
Xiao Yi menatap barang-barang yang kini berada di atas mejanya, sebagian memang adalah miliknya. Kecuali chai kumala biru, dia merasa tidak berhak atas benda itu.
Surat lusuh yang terlipat-lipat itu hampir robek, tapi masih cukup jelas semua adalah tulisannya.
Sebuah tusuk rambut pemberian Yang Mulia, yang setahunya telah di ambil Jiu Fei.
Dan terakhir adalah sebuah surat peringatan tentang racun yang direncanakan akan di minumkan padanya, pada saat penobatannya nanti. Kematian Xiao Yi akan menjadi isyarat terbuka penyerangan terhadap Yang Mulia Yan Yue.
"Apapun yang terjadi jangan pernah meminum anggur perjanjian itu, supaya kamu tetap hidup"
Kalimat terakhir pada bagian bawah surat Zhao Juren membuat matanya tak berkedip. Kepalanya berputar, memikirkan apa yang harus dilakukannya.
Rencana ini memang sudah diatur sedemikian rupa, jika Xiao Yi meminumnya maka dia akan mati dan itu menandakan peperangan terhadap raja Yan Yue di mulai.
Tapi jika dia tidak meminumnya, maka berarti dia di anggap sebagai calon permaisuri pembangkang yang mungkin mempunyai rencana berkhianat, mengingat anggur perjanjian setia pada negara itu sangat sakral.
Jika itu sampai dilakukan, maka akan dijadikan alasan untuk menuduh selir Yi sebagai pengkhianat dan menimpakan semua kesalahan kepada raja Yan Yue.
Xiao Yi terpekur, mengelus perutnya yang terasa semakin besar itu. Racun embun beku itu jika diminum sampai ujung tenggorokan saja pun bisa membuat pangkal lidah terbakar dan dia akan kehilangan suaranya
seperti selir Yuan tapi untuk jenis racun ini, berbeda dengan racun lili es, embun beku membuatnya kehilangan suara selamanya.
Perempuan ini tahu, dalam kondisi hamil seperti sekarang, sangat beresiko jika dia mencoba untuk meminumnya, tentu saja itu akan membahayakan bayi-bayinya.
Xiao Yi memejamkan matanya, jarinya mengetuk-ngetuk meja di depannya.
Lalu, tiba-tiba mata secerah kejora itu terbuka, berbinar seperti kilatan bintang. Dia tahu selalu ada jalan keluar untuk semua masalahnya, jika dia memikirkannya dengan tenang. Sesulit apapun itu.
Dengan kedua tangannya dilipatnya surat peringatan yang ditulis oleh Zhao Juren padanya. Ketika dia selesai melipatnya, tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah tulisan kecil.
"Chue Lian telah kembali dengan damai ke Nanxing di antar oleh daun-daun kering Wisteria"
Xiao Yi, termangu menatap tulisan itu beberapa lama, kemudian dia menyadari bahwa makaud dari tulisan itu adalah tentang Jiu Fei.
Yang Mulia membuatkan istana Chue Lian untuk Jiu Fei dan memberikannya nama bangunan itu sebagai istana Chue Lian atau istana cinta pertama.
__ADS_1
Jiu Fei sang cinta pertama Yang Mulia Yan Yue telah pulang ke Nanxing?
Alis Xiao Yi bertaut sambil menggenggam tusuk rambut berukir lotus di tangannya, rasanya mustahil setelah belasan tahun mengurung diri dalam Kuil Sunyen, Jiu Fei kembali ke Nanxing, mengingat di sana dia di anggap sebagai pengkhianat karena lrbih memilih mengikuti raja dari negara musuh orang-orang Niangxi.
Rakyat Niangxi di Nanxing, telah memberikan cap abadi pada gadis itu sebagai penghianat bangsa. Jika dia kembali sekalipun, maka sia hanya datang untuk menyerahkan nyawa.
Tapi kalimat terakhir bahwa sang Chue Lian diantar oleh daun-daun wisteria yang mengering membuat Xiao Yi menyadari sebuah kejanggalan. Kemudian raut wajah cantik itu seketika muram, berbalut dalam kesedihan.
