
"Kamu melakukannya untuk siapa?!" Suara Yang Mulia benar-benar seperti geledek.
Membuat tubuh tabib Li Sung bertambah gemetar.
Sejurus dia mengarahkan pandangan kepada Ibu Suri, tetapi tatapan dingin dengan hawa mengancam yang tersembunyi itu, membuat kepala tabib Li Sung menunduk dengan segera.
"Hukumlah saya, Yang Mulia...hukumlah saya seberat-beratnya atas dosa hamba." Tabib Li Sung menjatuhkan kepalanya di kaki Yang Mulia.
"Hamba akan menanggungnya seorang diri, hamba akan menanggungnya." Tangisan tabib Li Sung serupa sesenggukan, begitu pedih di telinga.
"Kamu tahu, hukumanmu tak akan mudah jika kamu menyembunyikan sesuatu dariku, bahkan untuk betemu kematianpun kamu harus memohon-mohon!" Yang Mulia berucap dengan murka.
"Janganlah menjadi keras kepala, katakanlah pada yang Mulia siapa yang ada di balik semuanya ini, maka aku akan berjanji meminta pengampunan untukmu kepada yang Mulia."Xiao Yi mengatakan hal itu dengan begitu pelan, setengah membujuk. Dia tahu, tabib ini menutupi sesuatu dan berada di bawah ancaman seseorang yang tampaknya begitu menakutkan baginya.
Tabib Li Sung menegakkan kepalanya, menatap ke arah Xiao Yi dengan memelas, sesaat dia mencuri pandang kepada sesorang seolah itu adalah isyarat.
Sejenak Xiao Yi merasa dadanya berdesir, tatapan itu tertuju pada sesorang yang tak disangkanya, tatapan dalam kilat ketakutan tabib Li Sung itu mengarah sesaat kepada panglima Zhao Juren seakan muara ketakutannya sungguh berasal dari orang itu, orang yang telah berjanji untuk melindungi Xiao Yi dengan segenap hatinya.
"Nyonya...bunuh saja aku..."Tabib Li Sung membungkukkan kepalanya rata dengan lantai. Dan dalam tangisnya, dia tidak lagi mengangkat punggungnya itu, sehingga jubah berwarna biru pupus yang dikenakannya hanya seperti onggokan kain yang tergeletak diatas tanah.
"Bawa perempuan ini ke dalam penjara bawah tanah, dan buatlah dia menderita sampai mulut busuknya ini terbuka, aku mau nama seseorang yang di sebutkannya itu besok pagi di aula Guangli!" Suara keras yang Mulia dengan gelombang murka itu menggetarkan dinding Xingwu.
Panglima Zhao Juren membungkukkan sedikit kepalanya, dan bersiap akan membawa tabib Li Sung itu pergi, ketika tangan Xiao Yi menahan bahu tabib Li Sung.
"Panglima Zhao..." Xiao Yi berdiri dan sejajar dengan yang Mulia, membuat mata Zhao Juren terasa perih. Dua orang itu berdiri serasi seperti lukisan.
"Karena sekarang tabib ini adalah orang hukuman istana, biarkan pengawal Jian yang akan menanganinya. Sebaiknya Tuan Panglima kembali dan beristirahat, bukankah sangat melelahkan mengejar seorang buronan pada saat tuan Panglima Zhao baru saja kembali dari tugas di perbatasan." Suara itu begitu lembut di telinga tapi membuat tidak hanya Zhao Juren yang terkejut tetapi ibu Suri yang sedari tadi berdiri di situ terkesiap.
"Bukankah demikian Yang Mulia?" Xiao Yi menoleh kepada wajah Yang Mulia yang masih merah padam karena amarah, tangannya terkepal begitu ingin menghantam kepala tabib itu dengan tangannya.
"Ku rasa selir Yi berkata hal yang benar. Silahkan Panglima Zhao kembali beristirahat, tabib ini akan di bawah tanggung jawab pengawal pribadiku sekarang." Kalimat itu serupa perintah, meskipun terdengar datar.
__ADS_1
Beberapa saat Panglima Zhao menatap ke arah Xiao Yi, seakan ingin mengatakan sesuatu. Tetapi kemudian dengan wajah yang tenang, badannya membungkuk hormat dan mundur, lalu berbalik dan pergi.
"Jian! Bawa perempuan ini ke penjara bawah tanah!" Yang Mulia mengangkat tangannya dan menyangganya di pinggangnya, matanya tak berkedip ketika pengawal Jian dan pengawal Cun masuk ke dalam ruangan itu lalu dengan setengah menyeret, mereka membawa tabib Li Sung pergi.
Di dalam ruangan itu, tersisa ibu Suri yang mematung memandang lurus kedepan seolah menembus tembok.
