SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 155 BERTEMU DALAM RINDU


__ADS_3

"Kamu boleh makan bersamaku, nyonya..."


Suara seorang lelaki dari meja tersudut terdengar mengejutkan Chi Yuan.


Gadis itu segera membalikkan tubuhnya, dan sejenak matanya menatap tak percaya pada seorang pria yang sangat di kenalnya.


"Kalau nyonya tak berkeberatan..." Laki-laki tampan berkulit bersih dengan rambut yang di gelung ke atas kepala sementara anak rambutnya jatuh di kedua pelipisnya.


Matanya yang sipit manis itu, bersinar cerah. pakaiannya yang berwarna biru gelap bergaris coklat pada bagian leher dan lengan memang nampak sederhana tapi tak bisa menyembunyikan bahwa dia dari kalangan berada.


"Tu..tuan Qian Ren..." Ayin sudah lebih tahu melotot, mengenali orang kini sedang duduk menghadap meja dengan senyum yang tak lepas dari bibirnya itu.


Dengan tersipu, Chi Yuan menoleh pada Ayin, seolah meminta pendapat. Ayin yang tahu benar bagaimana perasaan Chi Yuan kepada Qian Ren hanya tersenyum kecil dan mempersilahkan nyonyanya itu segera mendatangi meja Qian Ren.


Dengan langkah perlahan Chi Yuan berjalan ke arah Qian Ren. Senyumnya mengembang malu-malu.


"Silahkan duduk, nyonya..." Qian Ren memberi isyarat pengawalnya untuk menjauh dari belakangnya, menepi dengan Ayin yang segera keluar sambil memegang tanghulu di kedua tangannya.


Chi Yuan duduk di kursi seberang meja menghadap panci panas berisi kambing kuah yang tadi sempat membuatnya kelaparan.


Tapi entah mengapa sekarang perutnya mendadak kenyang saat melihat siapa orang yang memanggil namanya tadi.


"Jangan panggil aku nyonya..." Ujarnya dengan wajah kemerahan seperti kepiting rebus.


Qian Ren tersenyum, melihat wajah yang tak lagi menunjukkan wajah sedih seperti terakhir kali dilihatnya.


"Aku harus memanggilmu dengan apa?"


"Panggil saja aku Yuan."


"Bagaimana kalau aku memanggilmu Yu'er?"


Mendengar pertanyaan Qian Ren, wajah yang semerona meihua mekar itu segera menunduk dengan salah tingkah.


"Senangnya melihatmu akhirnya bisa keluar dari dalam tembok..." Qian Ren menatap wajah mantan selir raja itu, dia begitu cantik dan segar.

__ADS_1


"Permaisuri Yi telah mengirimkan surat pembebasanku." Jawabnya, sekarang wajah itu terangkat dengan binar gembira.


Qian Ren tersenyum, meski hatinya terasa bergetar, begitu anehnya mendengar sebutan permaisuri untuk Xiao Yi.


"Aku bisa melihat kebahagiaanmu, karena surat itu." Sahut Qian Ren.


Sesaat mereka berpandangan, kemudian dengan jengah sama-sama saling mengalihkan pandangan.


"Aku tak menyangka bertemu denganmu di sini." Qian Ren terkekeh.


"Seharusnya aku yang heran, kenapa kamu berada di Shicuan..."Chi Yuan berkata dengan suara yang tak bisa menyembunyikan rasa senangnya.


"Aku hanya kebetulan lewat, dalam perjalanan pulang ke Youwu." Qian Ren berdalih, padahal dia memang sengaja datang ke Shicuan. Tiba-tiba dia sangat rindu pada Chi Yuan yang tak pernah lagi mengirim surat padanya sejak dia di hukum karena kedapatan berkirim surat dengannya.


"Oh..." Chi Yuan menganggukkan kepalanya, sambil berpura-pura memandang ke arah panci Suai Yangrou yang ada di atas meja.


"Oh, iya...makanlah...kamu harus mencicipinya..." Qian Ren memberikan mangkok kosong kepada Chi Yuan, yang di sambut dengan masih malu-malu oleh gadis itu.


Dengan cekatan, Qian Ren menyendok daging kambing berkuah itu ke dalam mangkok Chi Yuan.


"Ayo makanlah, ini adalah hari kebebasanmu, kamu boleh makan sebanyak yang kamu mau, aku akan mentraktirmu."Qian Ren yang dulu selalu pendiam dan tak banyak bicara di depan Chi Yuan sekarang lebih luwes dan bersikap terbuka.