Dia tahu, maksud dari kalimat itu, Ji Fei mungkin telah pulang dalam arti yang berbeda. Gadis itu telah tiada.
Kesedihan yang aneh merasuk ke dalam hatinya, entah mengapa datang begitu saja. Dia seperti merasakan sendiri penderitaan Jiu Fei sepanjang hidupnya, menyembunyikan perasaan cinta di dalam kuil sampai ajal menjemputnya.
Entah bagaimana cara Jiu Fei pergi, tapi tetap saja hatinya merasa sakit.
Xiao Yi mengumpulkan semua barang di atas meja itu ke dalam kantong beludru berwarna ungu itu.
"Chu Cu...!" Suaranya terdengar lantang, memanggil pelayan setianya itu.
Tanpa menunggu dua kali, pelayan muda otu muncul tergopoh-gopoh dari belakang pintu kamar Xiao Yi.
"Baik, nyonya..." Chu Cu segera pergi tanpa membantah.
Tak lama pengawal Cun yang bertugas sebagai kepala pengawal pribadi calon permaisuri di bawah perintah khusus Yang Mulia itu tiba.
Dia memang berada di luar istana Xingwu, tak pernah kemana-mana karena dia di titahkan untuk selalu mengamankan selir yang sedang mengandung anak raja itu.
Dia bertanggungjawab penuh atas keselamatan Xiao Yi dan satu-satunya yang di percaya oleh Xiao Yi untuk berada di dekatnya selain Chu Cu, sejak pengawal Cun menjadi pengawalnya di Youwu dalam masa penyembuhan sir Yuan beberapa bulan yang lewat.
"Cun Menghadap nyonya..." Pengawal Cun membungkuk dalam-dalam.
Xiao Yi menyuruh Chu Cu menutup pintu dan memberi isyarat pengawal Cun mendekat.
"Aku akan membuat suatu rencana, yang hanya kamu saja mengetahui dan menjalankannya. Tidak boleh ada yang tahu. Bahkan Yang Mulia sendiripun tidak perlu mengetahuinya..."
Kata Xiao Yi sambil memasang wajah yang serius.
__ADS_1
...***...
Malam merayap dengan cepat, Yang Mulia baru saja habis menyantap makan malamnya di istana Rongyu.
Kegelisahan terasa begitu menganggu, dia sangat kuatir dengan upacara penobatan Permaisuri yang hanya empat hari lagi. Begitu banyak bahaya dan ancaman yang diam-diam di lancarkan dari balik kegelapan.
Yang Mulia Yan Yue tidak menyangka, hampir separuh dari para petinggi istana adalah pengikut dan antek-antek dari ibu suri.
Jikapun dia ingin menuding langsung di hidung ibu suri dengan menggunakan haknya sebagai raja, maka pergolakan di dalam istana tak bisa lagi di hindari.
Siapa yang bisa menerka, pihak mana yang akan menang atau kalah, apapun yang terjadi pada upacara penobatan nanti, tetap saja harus mengorbannya darah dan nyawa.
Yang Mulia tahu, perselisihan itu tak akan bisa di hindari, hanya saja mungkin bisa diminimalkan korban jiwa yang mungkin harus terjadi.
Semua kerusuhan sebagai pengalih perhatian dari para pemberontak telah berhasil dipadamkan diam-diam dari dalam sesuai dengan rencana yang disusun olehnya dan Xiao Yi.
"Yang Mulia..." Tiba-tiba Kasim Chen masuk dengan wajah tegang.
Yang Mulia memicingkan matanya, sedikit terkejut dengan raut wajah kasim itu.
"Ada apa?" Tanya Yang Mulia.
"Yang Mulia, ibu suri ingin bertemu dengan Yang Mulia..." Jawab Kasim Chen dengan sedikit ragu
"Ibu Suri?" Wajah Yang Mulia seketika menegang.
"kapan?"
"Sekarang ibu suri sedang menunggu di luar..." Jawab kasim Chen.
"Jika Yang Mulia tak ingin bertemu, saya akan mengatakan, Yang Mulia sudah tidur..." Kasim Chen berkata dengan sedikit takut melihat raut aneh Yang Mulia.
Yang Mulia berdiri dari duduknya dan berkata,
"Suruh saja dia masuk..."
__ADS_1