SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 124 HIKAYAT PERANG DAN KEKUASAAN


__ADS_3

"Itulah tugas seorang raja, tidak hanya duduk diam di atas singgasana. Untuk tidurpun seorang raja tidak pernah benar-benar terlelap, karena jika kamu lengah maka kamu akan bangun dalam keadaan negaramu sudah tercerai berai tak berbentuk. Tanggung jawab seperti ini, siapakah yang sanggup memikulnya?"


Ucapan Xiao Yi sekarang seperti gelombang menghantam karang, keras dan tajam.


"Tapi jika menjadi raja, kita bisa menegakkan keadilan dan kedamaian di dunia ini, mengapa tidak kita mencoba memikul tanggungjawab itu? Bukankah menjadi sangat mulia, seseorang yang bisa mendahulukan kepentingan orang banyak dari pada diri sendiri?" Pangeran Yan Chyou menukas, dia bisa merangkai kata-kata bijak karena dia cukup pintar dan sangat suka membaca berbagai buku.


"Pangeran Yaoshan ternyata sangat bijak." ucap Xiao Yi sambil memberi kode kepada Chu Cu untuk menuangkan segelas arak beras kepada Pangeran Yan Chyou.


Pujian dari Xiao Yi membuat pangeran berwajah tenang ini tersenyum puas, dia yakin dia adalah kandidat yang kuat menjadi seorang raja.


"Tapi seorang raja harus tegas dan kuat, jika tidak demikian maka hancurlah kerajaan yang dipimpinnya. Karena pilar sebuah bangsa yang di segani adalah kekuatan dan pengaruh seorang raja!" Pangeran Yan Yaoshan berkata dengan lantang.


"Lihatlah Yang Mulia, adik-adik Yang Mulia ternyata adalah orang-orang yang bijak dan pemberani, apa yang membuat Yang Mulia risau lagi, jika mereka ada di samping Yang Mulia, negara ini akan di tulis dalam sejarah dari generasi ke generasi sebagai kerajaan terhebat sepanjang masa." Xiao Yi mempersilahkan Pangeran Yan Yaoshan meminum segelas anggur yang di suguhkan oleh Chu Cu dalam cangkir porselen.


"Ya, aku tidak sadar ternyata adik-adikku ini tumbuh menjadi dewasa dan begitu berbakat. Mereka adalah saudara-saudara yang selalu ada di dalam semua musim hidupku." Yang Mulia melemparkan senyum haru, yang membuat kedua pangeran itu begitu jengah dan malu dalam hati, mengingat bagaimana inginnya mereka melenyapkan sang kakak untuk segera duduk di singgasana raja.


"Tapi, apakah menjadi pintar dan kuat itu cukup untuk membangun sebuah negara yang damai, makmur dan adil?" Tiba-tiba Xiao Yi mengernyit dahinya, seperti sedang mengingat sesuatu di kepalanya.


"Ada satu cerita tentang raja perang yang dikisahkan ibuku pada waktu aku masih sangat belia, pernah ada satu bangsa, dipimpin oleh seorang raja yang menurut banyak orang sangat tidak adil, bangsa yang dipimpinnya merasa tertindas dan dan diperlakukan dengan penuh kekerasan di bawah pemerintahan sang raja." Xiao Yi menatap ke arah Pangeran Chyou dengan tatapan begitu hangat.

__ADS_1


"Seorang jenderal yang merasa dirinya lebih bijak dan pintar melihat hal ini dan tersentuh hatinya untuk membuat kedamaian. Dia ingin memberi keadilan untuk semua rakyat, yang menurutnya tidak diperhatikan secara benar oleh sang raja. Lalu memberontaklah jenderal tersebut, memerangi pemerintahan dan menggulingkan raja lama yang dianggap tidak mampu menjadi adil dan bijak untuk bangsanya." Xiao Yi menghela nafas, dia merasa sedikit tidak nyaman karena semua pasang mata sekarang sedang melihat kepadanya. Bahkan Yang Mulia tak berkedip menatap selirnya itu.


"Dia mempunyai alasan yang kuat untuk menggantikan raja, yaitu demi membuat kemajuan untuk bangsa yang dipimpinnya.


Raja lama dibunuh dan jasadnya dibuang untuk makanan binatang, kemudian Jenderal itu mengangkat dirinya sebagai raja baru, mempersatukan rakyatnya dan membuat bangsa mereka menjadi bangsa yang paling kuat dan hebat, sehingga menurutnya bangsa mereka paling benar diantara bangsa lain." Xiao Yi menatap kepada Pangeran Yan Yaoshan yang berwajah keras dan angkuh itu.