"Aku juga akan kembali." tanpa di suruh lagi, ibu Suri menundukkan wajahnya sedikit pada Yang Mulia, lalu berbalik dan berjalan menuju pintu. Gaunnya yang berwarna keemasan itu berkibaran halus, seirama dengan langkahnya sampai hilang di balik pintu ruangan Xingwu.
Yang Mulia berbalik menghadap Xiao Yi, pias wajah yang merah padam itu berangsur berubah, yang tersisa hanyalah kecemasan.
"Chenxing, apakah sekarang kamu baik-baik saja?" Yang Mulia tidak tahan untuk tidak memeluk Xiao Yi.
Keinginan itu sungguh ditahannya sedari dia tahu bahwa Xiao Yi sedang mengandung anaknya.
Tapi sebagai seorang raja, dia tidak ingin menunjukkan sikap yang berlebihan di depan semua orang.
"Aku baik-baik saja Yang Mulia." Xiao Yi membalas pelukan Yang Mulia dengan penuh kehangatan.
"Mengapa kamu tidak mengatakan kepadaku jika dirimu sedang hamil?" Yang Mulia berbisik di telinga Xiao Yi, seperti ruakan kebahagiaan yang berpadu kekecewaan.
Xiao terdiam, tak menyangka pertanyaan Yang Mulia yang hampir tak terdengar itu, seperti sebuah tuduhan bahwa selama ini Xiao Yi telah menyembunyikannya dari Yang Mulia.
Yang Mulia merenggangkan pelukannya, sementara Xiao Yi mengangkat wajahnya pada Yang Mulia yang sedang menatapnya setajam pedang.
"Mengapa kamu berpura-pura sakit seolah-olah semua yang dikatakan tabib itu benar?"
"Aku hanya..." Xiao Yi tidak melanjutkan ucapannya, dia sedang menyelidiki apa yang kini ada di kepala Yang Mulia tentang dirinya, berbohong atau bersikap jujur adalah dua pilihan selayaknya dua mata pedang, dia tidak ingin salah menjawab maka menyulut kesalahpahaman.
"Aku hanya tak ingin membahayakan janin yang ku kandung." Akhirnya Xiao Yi menjawab perlahan, dia memilih jujur daripada bersikap menyanggah dan berpura-pura tetap tidak tahu.
Yang Mulia memegang kedua bahu Xiao Yi, meremasnya meski tidak terlalu kuat.
__ADS_1
"Tapi kamu telah membuat satu kesalahan."
Xiao Yi terdiam, wajahnya semakin mendonggak kepada Yang Mulia, menjadi sedikit tegang.
"Kamu tidak mempercayaiku sebagai raja dan aku sebagai suamimu." Kalimat itu sangat datar, tapi Xiao Yi tahu, dia telah membuat Yang Mulia kecewa padanya.
"Dari pertama aku melihat reaksimu, saat tahu dirimu dinyatakan hamil oleh tabib Guo. Kamu mendengarnya tanpa sikap terkejut yang sebenarnya. Aku telah mengenal matamu itu, bahkan saat bibirmu mengucapkan hal yang tidak benar, matamu itu tak pernah bisa membohongiku."
Xiao Yi menundukkan wajahnya, dia tahu Yang Mulia masih menyimpan separuh kemurkaannya kepada tabib Li Sung, berusaha membela diri tak akan memperbaiki apapun.
"Anak yang kau kandung itu adalah anakku, bahkan aku berhak tahu lebih dulu tentang keberadaannya. Menyimpan segala sesuatu sendiri seperti kamu menganggapku tidak mampu melindungimu. Hal seperti itu lebih menyakitkan daripada ditikam dengan belati."
Baru kali ini Xiao Yi mendengar kekecewaan yang begitu dalam dari Yang Mulia selama bersama dengannya.
"Aku hanya ingin melindungi anak kita." Xiao Yi menyahut, dia tidak ingin menjelaskan apa-apa, karena itulah jawaban dan alasan yang dia punya.
"Apakah menurutmu, aku tidak punya kemampuan itu?" Pertanyaan Yang Mulia begitu sinis terdengar.
Xiao Yi sekarang kehilangan kata-kata, dia tak pernah menyangka masalah ini menjadi sangat di besar-besarkan.
"Beristirahatlah, besok kamu harus menghadiri persidangan di Guangli, untuk menghukum berat tabib pesakitan itu! Aku akan meninggalkan beberapa penjagaku untuk berada di pintu Xingwu, memastikan kamu dan anakku baik-baik saja." Yang Mulia membalikkan badannya dengan wajah dingin yang muram, seakan Xiao Yi benar-benar telah sangat menyakiti hatinya.
Xiao Yi memandang punggung jubah Yang Mulia, selama ini tak pernah Yang Mulia bersikap begitu dingin padanya.
Yang Mulia telah salah mengartikan maksud Xiao Yi.
...Dukungan dan VOTEnya author tunggu😅...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...
Semoga Author semakin rajin UP, ya...🙏😂
__ADS_1