
(Warning : Yang belum dewasa, part ini mohon di lewati😆 Harap pembaca bijak🙏)
Xiao Yi menahan perasaan jengah karena begitu menginginkan Yang Mulia, pesona laki-laki ini benar-benar membuatnya kebingungan sendiri.
Tangan Yang Mulia menempel begitu erat di pinggang Xiao Yi, pakaian tipis basah yang di kenakannya melekat di kulit putihnya, menampilkan lekuk-lekuk tubuhnya yang begitu indah.
Dalam beberapa saat mereka berdua terlena dalam ciuman yang sangat panjang dan lama, sampai ketika dada mereka hampir meledak dalam gairah.
Tangan dan kaki mereka saling mengait dengan tubuh menempel bergesek, memberikan sensasi yang benar-benar tak tertahankan. Kepala Xiao Yi sampai berdenyut-denyut hampir tak kuasa membuka mata.
Yang Mulia menarik tubuh Xiao Yi keluar dari bak mandi besar itu, dengan keadaan yang basah kuyup, air seperti hujan mengalir dan menetes dari gaun mereka yang menjadi berat karena air.
Xiao Yi terduduk di pinggir bak, kakinya sebelah masih tergantung di dalam air. Tapi Yang Mulia sungguh tak sabar, menyaksikan tubuh yang menerawang dalam balutan kain tipis putih yang melekat erat di tubuhnya. Dada Xiao Yi menonjol, seperti menantang begitu keras menegang. Sebuah siluet dalam garis sempurna mengikuti apa yang ada di balik kain tipis itu.
Yang Mulia menarik tubuh itu ke dalam pelukannya, menciumnya seperti orang yang dahaga. Tangan kanannya merayap turun naik, di tubuh Xiao Yi yang sekarang hanya bisa mendesah dalam ciuman yang hampir tak berjeda itu.
Sementara tangannya yang lain berusaha membebaskan dirinya dari jubah merah basah yang kini melekat di tubuhnya.
"Yue..." Xiao Yi, telapak tangan Xiao Yi bertahan pada bibir bak yang lantainya basah di belakang punggungnya, tubuhnya mencondong ke belakang, berusaha bertahan dari tubuh Yang Mulia yang kini merangsek benar-benar tidak sabar.
"Chenxing..." Yang Mulia memegang ujung gaun di bagian pundak Xiao Yi, lalu dalam sekali tarik kain tipis itu robek begitu saja, meninggalkan dada Xiao Yi yang terbuka tanpa terhalang lagi.
Xiao Yi merasa tubuhnya seperti terkena sengatan, tapi bukannya meringkuk menutupi, Xiao Yi sekarang pasrah dengan kepala terkulai kebelakang dan mata yang terpejam. Hanya mendesah saat dalam sekejap tubuhnya menjadi polos.
Dan dalam detik berikut, dia hanya merasakan tangan Yang Mulia yang begitu dingin, merayap menyusuri semua lekukan tubuhnya, dan menyasar semua bagian dadanya. Membuat darahnya menjadi panas seperti bara.
Xiao Yi tak punya kekuatan lagi membuka matanya, dia hanya menikmati semuanya dengan debaran jantung yang berpacu puluhan kali lipat dari biasanya.
Bahkan ketika Yang Mulia mendorong perlahan tubuhnya, ke lantai basah itu, Xiao Yi dengan patuh membaringkan tubuhnya.
Lalu, dengan lembut Yang Mulia, menggeser pahanya dengan begitu hati-hati, dan lantai keras itu pun tak bisa menahan semua gejolak yang coba mereka tahan.
__ADS_1
Nafas dan desah beradu, keringat dan air bahkan tak bisa lagi di bedakan. Mereka seperti berjalan bergandengan menyusuri pinggiran gunung, perlahan dan perlahan kemudian semakin lama ritme itu tanpa terasa semakin cepat kemudian mereka seperti di buru untuk harus berlari supaya segera bertemu puncak gunung. Dan ketika kawah yang menggelegak itu melepaskan lahar. Alam semesta sesaat seperti mendadak berhenti.
Dan erangan rasa puas setelah menemukan titik yang berusaha mereka gapai serta merta membuat mereka tak lagi bisa bergerak. Mereka saling memandang, mengatur nafas dengan mata yang berbinar dan kelelahan.
Yang Mulia tersenyum dengan nafas yang masih terdengar berat tak teratur. Memandangi wajah Xiao Yi yang menatapnya sayu, dengan nafas tak kalah berantakannya.
"Chenxing..."Yang Mulia mengambil tumpukan kain kering yang berada di sebuah baki, yang sengaja di tinggalkan pelayan saat Xiao Yi hendak mandi tadi, kemudian menutupkannya ke tubuh polos Xiao Yi.
"Kita bisa masuk angin kalau sepanjang malam, berada di bibir bak ini..." Yang Mulia terkekeh. Xiao Yi hanya membalasnya dengan senyum malu-malu.
