SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 27 TUAN ZHAO JUREN


__ADS_3

"Nona...nona...!" Tuan Ding menyibak kerumunan dengan wajah pucat pasi. Dia mendengar ada keributan di depan kedainya, dan dia takut sekali terjadi apa-apa menimpa nona muda, yang di titipkan Yang Mulia untuk di jaga olehnya tadi.


Yang Mulia Yan Yue tentu tidak akan mengampuninya, jika terjadi sesuatu dengan gadis itu.


"Nona tidak apa-apa?" Dia terbungkuk-bungkuk dengan rupa gugup luar biasa.


Xiao Yi menoleh dan tersenyum menenangkan Tuan Ding.


"Aku baik-baik saja. Tuan ini telah menolongku..." Xiao Yi menunjuk kepada tuan muda gagah di depannya itu, tatapannya seperti elang, menusuk sampai ke sanubari.


Sementara kerumunan yang menonton kejadian di depan kedai itu perlahan-lahan bubar.


"Tuan...Tuan Zhao..." Pemilik kedai itu langsung membungkuk dalam-dalam dengan sangat hormat. Xiao Yi mengernyit dahi, siapakah tuan Zhao ini, sampai-sampai tuan Ding bersikap begitu.


Tentulah dia adalah orang yang terhormat.


"Terimakasih tuan, atas bantuannya" Xiao Yi membungkuk sedikit menyatakan terimakasih.


"Saya hanya kebetulan lewat saja." Tuan Zhao menyahut, matanya tetap tertuju pada Xiao Yi, tak berkedip.


"Tanpa saya ada pun, saya rasa nona ini bisa mengatasinya tadi, saya terpaksa ikut campur karena saya paling tidak suka melihat laki-laki yang melecehkan perempuan seperti itu." lanjutnya.


"Terimakasih Tuan Zhao, sudah menolong nona saya ini" Tuan Ding membungkuk lagi.


"Bawa mereka ke penjara! Berikan hukuman yang sepadan." Tuan Zhao memberi perintah kepada dua orang pengawal berseragam prajurit yang mengikutinya dari belakang.


Segera dua prajurit itu menyeret dua pemuda yang tergeletak tak berdaya di atas tanah itu dan memapahnya pergi dari situ di bantu dua prajurit lainnya yang baru tiba.


"Mari nona, kita harus segera kembali" Tuan Ding memberi jalan untuk Xiao Yi lewat.


"Terimakasih tuan." ucap Xiao Yi sambil menganggukkan kepala sedikit, berjalan melewati Tuan Zhao di ikuti oleh Tuan Ding, pemilik kedai teh dan Si pelayan Shuye.


Langkah gadis itu, di ikuti tatapan tajam Tuan Zhao, mata itu membara seperti ingin mengatakan sesuatu tapi dia menahannya, demi harga dirinya yang tinggi.


Gadis ini telah menarik perhatiannya dari saat melihatnya keluar dari kedai teh. Dari gerak gerik dan penampilan gadis itu, tidak sama dengan gadis kebanyakan. Biarpun gadis itu di bungkus dengan pakaian yang sederhana tapi dia yakin gadis ini bukan gadis biasa.


"Nona, sudah saya katakan, nona lebih aman menunggu Yang Mulia di dalam kedai." Suara tuan Ding terdengar masih gemetar saat Xiao Yi kembali ke mejanya dengan begitu santai.


"Tidak ada yang terjadi, aku baik-baik saja, tiada kurang satu apapun" Xiao Yi menyahut sambil tersenyum kecil.


"Tapi nona, jika tuan Zhao tidak tepat waktu...mungkin saja terjadi sesuatu pada nona" Tuan Ding masih bersikukuh dengan kekuatirannya. Shuye mengangguk dengan takut, sambil membawakan teh baru karena teh sebelumnya sudah dingin dan cemilan baru yang masih panas.

__ADS_1


"Tidak perlu di besar-besarkan itu cuma masalah kecil!" Xiao Yi menuangkah teh ke dalam gelasnya dan meneguknya teh yang masih hangat itu dengan cepat. Dia benar-benar haus setelah kejadian tadi.


"Tapi kalau Yang Mulia tahu, dia akan marah besar. Kami mungkin akan menerima hukuman, karena telah mengabaikan perintah Yang Mulia"


"Dia tidak akan tahu, jika tidak ada yang memberitahunya kan?"


Xiao Yi meletakkan jari telunjuknya di bibirnya yang ranum. Sebelah matanya berkedip, dengan riang.


"Tapi jika ada yang memberi tahu?"


"Siapa yang akan memberi tahu, kalau semua mengunci mulutnya rapat-rapat?"


Tuan Ding nampak menggaruk kepalanya, mendengar pertanyaan gadis ini.


Baru kali ini Yang Mulia Yan Yue membawa seorang gadis bersamanya, setelah bertahun-tahun dia bekerja sebagai mata-mata Yang Mulia. Gadis cantik polos yang sangat unik. Dia benar-benar menyukai gadis ini.


