
"Yue..." Zhao Juren hanya ingin menyebut nama itu, dia merasa sedih baru tahu jika dia tak akan pernah dihukum jika memanggil nama putra mahkota kecil itu dengan nama Yue, karena dia juga adalah anak seorang raja.
"Juren, ini aku Yue..." Pertama kali Yang Mulia Yan Yue merasa dirinya benar-benar begitu dekat dengan Zhao Juren.
Sedari kecil, Zhao Juren selalu melindunginya, membuatnya selalu merasa tenang jika berada di dekat orang ini. Wajahnya yang keras tak seperti hatinya yang sebenarnya begitu lembut.
Masa kecil itu berlal begitu cepat, masa remaja seperti terbang, dan ketika mereka berdua sama-sama beranjak dewasa jarak seketika memisahkan dua kawan baik itu.
Banyak rahasia yang terjadi di balik hubungan mereka yang bahkan hanya angin dan hati masing-masing yang tahu. Menjadi dewasa membuat mereka kehilangan ketulusan dan kadang cinta mencampur adukkan perasaan.
Zhao Juren menanggung rasa berdosa karena telah mengkhianati Yang Mulia Yan Yue akibat menjalin hubungan gelap dengan kekasih Yang Mulia. Kemudian mengetahui kejahatan ibu suri tetapi memendamnya dalam hati karena rasa sayangnya pada bibi yang ternyata adalah ibunya sendiri.
Yang Mulia Yan Yue mungkin tidak sepintar dan secekatan Zhao Juren, bahkan mungkin kharisma akan meredup jika harus disejajarkan dengan panglima itu. Tapi, langit selalu berpihak padanya karena ketulusan hatinya, dia tak pernah mengkhianati siapapun dalam hidupnya bahkan sanggup mengorbankan banyak musim waktunya untuk mejadi setia. Sedari dia kecil, semua orang akan mencoba mengkhianati dan menyakitinya.
Mereka memiliki ujian hidup masing-masing, saat orang lain berfikir berada di posisi mereka, mungkin mereka akan menjadi mengerti bahwa penderitaan yang mereka lalui setimbang seperti berada di tengah sebuah neraca.
Tetapi pada akhirnya, seseorang harus menyerahkan dirinya pada yang lain, karena naga dan singa tak akan bisa sama-sama menjadi raja.
Zhao Juren memutuskan tetap melindungi Yan Yue dengan mempertaruhkan nyawanya, dan sampai akhir dia akan selalu meletakkan hatinya pada ibu suri, bibi yang mengasuhnya dan mendidiknya dengan keras dari kecil.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" pertanyaan Zhao Juren terdengar lemah. Wajah ibu suri yang meraung-raung memanggil namanya serasa bergelombang di kepalanya.
"Jangan khawatirkan apapun, semua baik-baik saja."Yang Mulia Yan Yue menyunggingkan senyumnya.
Zhao Juren mengitari pandangannya pada sekeliling, dan ia sadar sekarang bukan berada di istana kediamannya.
"Aku di mana?" Pertanyaan itu benar-benar menggelitiknya,
__ADS_1
"Kamu berada di aula pangeran, tempat seharusnya kamu berada." Jawab yang Mulia Yan Yue lamat-lamat.
Zhao Juren merasa dadanya menjadi haru biru, melemparkan ingatannya sekali lagi ke masa lalu, tempat ini adalah tempat yang selalu ingin dilihatnya semasa kecil, berdiri di jembatan seberang taman untuk berusaha mengintip ke baliknya.
"Di aula pangeran banyak manisan kesemek, tanghulu yang mengkilat karena gulanya dan dibuat panjang bahkan bisa setinggi pinggang,
kue beras beraneka warna yang di bentuk dalam semua jenis rupa binatang. Di aula pangeran bnyak sekali buah-buahan...kembang api...di aula pangeran semua yang kau sukai tersedia..." Cerita itu serasa melekat dan membuatnya penasaran, tapi dia hanya bisa memandang dari jauh, tanpa pernah bisa menginjaknya.
Dan sekarang dia terbaring di dalam salah satu kamar aula pangeran yang selalu membuatnya penasaran itu, rasanya sungguh aneh. Dia tidak sebahagia yang di bayangkan ketika dia sangat penasaran dulu kala.
