SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EKSTRAPART 9 BUNGA MERAH DI SUNGAI SHENG


__ADS_3

Chu Cu mencuri pandang pada wajah pengawal Jian yang duduk di seberangnya, pengawal itu tampak diam hampir tak bergerak di tempatnya sambil memeluk pedang yang terbalut sarungnya dalam ukiran naga yang sedang mendonggak kepada bulan.


"Apakah...apakah kita punya waktu berjalan-jalan sebentar di pasar?" Tanya pengawal Jian dengan volume suara yang rendah seolah tak ingin kalimatnya sampai di telinga kusir kereta.


"Aku tak tahu apakah bisa, Yang Mulia permaisuri memintaku untuk mengambil ramuan obat untuk pangeran Tian. Aku takut jika terlalu lama, Yang Mulia permaisuri akan menunggu." Jawab Chu Cu.


"Aku hanya ingin mengajakmu ke sebuah toko buku..." Pengawal Jian berucap setengah berbisik seolah takut suaranya di dengar oleh kusir kereta.


"Toko buku?" Mata Chu Cu membulat besar, dia sangat suka membaca buku akhir-akhir ini. Sejak dia pintar membaca dan menulis, Chu Cu sangat sering menghabiskan waktu membaca dan menulis puisi.


Pengawal Jian menganggukkan kepalanya, rambutnya jatuh di dahinya melewati ikat kepala hitam yang tak pernah ketinggalan di pakainya sejak Chu Cu melihatnya pertama kali.


"Tapi aku harus ke rumah nyonya Tua Xiao dulu." Nada itu terdengar menyerah, dia benar-benar tak bisa menolak mendengar kata buku.


"Baiklah...kita akan ke rumah nyonya Xiao dulu, setelahnya kita akan mengunjungi sebuah toko buku di dekat pasar." Pengawal Jian menganggukkan kepalanya, bersikap tenang, meskipun dadanya bergemuruh hebat saat berhadapan dengan gadis muda polos ini.


Suasana hening, hanya suara kaki kuda dan helaan nafas keduanya, memecah sunyi sepanjang jalan.


Pengawal Jian menggenggam erat sarung pedangnya, sementara Chu Cu menggenggam kantong koinnya, dia tegang sendiri.


Cinta, membuat dua orang bisa merasa gugup saat berpandangan, gelisah saat berdekatan dan rindu saat berjauhan. Perasaan itu begitu aneh, sangat aneh bagi Chu Cu yang tak pernah mengenal pria. Kadang dia mengeluh sendiri saat kepalanya menjadi pusing malam-malam membayangkan Pengawal Jian yang hanya menatapnya sambil memegang tangannya ketika membimbingnya menulis huruf demi huruf di atas kertas.


Herannya, dia kadang berharap lebih dari genggaman, suatu harapan yang aneh menurut Chu Cu. Tapi Kak Jiannya ini hanya pernah menciumnya sekali ketika dia mengatakan dia bersedia menjadi istrinya dulu. Setelahnya Pengawal Jian tak pernah mengucapkan apa-apa kecuali sesekali memuninya cantik atau gaun yang di kenakannya sangat bagus.


Sebuah basa-basi menurut Chu Cu yang merasa hatinya di gantung seperti jemuran di musim panas.


...***...

__ADS_1


Hari hampir senja, ketika kereta mereka keluar dari pekarangan rumah keluarga Xiao. Rumah besar yang terletak di luar istana ini, di bangun khusus oleh raja Yan Yue untuk keluarga Xiao, orang tua dari permaisurinya.


Sebenarnya Keluarga Xiao Xi bisa saja tinggal di dalam lingkungan iatana mengingat merela sekarang adalah keluarga ratu dan kerabat kerajaan, bahkan sudah di beri gelar bangsawan oleh kerajaan. Tetapi Nyonya Xia memilih tinggal di luar lingkungan istana, karena dia ingin mengabdikan dirinya sebagai tabib di usianya yang sudah cukup berumur itu. Dia mendirikan sebuah rumah obat dan mendidik beberapa tabib muda dalam hal medis, di mana mereka memberi pelayanan cuma-cuma bagi masyarakat miskin.


