
Suasana Aula Guanli menjadi ribut, semua perhatian sekarang beralih kepada selir yang kini berdiri seperti patung, wajahnya yang lembut itu memerah.
Gubernur Su Zhue, ayah dari selir Nuo berdiri dengan murka.
"Pelayan kurang ajar ini, memfitnah putriku!" Teriaknya dengan suara lantang, meskipun badannya paling kecil dari semua perawakan semua pemimpin wilayah itu, tapi suaranya paling keras jika berbicara.
"Tidak mungkin! pelayan ini pasti berbohong!" Ibu suri menatap kepada selir Nuo yang sama sekali tidak berbicara. Dia tidak menyangk tapi tidak juga membela diri.
"Aku sangat mengenal selir Nuo, dia adalah selir pertama yang datang ke istana harem. Dan sudah di sini sejak dia berusia sangat belia."Kata ibu suri dengan pandangan tidak menerima.
"Pelayan ini harus di hukum gantung! Dia menimpakan kesalahan kepada anak saya, Yang Mulia!" teriak Ayah Selir Nuo
"Yang Mulia, saya mengatakan yang sebenarnya. Selir Nuo telah menyuruh saya melakukannya untuk menjebak selir Yi. Saya berani bersumpah..." Huanran berucap dengan bibir bergetar kemudian menangis ketakutan karena merasa tersudutkan.
Suasana aula Guanli sejenak seperti pasar, riuh rendah memperdebatkan kejutan yang sedang mereka lihat dan dengar.
"Aku sendiri yang akan membunuh pelayan sialan ini dengan tanganku, dia begitu berani merusak martabat keluargaku!"
Gubernur Su Zhue melompat ketengah aula dengan benar-benar di amuk amarah. tangannya teracung seolah hendak menghantam kepala Huanran menjadi kepingan, tetapi tangan Panglima Zhao Juren menahannya. Dengan sigap dihadangnya dan mendorong tubuh yang tak seberapa besar itu, hingga terjajar ke belakang.
Yang Mulia berdiri dari duduknya dengan tatapan setajam elang kepada gubernur Su Zhue.
"Jika anda tidak bisa bersikap tenang dalam persidangan ini, maka aku bisa membuat anda di keluarkan dari ruangan ini!"
Suara lantang tetapi dingin itu membuat ruangan itu mendadak seperti kuburan, hanya tangisan Huanran yang masih terdengar dalam sedu ketakutan.
Yang Mulia turun dari singgasananya, berdiri berhadapan dengan Zhao Juren, matanya sesaat menoleh kepada Qian Ren yang masih berlutut di lantai.
Tangannya memberi isyarat kepada Qian Ren untuk bangun.
Sekarang tiga lelaki itu berdiri saling berhadapan, mengurung seorang pelayan yang bersimpuh di lantai.
Tiga lelaki yang mempunyai perasaan yang sama kepada Xiao Yi, berusaha melindungi gadis yang mereka cintai.
Meskipun dari tempat dan kekuatan yang berbeda.
"Kembalilah ke tempatmu..." ucap Yang Mulia, tanpa menoleh kepada Qian Ren.
Qian Ren segera mundur, mendengar nada setengah memerintah itu. Dan kembali ke tempat duduknya, dimana sang ayah memandangnya dengan geram.
Setelah menatap sejenak kepada Huanran yang gemetaran di lantai lalu beralih kepada selir Nuo yang berdiri di sebelah selir Wei.
__ADS_1
Selir Nuo diam seribu bahasa, wajah lembutnya itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.
"Selir Nuo..." kata Yang Mulia dengan suara berat. Sekarang dia berhadapan dengan selir Nuo hanya tidak lebih dari sedepa.
Ini adalah pertama kali Yang Mulia begitu dekat dengan selir Nuo setelah terakhir kali dia membuka kerudung merah pengantinnya, tujuh atau delapan tahun yang lalu, bahkan Yang Mulia sudah lupa tepatnya.
Pertama kali pula dia benar-benar mengamati wajah selir pertamanya ini.
Usia mereka berdua sepertinya tidak terpaut jauh, hanya dua atau tiga tahun. Perempuan cantik berwajah anggun ini mungkin saja berusia hampir dua puluh lima tahun, tapi dia tampak lebih dewasa.
Selir Nuo mengangkat wajahnya, keberanian pertama kali yang dipunyainya untuk menatap wajah suaminya itu.
"Kau boleh menyangkalnya, jika tuduhan itu tidak benar..." Suara Yang Mulia perlahan, jauh di hatinya berharap perempuan ini mengatakan bahwa dia tidak melakukannya.
"Yang Mulia..." Bibir selir Nuo bergetar.
"Aku memang yang menyuruhnya..."
Jawaban pendek dan pelan itu seperti petir bagi semua orang. Sungguh suatu hal yang tak pernah di fikirkan jika perempuan selembut dan sebaik selir Nuo yang melakukan hal keji itu.
Suara riuh rendah terdengar, apalagi dari balik tirai para selir. Mereka benar-benar tak percaya dengan apa yang mereka dengar. Bahkan selir Mei yang penuh kebencian kepada selir Yi pun tak terfikirkan melakukan hal tersebut.
"Yang Mulia, aku tak menyesal melakukannya."
