SELIR PERSEMBAHAN

SELIR PERSEMBAHAN
EPISODE 161 SEINDAH CINTA PERTAMA


__ADS_3

Chu Cu berjalan dengan langkah cepat, menuju Wisma tamu, fikirannya melayang-layang pada kertas yang kini ada di genggamannya.


Saat melewati pinggiran taman Shenhua, dia terpekik hampir terjengkang ketika seseorang menarik tubuhnya ke belakang sebuah pohon persik.


Mulutnya di bekap dari belakang, ketika dia hendak berteriak. Mata Chu Cu terpejam kuat karena rasa takut yang menyerang sekujur tubuhnya.


"Stt...ini aku..." Sebuah bisikan di telinganya, membuatnya seketika mendadak tak bergerak seperti patung, dia tidak takut lagi tapi dadanya bergemuruh karena gugup.


Perlahan tangan itu melonggar dari mulutnya, sementara mata Chu Cu terbuka perlahan. Orang yang membekapnya tadi sekarang berdiri di depannya, dengan pakaian gelap yang sangat dikenalnya, khas kostum pengawal pribadi raja.


Mata sipit itu dengan tatapan yang berkilat di dalam gelap. Menatap Chu Cu dengan hangat dan antusias.


"Tu..tuan Jian..." Chu Cu tergagap dengan salah tingkah dengan keringat dingin yang tiba-tiba datang dari mana, membasahi dahinya.


"Jangan panggil aku tuan...panggil aku kakak." Bisik Jian Jie pada Chu Cu, dia takut suaranya di dengar oleh prajurit penjaga yang berada di sebuah sudut bawah lampu dekat gazebo.


Chu Cu gemetaran menundukkan wajahnya dengan gugup, di dalam genggamannya masih ada surat dari Jian Jie yang di kirim kewat pengawal Cun.


Saat menyadari itu dengan reflek tangannya di sembunyikannya ke belakang punggungnya.


"Tapi..." Chu Cu semakin salah tingkah.


"Kenapa kamu tidak membalas suratku?" Pertanyaan dalam volume rendah.


Chu Cu tak tahu harus menjawab apa.


"Apakah suratku sudah kamu terima?" Jian menatap Chu Cu lebih dekat penuh selidik.


Yang di tatap makin menunduk. Dia menganggukkan kepalanya sedikit.


"Apakah kamu sudah membacanya?" cecar Jian Jie dengan pertanyaan berikutnya.


Sekali lagi Chu Cu menganggukkan kepalanya tanpa berani melihat ke arah Jian.


"Kenapa kamu tidak membalas satu lembarpun?"


Pertanyaan ini membuat Chu Cu seketika pusing, dia bingung tak berani bergerak di tempatnya berdiri.


"Aku...aku..." Chu Cu berusaha mengucapkan sesuatu tapi terasa tercekat di pangkal lidah.


"Kamu menyukai orang lain?" Tanya Jian kemudian.


"Tidak...bukan..." Chu Cu menggoyang-goyang telapak tangannya ke depan Jian dengan gemetar, kepala terangkat sedikit mencuri pandang pada wajah yang daginya mengerut menunggu jawaban.

__ADS_1


"Lalu kenapa kamu tidak membalas suratku?" Jian nampak sedikit bimbang, takut mendengarkan jawaban yang tak diharapkannya meluncur dari bibir Chu Cu.


"Aku tidak bisa..."


"Kenapa?"


"Aku...aku tak bisa menulis..." jawaban yang di barengi dengan wajah malu yang luar biasa itu, membuat Chu Cu seperti udang yang direbus.


"Tapi...kau bilang sudah membacanya?"


"Aku bisa membaca sedikit tapi...tapi...aku tidak bisa menulis dengan baik." Jawab Chu Cu dengan wajah merah padam.


Jian Jie menghela nafasnya dengan lega, setidaknya Chu Cu tsebenarnya tidak mengabaikan suratnya.


"Apa jawabanmu?" tanya Jian Jie dengan sedikit gugup, meski ilmu beladirinya hampir tak terkalahkan di antara para pengawal Raja bahkan di dalam istana Weiyan ini, tetapi di hadapan Chu Cu dia benar-benar tak berdaya.


Cinta memang sangat tak terduga, begitu aneh dan tak terselami. Seorang Pengawal kepercayaan raja yang bahkan telah dibuatkan istana khusus dalam lingkungan kerajaan oleh Yang Mulia Yan Yue ini hampir tak bisa mengendalikan suaranya di depan seorang dayang yang dulunya hanya pelayan permaisuri ini.


"Aku..aku harus menjawab apa?" tanya Chu Cu dengan malu.


"Pertanyaanku di suratku yang terakhir?" tanya Jian Jie dengan suara yang dipelankannya sedemikian rupa.


