SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 69 PEDANG BERMATA DUA


__ADS_3

Yang Mulia mundur perlahan, menatap selir Nuo dengan raut penuh sesal.


"Tapi kamu telah melakukan kesalahan besar...kamu hampir menghilangkan nyawa orang lain untuk sakit hatimu ini." kata Yang Mulia, begitu tegas menekan rasa bersalah yang bergolak dalam bathinnya.


"Untuk mendapatkan cinta Yang Mulia, aku rela menukarnya dengan apapun. Tidak hanya dengan nyawa orang lain, bahkan dengan nyawaku sendiri." Desis Selir Nuo. Kalimat itu membuat Yang Mulia merinding, begitu sinis dan kejam.


Dia tidak pernah tahu, sikapnya selama ini membangkitkan dendam kesumat seorang perempuan sebaik selir Nuo, hanya karena cinta yang tak berbalas.


Sekuat itukah cinta? sehingga bisa membangkitkan iblis dalam jiwa seseorang?


Selir Nuo tidak menyahut, dia berdiri seperti karang, membeku seperti pohon di antara badai salju.


"Yang Mulia, saya memohon keadilan, Yang mencelakakan anakku, harus menerima hukuman." Gubernur Chie Weiheng, ayah selir Chie Yuan berdiri, air mukanya penuh dengan kegeraman.


"Aku juga memohon keadilan untuk anak angkatku selir Yi, Yang Mulia. Dia telah di fitnah dengan sangat kejam." Gubernur Qian Lie tiba-tiba ikut berdiri dengan seringai jahat.


Xiao Yi mencuri pandang dengan ekor matanya, pada gubernur Qian, ular tua itu sungguh sangat licik. Dia selalu mengambil kesempatan mencari muka dalam situasi apapun.


Gubernur Su zhue bersimpuh di lantai, wajahnya pucat pasi.


"Yang Mulia, ampunilah selembar nyawa anakku. Dia tidak tahu apa yang dia katakan. Ampuni lah Nuo Yang Mulia. Dia hanya buta oleh kecemburuan." Gubernur Su Zhue meletakkan dahinya di lantai aula dengan keras, dengan sangat ketakutan.


Berkali-kali hingga dahinya berdarah.


"Ayah, berdirilah...jangan memohon ampun untuk dosa yang ku perbuat. Aku melakukannya untuk diriku sendiri." Selir Nuo memeluk tubuh ayahnya, air mata mengalir deras.


"Diamlah, Nuo. Kamu tidak boleh berbicara lagi!" gubernur Su Zhue mengibaskan tangan anaknya, mendorongnya ke samping. Lalu kembali menjatuhkan kepalanya.


Seorang ayah yang begitu terluka, tak bisa mengatakan seribu penyesalan atas ketidak bahagiaan anaknya.


"Gubernur Su Zhue, hentikan!" Hardik Yang Mulia.


"Setiap kejahatan harus di hukum, untuk menegakkan keadilan bagi yang lain. Selir Nuo sudah dengan sadar mengatakan bahwa dia sangat tahu yang diperbuatnya salah dan tidak sedikitpun menyesalinya." Yang Mulia berjalan kembali ke singgasananya, tanpa menoleh kepada ibu suri yang berdiri seperti arca di pinggir tirai pembatas tempat para selir.

__ADS_1


Raut ibu Suri seperti es yang membeku, dingin menatap ke tengah aula di mana drama menyedihkan itu terjadi.


Gubernur Weiheng dan gubernur Qian segera duduk kembali. Hanya perdana menteri Xingguan yang berdiri di samping singgasana raja bersebelahan dengan kasim Chen.


"Karena semua fakta dan pembuktian serta pengakuan sudah jelas, pelaku kejahatan ini adalah selir Nuo dan seorang pelayan. Maka Selir Yi di bebaskan dari berbagai tuduhan." kata perdana menteri Xingguan.


"Selir Nuo dan pelayan Huanran, akan di jatuhi hukuman seperti yang di atur dalam hukum negara, dan di putuskan langsung oleh Yang Mulia raja Yan Yue sebagai raja Yanzhi" lanjutnya.


Pernyataan perdana menteri itu disambut tangis Huanran yang ketakutan karena akan menerima hukuman, begitupun ayah selir Nuo, mulutnya terbuka lebar, matanya membeliak seolah terkena serangan jantung.


Sementara selir Nuo, duduk bersimpuh di samping ayahnya, dengan pias yang datar.


"Ibu suri, apakah anda mempunyai pendapat lain?" tanya Yang Mulia tiba-tiba, melihat sikap ibu suri yang begitu aneh.


Ibu suri menoleh kepada Yang Mulia,


"Yang berbuat salah harus dihukum Yang Mulia, keadilan berada di tangan Yang Mulia." Sahutnya dan membungkukkan badan sedikit, kemudian kembali ke balik tirai.