"Ini enak sekali, tuan Ren..."


"Aku juga tidak suka dipanggil tuan..." Qian Ren berucap dengan raut protes.


"Aku harus memanggil anda dengan apa?"


"Di dalam suratmu, kamu selalu memanggilku dengan kakak Ren, aku suka kamu memanggilku begitu."


Wajah Chi Yuan entah untuk kali ke berapa menjadi merah merona kembali. Dia merasa malu sekaligus bahagia di depan Qian Ren.


Setapak rindu yang coba di pendamnya berhari-hari, bahkan disembunyikannya dalam gelapnya malam, sekarang seperti begitu ingin keluar dan menyapa orang ini. Dia tak mengerti, kenapa wajah manis Qian Ren selalu saja mengganggunya jika dia sedang sendiri.


Dia menyukai Qian Ren sejak lama tapi peraturan dan statusnya membuat dirinya harus memendam perasaan apa saja jika terhadap lawan jenisnya.

__ADS_1


Tapi sekarang, tak ada penghalang lagi antara mereka, perasaan itu tidak mengapa dikeluarkan jika sudah waktunya.


"Kakak Ren dalam perjalanan kembali dari mana?" Tanya Chi Yuan sambil menyendok lagi irisan daging ke mulutnya.


"Aku..." Sesaat Qian Ren bingung ingin menjawab apa, dia sudah terlanjur berbohong, padahal dia benar-benar sengaja hanya datang ke kota Shicuan.


"Kamu tentunya mendengar kabar, ayahku sudah di tahan di Yubei oleh Yang Mulia, aku baru pulang dari sana." Jawab Qian Ren merasa lega dia menemukan alasan.


"Ya...aku turut sedih untuk itu."


"Tidak perlu bersimpati berlebihan, ayahku memang pantas membayar penghianatannya pada raja. Meskipun dia ayahku, aku tidak bisa membela kesalahannya." Qian Ren menghela


nafasnya, dia sedih memang tapi dia masih bersyukur Yang Mulia bersikap adil pada dirinya dan ibunya. Meskipun kakak dan ayahnya yang terlibat dalam rencana penggulingan raja, Yang Mulia tidak menghukum dirinya dan keluarganya yang lain, yang tidak pernah mendukung rencana jahat yang di lakukan ayahnya.


Malah Yang Mulia, berencana untuk mengirimkan seorang pengganti gubernur Qian Lie dengan orang kepercayaannya dari istana, tapi tetap dengan menunjuk Qian Ren sebagai wakil gubernur itu.


Yang Mulia mengetahui berapa banyak Qian Ren yang telah membantu Xiao Yi, bahkan dari Zhao Juren dia tahu, jika usaha peracunan permaisuri bisa di gagalkan berkat usaha dan bantuan Qian Ren.


Untuk membalas jasa Qian Ren dia ingin Qian Ren tetap mengabdi kepada Yanzhi dengan mengabaikan perihal kejahatan yang telah dilakukan sang ayah.


Qian Lie memang akan tetap di hukum dan menerima ganjaran terhadap perbuatannya, tapi keadilan tetap di berikannya dengan memberi penghargaan pada orang yang setia dan berjasa.


Setelah kurang lebih setengah jam, mereka berdua menyudahi makan malam berdua yang tidak sengaja itu.


"Astaga...ini sudah malam, ayahku pasti akan marah besar kepadaku." Chi Yuan bergumam, baru menyadari ini sudah benar-benar gelap.


"Aku akan mengantarmu..." Kata Qian Ren saat mereka berdua sudah berada di luar kedai.


"Oh, tidak usah..." Chi Yuan menolak dengan setengah berat hati, padahal hatinya masih sangat ingin bersama dengan laki-laki ini.


"Aku tetap akan mengantarmu..." Tiba-tiba Qian Ren memegang tangan Chi Yuan, berjalan menerebos keramaian, di ikuti oleh Ayin dan pengawalnya yang berjalan tergesa di belakang mereka berdua.


Chi Yuan terpana, dengan rasa tak percaya, jemari tangannya mengepal dengan tegang saat jemari hangat milik Qian Ren menggandengnya.


__ADS_1



...Jangan lupa Vote dan likenya untuk semangat crazy up🤭🤭...


__ADS_2