"Aku belum membacanya..." Jawab Chu Cu sambil menarik tangannya dari belakang punggungnya, menunjukkan gullungan kertas yang masih rapi di dalam genggamannya.


Dengan gerakan cepat ditangkapnya pergelangan tangan Chu Cu lalu dengan perlahan di ambilnya gulungan kertas dari tangan Chu Cu.


"Jangan..." Chu Cu mendonggak pada Jian Jie, menatap dengan wajah memohon, tangannya di udara meminta gulungan kertas itu di kembalikan lagi.


"Kamu tidak perlu lagi surat ini." Jian Jie tetap memegang pergelangan tangan kanan Chu Cu.


Chu Cu melongo mendonggak dengan mata tak berkedip dalam keremangan di balik pohon persik.


"Aku akan mendengarkannya sendiri dari mulutmu jawabannya." Ucap Jian Jie, matanya lurus menatap ke mata Chu Cu.


"A..apa?" Chu Cu seperti boneka, tangannya menjadi dingin, mengepal sendiri, karena masih dicekal oleh Jian Jie.


Sejenak hening, mereka berdua saling menatap.


"Apakah kamu mau menjadi kekasihku?" Suara itu terdengar pelan tapi begitu tegas. Meski wajah Jian Jie menjadi merona setelah mengucapkannya.


Chu Cu menelan ludahnya yang terasa sebesar batu mengganjal di tenggorokannya.


Dia masih tergugu, masih terkejut dengan pertanyaan yang keluar dari mulut Jian Jie, begitu lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Ciri khas laki-laki yang sama sekali tidak mempunyai sisi romantis dalam dirinya.

__ADS_1


"Aku cuma meminta satu jawaban, ya atau tidak..." Desah Jian Jie.


Mata Chu Cu mengerjap, dia seharusnya berteriak untuk mengatakan, iya, tapi jawaban itu hilang begitu saja di pangkal lidahnya meski mulutnya terbuka.


"Chu Cu, apakah kamu mau?" Tanya Jian Jie dengan suara sedikit putus asa, melihat reaksi perempuan polos yang telah membuatnya jatuh hati dari pertama kali dia melihatnya di sisi selir Yi.


"Ti...tidak..." Jawaban terbata-bata, meskipun pelan tetapi seperti palu pandai besi yang menghantam dada Jian Jie, sampai ke jantungnya. Rasa kecewa itu benar-benar merasuk seperti terisis pedang.


Jawaban itu sungguh menyakitkan.


Jian Jie melepaskan pergelangan tangan Chu Cu dan mundur selangkah dengan laki yang lemas.


"Maafkan aku, kak Jian..." Chu Cu menundukkan wajahnya dengan gemetar.


"Aku tidak mau jadi kekasihmu." Ucapnya dengan suara yang dikuatkan meski tetap terdengar bergetar.


"Aku...aku hanya mau...jadi isterimu." Lanjutnya sambil mengangkat wajahnya yang polos dan tersipu itu.


Jian Jie terpana menatap ke wajah Chu Cu yang cantik, dia hampir tak percaya dengan ap yang di dengarnya.


"Aku juga...menyukai kak Jian." Ucap Chu Cu sambil menggigit bibirnya sendiri.


Jian Jie ternganga mendengar kalimat itu, langitnya yang semula terasa runtuh mendadak seperti naik kembali ke atas, menjadi cerah dalam seketika.


"Apa...apa...aku tak salah dengar? Tolong ulangi sekali lagi." Jian Jie mendekat dengan mata mengerjap tak percaya.


"Aku juga menyukai kak Ji..."


Belum sempat Chu Cu menyelesaikan kalimatnya sebuah ciuman mendarat dengan cepat dan bersemangat di bibirnya.


Mbuat Chu Cu tak bisa bernafas sesaat. Ciuman itu cepat dan sungguh luar biasa, Chu Cu baru pertama kali merasakannya. Jantungnya yang berdegup kencang seakan berhenti mendadak, darahnya naik sampai ke kepala.


"Terimakasih, Chu Cu. Aku akan menemuimu besok malam." Dalam sekejap, Jian Jie menghilang dari hadapan Chu Cu, meninggalkan gadis itu menggigit bibirnya sendiri dengan perasaan yang seperti baru saja di porak porandakan oleh angin ****** beliung.


Dia tak tahu, jika jatuh cinta ternyata seindah ini.


Dia bahkan hampir lupa tugasnya menjemput nyonya besar untuk menemani permasuri Yi di wisma Hoangho


(Novel ini akan tamat ya dalam 2 episode ke depan, tapi tetap stay untuk part-part ekstra 😅 sambil menunggu Spin offnya Zhao Juren 😊😊😊😊)



...Terimakasih sudah membaca Selir Persembahan, jangan lupa Vote dan dukungannya, yaaa❤️❤️❤️...

__ADS_1


__ADS_2