"Tapi, apakah kekuasaan bisa memuaskan hati orang yang merasa dirinya lebih pintar dan bijak dari orang lain? Ternyata tidak, kekuasaan tidak pernah merasa cukup selama dia merasa ada yang lebih tinggi dari dirinya, bangsa yang dipimpin raja baru ini menyerang bangsa-bangsa lain, dengan alasan negara yang lain itu harus menikmati keadilan seperti negara yang dipimpinnya, sehingga dia dijuluki sebagai raja perang. Mereka menyerang dengan ribuan pasukan, membunuh semua laki-laki yang melawan, merampas para perempuan dan membunuh anak-anak yang tak berdaya, menjarah semua harta benda bangsa jajahan itu dibawah alasan perang untuk keadilan."


Yang Mulia, seperti mendengarkan sebuah cerita dari ayahnya ketika kecil, saat bagaimana mereka berperang untuk menggulingkan raja pendahulu, tapi benarkah kerajaan mereka telah benar-benar makmur sekarang? Xiao Yi yang cerdas seperti sedang ingin menasehati satu raja dan meredam ambisi dua pangeran sekaligus dengan sebuah cerita tanpa bersikap lancang.


"Setelah keberhasilannya menaklukkan satu kerajaan kecil, raja perang akhirnya kecanduan untuk menahlukkan kota-kota lain yang lebih besar, kekayaan bangsanya didapat dengan cepat meski dengan mengorbankan rakyat tak berdosa dari bangsa yang lain. Apa yang dipikirkannya lagi? bukankah raja mendapat banyak harta dan juga wanita?" Xiao Yi seperti sedang bertanya pada udara yang mendadak menjadi dingin.


"Dan terakhir, apakah semua orang selalu puas dengan seorang Raja? Tentu saja tidak, seorang raja selalu punya kelemahan di mata orang lain, sebijak apapun dia. Sehingga selalu ada alasan untuk menggulingkan raja lama dan mendudukkan raja yang baru. Terlalu lemah, terlalu kuat, terlalu kaya, terlalu adil, terlalu jahat bahkan terlalu baik selalu bisa menjadi alasan untuk membuka peperangan yang baru.


Kekuasaan selalu membuat oranglain silau ingin memangkunya, jika tidak disertai dengan sikap rendah hati dan rendah diri." Dengan tenang Xiao Yi mengambil secangkir teh dan memberikannya kepada Yang Mulia.


"Sedamai apapun bangsa itu kalau dia didirikan diatas darah banyak orang, ditegakkan dengan menjajah bangsa lain pasti selalu ada pemberontakan dan ketidak puasan rakyat penjajah dan rakyat terjajah.Tidak ada kedamaian murni yang di dapat dengan mengorbannya banyak orang untuk meraihnya meskipun dengan keyakinan kita lebih baik dan bijak dari oranglain." Xiao Yi menyudahi ceritanya itu.


Semua orang yang berada di ruangan itu, menatap kepada Xiao Yi dengan perasaan yang sungguh tak bisa di jabarkan. Mereka menyimpan perasaan yang berbeda pada seorang selir persembahan yang sebentar lagi di angkat menjadi permasuri raja itu.

__ADS_1


Mereka meremehkan seorang gadis muda dari perbatasan Yanzhi utara, ditepi sungai beku, Yalu. Tempat yang bahkan rumput enggan hidup di sana.


Ternyata, hidup dalam tempat yang terpencil dan keadaan yang terbatas tidak membuat seseorang menjadi bodoh tak berwawasan.


(Terimakasih untuk selalu setia membaca novel author yang kadang kala sok sibuk ini🤭 Kata seorang penulis terkenal, cerita yang bagus kadangkala memerlukan pemikiran yang lama meski hasilnya ini masih jauh dari bagus🙏😅, karena itu mohon pengertiannya andai author ini harus sedikit memerlukan waktu demi membuat satu episode😅 maklum author tidak sebijak selir Yi, tapi ingin membuat novel yang bagus🤣🤣🤣)


Author berharap novel ini, meskipun tidak sepopuler novel yang lain, tapi dicintai oleh para pembacanya dan di ingat dalam hati🤭 Maaf, author jadi rada ngehalu😂


Yang pasti, ini adalah novel pertama author, yang sangat author banggakan dan author tulis dengan segenap hati dan perasaan 🙏😆


Yuk, nantikan akhir makan malam bersama dua pangeran , bisakah Xiao Yi mencegah niat dua orang adik yang ingin memberontak pada kakaknya? Yang pasti makanan mereka telah hampir dingin🤭🤭 Akak janji akan UP besok siang🙏😅




...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....


...I LOVE YOU ALL❤️...

__ADS_1


__ADS_2