SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 157 CINTA PADA SAAT YANG TEPAT


__ADS_3

Tangan Chi Yuan memegang pergelangan tangan Qian Ren lebih gemetar dari tangan laki-laki itu.


"Kakak..." Mata Chi Yuan menatap sayu pada bola mata Qian Ren yang menatap lurus pada mata Chi Yuan.


"Maafkan aku..." Bisiknya lagi, bibirnya tak kalah gemetarnya dengan tangannya sendiri. Dia sadar, Chi Yuan di ambang kesadarannya.


Perlahan gaun penutup atasan Chi Yuan terbuka, menyisakan dudou berwarna putih bersih dari sutera bersulam, bagian lainnya hanyalah kulit putihnya yang semengkilat pualam.


Dengan sedikit memejamkan matanya, Qian Ren menarik tubuh Chi Yuan ke dalam pelukannya pada dadanya polos tanpa penutup.


kulit tubuh mereka berdua bersentuhan, hawa hangat mengalir seketika dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Qian Ren memeluk tubuh Chi Yuan dengan erat, tangannya mengait pinggang ramping yang tanpa penutup itu. Lalu tangannya yang lain menutup tubuh mereka berdua yang sama-sama bertelanj*ng dada dengan mantel sehingga tubuh mereka berdua menempel dan menyatu.


Sesaat mereka berdua terdiam dengan tegang, degup jantung mereka berdegup lebih cepat, detaknya menembus kulit tubuh masing-masing.


"Maafkan aku, Yu'er...aku terpaksa melakukannya." Permintaan maaf yang keluar dari bibir Qian Ren hampir tak putus-putusnya.


Dia tahu, ini melewati batas, tapi keselamatan Chi Yuan lebih penting dari segalamya.


Dengan begini dia bisa tetap menghangatkan badan Chi Yuan, sehingga suhu tubuhnya akan perlahan normal kembali.


Chi Yuan tidak menyahut dia begitu pasrah di dalam pelukan laki-laki yang telah di cintainya bahkan jauh sebelum dia menjadi selir seorang raja.


Deru nafas mereka bersahutan, Qian Ren terus memeluk erat tubuh Chi Yuan berselimut mantel sampai keduanya merasa hawa panas mengalir melewati pori-pori kulit mereka, bahkan tubuh Chi Yuan yang semula dingin itu perlahan menjadi hangat.


Bibirnya yang semula pucat membiru menjadi lebih segar.


Qian Ren tak berani menatap wajah gadis di dalam pelukannya, dia merasa begitu takut dengan apa yang di lakukannya ini melukai perasaan dan harga diri Chi Yuan. Tapi sungguh dia terpaksa melakukannya. Dia tidak punya pilihan. Hampir setengah jam mereka berada dalam posisi aneh seperti itu, hening, larut dalam fikiran masing-masing, saling membiarkan bahkan menjadi menikmati waktu-waktu yang terasa berjalan lambat itu.


Setelah denyut nadi Chi Yuan menjadi normal, Qian Ren mendorong perlahan tubuh Chi Yuan hendak melepaskan pelukannya setelah sekian lama mereka berdempetan dengan kulit dada saling menempel.


"Kak Ren..." Chi Yuan tiba-tiba bersuara, tangannya sekarang yang perlahan memeluk pinggang Qian Ren. Tak lagi gemetar seperti sebelumnya.


"Yu'er..." Qian Ren menatap kepada wajah yang mendonggak hampir berjarak hanya sejengkal dari wajahnya.

__ADS_1


"Kak Ren, " Chi Yuan semakin mengangkat wajahnya dengan tatapan nanar.


Dalam keremangan lentera yang seadanya itu, dia melihat mata yang menatapnya sayu dan penuh harap.


"Yu'er...aku harap kamu tidak marah, jika aku telah berlaku tidak sopan." Ucap Qian Ren dengan wajah segan.


"Kak Ren, bisa kah kamu memelukku lagi?" Pertanyaan itu setengah berbisik, terdengar serak di telinga Qian Ren.


Sejenak Qian Ren tertegun mendengar permintaan itu, dadanya berdegup lebih kencang, terpaku pada wajah yang kini menatapnya tak berkedip.


"Aku..." Qian Ren tak tahu harus berkata apa, tapi matanya tak beralih dari bibir yang sedikit terbuka itu.


"Aku tidak berkeberatan, jika kak Ren memelukku sepanjang malam." Suara itu terdengar samar dan tercekat pada ujungnya, membuat Qian Ren merasa pusing sesaat. Dia tak tahan melihat bibir itu bergerak sedemikian rupa.


Lalu perlahan, jemarinya merayap dari pinggang Chi Yuan naik ke belakang leher gadis itu, menahannya leher itu supaya wajah cantik itu mengarah hanya padanya.