"Mohon ampun Yang Mulia, apakah saya di ijinkan untuk berbicara?" tiba-tiba Xiao Yi mengeluarkan suara, begitu tenang.


Yang Mulia mengernyitkan dahinya, pada gadis yang hampir saja dihukum atas kejahatan yang tidak di lakukan olehnya.


"Silahkan selir Yi..." Yang Mulia mempersilahkan, dengan rasa penasaran. Selir Yi selalu mampu mengejutkan Yang Mulia dengan semua sikap dan tindakannya.


"Yang Mulia, selir Nuo melakukan kejahatan ini, sedikit banyak melibatkan diriku. Selir Yuan tidak akan celaka jika bukan karena selir Nuo membenciku." kata Xiao Yi, masih dengan ketenangan yang sama.


"Apakah aku boleh menghukumnya juga?" tanya Xiao Yi.


Yang mendengar pertanyaan Xiao Yi benar-benar heran, mereka tak menyangka jika Xiao Yi tidak puas dengan keputusan sidang itu. Seolah-olah dia tidak bisa menerima semua perlakuan yang dilakukan oleh selir Nuo padanya.


"Aku akan menghukumnya, selir Yi. Dengan sepantasnya. Kamu tidak perlu takut aku tidak memberi keadilan padamu juga." Jawab Yang Mulia.


"Selir Nuo sangat membenciku, sampai-sampai dia sanggup melakukan apa saja untuk membuatku menderita. Tentu saja, aku menjadi lebih takut daripada yang lain, mendengarnya.

__ADS_1


Nama baikku benar-benar dicemari, maka seharusnya keadilan untukku juga jangan di abaikan."


"Selir Nuo menuntut haknya sebagai istri, kejahatan seperti itu membuatnya benar-benar buruk! Sebagai wanita dia dibakar rasa cemburu, sungguh benar-benar tidak bisa di ampuni!" Kalimat yang keluar dari mulut Xiao Yi seperti pedang bermata dua, begitu sarkas.


"Cinta membuatnya gelap mata...dan siapapun yang berada di posisinya mungkin saja berakhir sama. Menjadi penjahat! Karena itu akupun merasa berhak menghukumnya, karena sesungguhnya mata panah yang ingin dia arahkan adalah semata-mata kepadaku."


"Kamu ingin menghukumnya dengan apa lagi?" mata Yang Mulia berkilat, tiba-tiba dia merasa janggal dengan sikap tak puas Xiao Yi. Seolah-olah yang di depannya itu bukan Xiao Yi yang di kenalnya.


"Aku pernah mengatakan, akan mempergunakan hak pita biru Yishu suatu saat, dan aku rasa sekarang adalah waktu yang tepat untukku mempergunakannya." Kata Xiao Yi lantang.


Selir Mei dari balik tirai menyunggingkan senyum, dia tak mengira Xiao Yi begitu licik dan jahat. Mempergunakan hak pita biru Yishu untuk memastikan selir Nuo tak bisa lepas dari hukuman berat. Yang Mulia tentu akan melihat, gadis yang sangat disukainya itu, tidak lebih baik sifatnya dari dirinya.


Yang Mulia berpandangan dengan kasim Chen dan perdana menteri. Mencari pertimbangan, karena sepertinya Xiao Yi sangat bersikeras.


"Hak pita Yishu tidak boleh dipergunakan berkaitan dengan politik dan negara." kata Kasim Chen.


"Ini tidak berhubungan dengan politik, aku menjamin dengan diriku sendiri."Sahut Xiao Yi cepat.


"Katakan apa yang menjadi permintaanmu, selir Yi..." Akhirnya Yang Mulia berucap dengan suara ragu dan hati-hati. Dia berdoa dalam hati, Xiao Yi tidak mengatakan ingin memenggal kepala selir Nuo dengan tangannya sendiri, karena itu akan membuatnya merasa kehilangan kepolosan hati gadis yang di cintainya itu.


"Aku meminta Yang Mulia mengabulkan permohonanku, dengan hak pita biru Yishu sebagai perantara, bahwa selir Nuo dan Huanran dihukum dengan menerima pengampunan. Mohon Yang Mulia, membebaskan mereka dari hukuman..." Xiao Yi menekuk lututnya dan bersimpuh di lantai.


Wajah itu begitu tenang dan tanpa beban.


...Yang suka dengan novel ini, kasih dong VOTEnya yaaa๐Ÿ™๐Ÿ˜…...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...โค๏ธ...


...Biar author tambah rajin UP๐Ÿ™โ˜บ๏ธ...


...Author sayaaaang banget dengan kalian๐Ÿคญ...


...๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™...

__ADS_1



__ADS_2