Tuan Ding tidak berani bertanya siapa jati diri gadis ini, tapi tampaknya Yang Mulia Yan Yue sangat melindungi dan mempercayainya.


"Eh, Tuan itu tadi siapa?" Xiao Yi mengernyit dahinya, teringat laki-laki berjubah linen ungu lavender tadi.


" Nona tidak mengenalnya?"


"Tidak..."


"Ya..."


"Nona tidak pernah bertemu dengan tuan Zhao di dalam istana?"


Xiao Yi menatap Tuan Ding dengan alis bertaut. Selama ini, meskipun di dalam istana dia jarang keluar dari wilayah istana harem. Bagaimana bisa mengenal banyak orang di dalam istana.


"Apakah aku harus mengenalnya, jika aku dalam istana?"


"Nona, tidak ada orang yang tidak mengenal Tuan Zhao Juren, panglima perang kerajaan Yanzhi" Tuan Ding berucap setengah berbisik. Matanya sipit kecilnya melotot sehingga membuat raut wajahnya tampak lucu.


"Dia...panglima Zhao Juren yang di ceritakan orang itu?" Xiao Yi memicingkan matanya tidak yakin. Yang di bayangkannya, Panglima perang Zhao Juren itu adalah laki-laki yang sangat besar seperti raksasa dengan banyak codet, dan tentunya tidak semuda laki-laki yang ditemuinya tadi malah parasnya menunjukkan usianya mungkin sepantaran Yang Mulia Yan Yue.


"Dia panglima Zhao Juren?" Xiao Yi masih tak percaya. Tuan Ding menganggukkan kepalanya.


Xiao Yi hanya manggut-manggut, banyak sekali yang tidak dia tahu tentang istana.


Lewat tengah hari, Yang Mulia Yan Yue kembali bersama para pengawalnya.

__ADS_1


"Chenxin...saatnya kita kembali...!" wajah Yang Mulia tampak memerah, basah oleh keringat.


Xiao Yi segera mengambil keranjang manisan madunya, dia juga sudah bosan menunggu begitu lama di dalam kedai teh ini. Pengunjung sudah datang dan pergi silih berganti, tapi dia hanya menunggu saja di situ.


"Tetap awasi perkembangan dari pergerakan rumah dagang Shicou" ucap Yang Mulia, dengan volume rendah, kepada Tuan Ding.


Tuan Ding, membungkuk dalam-dalam, sambil mengantarkan mereka berjalan keluar dari kedai.


Berselang tujuh bangunan dari kedai itu, mereka berhenti di sebuah rumah dari kayu dengan pekarangan rimbun. Disitu dua pengawal Raja, sudah menunggu dengan lima ekor kuda.


"Chenxing, naiklah..." Yang Mulia menjulurkan tangannya. Xiao Yi tampak bingung sambil memeluk keranjang manisan madunya.


"Bagaimana aku menaiki kuda sambil mbawa ini?" tanya Xiao Yi polos.


"Kau boleh memeluknya erat-erat sambil menaiki kuda."


"Bagaimana aku bisa memeluknya erat-erat sambil menunggang kuda? bagamana aku menarik kekang kuda? Bagaimana...?"


"Naik saja!" Suara Yang mulia setengah menghardik.


Dengan muka masam, Xiao Yi menyambut tangan Yang Mulia, kesal dengan perubahan sikap raja itu. Sudah dia di tinggal begitu lama, sekarang seenaknya membentak dirinya.


Saat dia menoleh ke sekeliling, semua orang sudah diatas kuda, barulah Xiao Yi sadar kuda mereka kurang satu.


"Kuda yang mulia di mana?" pertanyaan itu baru sampai kerongkongan tapi dia merasakan hentakan yang kuat di atas punggung kuda, Yang Mulia sudah berada di belakang punggungnya.


Xiao Yi memalingkan wajahnya dengan terkejut dan hidung bangirnya menyentuh dagu Yang Mulia.


Sesaat mata mereka bersirobok, tanpa berkedip. Dada Xiao Yi berdesir halus.


Mereka begitu dekat, bahkan Xiao Yi dapat merasakan degup jantung Yang Mulia Yan Yue menembus kulit punggungnya.


"Pegang keranjangmu kuat-kuat..." kalimat itu terdengar acuh tapi lembut, sebelum di detik berikutnya, Yang Mulia nenarik tali kekang, memacu kuda melewati jalanan kota menuju arah selatan dan arah itu berarti berlawanan dari arah gerbang istana raja.


"Kita kemana?" tanya Xiao Yi melawan derap kaki kuda.


"Kau akan menyukainya..." jawab Yang Mulia Yan Yue pendek.



...Terimakasih readers tersayang yang sudah mengikuti kisah Selir Persembahan🙏☺️...

__ADS_1


...Hari ini menepati janji UP 2 episode ya🤗🤗Nantikan episode berikutnya, ya😊...


...Silahkan komen di bawah, jangan lupa like dan dukungannya 🙏☺️...


__ADS_2