Entah naluri apa yang membawa, wajah Qian Ren mendekat lamat-lamat ke wajah Chi Yuan yang tak berkedip menatap matanya, mata bulat itu seakan bercerita tentang rindu yang begitu lama terpendam bahkan hampir berkarat di dasar hatinya.


Di jenak berikutnya, bibir Qian Ren menempel pada bibir Chi Yuan, nafasnya yang hangat menderu di kulit wajah perempuan yang kini memejam kedua matanya.


Kuku jemari Chi Yuan menekan sampai ke kulit punggung Qian Ren sementara badannya melengkung aneh dalam pelukan laki-laki yang sangat di sukainya itu.


Semula ciuman itu begitu ragu, tapi saat Chi Yuan kemudian terdiam pasrah, Qian Ren tahu dia melakukan hal yang benar, Chi Yuan menginginkannya, mereka berdua sama-sama menginginkannya.


Salju yang turun seolah tak ingin berhenti, udara yang dingin seolah tak lagi dirasakan, kedua orang itu berpelukan erat dengan nafas yang menyatu.


"Kak Ren, aku...aku menyukaimu..." Chi Yuan yang polos mengucapkan kalimat itu terbata-bata, saat Qian Ren melepaskan ciumannya yang lembut dan hangat.


Lalu dengan segenap keberanian, Chi Yuan mengaitkan kedua tangannya di leher Qian Ren.


Sekarang, dengan mata yang terbuka sadar dia mendekatkan wajahnya pada Qian Ren yang terpaku menatapnya, seolah sedang meraba perasaannya sendiri.


Rasa kesepian, rasa patah hati, rasa sakit seakan menguap saat dia berada di dekat Chi Yuan. Gadis ini sangat mengerti dirinya, bajkan dia mengerti jika dulu Qian Ren begitu mencintai Xiao Yi.


Qian Ren tak tahu, entah kapan, Chi Yuan telah menguasai sebagian tempat di hatinya. Sekarang dia tak bisa menolak keinginannya untuk memeluk gadis ini lebih erat, tak perduli dia siapa.

__ADS_1


Ketika bibir Chi Yuan menyentuh bibirnya, Qia Ren membalasnya dengan tak sabar, Ciuman itu tak lagi lembut dan pelan tapi menjadi panas membara.


Jari jemari Qian Ren menyusuri tiap lekuk tubuh yang kini terbuka dari mantel yang menyelimuti badan mereka berdua.


Anak rambut Chi Yuan yang jatuh di atas dahinya, di singkirkan Qian Ren dengan telunjuknya lalu, dengan punggung jarinya, dia mengelusnya, dari atas sampai lehernya yang jenjang itu.


"Aku juga menyukaimu, Yu'er..." Bisik Qian Ren di telinga Chi Yuan, suaranya tak lagi bergetar. Suara itu penuh keyakinan.


Air mata Chi Yuan jatuh di sudut matanya, dia memejamkan matanya dengan perasaan yang begitu bahagia. Dia tak pernah sebahagia ini dalam hidup, merasakan kasih sayang dari orang yang di sukainya, dan itu sungguh sempurna.


Air mata itu, mengenai pipi Qian Ren, terasa hangat. Qian Ren tertegun, membuat lelaki itu menarik wajahnya dengan terkejut,


"Kenapa kamu menangis? Apakah aku menyakitimu?" tanya Qian Ren dengan cemas.


"Aku hanya begitu bahagia..." Chi Yuan menjawab dalam suara parau.


Qian Ren tersenyum haru, dia berjanji tak akan melepaskan Chi Yuan, dan akan memperjuangkan Chi Yuan dengan segala cara untuk tetap bersamanya. Kesalahan di masa lalu tak ingin di ulangnya. Dia yakin, Chi Yuan adalah perempuan yang pantas untuk diperjuangkan.


Di luar pondok itu, salju terus saja turun membuat gumpalan-gumpalan putih di atas tanah di dalam gelap malam yang dingin.


Dua orang yang sedang di mabuk cinta, berc*mbu dengan liarnya, mereka saling membalas melepaskan perasaan yang sarat rindu.


Ya, cinta selalu datang tak terduga, meski bukan pada waktu yang di inginkan tapi dia tak pernah salah menetapkan orang yang berhak memilikinya.


Cinta datang dan siapa yang bisa menahannya?


Cinta datang...siapakah yang bisa menghalaunya?


Cinta selalu tepat waktu pada orang yang tepat.


(Terimakasih sudah mengikuti kisah ini, Qian Ren telah menemukan jodohnya, meskipun bukan dengan cinta pertamanya Xiao Yi, tapi kadang kala cinta kedua lebih hebat untuk di rasa😅)



...Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy up🤭🤭...

__ADS_1


__ADS_2