Yang Mulia menyampirkan sisa kain ke tubuhnya sendiri.
Dan di detik berikutnya Yang Mulia menarik tubuh Xiao Yi yang hanya tertutupi kain seadanya, memondongnya menuju tempat tidur Xiao Yi di dalam ruangannya. Untung saja kamar mandi Xiao Yi itu adalah kamar mandi pribadi yang terhubung dengan ruangannya sendiri. Tak ada siapapun yang boleh masuk ke sana, jika tidak seijin yang empunya.
Dan nampaknya Chu Cu yang biasanya setia siap sedia di dalam ruangan Xiao Yi membantu gadis itu, sudah di usir Yang Mulia dari sana sedari dia masuk.
Xiao Yi bergelayut manja di leher Yang Mulia, dia tidak pernah bisa melepaskan tatapannya dari wajah Yang Mulia, dia sungguh benar-benar jatuh cinta pada laki-laki yang kini dengan gagah menggendong tubuhnya.
Xiao Yi tertawa kecil mendengarnya seiring dengan tubuhnya perlahan di baringkan di atas tempat tidurnya yang hangat, sebuah ciuman mendarat di bibirnya membungkam tawa itu.
Xiao Yi menarik selimut katun yang ada di atas tempat tidurnya lalu membungkus tubuhnya. Yang Mulia menindih tubuh ramping Xiao Yi, kedua lengannya menahan beban tubuhnya, sehingga sekarang wajah mereka saling berhadapan begitu dekat.
Yang Mulia menarik nafasnya, kelegaan luar biasa nampak di sorot matanya. Sebuah kebahagiaan yang terpancar begitu hangat
"Dengarkan aku baik-baik, Chenxing..." Ucapan Yang Mulia terdengar tegas.
Mata Xiao Yi tak berkedip menunggu, kalimat selanjutnya dari laki-laki yang tepat berada di atasnya itu.
"Aku mempunyai sebuah masa lalu, aku tidak berbohong pernah begitu mencintainya. Dia memiliki tempat tersendiri di hatiku, tapi tak lagi berada di tempat yang istimewa, karena tempat itu telah menjadi tempatmu sekarang." Suara Yang Mulia begitu jernih dan lembut.
Ucapan itu serupa hujan pertama di musim semi, begitu hangat sampai ke hati Xiao Yi.
__ADS_1
Membuang riak-riak kecil pada perasaannya yang sempat meragu, begitu menenangkan.
"Aku tahu, kamu pun tak berbeda, jika pernah ada orang lain dalam hatimu, itu bukanlah kesalahan. Mereka mungkin pernah ada dan berarti bagi kita, tapi takdir telah memberikan kita jalan untuk bertemu. Kita tidak harus melupakan mereka tapi cukup membiarkan saja kenangan lama berada pada tempatnya, berada di belakang kita." kata-kata Yang Mulia seperti menggema di udara, sampai ke langit-langit kamar. Merasuk sampai ke hati Xiao Yi paling dalam.
"Chenxing, bisakah kita meletakkan masa lalu kita pada tempatnya? Dan menjadi percaya satu sama lain?" Pertanyaan itu begitu hangat, tapi Xiao Yi hampir tak bisa menjawab. Suaranya hilang, saat air matanya tiba-tiba mengalir melewati kedua pelipisnya.
Xiao Yi mengangguk-anggukkan kepalanya, dia tahu yang mulia sedang ingin menjawab segala keraguannya. Dan jawaban dari Xiao Yi, sedang begitu di harapkan Yang Mulia.
"Ya, Yue ku...Ya, aku aku bisa..." jawabnya dengan suara serak yang hampir meledak. Sungguh begitu lega, melepaskan beban cinta yang selama ini di tanggungnya.
Yang Mulia mencium lembut kedua mata Xiao Yi yang berair itu, tanpa di sadarinya, dua bulir bening jatuh di cerukan kelopak mata Xiao Yi, dan itu air mata Yang Mulia.
Berpuluh musim, dia menanggung beban cinta yang tak kalah beratnya, dan sekarang dia merasa lepas dari semua penderitaan itu.
Berdamai dengan masa lalu bukan berarti harus melupakannya. Tapi menerima yang baru dengan hati tulus adalah obat yang mujarab untuk menjahit luka lama.
"Berjuanglah bersamaku, Chenxing...dan jangan pernah pergi dari sisiku." Bisik Yang Mulia dan membenamkan wajahnya di antara tumpukan rambut basah Xiao Yi.
Terimakasih atas dukungan semua readers, sekarang novel kita ini berada di jajaran novel populer genre romansa istana❤️❤️
Semua tak lepas dari banyaknya dukungan LIKE, KOMEN, HADIAH dan VOTE semua readers🙏🤗
...Author tambah semangaaaaaaat menulis jadinya🤗🤗...
...❤️...
...Author sayaaaang banget dengan kalian🤭...
...🙏🙏🙏...
__ADS_1