SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 75 BERDUA LEBIH KUAT


__ADS_3

(Mohon pembaca bijak, dibawah umur wajib skip 🙏☺️)


Dengan hati-hati Yang Mulia meletakkan tubuh Xiao Yi di atas tempat tidur beralas sutra hijau itu.


Aroma cendana yang harum menguar di udara, berasal dari sela-sela lubang anglo perunggu di atas meja, menyusup sampai ke kepala.


Xiao Yi menatap langsung bola mata coklat kehitaman itu, tanpa beralih sedikitpun. Membiarkan tubuhnya menyentuh dasar pembaringan. Perlakuan yang lembut dan hangat itu, benar-benar membuatnya menyerah tak bisa mengucapkan sepatah katapun.


"Chenxing..." Yang Mulia menarik jubah merahnya yang terasa menganggu dan melempar ke lantai tanpa menoleh.


Sesaat dinikmatinya pemandangan dimana Xiao Yi hanya menatapnya dengan nanar, seperti sedang terperangkap dalam sebuah jebakan.


Lalu dengan gemas Yang Mulia menyusupkan kepalanya ke leher Xiao Yi, menciumnya dari bawah telinga sampai bawah leher yang seputih pualam itu.


Xiao Yi meregang dengan wajah merah, matanya terpejam menikmati gelombang gairah yang sedang menerpanya.


"Yue..."Xiao Yi menggigit bibir bawahnya dengan keras ketika Yang Mulia menarik pita gaunnya dan menyibak atas bajunya dengan begitu perlahan dan penuh perasaan.


Yang Mulia benar-benar sedang menguji kesabarannya untuk menunggu detik-detik jemari Yang Mulia menyusup diantara kulitnya.


Dua bukit indah itu menegang, membuat gerakan Xiao Yi seperti cacing kepanasan. Bibirnya tak berhenti mendesah, tubuhnya menghiba mengharapkan sentuhan-sentuhan tanpa batas. Tapi Yang Mulia benar-benar mempermainkannya. Setiap gerakannya begitu pelan, lembut dan tak menurut. Di satu tempat jemari itu bergerak di saat yang lain akan berhenti.


Xiao Yi benar-benar tersiksa, seperti kehausan di tengah gurun.


Yang Mulia sangat tahu dan dia tak ingin memuaskan keinginan gadis yang sedang dilanda gairah itu. Dia menahan diri menunggu saat yang tepat untuk meledak.


Bibir Yang Mulia menyasar lembut bagian dada itu, jemarinya menyusup turun ke perut Xiao Yi yang kembang kempis mengendalikan nafasnya sendiri.


"Yue...Yue..."

__ADS_1


Yang Mulia begitu menikmati desahan Xiao Yi, tangannya semakin turun menjalari berbagai tempat yang begitu lembut dan mulus itu, mencari setiap lekuk dan ceruk, menepi di sana mengelusnya dan berjalan lagi sampai semua tempat di singgahinya.


Sementara bibirnya sekarang beralih kepada dua puncak dewa yang begitu menantang, kadang mengecupnya hati-hati dan kadangkala menyesapnya dengan rakus.


"Yue...!" Xiao Yi tidak tahu lagi harus bagaimana, dia merasa kepanasan, kepalanya berdenyut-denyut tak karuan. Jemarinya meremas rambut panjang Yang Mulia, dia merasa lelah dipermainkan begitu lama.


Desahan lirih Xiao Yi semakin membuat Yang Mulia bersemangat, dalam sekejap tubuh yang melengkung menegang tak jelas di bawahnya itu sudah tanpa sehelai benangpun, seperti sebuah lukisan yang tak nyata.


Pemandangan indah itu, membuatnya menggelayar, dia pun sudah hampir tak sanggup menahan diri.


Xiao Yi benar-benar menatap nanar kepada Yang Mulia, perlahan dia mendorong tubuh Yang Mulia kemudian mengangkat punggungya, bersandar pada kepala tempat tidur. Jemarinya naik dengan gemetar, memberanikan diri membuka semua sisa pakaiannya yang di kenakan oleh Yang Mulia.


Sikap provokatif Yang Mulia membuatnya tak lagi ingin berdiam diri hanya menunggu.


Dia merasa menunggu bukanlah hal yang tepat di saat-saat begini, mengimbangi Yang Mulia akan memberinya kesempatan memaksa permainan kecil Yang Mulia ini segera berakhir.