Yah, Zhao Juren kecil dulu telah tumbuh dewasa dan begitu tangguh. Manisan kesemek dan tanghulu madu tak lagi membuatnya bahagia.
Dia telah mengenal cinta, dan entah mengapa dia selalu meginginkan perempuan yang selalu mencintai Yang Mulia dengan segenap jiwa raga mereka.
Sakit memang, saat ternyata kita bukanlah yang ada di impian orang yang kita cintai. Tapi meskipun Zhao Juren tak bisa memenangkan hati Jiu Fei ataupun Xiao Yi tapi dia telah memenangkan hatinya sendiri.
Zhao Juren menyadari, sekarang hanyalah mereka berdua Yan Yue di dalam ruangan besar itu, saling memandang dan menunggu seseorang memulai berbicara, betapa canggung dan anehnya dua orang saudara seayah yang selalu bersama tapi tidak tahu bahwa mereka adalah adik dan kakak.
Yang Mulia Yan Yue tetaplah kakak bagi Zhao Juren meskipun di masa kecil, dia selalu ingin menjadikan Zhao Juren sebagai kakaknya.
Zhao Juren berusaha bangun tapi tertahan pada luka di perutnya yang segera membuatnya meringis.
"Jangan bergerak dulu. Lukamu bisa robek kembali jika kamu terlalu memaksakan untuk bangun."
"Ku kira aku sudah mati..." Gumam Zhao Juren.
"Permaisuri Yi telah menyelamatkan hidupmu."
__ADS_1
Jawaban yang Mulia Yan Yue membuatnya terpana sesaat. Mendengar Xiao Yi disebut dengan gelar permaisuri membuanya merinding. Bahkan di ujung nafasnya, dia masih selalu berharap di sudut hatinya yang terdalam sebagai bagian dari keegoisannya selaku manusia, Xiao Yi bukanlah istri Yan Yue.
"Menyelamatkan hidupku?"
"Ya, dia telah menahan pendarahanmu tepat waktu, jika terlambat sedikit menurut tabib Guo maka mungkin nyawamu tak tertolong. Untunglah permaisuri Yi meminumkan pil sambung nyawanya yang berharga kepadamu."
"Pil penyambung nyawa?" Zhao Juren seperti orang yang linglung.
Dia pernah mendengar satu legenda dalam keluarga tabib Bai Sheng, ibu dari Bai Yifei, yang merupakan nenek dari Xiao Yi.
Ada sebuah cerita bahwa dalam keluarga itu, mereka membuat satu pil dari ujung tali pusar bayinya yang akan di minum jika dia dalam keadaan sekarat. Pil ini bisa menolongnya untuk kembali hidup.
Setiap anak membawa satu pil dari ujung pusarnya sendiri. Dan hari ini dia tahu, kisah itu tidak hanya legenda. Xiao Yi telah memberikan pil dari ramuan ujung pusarnya sendiri kepada dirinya demi menyelamatkan hidupnya.
Zhao Juren menelan ludahnya yang terasa pahit, betapa anehnya perasaannya sekarang, merasa dirinya ternyata begitu penting bagi perempuan yang sedikitpun tak pernah menoleh kepadanya.
Satu-satunya pil yang berasal dari bagian dirinya, telah diberikannya kpada Zhao Juren, lalu apakah lagi yang ingin diminta Zhao Juren dari perempuan itu.
Bukankah pengorbanan seperti itu melebihi rasa cinta?
Zhao Juren memejamkan matanya yang terasa hangat, sekali lagi langit memainkan hidupnya.
Dia mati-matian menyebut dirinya sebagai pelindung bagi Xiao Yi tapi ternyata perempuan itu bisa melakukan apapun untuk membuatnya tak pernah merasa berhutang jasa padanya.
Cinta begitu aneh, cinta begitu berbelit-belit.
Dalam kesederhanaanpun cinta tetap tak bisa di mengerti.
__ADS_1
(Crazy up menjelang tamat, rasanya mak othor deg2an...cinta banget dengan novel pertama ini...menyudahinya begitu berat🥺🥺😅😅😅 yuk, tetap setia di novel selir persembahan, yaaaa❤️❤️)