan Yue bahwa Ia telah berlaku sedikit kasar pada gadis itu. Lalu dengan cepat di lepasnya tangan Xiao Yi.
__ADS_1
"Kamu tidak boleh memanggilku Yang Mulia jika kita sedang berada diluar istana seperti ini"
ucap Yang Mulia dalam nada rendah.
Wajah Yang Mulia yang sangat serius itu mengurungkan niat Xiao Yi untuk bertanya,
kepalanya tertunduk menunggu, membiarkan kalimat yang hampir terlontar dari mulutnya tertelan kembali.
"Chenxing, aku akan memanggilmu seperti itu, dan kamu boleh memanggilku Yue" kata Yang Mulia lagi.
Xiao Yi mengangkat wajahnya dengan terkejut, wajahnya memerah, begitu tidak hormatnya dia, dengan status orang rendahan yang dipersembahkan sebagai selir bagi raja jika berani memanggil seorang raja dengan nama kecilnya.
Perbuatan itu sama dengan menghina, dan tentunya kerajaan Yanzhi tak akan mentolerirnya.
Xiao Yi akan menolak permintaan Yang Mulia, dia tidak berani bersikap sangat tidak hormat seperti itu.
"Hamba tidak akan berani...!" tolak Xiao Yi.
"Ini bukan permintaan, ini perintah dari raja!" sahut Yang Mulia Yan Yue dan raut memaksa.
"Jika kamu tetap memanggilku Yang Mulia, maka semua orang tahu bahwa aku adalah raja dan kamu akan ku hukum dengan berat karena telah menggagalkan rencana penyamaran seorang raja"
Xiao Yi tercengang, dia belum lagi menerima hukuman yang kemarin sekarang Yang Mulia bahkan mengancamnya dengan hukuman yang lain. Siapa yang sanggup disisi orang ini jika dia sebentar-sebentar berusaha menjatuhkan hukuman terhadap orang lain.
"Jangan menjadi besar kepala, kamu hanya boleh memanggilku dengan nama Yue jika kita di luar istana dalam pakaian orang biasa, diluar itu kamu tetap harus memanggilku dengan Yang Mulia"
Xiao Yi tidak berkedip menatap raja tampan yang aneh ini, dia belum lagi berkata-kata, Yang mulia sudah menyebutnya besar kepala.
Yang Mulia tidak memperdulikan raut kebingungan yang kental di wajah Xiao Yi, dengan acuh diambil sumpit dari atas baki kecil dan mengaduk pelan semangkok Mapo doufu yang masih berasap tipis.
Hidangan tradisional dari tahu yang dipotong dadu, dicampur daging giling, bubuk cabai, daun bawang dan pasta kacang ini sangat terkenal di Yubei. Cita rasanya yang gurih, pedas dan manis ini menjadi sangat di sukai oleh semua kalangan, khususnya kalangan masyarakat biasa karena bahan-bahannya yang tidak terlalu mahal.
"Ayo, makanlah...tubuh kurusmu itu bisa lemas jika tidak makan. Bagaimana bisa aku memberikan hukuman pada orang yang tidak punya tenaga" Yang Mulia memasukkan sepotong tahu ke dalam mulutnya dan berdecak seperti menggoda Xiao Yi untuk ikut mencicipi.
__ADS_1
Perut Chenxing sepertinya merespon aroma makanan di atas meja, apalagi tadi malam dia tidak makan dengan benar karena keresahannya untuk apa yang akan di hadapinya hari ini.
Mata Xiao Yi berbinar melihat bakpao yang pucat mengkilat diatas piring. Entah berapa lama sudah dia tidak pernah makan salah satu makanan yang dapat ditemukannya dengan mudah di jalanan kota Youwu itu.
Dengan sedikit tersipu diambilnya sebuah, satu gigitan pada bakpao itu menawarkan sensasi kenyal, lembut dan gurih memaksa Xiao Yi tanpa sadar melahapnya dengan sedikit rakus.
Yang Mulia tersenyum kecil melihat selir muda itu yang tak lagi malu-malu.
Xiao Yi melupakan sejenak statusnya di depan Yang Mulia Yan Yue karena perutnya tidak lagi bisa berkompromi dengan situasi.
Mereka berdua menyelesaikan makan pagi itu tanpa saling canggung lagi.
Kurang lebih satu jam kemudian mereka telah keluar dari kedai makan, berjalan santai beriringan berbaur dengan orang-orang yang mulai sibuk berlalu lalang, pengawal Jian dan pengawal Cun mengikuti tepat di belakang sementara tiga pengawal lain menjaga jarak meskipun tidak begitu jauh.
Mereka berjalan menuju pasar di jalanan kota.
"Apakah kamu siap menjalani hukumanmu?" Yang Mulia menurunkan kepalanya, mendekatkan mulutnya di kuping Xiao Yi.
Xiao Yi mengangkat sedikit wajahnya dan mengangguk. Dia tidak bisa menebak hukuman apa yang akan di terimanya, tapi dia benar-benar tidak takut. Bahkan jika Yang Mulia menjualnya sebagai budak di pasar, dia akan menerimanya tanpa perlawanan.
Tiba-tiba Yang Mulia menghentikan langkahnya di depan seorang penjual manisan madu.
Benak Xiao Yi segera mengingat dengan cepat suatu kejadian beberapa bulan yang lalu saat pertama kali dia menginjak kota Yubei, ini adalah lapak penjual manisan madu yang sama dimana dia melompat dari dalam kereta, berlari menyongsongnya dan tidak sengaja menabrak seseorang, drama itu berakhir ketika dia dalam pelukan seorang asing.
Mulut Xiao Yi terbuka sedikit dengan rasa terkejut,
Ya, disini dia dipeluk oleh Yang Mulia Yan Yue untuk pertama kalinya.
"Chenxing...aku akan menghukum kamu dengan membelikan manisan madu yang banyak..." bisik Yang Mulia dengan seringai puas, seolah berhasil mempermainkan gadis cantik di depannya itu.
...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...
...Untuk episode berikutnya kira-kira apa rencana Yang Mulia Yan Yue, ya?...
__ADS_1
...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like nya🙏☺️...
...next episode sore ya🤗...