Ucap selir Nuo dengan yakin, meski suaranya bergetar.
Yang Mulia terhenyak di tempatnya, begitupun Xiao Yi. Dadanya terasa tiba-tiba sesak, tidak mengerti kesalahan apa yang telah dibuatnya sehingga selir Nuo tega melakukan hal itu.
"Nuo...!" Ayah selir Nuo berniat maju dengan wajah pucat pasi, tapi tangan Zhao Juren terentang seperti sayap menghalangi laki-laki tua itu.
"Ayah, aku memang melakukannya. Aku yang memberikan racun lili itu." Selir Nuo mengangkat telapak tangan kanannya, memperlihatkan warna hitam terbakar di sana sebesar koin.
"Aku sendiri yang memegang racun lili itu sampai tanganku terbakar, memasukkannya ke dalam buah goji berry kering." Selir Nuo tiba-tiba tertawa, dalam nada yang begitu kering.
"Yang Mulia, hukumlah aku...aku tidak takut jikapun kamu memenggal kepalaku, wajah buruk ini sudah tidak berguna sejak lama."Selir Nuo tersenyum, senyum itu teramat getir.
"Kenapa selir Nuo? kenapa kamu melakukannya?" tanya Yang Mulia, tak kalah getirnya.
"Karena aku sudah tak tahan lagi, Yang Mulia." Sahut selir Nuo cepat. Mata itu seperti kaca, tapi berusaha keras menantang tatapan iba lelaki di depannya itu.
"Delapan tahun yang lalu, aku di kirim ke istana ini sebagai selir Yang Mulia, apakah pernah Yang Mulia benar-benar mengingatnya? Aku datang dengan dada yang bergemuruh sebagai pengantin, tapi kemudian ditinggalkan di malam pertama seperti sampah. Apakah Yang Mulia pernah memikirkan sedikit perasaan ini?" Selir Nuo memegang dadanya, tatapannya lurus kepada Yang Mulia.
__ADS_1
"Bertahun-tahun aku tinggal di sini, berharap Yang Mulia sedikit melihat kepadaku. Tapi setiap kali aku berharap maka aku akan menangis sendiri,"
"Yang Mulia, aku mencintai Yang Mulia sebagai suamiku sejak pertama kali bertemu, aku berharap suatu saat Yang Mulia bisa menyadari itu! Tapi...delapan tahun adalah waktu yang terlalu lama, waktu yang terlalu panjang untuk sebuah kesabaran. Bersembunyi di balik senyum meskipun hati ini terluka." Selir Nuo menarik nafasnya, yang tersendat.
"Aku tidak pernah merasa begitu sakit, meskipun hampir setiap tahun seorang selir baru di berikan padamu! Sampai...dia datang ke istana ini!" Selir Nuo berbalik dan mengacungkan telunjuknya pada wajah Xiao Yi.
Mata itu benar-benar menyimpan dendam dan kecemburuan yang disimpannya dalam diam.
"Dia...bahkan tidak perlu satu hari datang ke sini untuk membuatmu jatuh cinta! Aku melihat sendiri bagaimana caramu memandang selir barumu itu di hari perjamuan penyambutannya!
Aku tidak pernah melihat tatapan itu Yang Mulia berikan kepada siapapun, kecuali kepada selir Yi!" dua titik bulir bening jatuh di pipi Selir Nuo.
Xiao Yi mematung di tempatnya berdiri dengan dada yang seperti di himpit batu, tak tahu harus berbuat apa.
"Aku merasa benar-benar buruk...benar-benar bodoh!" Selir Nuo memukul dadanya sendiri, dia menangis tapi begitu tangguh menyimpan isaknya dalam hati.
"Nuo..." Ayah Selir Nuo menggigit bibirnya, perasaannya begitu hancur melihat puterinya itu.
"Ayah..." Selir Nuo berbalik kepada gubernur Su Zhue.
"Ayah, selalu mengatakan betapa tak bergunanya wajahku, yang tidak dapat meluluhkan perasaan Yang Mulia, betapa tidak berbaktinya karena sebagai istri raja tak bisa membuatku memiliki anak darinya.
Ayah selalu menyalahkan aku untuk kehidupanku yang menyedihkan ini! Sekarang aku mengakhiri kehidupanku yang penuh kesialan ini, supaya ayah tak perlu berduka memikirkan putrimu ini..." Air mata selir Nuo seperti kolam yang kehilangan arah mengalir. Tumpah ruah bermuara di dagu cantiknya.
"Aku sudah mati sejak bertahun-tahun lalu jadi aku tidak takut mati untuk kedua kalinya." Dia mengakhiri kalimat itu, dengan wajah terangkat. Wajah lembut itu begitu keras dan berani. Dia sudah kehilangan semangat hidupnya sehingga tidak takut dengan apapun lagi.
Yang Mulia terdiam tanpa melepaskan tatapannya dari selir Nuo. Rasa sedih merasuk jiwanya, melihat keadaan perempuan ini.
Separuh dari dosa perempuan itu adalah berasal dari dirinya.
...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya yaaa๐๐ ...
...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...
...Biar author tambah rajin UP๐โบ๏ธ...
...Author sayaaaang banget dengan kalian๐คญ...
...๐๐๐...
__ADS_1