Keluarga Xiao sangat di hormati san di sayangi karena kebaikan hati mereka.


"Pak, kami akan berhenti sebentar untuk membeli buku." Pengawal Jian berucap pada sang kusir yang juga salah satu pengawal dari Istana Harem itu.


Kusir itu mengangguk, dia tahu tempat toko buku yang di maksud, sebuah toko buku di samping kedai teh yang biasa jadi tempat dua orang itu singgah.


Suasana sore, langit musim gugur yang semerah saga, bersemburat aneh di ufuk barat seperti kelopak bunga meihua yang terburai. Pasar yang biasanya ramai di siang gari segera menjadi sepi, hanya kedai-kedai teh, rumah makan dan penginapan yang masih cukup ramai.


Kereta kuda itu berhenti di depan toko buku yang telah tertutup sepi.


"Toko bukunya tutup." Chu Cu mengangkat alisnya.


"Tokonya tu..."


"Tokonya buka." Pengawal Jian menukas dengan wajah datar.


"Tapi..." Sebelum Chu Cu melanjutkan kalimat ragunya, pengawal Jian telah menarik tubuh ramping dayang itu ke bawah.


Lalu tanpa basa-basi dia mengetuk pintu toko buku yang tertutup rapat itu.


Seorang laki-laki tambun dengan mata sipit membuka pintu,


"Oh, Tuan Jian...selamat datang." Pemilik toko buku itu membuka pintu lebar-lebar, dia sudah cukup mengenal pengawal tampan itu.

__ADS_1


Saat dua orang itu masuk, suasana toko buku itu sepi tetapi Lampu-lampu benderang menyinari ruangan, menampakkan lenari-lemari kayu yang berjejer dan buku-buku kitab yang tersusun rapi sana.


"Maafkan saya tuan, saya akan keluar sebentar, istri saya sedang menunggu untuk makan malam. Silahkan tuan dan nona melihat-lihat." Tiba-tiba pemilik toko buku ini membungkukkan badannya, senyumnya terlihat misterius dan senang. Pengawal Jian tampak tak terkejut, sementara Chu Cu kebingungan.


"Bagaimana jika kami selesai dan akan pulang jika tuan pergi?" tanya Chu Cu polos.


"Tinggalkan saja uangnya di meja, saya akan kembali nanti." Tanpa bisa di tahan lagi, pemilik toko bertubuh tambun itu berbalik dan keluar.


"Brak!"


Pintu kayu itu tertutup dari luar.


Pengawal Jian dan Chu Cu saling pandang.


"Aku melihat sebuah buku kemarin, kamu mungkin akan suka." Pengawal Jian bersuara memecah sunyi lalu berjalan menuju sebuah sudut di mana terletak sebuah lemari buku khusus mengenai puisi dan sajak.


"Lihatlah kemari." pengawal Jian mengacungkan sebuah buku usang dengan sampul kertas kasar tetapi depannya di gambar sebuah pohon beranting tanpa daun. Terlihat klasik.


Tulisannya : " Bunga Merah di sungai Sheng"


Chu Cu mendekat, dan mengambil buku itu. Saat dia membuka lembar pertama, tiba-tiba dia merasa helaan nafas di tengkuknya, hangat. Kepala Chu Cu menoleh ke belakang, dan dia tak bisa menghindari sebuah ciuman di bibirnya. Lengket, hangat dan memburu.



(Aaaaaaa.....akak kangeeeeeen menulis di sini🤗🤗🤗 Yuk, Chu Cu dan pengawal Jian yang sedang kasmaran kadih kabar nih, setelah sekian lama🤣🤣 Yang nunggu lanjutannya setelah sekian purnama please komen, mak othor kangeeeeen)


...Terimakasih sudah membaca ekstra part dari novel selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2