
Malam turun di atas kota Yubei, udara terasa dingin, seolah musim dingin benar-benar di depan pintu. Awan gelap berarak di atas langit berlatar abu-abu.
Pemukiman di pinggir kota itu terasa lebih suram dari biasanya.
Suasana di aula istana Rongyu, kediaman Yang Mulia tampak terang benderang, beberapa pengawal dan pelayan berdiri di depan pintu Rongyu, tidak seperti biasanya, selasar raja itu sedikit berbeda dengan beberapa orang pelayan khusus dari istana pangeran.
Xiao Yi duduk dengan senyum yang begitu hangat, menghadap meja pendek sebatas pinggang. Di atas telah tersedia beraneka menu yang menggoda dari olahan ayam seperti ayam Gong Bao yang di masak dengan rempah-rempah, kecap dan saus khusus. Ada pula La ji zi, ayam pedas kering dengan cabai Sichuan yang terkenal, bahkan san bei ji yang tersaji dengan padanan arak beras.
Semua menu daging ayam itu adalah kesukaan Pangeran Yan Chyou.
Sementara untuk menjamu pangeran Yan Yaoshan, Xiao Yi menyediakan olahan daging tangculiji yang gurih dengan saos asam manis, Wonton dengan isian daging, dan Mie Zhangjiangmian dengan pasta kacang kedelai hitam beserta arak Bai Jiu yang terkenal dengan kadar alkoholnya yang tinggi. Itu adalah makanan yang sangat di sukai pangeran ke tiga, yaitu Pangeran Yan Yaoshan.
Pada sebuah sudut masih ada satu mangkok sup ayam cia po, dengan bau herbal yang kental.
Pangeran Yan Chyou dan Yan Yaoshan saling pandang, dua pangeran muda itu menggunakan jubah sutera dalam motif dan warna berbeda, tapi tetap memberikan aura mewah.
"Kakak, terimakasih telah mengundang kami kemari." Pangeran Chyou membungkukkan badannya memberi hormat kepada Yang Mulia di ikuti oleh pangeran Yaoshan dengan canggung.
Yang Mulia menganggukkan kepalanya, tersenyum kepada dua bersaudara ini. Jubah putihnya tampak cocok dengan kulitnya yang bersih.
"Sudah bertahun-tahun, kakak tidak pernah memanggil kami secara bersamaan ke kediaman Kakak. Apakah kami tidak lancang jika ingin bertanya, kenapa kami berhak menerima penghormatan ini?" Pangeran Yan Chyou bertanya dengan hati-hati.
"Aku mengundang kalian untuk mencicipi masakan dari calon permaisuri kerajaan Yanzhi, Selir Yi. Selain itu, aku sudah begitu lama tidak bisa menemui kalian secara khusus seperti ini sebagai saudara karena urusan negara yang tak putus-putus." Jawab Yang Mulia dengan raut tenang.
Dua bersaudara itu tampak ragu sesaat, mereka berdua menyimpan pemikiran yang tidak sama, sambil menyembunyikan rahasia masing-masing.
"Kami merasa terhormat untuk duduk bersama kakak." Pangeran Yaoshan menyunggingkan senyum yang terlihat sungguh palsu.
Baik pangeran Yaoshan maupun pangeran Chyou , mereka menyimpan ambisi yang sangat berbahaya, ingin duduk di tempat kakak mereka.
Tak ada yang benar-benar bergerak memulai. Rasa curiga dan waspada merasuk hati mereka masing-masing.
__ADS_1
Mereka takut, Yang Mulia mencium rencana jahat yang disusunnya.
"Maafkan aku juga yang sedikit lancang, ingin mengenal para pangeran yang mulia, hanya saja tidak pantas saya menjadi permasuri seorang raja tanpa mengenal saudara-saudaranya. Ijinkan saya bersulang anggur untuk semua pangeran."
Cu Chu yang berada di belakang para pangeran itu menuangkan minuman pada cangkir.
Yang Mulia mengangkat cangkirnya, di ikuti pangeran Chyou dan pangeran Yaoshan dengan raut masih tak berubah, penuh keraguan.
"Selir Yi tidak minum karena sedang dalam keadaan mengandung." Kata Yang Mulia.
"Semoga kalian selalu selamat..." Lanjut Yang Mulia sebelum meneguk minuman di cangkirnya.
"Semoga Yang Mulia selalu di beri umur panjang, " Sahut Pangeran Chyou, di ikuti adiknya.
Lalu sekali teguk minuman itu habis masuk ke kerongkongan mereka.