Tangan Xiao Yi membalas menyentuh, meraba semua bagian yang di inginkannya, membuat Yang Mulia melenguh dengan nafas tersengal.


Setiap desahan halus di angsurnya ke telinga Yang Mulia, seirama dengan hembusan nafas hangatnya yang cepat.


Permainan berbalik arah, rencana jahat Yang Mulia, yang ingin menyiksa gadis polos ini sampai bersimpuh memohon kepadanya untuk melakukan penyerangan sekarang berubah. Dialah sekarang yang hampir bertekuk lutut di dalam sentuhan Xiao Yi.


Dia mengajarkan pertama kali, mengangkat diri sebagai guru atas Xiao Yi untuk permainan ini, sekarang gadis lugu kesayanganya ini benar-benar cepat belajar. Dia bahkan lebih mahir dari sang guru.


Tatapan sayu Xiao Yi yang begitu menuntut, meluluh lantakkan sisa pertahanan Yang Mulia, darahnya seperti pasang sampai ke ubun-ubun, selanjutnya tanpa ada yang memimpin dan memberi aba-aba mereka saling memagut, saling membalas.


Yang Mulia menarik tubuh Xiao Yi ke pinggir pembaringan, membiarkan kaki ramping gadis itu menggantung bebas di tempat tidur dengan tubuh miring ke belakang. Sesaat Yang Mulia berdiri di depan Xiao Yi yang pasrah, mempertontonkan betapa gagahnya lekuk badannya yang kencang dan kekar.


kedua telapak Xiao Yi bertahan ke belakang sambil meremas sepray hijau yang di dudukinya. Yang Mulia membuka kedua kaki Xiao Yi tak sabar merangsek dengan bersemangat, wajahnya tak bisa diam menyasar bagian atas tubuh Xiao Yi sementara bagian bawahnya bergerak liar, bagian tubuh yang lain itu melakukan tugasnya, memuaskan setiap desakan jiwa yang sedang di landa rindu itu.

__ADS_1


Nafas mereka saling memburu, berpacu ketika sampan bertemu alirannya. Dayung digerakkan semakin lama semakin cepat seolah sangat ingin bertemu muara.


Erangan Xiao Yi mengakhiri sisa-sisa perjuangan dengan tubuh bersimbah basah, disambut tubuh yang melengkung di atasnya, melenguh dengan mata yang terpejam kehilangan kekuatan.


Mereka telah menyelesaikan perang, dimana keduanya sama-sama merasa menang.


Xiao Yi menjatuhkan badannya ke belakang. Kehilangan seluruh keseimbangannya.


Yang Mulia sendiri menjatuhkan tubuhnya di sebelah Xiao Yi, menarik selimut di sebelahnya dan menutupi tubuh kekasihnya yang masih terdiam seperti patung dengan mata terpejam dan kaki sebatas lutut menjutai di pinggir tempat tidur.


Hanya seulas senyum tipis menghiasi bibirnya, dia benar-benar sedang terbang ke surga ke tiga. Mereka berdua bersama-sama berusaha mencari udara untuk bernafas, dengan tubuh yang sama-sama basah kuyup.


Sebuah kemesraan yang di lakukan tanpa rasa rasa takut dan larangan, hubungan sah yang sudah di sepakati dua hati serta keintiman yang dilandasi perasaan cinta satu sama lain adalah kenikmatan tertinggi di jagad raya.


Hubungan ini menjadi sakral dan tidak lagi semata berakar dari nafsu tapi perasaan kasih sayang, apakah yang bisa menyamai itu?


Kemesraan seperti ini akan menjadi kekuatan satu sama lain untuk saling membangun dan mengikat, menjadikannya dasar dan alasan tidak hanya perasaan memiliki yang mendalam atas pasangan tapi menjiwainya dengan tenggang rasa dan kesetiaan.


Xiao Yi tahu ketulusan Yang Mulia akan membuatnya lebih kuat dan berani menghadapi setiap kesulitannya di dalam istana ini, sementara Yang Mulia menyadari, keinginan melindungi gadis yang di cintainya ini akan membuatnya tangguh terhadap seribu ujian di depan.


Berdua selalu lebih baik daripada sendiri...


...Ayoooo....author sudah memenuhi janji memberi part romantis lagi, mana VOTEnya author tunggu😅...


...Jangan lupa KOMEN dan LIKE di bawah, please...please...❤️...


...Biar author tambah rajin UP...


__ADS_1


__ADS_2