"Mari makanlah," Yang Mulia mempersilahkan kedua adiknya untuk mengambil makanan. Pangeran Chyou dan pangeran Yaoshan sesaat bertukar tatap.
Dengan takut-takut, Pangeran Chyou mengambil sumpit dan mengambil sepotong ayam La ji zi dan memasukkannya ke mulut, seolah ingin bersikap senormal mungkin.. Sementara pangeran Yaoshan tidak bergeming.
"Makanan itu mungkin beracun..." Tiba-tiba Suara Lembut Xiao Yi terdengar.
Suara itu hampir tak kedengaran tetapi membuat sumpit dan potongan daging ayam di tangan pangeran Chyou itu terlepas seketika.
Pangeran Yan Yaoshan tak kalah terkejutnya, dia duduk di tempatnya dengan pias pucat pasi.
Yang Mulia terpana menatap kepada Xiao Yi yang duduk tenang di sampingnya sambil menuangkan teh ke gelasnya.
"Aku hanya bilang, makanan ini mungkin beracun..." Xiao Yi tersenyum seolah dia kata-kata candaannya begitu menggelitik.
"Makanan itu menjadi beracun jika hati kita mencurigainya mengandung racun." Ucap Xiao Yi, dengan senyum misterius.
__ADS_1
"Apakah kalian tidak takut jika Yang Mulia meracuni kalian?" Tanya Xiao Yi, membuat sekilas wajah Yang Mulia merah padam.
Pangeran Chyou menelan ludahnya yang serasa mengeras di kerongkongannya.
"Tidak ada alasan kakak meracuni kami!" Pangeran Chyou menyahut tak senang dengan pertanyaan Xiao Yi.
"Lalu, kenapa kalian menunjukkan ketakutan yang sangat berlebihan saat Yang Mulia mempersilahkan kalian mencicipi semua makanan ini? siapapun yang berada di dalam ruangan ini akan tahu kecanggungan yang kalian tunjukkan" Ucap Xiao Yi sedikit tajam.
"Kami hanya..." Pangeran Yaoshan sedikit gugup, menatap kepada Yang Mulia.
"Kami tidak takut!" Pangeran Yoshan segera mengambil mangkok dan mengisinya dengan wonton, lalu memakannya dengan tergesa.
"Ketakutan hanya datang dari kecurigaan...seseorang yang terlalu curiga mungkin saja karena menyimpan sesuatu dalam hatinya. Seorang saudara adalah orang terdekat, tak akan menjadi begitu waspada pada saudaranya yang lain jika tidak karena ada sesuatu." Xiao Yi menyorongkan sepiring besar ayam gong bao kepada pangeran Yan Chyou. Pangeran muda berwajah sedikit risau itu terkesan begitu mengamati setiap gerakan selir yang menurut ibu suri adalah perempuan licik ini.
"Menyembunyikan sesuatu dengan maksud yang tidak baik selalu akan ketahuan, apalagi jika wajah kita tidak bersahabat dengan hati kita. Manusia tidak bisa menyelami hati setiap orang tapi kadang diri kita sendiri menghianati rencana kita..." Xiao Yi tertawa kecil.
Kata-kata Xiao Yi seperti tamparan di wajah dua pangeran itu, solah-olah Xiao Yi bisa membaca hati mereka dari sikap yang mereka tunjukkan.
"Karena kalian ku anggap sebagai keluarga terdekat suamiku, aku ingin jujur tentang sesuatu." Xiao Yi berucap kemudian dengan sedikit serius.
"Sebenarnya aku tidak berminat menjadi permaisuri." Xiao Yi melanjutkan. Semua orang di dalam ruangan itu termasuk Chu Cu sang pelayan yang melayani acara makan malam itu tak kalah terkejutnya.
"Dan Yang Mulia sendiri berencana untuk turun dari tahtanya." Lanjutan Kalimat itu benar-benar mengejutkan setiap orang yang mendengarnya, kecuali Yang Mulia yang kini menyadari Xiao Yi sedang merencanakan sesuatu untuk dua adiknya yang menyimpan rencana berkhianat padanya.
"Menurut kalian berdua, siapa yang pantas menggantikan Yang Mulia menjadi raja Yanzhie?"
(Maaf lama baru UP 😅 Author beberapa hari ini, sibuk di real life 🙏☺️Bagaimana cara Xiao Yi menghadapi dua pangeran tampan yang ingin memberontak dari Yang Mulia ini, ikuti Lanjutannya besok pagi ya😊 love You Readers kesayangan)
...Terimakasih sudah VOTE, LIKE, KOMEN dan memberikan HADIAH sebagai bentuk dukungan....
__ADS_1
...I LOVE YOU ALL❤️...